PANTAS

PANTAS
Bab 25 - Pengagum Rahasia dari Masa Lalu


__ADS_3

Yoga Geraldi terpaut lebih tua tiga tahun dari sang adik, Devano Albagri. Saat berada di semester akhir perkuliahan, Yoga banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan umum kampusnya. Saat itu, Intan adalah mahasiswi semester kedua yang masih berpenampilan cupu, dan terkenal kutu buku. Ya, Yoga berada di kampus yang sama dengan Intan, tapi jurusan yang di tempuh jauh berbeda. Bahkan, gedung tempat mereka kuliah juga berbeda.


Perpustakaan, di sanalah Yoga sering berpapasan langkah dengan Intan. Hal yang sangat wajar dan tampak biasa saja. Namun, semua berubah saat Intan tidak sengaja meninggalkan coretan tangannya dan ditemukan oleh Yoga. Selembar puisi, dan diksinya begitu indah merasuk ke dalam hati. Dari sanalah hati Yoga mulai tersentuh kata-kata indah karya Intan.


“Intania Zhesky. Oh, jadi itu namamu.”


Yoga tidak mengembalikan puisi buatan Intan. Dia justru menyimpannya agar bisa dibaca berulang.


Waktu terus berlalu. Yoga berhasil menyelesaikan skripsinya, dan siap wisuda. Bertepatan dengan itu, Yoga juga mendapat info terbaru tentang Intan yang saat itu memenangkan kontes bercerita. Semakin bertambah pula kekaguman Yoga pada karya tulisan Intan. Apalagi, setelahnya penampilan Intan tidak lagi terlihat cupu. Memang masih berpenampilan biasa, tapi aura cantiknya semakin memancarkan pesona.


Ya, dari sanalah Yoga menjadi semakin terkagum dengan sosok Intan, tapi semua terselubung dalam diam. Ditambah lagi, Yoga sudah memiliki kekasih. Maya, dialah yang di masa sekarang ini menyandang status sebagai istri Yoga.


Sudah lulus dari kampusnya, tapi Yoga masih saja menjadi stalker Intan melalui akun sosial media. Yoga sering mengikuti cerita-cerita karya Intan, baik puisi ataupun novel online. Sebatas jadi pengagum rahasia, tapi perasaan Yoga sempat di luar kendalinya. Dan, kekaguman itu berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya. Bahkan, sampai Intan juga lulus dari kampusnya.


Kekasih Yoga, Maya, dia tiba-tiba saja meminta kepastian hubungan. Sudah berpacaran sejak tahun terakhirnya di bangku kuliah, tapi Yoga tidak kunjung melamarnya. Benar-benar sudah bertahun-tahun lamanya. Wajar saja jika Maya meminta kepastian karena tidak ingin hubungannya berakhir sia-sia. Hati Yoga saat itu benar-benar bimbang, antara melanjutkan hubungan atau membalikkan hati untuk Intan.


“Bang Yoga lagi baca apa?” tanya Devano saat dia masih awal-awal bekerja sebagai desainer.


“Novel. Bagus banget ceritanya,” ungkap Yoga kala itu.


“Coba lihat!” Devano mengambil alih ponsel kakaknya, dan seketika itu melebarkan bola matanya. “Ini sih temanku, Bang. Si Intan,” imbuh Devano.


Saat itulah Yoga menangkap senyum tak biasa dari Devano, saat menyebut nama Intan. Hanya sekilas, tapi Yoga bisa dengan jelas mengartikan senyum sang adik. Sayang sekali, saat Yoga bertanya tentang wanita yang dicintai sang adik, Devano justru menyebut nama Dhea.


“Bang, cepetan nikah sama Kak Maya. Ibu tanya melulu, tuh. Nunggu apa lagi, sih?”


“Sebenarnya, ada wanita lain yang abang pikirkan, Dev.”


