Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Dijodohkan?


__ADS_3

Hanum dan Lukas memasuki rumah dengan mengucap salam. Diruang tamu sudah ada tiga orang yang amat dikenal oleh Hanum yaitu Pak Deri, Bu Dena, dan Aditya. Pertemuan mata antara Aditya, Lukas dan Hanum sontak membuat mereka diam tanpa bergerak seakan kaku seolah kaget dengan apa yang dilihat.


“Eh Hanum dan Lukas udah pulang” sapa Bu Rita sembari mengatur teh di meja


“Ayo salim dulu sama Om Deri dan Tante Dena, Hanum!” perintah Ayah


“Tante, Om, sudah dari tadi?” tanya Hanum sungkan diikuti Lukas yang juga mengulurkan tangan untuk memberi salam


“Ngga barusan kok. Kalian habis darimana?” tanya Om Deri


“Oh ini om keluar sebentar, ngerjain tugas” terpaksa Hanum berbohong karena tidak mungkin ia jujur kalau mereka baru saja dari pantai. Mereka bisa menganggap kalau Lukas pacar Hanum


“Cih habis ngerjain tugas atau pacaran? Lagian tugas apa yang dikerjakan. Dia juga belum menyampaikan progres skripsi nya padaku” batin Aditya yang melirik ketika Hanum berbicara.


Tatapan mata Aditya seolah tak suka melihat kedekatan mereka. Ia berpikir mungkin Hanum dan Lukas memang sudah meresmikan hubungan mereka berdua.


“Om, tante Lukas pamit dulu ya?” sembari menundukkan kepala dan senyum


“Loh kenapa buru-buru ngga nge teh dulu?” tanya Bu Rita


“Ngga tante. Soalnya juga udah sore. Mari tante, om. Assalamualaikum!” pamit Lukas


“Iya. Walaikumsalam” jawab serentak oleh semua penghuni yang berada di ruang tamu.


...****************...


Saat semua keluarga asyik berbincang. Lagi- lagi hanya Aditya dan Hanum yang terlihat canggung. Pak Deri langsung mengutarakan niatnya.


“Begini Ren. Bagaimana kalau kita memper-erat hubungan pertemanan menjadi keluarga?” tanya Pak Deri dengan menatap Pak Rendra serius

__ADS_1


“Bagaimana maksudmu, Der? Bukannya kita sudah seperti saudara” selidik Pak Rendra seolah tak mengerti


“Iya. Mari kita nikahkan anak kita Hanum dan Aditya sepertinya mereka cocok bersanding” sambung Pak Deri


“Oh ide bagus juga. Lagian kapan lagi aku punya mantu yang seperti ini?” jawab Pak Rendra


“Bagaimana kalau kita tanyakan mereka. Bagaimana pendapat mereka?” menanyakan pertanyaan sembari meliha Hanum dan Aditya yang duduk berseberangan.


Mata Hanum terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang ia dengarkan. Begitu juga dengan Aditya yang tersedak saat menikmati minuman nya.


“Kamu ngga papa Adit?” tanya Bu Dena kepada anaknya


“Ha iya ga papa mah. Adit Cuma kaget aja dengan keputusan mendadak seperti ini Mah” jawab adit sambil mengambil tisu di depannya


“Iya Bu, Yah. Hanum juga belum siap. Lagian Hanum juga harus menyelesaikan kuliah Hanum.” Jawab Hanum cepat


“Loh Aditya kan bisa membantu skripsi mu. Nanti kamu juga lebih mudah untuk cepat lulus. Jadi dia bisa membimbing mu sebagai suami. Ibu rasa ini memang yang terbaik. Lagian kamu juga sudah pantas untuk menikah nak” jawab Bu Rita menjelaskan


“Tapi Hanum masih punya cita-cita untk bekerja dan mandiri setelah kuliah Yah, Bu” dengan memohon


“Kamu masih bisa melanjutkan kuliah mu dan bekerja kok setelah itu Hanum” jawab Pak Deri


“Kalian tidak usah bingung. Untuk masalah rumah setelah menikah sudah kami persiapkan. Kalian berdua hanya tinggal mempersiapkan diri kalian saja untuk menikah. Bagiamana” tanya Pak Deri melanjutkan kata-katanya tadi.


