Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Aku bersedia


__ADS_3

Pagi ini Hanum bangun awal, setelah sholat Subuh, dia langsung bergegas membersihkan rumah dan menyiapkan makanan. Hari ini ia sangat repot, biasanya Ibu yang menyiapkan semua itu. Dia baru merasa seperti ini. Ia pun teringat, kalau menikah mungkin juga akan merasakan kerepotan setiap hari. Dia juga harus pergi ke kantor. Ia mempercepat semua kerjaannya.


Beberapa makan sudah tersedia seperti nasi, tumis kangkung, dan telor ceplok.


“Masakan Kakak asin banget” kata Kelen sambil makan


“Masak sih, coba Kakak rasakan” sembari mengambil dan mencicipi beberapa makanan


“Iya. Asin banget” batin Hanum


“Udah cepet makan, nanti kalau perut kamu tidak terisi ga bisa belajar lagi di sekolah” jawab Hanum mengalihkan pembicaraan


Hanum menyuruh adiknya untuk segera sarapan dan kemudia berangkat sekolah.


...****************...


Sudah 4 hari Ayah di rumah sakit. Hanum dan Kelen juga beberapa kali mengunjunginya. Ayah juga sudah bangun dan terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Kalau tidak ada halangan kemungkinan besok ia akan pulang. Hanum pun merasa lega. Dengan kembalinya Ibu ke rumah, ia juga akan fokus ke PKN dan akan memulai skripsinya lagi yang sudah ia tinggal beberapa pekan lalu.


“Num, bagaimana ini dengan toko ayah. Meskipun ayah sudah lebih baik. Tapi masih tidak bisa untuk mengurus toko, karena dokter bilang Ayah masih harus istirahat sampai kondisi benar-benar pulih dan memungkinkan untuk kerja lagi.” Kata Ibu di luar kamar opname Bapak


“Bagaimana Bu. Hanum juga tidak bisa mengawasi toko tersebut. Tapi Hanum akan usahakan setiap pulang PKN untuk cek toko Bapak” jawab Hanum


“Kemarin anak buah Bapak datang dan melaporkan sudah banyak barang yang harus di stok lagi. Kondisi toko sudah setengah melompong. Tapi mau dapat modal darimana, sementara tabungan juga sudah menipis karena pengobatan Ayah kemarin” kata Ibu


Memang Pak Deri telah menawarkan untuk membiayai rumah sakit. Namun, sebelum itu semua Bu Rita sudah membayar semua tagihan rumah sakit.


“Hanum bingung Bu” jawab Hanum singkat tapi berpikir harus melakukan apa.


...****************...


Sepulang kantor Hanum mendatangi toko milik Ayah. Disana ia melihat kondisi toko sudah penuh dengan isinya. Ia kebingungan dari mana semua modal pembelian barang lagi. Hanum menanyakan itu kepada anak buah kepercayaan Bapak namanya Kang Dadang.


“Kang, ini kenapa toko penuh lagi ya? Siapa yang membeli semua stok? “ tanya Hanum penasaran


“Oh itu Num. Kemarin ada orang suruhan Pak Deri datang dan segera melengkapi kebutuhan toko katanya sudah pamit Pak Rendra.” Jawab Kang Dadang

__ADS_1


“Om Deri? Hanum rasa dia sudah berbuat banyak untuk keluarganya” batin Hanum


“Oh yaudah Kang. Ini aku titipkan ke Kang Dadang semua ya. Soalnya ayah belum bisa datang ke toko. Setiap pulang aku akan berkunjung untuk meliha toko” kata Hanum dengan mengecek setiap barang dan arus kas yang ada di kantor.


“Siap Num.”


“Dan kemarin juga pegawai yang telah menggelapkan uang bagaimana? Saya minta dipecat ya!” pinta Hanum


“Dia biasa mengurus bagian arus kas pembukuan. Dia juga yang menghitung semua penghasilan. Kita sekarang bingung siapa yang akan mengurusi masalah arus kas lagi. Kita perlu untuk mengetahui masuk keluarnya barang” tanya Kang Dadang


“Aku bisa kok dulu pas SMA kan aku ambil akuntansi jadi aku minta datanya saja. Nanti aku coba kerjakan pembukuannya. “ jawab Hanum


Hanum masih tinggal di toko selama 1 jam kemudian, ia mengecek semua kondisi keuangan dan kasir. Ia juga menghitung uang penghasilan.