“Waduh. Jangan coba main-main dengan hati, Bang! Abang sudah pacaran lama banget loh sama Kak Maya.”


“Iya. Abang tau. Tapi, ada seseorang yang abang kagumi.”


Saat itu Devanolah yang menjadi si bijaksana. Meski usianya terpaut lebih muda tiga tahun dari kakaknya, tapi Devano cukup mampu memberi nasihat untuk sang kakak yang sedang gundah gulana.


“Rasa kagum itu jauh berbeda dengan rasa cinta. Abang harus bisa memilah," ucap Devano dengan bijak.


Yoga tertampar kalimat sang adik. Setelah dipikir lebih dalam, akhirnya Yoga bisa membedakan. Kepada Intan, hati Yoga memang bergejolak, tapi saat membaca tulisan karyanya saja. Sedangkan kepada Maya, Yoga merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti rasa tidak ingin kehilangan, dan rasa ingin melindungi ketika Maya dalam bahaya. Dan … dari sanalah pikiran Yoga terbuka. Saat itu pula dia bersikap tegas dan langsung melamar Maya.


Tentang ide untuk menjodohkan Devano dengan Intan, itu terbersit dadakan. Saat itu Devano benar-benar seperti orang tanpa masa depan karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dhea, wanita yang dicintai Devano itu tidak memiliki perasaan yang sama. Dan, sepertinya takdir memang membawa cerita indah untuk sang adik tercinta. Rupanya niatan Yoga telah didukung dengan pertemuan Intan dan Devano di kolam ikan yang tanpa disengaja. Benar-benar kejadian di luar perencanaannya. Yang jelas, itu semua menguntungkan Yoga. Sehingga, dia hanya perlu menjalankan peran sebagai pendukung perjalanan cinta Intan dan adik yang dikasihinya.


***

__ADS_1


“Dev. Kamu suka coklat apa vanila?”


“Aku sukanya kamu.”


Senyum Intan seketika merekah. Antara malu, tapi hatinya begitu senang mendengar penuturan Devano. Seorang Intan yang kaya diksi dalam kamus novelnya, mendadak saja kalah dengan gombalan lelaki yang telah berhasil mengisi ruang hatinya.


Es krim rasa vanila milik Intan hanya diaduk-aduk. Sesekali memang dimakan, tapi tidak secepat ritme makan Devano.


“Kamu makan es krimnya cepat sekali, Dev. Ingin cepat pulang, ya?”


Devano menggelang, kemudian mengambil alih sendok es krim milik Intan. “Yang benar, ingin cepat nyuapin kamu. Lama-lama tuh es krim mencair kalau cuma dianggurin, Tan.”


“Eh-eh. Nggak mau. Aku bisa makan sendiri. Disuapin, kayak anak kecil saja.”


Sendok es krim Intan ambil alih, lantas mengikuti ritme makan Devano. Benar-benar cepat, dan keduanya berakhir dalam tawa yang sama. Intan dan Devano sama-sama menertawakan sikap kekanakan mereka.


“Bu guru harus segera pulang, ya. Besok kan masih harus mengajar.”


“Oke, iya.”


“Boleh aku antar pulang?”


“Tidak boleh. Bukankah kamu mau bertemu abangmu dulu? Ada di mana dia? Apa ada di sini juga?” Intan bersemangat mengedarkan pandangan matanya.


“Biar aku hubungi Bang Yoga dulu, ya. Siapa tahu dia sudah di dekat sini. Sekalian kamu bisa kenalan sama dia.”


“Oke.”


Devano mengetikkan pesan untuk Yoga. Sudah terkirim, tapi tidak lekas mendapat balasan darinya. Pesan yang masuk justru dari Reynal. Benar-benar pesan penting, sampai Devano harus meminta Intan pulang lebih dulu agar tidak mengetahui obrolannya dengan Reynal.


Menit berikutnya, Devano segera menelpon Reynal. Tidak butuh waktu lama sampai telepon itu diterima.