Sebenarnya Aditya mau menyangkal perkataan mereka semua. Hanya Aditya akan terlihat tidak dewasa jika meronta dan tetap tidak mau dinikahkan dengan Hanum. Ia berencana untuk mengutarakan pendapatnya nanti setelah mereka pulang dari rumah Om Rendra.


Perbincangan pun berlanjut hingga tiba waktu makan malam. Setelah menyantap hidangan dan makan malam Pak Deri sekeluarga pamit pulang dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada keluarga Pak Rendra.


“Makasih hidangannya ya Ren. Enak sekali. Semoga rencana kita menjadi keluarga juga cepat terlaksana” ucap Pak Deri sembari keluar menuju ke tempat mereka parkir mobil tadi.

__ADS_1


“Iya. Sama sama. Aku juga berharap begitu Der. Kalian hati-hati ya” jawab Pak Rendra sembari mengimbangi langkah Pak Deri menuju mobil


“Jeng kami pulang ya. Hanum calon menantu mama. Kami ngga sabar itu segera hadir dalam pernikahan kalian. Sambil memeluk Hanum


Hanum pun pasrah menerima pelukan dari Bu Dena. Hanya saja dia berharap Ayah dan Ibu tau perasaannya untuk tak mau segera menikah. Ia memikirkan apa yang akan dikatakan nanti.


Keluarga Pak Deri pun pergi. Pak Rendra melihat mobil mereka melaju dan kembali ke rumah.


“Yah, Bu. Pokoknya Hanum ngga mau dinikahin sama Aditya. Hanum masih mau melanjutkan mimpi Hanum. Apalagi Aditya bukan laki-laki pilihan Hanum” ucap Hanum kesal


“Tidak bisa. Ayah sudah menyetujui pernikahan kalian. Kamu harus tetap menikah dengan Aditya. Ayah juga tidak yakin kamu akan bisa mendapatkan laki-laki sebaik Aditya jika kamu menolaknya” jawab Ayah tegas


Memang ayah Hanum termasuk orang yang keras dengan apa pun pendiriannya. Tapi ia bukan tidak memikirkan perasaan Hanum. Tapi ia yakin bahwa Aditya bisa membimbing Hanum. Lagian dia juga mengenal Deri dan istrinya yang akan memperlakukan Hanum sebaik mungkin.


“Terserah Ayah kalau Ayah memang mau melihat Hanum bunuh diri dari pada menikah yang dipaksakan seperti ini. Lagian Ayah kan juga mengerti apa nanti kata satu kampus kalau Hanum menikah dengan Aditya yang notabene nya sebagai dosen sekaligus dosen pembimbing skripsi Hanum. Mereka pasti menganggap kalau Hanum merayu Aditya, dan melakukan hal yang tak pantas, yang membuat Aditya terpaksa mau menikahi Hanum. Karena jelas Aditya tidak mau dengan Hanum pikir satu kampus sementara yang mengejarnya adalah cewek-cewek cantik yang jelas diatas Hanum semua “ jelas Hanum


“Apapun alasan kamu ini pilihan Ayah. Ayah mengerti semua konsekuensinya” tegas menjawab Hanum


“Hanum sudah nak, ayo Ibu antar ke kamarmu. Kamu kelihatan capek seharian keluar” minta Ibu sembari merangkul Hanum dengan maksud menghentikan perdebatan ini.


Setelah tiba di kamar Hanum langsung menangis dan menutupi wajahnya


“Ayah kenapa tidak mau mengerti Hanum, Bu. Ayah memaksakan semua yang Hanum tidak suka” sambil tersedu-sedu menangis


“Kamu mengerti kan sifat Ayahmu semakin kamu membantah semakin ia mau mewujudkan keinginannya. Niat ayah juga tidak sepenuhnya salah Hanum. Ia ingin melihat kamu bahagia nanti.” Jawab Ibu sambil mengelus rambut Hanum


“Bahagia Bu. Ayah malah semakin membuat Hanum sedih dengan sikap Ayah yang menekan seperti ini”


“Ya sudah kamu tenang sekarang kamu istirahat dulu. Setelah itu pikirkan semua ini dengan pelan-pelan. Mungkin suatu saat kamu akan mengerti maksud Ayah

__ADS_1


Bu Rita sebenarnya tidak tega dengan Hanum tapi ia yakin ini yang terbaik.


__ADS_2