
Aditya membuka obrolan.
“Num, aku mau kita selesaikan apa yang menjadi obrolan kita siang tadi” ucap Aditya
“Aku juga mau ngobrolin tentang itu” balas Hanum
“Oke. Bisa kamu jelaskan siapa pria yang datang ke sidangmu, karena aku baru melihatnya selama bersama denganmu” tanya Aditya
“Dia namanya Dimas, mas. Dia teman masa kecilku, dulu kami sangat akrab, kebetulan kami juga bertetangga” jelas Hanum
“Lalu?” tanya Aditya
“Kebetulan waktu kamu dinas di luar, aku dan ibu pergi ke mall bersama. Disana aku bertemu dengannya. Ya, kami sempat ngobrol dan makan bersama karena sudah lama kamu tidak bertemu” jelas Hanum
“Kenapa dia bisa datang ke sidangmu?” tanya Aditya
“Waktu itu dia menghubungi ibu untuk main kerumah, cuman karena ibu disini dan menjawab masih menemaniku, dan keceplosan bilang kalau aku mau sidang, jadi sebagai teman ya ia pikir ingin memberikan surprise datang ke sidang ku. Aku bahkan kaget waktu dia datang” jelas Hanum
“Sebelumnya aku sudah pernah bilang kalau tidak ada pertemanan antara pria dan wanita di umur dewasa. Pertemanan antara kalian dulu wajar, karena masih kecil. Jadi aku minta kamu jangan dekat lagi dengan dia” pinta Aditya
“Mas, aku sama sekali nggak pernah punya perasaan sama dia. Dan juga kenapa kamu jadi posesif seperti ini?” tanya Hanum
“Bukan posesif, tapi cemburu Num. Aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain” jelas Aditya
“Aku nggak pernah membatasi setiap pergaulanmu. Lagian dia juga teman masa kecil ku. Mamanya bahkan sangat peduli sama aku. Apa aku tidak boleh hanya berteman. Dia beda sama Lukas, dia hanya teman kecil dan juga aku yakin dia tidak memiliki perasaan kepadaku” ucap Hanum
“Hufftt... mungkin kamu belum sadar. Tapi aku yakin dia punya perasaan ke kamu” balas Aditya
“Kamu jangan berpikiran nggak-nggak dulu. Mana mungkin dia suka sama istri orang. Aneh” balas Hanum
“Memang dia sudah tau kalau kamu memiliki suami?” tanya Aditya
“Hhhmmm... belum sih” jawab Hanum ragu
“Berarti dia pikir dia masih punya harapan” jawab Aditya
“Sudahlah mas. Setiap laki-laki yang di dekatku kamu anggap punya perasaan kepadaku. Capek aku sama tuduhan seperti itu” ucap Hanum
“Huffttt... begini saja, bagaimana kalau kita taruhan. Apabila dia punya perasaan ke kamu seperti dugaanku, kamu harus jauhi dia. Tapi kalau memang dia hanya sebagai teman, kamu boleh tetap berteman. Ya meskipun sepenuhnya aku tidak menyetujui kalau kamu berteman dengannya” balas Aditya
“Oke...” balas Hanum
“Kalau begitu sekarang ganti aku. Kenapa kamu hanya mengabari aku lewat Lutfi? Apa kamu memang ngga mau ngomong sama aku?” tanya Hanum
“Num, kalau kamu tau posisi aku kerja disana pasti kamu akan memahami apa yang aku buat” ucap Aditya
__ADS_1
“Makanya jelaskan” pinta Hanum
“Sebenarnya aku mempersingkat waktu. Jadwalnya di Malaysia seminggu, cuman karena aku ingin aku ada di sidang mu, aku memaksimalkan waktu bekerja dan mengunjungi proyek selama 3 hari” jelas Aditya
“Tapi menelepon ku kan hanya memakan waktu 10 menit mas” balas Hanum
“Kalau aku dengar suara mu aku malah rindu kepadamu. Makanya aku memutuskan cepat menyelesaikan pekerjaan ku disana, hanya untuk cepat kembali dan bersama denganmu lagi” jelas Aditya
Mendengar penjelasan Aditya, sebenarnya Hanum masih belum mengerti alasan Aditya. Namun, ia memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi perdebatan antara mereka berdua.