“Jefri sudah bercerita semua padamu?” Devano langsung membidik dengan tanya.


“Iya, Dev. Tapi niatannya baik. Dia tidak bermaksud apa-apa selain ingin membantu hubunganmu dengan Intan,” terang Reynal.


“Lalu sore ini kau menemui Sandhi? Begitu? Menjelaskan padanya tentangku, iya?” Devano memberondong tanya.


Nada bicara Devano tampak tidak ramah. Jelas sekali dia kecewa dengan sikap Reynal yang memilih langsung menemui Sandhi. Padahal, Reynal bisa saja lebih dulu menemui Devano untuk meminta kejelasan atau sekedar mendengarkan cerita tentang Intan.


“Dev. Aku tahu kau tidak suka dengan caraku. Tapi, dengan Sandhi tahu tentang dirimu yang dicintai Intan, dia bisa segera melepas Intan. Jujur saja, aku ada di pihakmu, Dev.”

__ADS_1


Devano memejamkan matanya sebentar, kemudian menghembuskan nafasnya perlahan.


“Baiklah. Maaf, Rey. Salahku juga tidak jujur padamu dari awal. Terima kasih sudah ada di pihakku.”


“Dev, maaf aku harus mengatakan ini. Sepertinya Sandhi ingin bertemu denganmu. Dia baru saja mengirim pesan,” ungkap Reynal.


“Kapan?”


“Sandhi belum mengatakan tempat dan waktu temunya.”


Mendadak saja, di detik itu juga Devano membuat ide bagus untuk mengatur pertemuannya dengan Sandhi. Devano sadar dan paham, Sandhi meminta bertemu pastilah untuk satu alasan. Kalau tidak untuk saling mengenal, pastilah untuk menguji kepantasan dirinya dengan Intan.


“Rey, biar aku saja yang menentukan waktu dan tempatnya.”


“Oke, Dev. Sebutkan saja. Nanti aku sampaikan pada Sandhi.”


Devano dengan jelas menyebutkan tempat beserta waktu temunya. Akhir pekan ini, di danau berair jernih. Devano akan membuat sedikit kejutan untuk Sandhi.


“Intan tidak boleh tahu hal ini. Jika aku bilang, dia pasti kepikiran," gumam Devano setelah mengakhiri teleponnya dengan Reynal.


“Tidak boleh tahu apa, Dev?”


Itu suara Yoga. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Devano kaget.


“Bukan apa-apa, Bang.”


“Nggak mau cerita sama abang, ya?”


Devano menggeleng pelan, kemudian melebarkan senyuman. Devano begitu jujur. Dia memang tidak ingin siapa pun mengetahui rencananya untuk bertemu Sandhi di danau berair jernih. Kecuali Reynal, dia memang harus tahu dan harus ikut bersama Devano akhir pekan ini. Paling tidak, Reynal akan berperan sebagai penengah andai terjadi hal-hal yang di luar kendali.


“Baiklah. Kalau begitu, abang ucapkan selamat saja atas kemajuan hubunganmu dengan Intan.”


“Abang sudah tahu semua? Apa tadi ….”


“Ya. Abang ngumpet di ujung tembok sana, tuh!”


Devano mengikuti arah telunjuk Yoga. Benar-benar tersembunyi sampai Devano tidak menduganya.


Pembahasan tentang kapan Devano akan melamar Intan menjadi topik hangat malam itu. Devano mengaku secepatnya akan datang melamar Intan, tapi tidak di akhir pekan ini. Karena di akhir pekan ini Devano akan menyelesaikan urusannya dengan Sandhi, si dosen tampan yang tidak terpilih.


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kejutan apa yang akan Devano siapkan untuk Sandhi? Apakah Intan benar-benar tidak akan mengetahuinya? Nantikan lanjutan ceritanya! Salam Luv 💜 Like+Fav.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2