...****************...


Sesampainya di rumah ia melihat Ayah dan Ibu sudah pulang. Ibu sedang menyuapi Ayah bubur. Hanum segera bersih-bersih dan kemudian turun untuk makan malam. Ia juga membantu menyiapkan makan malam.


“Ayah sudah tidur Bu? Tanya Hanum


“Bu, Hanum mau bicara. Tadi Hanum mampir ke toko. Dan kondisi toko sedang baik-baik saja. Toko juga sudah diisi barang-barang lagi oleh Pak Deri. Awalnya Hanum kaget. Tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur” kata Hanum


“Keluarga Pak Deri sudah banyak membantu kita selama ini. Ibu sungkan bila hanya menerima terus tanpa memberi” kata Ibu.


“Bu, Hanum sudah mau untuk dijodohkan dengan Aditya. Mereka sudah berbuat banyak untuk kita semua. Nanti Hanum akan bicara dengan Ayah.” Ucap Hanum tapi ia sebenarnya belum yakin dengan kuputusannya.


“Benarkah nak! Kamu sudah bersedia? Ibu bahagia mendengar kabar ini” sambil merangkul Hanum


“Iya Bu. Bagaimana pun kita harus membalas budi. Hanum juga ga mau Ayah selalu memikirkan tentang pernikahan Hanum, itu akan membuat Ayah semakin sakit” jawab Hanum pasrah


“Ibu bersyukur kamu berpikir begitu. Hanya kamu jangan mengira bahwa kamu adalah alat untuk membalas budi. Ibu dan Ayah sudah memikirkan yang terbaik untuk kamu. Dan Ibu yakin suatu saat kamu akan merasakan bahagia ketika bersama Aditya meskipun bukan sekarang” kata Ibu terlihat sangat senang


Melihat senyuman Ibu, Hanum merasa bahagia. Ia melihat Ibunya yang capek karena merawat ayah, karena selama beberapa hari ini Ibu malah belum pernah tersenyum, memikirkan kondisi Ayah.


“Ayo bu, cepat kita makan terus istirahat. Besok Hanum akan beritahu niat Hanum pada Ayah” kata Hanum sambil menarik kursi untuk duduk.

__ADS_1


...****************...


Hari ini Hanum libur. Ia membantu Ibu menyiapkan sarapan. Ia juga membuatkan teh untuk ayahnya. Ayah sedang duduk di kursi halaman dan melihat tanamannya yang tumbuh dengan subur. Hanum menghampiri ayahnya dengan membawa teh. Sudah lama Hanum tidak berbicara dengan ayahnya.


“Yah, ini teh nya” sambil menyodorkan cangkir berisi teh


“Terimakasih” jawab Ayah


Setelah sebulanan Hanum dan Ayah tidak bicara. Hanum bingung untuk memulai kata-katanya.


“Yah, Hanum sudah mau dijodohkan dengan Aditya. Ayah atur saja bagaimana baiknya” kata Hanum


Mendengar ucapan itu, wajah Ayah langsung terlihat bahagia. Beliau langsung merangkul Hanum.


“Apa kamu serius nak?” tanya ayah dengan bahagia


“Iya serius yah. Apa Ayah bahagia?” tanya Hanum balik


“Tentu nak. Sangat bahagia” jawab Ayah mantap


“Ayoh Yah masuk sarapan dulu” ajak Hanum ke ayahnya sambil menuntun


“Iya nak” jawab Ayah.


Rumah itupun menjadi hangat. Tawa dan candaan yang dulu kembali lagi. Hanum mantap untuk menikah dengan Aditya jika itu semua memang bisa membuat bahagia kedua orang tuanya.


...****************...


“Halo, Der. Bagaimana kabarnya?” tanya Pak Rendra melalui sambungan telepon


“Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana sudah sehat?” tanya balik Pak Deri


“Iya aku juga sudah baikan. Oh iya aku ada kabar bahagia” ucap Pak Rendra


“Apa itu? Aku sudah bisa merasakan dari suaramu” balas Pak Deri

__ADS_1


“Hanum sudah bersedia untuk dinikahkan dengan Aditya. Kapan kita berbicara tentang lanjutannya?” tanya Pak Rendra


__ADS_2