
Motor Devano sudah siap untuk mengantar Intan. Akan tetapi, Intan masih saja bertahan menolak tawaran Devano dengan sopan. Berboncengan dengan seseorang yang belum berstatus apa-apa dengan dirinya pastilah akan mengundang tanda tanya besar, begitulah yang tengah Intan pikirkan.
“Tidak, Dev. Terima kasih. Aku jalan kaki saja.”
“Kamu takut ada yang membicarakan kita, ya?”
Intan mengangguk. “Kita bukan pasangan,” ungkap Intan yang justru mengundang respon tidak terduga dari Devano.
“Kalau begitu … kamu mau jadi pasanganku, nggak? Biar bisa kubonceng.”
Devano. Berhentilah menggodaku!” Intan langsung tengok kanan kiri, khawatir ada yang mendengar perbincangan mereka. “Aku lebih baik naik ojek saja,” celetuk Intan kemudian.
“Kalau dapat driver cowok gimana? Tetap mau naik ojek? Bang ojeknya kan bukan pasanganmu.” Devano melebarkan senyumnya, tampak sekali begitu menikmati ekspresi Intan yang mulai berubah.
“Sudah-sudah. Aku mau pulang saja.”
Langkah kaki Intan terayun lagi. Kali ini sedikit lebih cepat demi bisa menghindari Devano. Sayangnya, langkahnya terkejar. Tidak disangka-sang Devano justru menyejajari langkah Intan menggunakan motornya.
“Kamu ngambek, Tan?”
“Nggak.”
“Tuh, masih cemberut.”
Intan langsung menoleh dan melebarkan senyumnya pada Devano. Hanya sekilas, lantas kembali melihat ke depan sambil tetap berjalan.
“Kamu pulang saja, Dev.”
“Tidak mau. Aku mau mengantar sampai kamu menyeberang jalan besar.”
Helaan nafas Intan terdengar. Dia menyerah, membiarkan saja apa yang ingin Devano lakukan.
Beberapa detik saling diam, jantung Intan mendadak saja berdebar-debar. “Wahai jantung, tenanglah!” Batin Intan, sambil tetap mengayunkan kakinya.
Langkah kaki Intan sampai di ujung jalan. Tiba saatnya dia berpamitan pada Devano. Di luar dugaan, rintik hujan tiba-tiba mengambil peran. Bahkan, hanya butuh beberapa detik saja hingga hujan deras mengguyur bumi tanpa pemberitahuan. Intan, dia yang semula memilih akan berlari menuju rumah pun harus mengurungkan niatan. Dia berteduh di warung kopi seorang diri. Ya, awalnya Intan berpikir Devano telah pergi, sehingga Intan bisa berteduh di warung kopi seorang diri. Nyatanya, Devano ikut berteduh di tempat yang sama.
"Dev, kamu ikut neduh juga?”
“Iya, Tan. Memangnya kamu tega lihat aku hujan-hujanan.”
“Kan hanya air hujan, nanti juga kering.” Intan tersenyum lebar. “Seperti waktu tercebur kolam ikan.”
Seketika itu Devano tertawa renyah karena teringat kata-katanya saat dulu dia ikut menceburkan diri ke dalam kolam ikan demi menemani Intan agar tidak basah sendirian. Tawa panjangnya sampai mengundang perhatian orang-orang di sekitar, khususnya para pengunjung warung kopi yang pada saat itu juga terjebak hujan.
“Pelankan tawamu, Deeev.” Intan setengah berbisik.
__ADS_1
“Yuk, cari tempat duduk! Aku traktir kopi.”
Tidak ada pilihan lain bagi Intan selain mengiyakan ajakan Devano. Lagipula, hujan mengguyur semakin deras hingga hawa dingin terasa jelas bisa Intan rasakan. Seduhan kopi berteman cerita pastilah akan menghangatkan dan mengubah mood-nya.
Dua cangkir kopi hitam telah terhidang, beserta pisang goreng hangat yang dipilih menjadi teman. Intan dan Devano awalnya hanya diam, tapi mereka berdua sama-sama sadar bahwa obrolan menjadi hal penting yang bisa mereka lakukan. Bukan untuk sekedar mengisi waktu sembari menunggu hujan, tapi mumpung ada kesempatan untuk bertemu setelah kebersamaan mereka di danau berair jernih waktu itu.
“Bagaimana perjodohanmu?” Tetiba saja Devano bertanya setelah bergelut pikir dengan hatinya, akan bertanya atau tidak, tapi akhirnya ditanyakan juga olehnya.
“Batal.” Senyum Intan mengembang. “Terima kasih, Dev.”
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk kata-katamu waktu itu. Sepulang dari mengajar anak-anak danau.” Lagi-lagi senyum Intan mengembang penuh ketulusan.
Tanpa Intan sadari, jantung Devano kala itu berdebar kencang. Devano telah terjerat senyum tulus Intan.
Betapa cinta tiada yang tahu kapan hadirnya. Kadang tidak mampu terucap dalam kata, tapi gejolaknya sampai memberikan debaran berirama. Dag-dig-dug. Devano terbuai keindahan senyuman Intan, sampai lupa cara menyusun kalimat dengan benar.
“Aku … senang ikut mendengar.”
“Hm? Apa katamu barusan?”