“Mas, kamu tau kan aku disini gelisah tidak ada kabar darimu. Kali ini aku pahami. Tapi untuk berikutnya aku mohon kamu mengabari aku dimana pun kamu berada” pinta Hanum
“Baik, aku mengerti” balas Aditya
“Kalau begitu permasalahan ini selesai. Kamu tidur sini saja. Aku tidak bisa tidur” pinta Aditya
“Oke. Aku ambil ponsel ku dulu di kamar ibu” balas Hanum
Aditya segera menarik tangan Hanum dan mendekapnya di pelukan.
“Besok saja ambilnya, beberapa hari ini aku kurang tidur. Biarkan aku tidur dulu” pinta Aditya
Hanum menuruti perkataan suaminya. Hanya berjarak waktu selama lima menit, Aditya sudah tidur terlelap.
“Tidurnya pulas banget” ucap Hanum mencoba melepaskan dekapan Aditya pelan-pelan
“Sudah tiga hari tidak melihat wajahnya” ucap Hanum sambil memegang lembut wajah suaminya
Hanum ikut tertidur pulas.
...****************...
Pagi hari, jam sudah menunjukkan pukul 08.30, Hanum bangun terlebih dahulu dibanding Aditya.
“Jam berapa ini?” ucap nya pelan membuka mata
“HP ku mana?” lanjutnya meraba HP yang biasa ditaruh di meja kecil samping ranjangnya.
“Oh iya, aku lupa di kamar ibu” ucap nya
Hanum segera mengambil ponselnya di kamar ibunya, dan langsung menuju dapur untuk mengambil air minum.
“Num, kamu sudah bangun?” ucap bu Rita
“Eh sudah bu, barusan” balas Hanum sambil duduk di ruang makan
__ADS_1
“Tadi pagi, ibu cari kamu sudah tidak ada di samping ibu” ucap bu Rita
“Hanum tidur di kamar bu” balas Hanum
Bu Rita mengerti dengan ucapan Hanum, ia berpikir tampaknya hubungan mereka sudah baik-baik saja.
“Hhhmm... kalau begitu panggil suamimu buat sarapan” pinta bu Rita
“Iya bu” balas Hanum berdiri dan berjalan ke kamarnya
Sampai di kamarnya, ia mendengar HP Aditya yang berbunyi tapi tak kunjung diangkat karena masih tertidur lelap.
“Mas Adit, HP bunyi dari tadi tidak diangkat” ucap nya sambil meraih HP suaminya
“Lutfi?” gumam Hanum
Ia pun mengangkat panggilan dari Lutfi.
“Halo” sapa Hanum
“Halo, bu Hanum ya” sapa Lutfi kembali
“Iya. Mas Aditya masih tidur. Ada apa?” tanya Hanum
“Oh, saya Cuma mau konfirmasi kalau nanti siang pak Aditya harus menghadiri rapat di kantor” ucap Hanum
“Oke biar saya bangun kan dulu” ucap Hanum
“Tidak usah bu, saya titip pesan itu saja. Saya paham kalau pak Aditya pasti kecapekan, karena selama dinas di luar dia hanya tidur selama 4 jam sehari” ucap Lutfi
“Kenapa dia tidak cukup tidur?” tanya Hanum
“Jadi pak Aditya mempersingkat kunjungan nya, harusnya beliau masih 4 hari lagi di Malaysia, tapi karena bu Hanum sidang, beliau bilang tidak mau melewatkannya. Bahkan sehari sebelum pulang sampai tiba di Jakarta, beliau sama sekali tidak tidur. Beliau rela menunggu selama dua jam berlian yang dibeli untuk dibawa pulang sebagai kado bu Hanum” ucap Lutfi
“Hhhhmmm.... “ ucap Hanum mengerti
“Ya sudah kalau begitu saya tutup dulu” lanjutnya
Hanum mulai mengerti keadaan suaminya, ia merasa bersalah.
“Berarti kotak perhiasan yang kemarin ku lihat untuk aku?” batin Hanum
“Mas” ucap nya pelan sambil membelai tangan suaminya
“Mas, bangun” lanjutnya
__ADS_1
“Hhmmm” balas Aditya terbangun dari tidurnya.