PANTAS

PANTAS
Bab 9 - Les Privat


__ADS_3

Mimik wajah Devano masih tetap serius menunggu lanjutan kalimat Yoga. Pertanyaan sang kakak telah berhasil memancing rasa penasarannya. Siapa wanita itu? Kenapa tiba-tiba? Itulah yang mengusik pikiran Devano.


“Bang,” panggil Devano karena sang kakak tidak kunjung memberikan jawaban.


“Dia adalah ….”


Lagi-lagi kalimat Yoga tidak dilanjutkan, dan momen seperti inilah yang mematik rasa geregetan. Devano sudah tidak sabar. Sedari tadi dirinya sudah menunggu nama si wanita yang akan dijodohkan dengannya. Gagal pula Devano dalam mempertahankan sikap tenang. Diri Devano yang kerap kali santai dalam menyikapi keadaan, kali ini harus dikesampingkan karena ulah Yoga, kakaknya.


Terjadi perubahan. Terlihat dari gelagatnya, Yoga berniat mengungkap nama si calon wanita. Senyum Yoga mengembang, kepala sedikit dicondongkan ke depan, dan misinya berhasil dalam membuat Devano penasaran.


“Ra-ha-si-a,” ucap Yoga pada akhirnya.


“Ck.” Bibir Devano sampai berdecak pelan karena pada akhirnya tidak mengantongi jawaban.


“Tidak perlu kecewa begitu, Dev. Beberapa hari lagi, abang akan mengatur pertemuanmu dengan … dia.”


“Jangan repot-repot, Bang!”


“Tenang saja. Sama sekali tidak repot.”


“Tidak. Tidak perlu ada cara seperti ini.”


Yoga berdiri, keluar dari kursinya, kemudian mendekati Devano untuk membisikkan sesuatu padanya.


“Minggu pagi pukul sembilan, abang tunggu di Café Bintang. Kamu lihat sendiri siapa calon istrimu.” Yoga menepuk bahu Devano sebentar, lantas mengayunkan langkah menuju arah parkiran.


Tidak tahu harus berkata apa lagi. Mendadak saja Devano kehilangan kata-katanya. Pikirannya terpecah belah. Minggu pagi yang dimaksud kakaknya, itu terhitung lima hari dari sekarang. Ada di pekan ini, tapi sayangnya Devano merasa setengah hati.


Tepukan pelan di pundak Devano membuyarkan pikiran. Rupanya Jefri yang melakukan. Kalimat Jefri sebelum ini hanyalah alasan demi bisa memberi waktu pada Devano dan Yoga mengobrol berdua. Sedangkan Jefri, sedari tadi dia ada di meja lain, tidak jauh dari tempat Devano dan Yoga.


Jefri mendekatkan kursinya tepat di samping kursi Devano.


“Sepertinya ada yang serius, Bro?”


“Aku mau dijodohkan.”


“Whaaaat? Seriusan, nih? Sama siapa?”


Devano mengedikkan bahu sebagai tanda bahwa dirinya tidak tahu. “Minggu pagi baru bisa tahu,” imbuhnya.


“Tumben sekali Bang Yoga main teka-teki. Minggu ini aku ikut ya, Bro.”


Timpukan kecil mendarat di kepala Jefri. Tangan usil Devano sengaja melakukannya karena gemas pada sikap Jefri yang tidak paham situasi.


“Ngapain ikut segala, Jefri?”


“Penasaran, Dev.”


“Udah. Yuk, balik kerja!


“Ah, nggak asik!”


Waktu makan siang akan berakhir dalam lima menit. Devano dan Jefri kembali pada rutinitas pekerjaan mereka. Mereka berdua memang sama-sama desainer muda, tapi Devano lebih dipercaya untuk memimpin beberapa karyawan lainnya. Itulah alasan Jefri yang pada saat itu memberi julukan Pak pada Devano.


“Gaya Retro. Bagus.” Jefri mengintip komputer Devano yang masih menyala.


“Terima kasih.”


“Coba gambar wajah Intan, Dev.” Iseng saja Jefri berkata demikian.


Devano tidak menanggapi keisengan Jefri. Dia hanya tersenyum sekilas, kemudian kembali fokus pada pekerjaan.


“Intan. Semoga foto-foto yang kukirimkan tadi benar-benar bisa menjadi amunisimu untuk selalu semangat mengajar dan berbagi. Dan, semoga kita bisa bertemu dan menikmati waktu bersama-sama lagi.” Batin Devano.

__ADS_1


***


“Les privat?” Intan menerima panggilan suara dari adiknya, Mira.


“Katanya cuma selama liburan ini aja, Kak. Ini orangnya lagi ngobrol sama ibu. Mau, ya?”


“Tapi kakak bisanya sore hari.”


Jeda sejenak, Mira terdengar sedang menyampaikan kalimat Intan pada ibunya.


“Setuju. Orangnya mau, Kak. Setelah ini aku kirimkan alamatnya.”


Intan mengakhiri telepon dari sang adik. Rencananya Intan akan melanjutkan bab-bab novelnya siang itu, mumpung masih liburan. Namun, Mira yang posisinya sedang keluar bersama sang ibu pun menyampaikan bahwa ada seseorang yang membutuhkan les privat untuk anaknya. Jadilah, Intan menunda niatan untuk melanjutkan bab-bab novelnya.