“Bukan apa-apa. Lupakan.” Devano menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Untuk sejenak, baik Intan maupun Devano sama-sama menikmati waktu minum mereka. Kopi hitam yang setengah pahit sampai tidak terasa lagi pahitnya. Hawa dingin hujan sampai takut mendekat lantaran suasana hati Intan dan Devano yang menghangatkan keadaan.
“Tentu saja. Menjadi desainer adalah pilihanku.”
Intan menoleh ke arah Devano sembari melebarkan senyumnya. Bola mata Intan begitu lekat menatap, sampai hampir membuat Devano salah tingkah.
“Kamu menyukainya?” tanya Intan tanpa mengalihkan pandangan matanya.
“Ya, aku menyukai … nya.”
Senyuman Intan berubah menjadi tawa ringan. “Benar-benar menyukainya?”
Devano mengangguk. “Tentu saja.”
“Menyukai apa?” Pertanyaan Intan penuh pancingan.
“Sikapmu yang seperti ini, Tan. Aku menyukainya.” Batin Devano.
“Maksudku, apa kamu menyukai pekerjaanmu, Dev?”
Ekspresi Devano saat itu tidak bisa dijelaskan. Tampak berpikir, setengah bingung, hingga bercampur dengan salah tingkah yang dengan gesit dia cegah agar tidak tampak berlebihan di depan Intan.
__ADS_1
“Ya. Aku menyukai pekerjaanku. Bagaimana denganmu?”
Akhirnya, Devano berhasil mengatasi dirinya dan bisa balik bertanya. Keisengan kata yang biasa Devano gunakan untuk menggoda Intan sampai tidak mampu dia gunakan karena keadaan jantungnya yang berdebar-debar.
“Aku …." Intan menunduk sebentar, kemudian melanjutkan kata-katanya. “ Aku tidak menyukainya, Dev.”
Deg!
Senyum Devano langsung memudar, terganti dengan wajah heran. Jawaban Intan tidak terduga, bahkan mengejutkan. Kenapa? Apa yang membuat Intan tidak menyukai pekerjaannya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seketika itu memenuhi benak Devano.
“Kenapa? Bukankah kamu begitu menikmati waktumu saat mengajar? Aku melihatnya sendiri saat kamu mengajari anak-anak danau waktu itu.”
“Ya. Aku hanya menyukai waktuku saat mengajar, tapi tidak dengan yang lain-lainnya.”
“Contohnya?”
“Seperti … wajah-wajah yang menganggapku sebagai saingan. Mengaku rekan, tapi nyatanya menjatuhkan dari belakang. Aku tidak menyukainya.”
Kalimat Intan terdengar seperti curahan hati yang tidak bisa Devano abaikan.
“Menurutku, abaikan saja. Nanti mereka juga lelah. Yang terpenting, kamu menikmati waktumu saat mengajar murid-muridmu di sekolah. Kalau ada yang menganggapmu sebagai saingan, itu artinya sinarmu benar-benar menyilaukan."
Lagi-lagi Intan melebarkan senyuman sembari melayangkan tatapan matanya pada Devano. Jawaban itulah yang Intan harapkan. Bukan jawaban menyudutkan, apalagi membanding-bandingkan. Sebenarnya Intan sudah paham apa yang harus dia lakukan. Sekali lagi, yang Intan butuhkan adalah penguatan. Akan tetapi, ada hal lain yang sebenarnya Intan butuhkan. Bukan hanya penguatan, melainkan hadirnya seseorang yang selalu ada untuknya, mendengarkan setiap curahan hatinya, dan mampu memberikan motivasi bijak atas situasi yang sedang dihadapinya. Bisa dikatakan, yang Intan butuhkan adalah bahu untuk bersandar yang terbalut dalam ikatan halal.
“Tan, kenapa senyum-senyum begitu, sih?” Terpaksa Devano berkata demikian demi menutupi rasa geroginya akibat ulah senyum Intan.
“Yee. Masa orang senyum nggak boleh, sih?” Intan langsung mengerucutkan bibirnya.
“Boleh-boleh saja. Tapi nggak perlu nakutin orang gitu juga.”
“Ha? Maksudmu wajahku menakutkan?” Intan serius bertanya.
“Iya.”
“Ya sudah. Jauh-jauh sana!”
“Cie. Ada yang ngambek.”
“Terserah.”
Meski meminta Devano untuk menjauhkan diri darinya, tapi Intanlah yang menggeser tempat duduknya beberapa senti dari Devano. Dan lagi-lagi, untuk kedua kalinya, semua ekspresi dan reaksi yang tercipta antara Intan dan Devano pun terekam kamera. Ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Lelaki yang sama seperti sebelumnya. Lelaki yang baru beberapa menit lalu datang ke warung kopi itu sukses mendapatkan apa yang diinginkan olehnya.
“Misi berhasil,” ucap si lelaki.
Siapa lelaki misterius itu? Misi seperti apa yang dia niatkan pada Intan dan Devano? Nantikan lanjutan ceritanya!
__ADS_1
Terima kasih author ucapkan untuk reader Takdirku Bersamamu yang langsung lanjut membaca novel ini. Sedikit berbeda dari karakter-karakter di novel author sebelumnya, tapi semoga reader menyukainya. Konflik ringan, tidak seperti novel Ikatan Cinta Alenna. Kritik saran dipersilakan. Boleh via komentar atau masuk ke grup chat author. Enjoy reading. Salam Luv 💜
Bersambung ….