Ini bukan pertama kalinya. Sebelum-sebelum ini Intan juga sering mendapat job les privat berjangka waktu. Kebanyakan adalah tetangga-tetangga sekitar rumah. Terkadang ada juga dari tempat lain yang informasinya didapat dari tetangganya.


Sore harinya, Intan menuju alamat yang sudah dikirimkan Mira via pesan singkat. Intan memutuskan untuk berjalan kaki karena jalan yang dimaksud tidak begitu jauh dari gang rumahnya.


“Ouhm. Ternyata jauh juga.” Intan menyesal karena dugaannya salah.


Jalan yang tertulis di alamat memang tidak jauh dari rumahnya. Namun, nomor rumah yang dituju ada di ujung jalan, berseberangan dari rute jalan yang dipilih Intan. Meski demikian, Intan tetap melanjutkan langkah hingga sampailah dia di tempat tujuannya.


“Ma, Bu Gurunya datang.”


Seorang anak perempuan berlarian ke dalam rumah begitu melihat Intan. Intan, dia yang masih belum dipersilakan masuk rumah itu pun dengan sabar menunggu di depan.


Ibu sang anak pun keluar. Tutur katanya begitu ramah menyambut Intan. Dari obrolan singkat yang dibuat, Intan jadi lebih tahu niatan sang ibu mengadakan les privat untuk anaknya di masa liburan sekolah.


“Biar sore harinya bermanfaat. Biar Yunia nggak main HP terus waktu liburan, apalagi dia belum bisa baca.” Begitulah keterangan sang bunda yang ternyata tahu tentang Intan dari salah satu tetangga rumahnya.


Usai berkenalan sebentar dengan si anak, Intan pun memulai pelajaran. Sedikit sulit untuk membuat Yunia mau membaca, karena dia sudah merasa bisa.


“Bu Guru, aku sudah bisa baca.” Untuk ke sekian kalinya Yunia membela diri ketika Intan berniat mengajarkan huruf padanya.


“Panggil Kak Intan saja, ya.”


Suara hati Yunia tercurah. Bagi Intan, yang demikian ini sudah sering dia dengar. Terkadang, murid-murid di kelasnya pun bercerita tentang rumah, orangtuanya, sampai pada curhatan yang bersifat pribadi pun diceritakan. Memang, tidak semuanya demikian. Namun, ada saja yang memiliki permasalahan seperti yang Yunia ceritakan.


“Kalau begitu, ajari Kak Intan baca, yuk! Sepertinya Kak Intan lupa bagian ini bacanya gimana.” Intan beraksi karena sedari tadi Yunia belum mau membaca.


“Kak Intan belum tua udah lupa. Sini aku ajari, Kak. Yang ini huruf M-A-T-A-H-A-R-I dibaca m-a ma, t-a ta, h-a ha, r-i, ma-ta-ha-ri. Oh ini bacanya matahari, Kak. Yang pagi-pagi muncul.”


Nada polos Yunia khas anak kelas satu SD. Untuk sejenak, Intan jadi teringat anak-anak di danau berair jernih. Dan, tidak butuh waktu lama hingga ingatan Intan tertuju pada Devano.


“Intan, fokus. Ayo, fokus!” Batin Intan, berusaha kembali fokus mengajar.


“Yang ini dibaca bulan, Kak. Yang keluar saat malam.”


“Wah, hebat. Yunia sudah bisa baca.”


“Hihihi. Iya, dong. Yunia kan keren.”


“Mau lebih keren lagi, nggak?”


Yunia mengangguk mantap dan terlihat lebih bersemangat. Momen ini dimanfaatkan Intan untuk benar-benar memulai pelajaran. Intan menanamkan konsep yang mudah diterima Yunia, mengajarkan untuk tidak lagi mengeja, dan … berhasil.


“Ma-lam ha-ri in-dah se-ka-li. Benar, Kak. Malam hari itu indah sekali.”


Terdengar masih terbata. Bagi Intan, ini menjadi penanda kemajuan karena Yunia tidak lagi mengeja. Lebih dari itu, Yunia cepat memahami apa yang sedang dibaca olehnya.


“Aku suka mem-ba-ca daaann me-nulis.” Kali ini Yunia lebih lancar dari sebelumnya.


“Hebat! Yunia makin pintar, nih!”

__ADS_1


“Hihi. Kak Intan baik banget. Mama aja nggak pernah muji aku.” Mendadak saja raut wajah Yunia berubah sendu.


Intan berusaha memahami keadaan. Momen sendu yang Yunia rasakan pasti tidak sesederhana yang dibayangkan.


“Kak Intan boleh minta tolong panggilkan mama sebentar?”


“Siap, Kak. Tunggu sebentar, ya.”


Aksi Intan berlanjut. Begitu sang bunda keluar, Intan justru meminta Yunia membaca beberapa kalimat yang tadi sudah dipelajari bersama Intan. Di luar dugaan, Yunia justru semangat sekali menunjukkan hasil belajarnya pada sang bunda, bahkan terdengar lebih lancar dibandingkan tadi saat belajar.


“Anak mama pintar. Sini peluk dulu, Sayang.”


“Asiiik.”


“Belajar yang sungguh-sungguh sama Kak Intan, ya.”


“Oke, Ma. Tapi, mama harus dengerin aku baca setiap Kak Intan ke sini, ya?”


“Tapi, mama ….”


Kata-kata sang bunda tidak dilanjutkan karena menangkap kode mata dari Intan, juga ditangkap pula reaksi penuh harap dari Yunia.


“Baiklah. Mama akan mendengarkan Yunia. Semangat ya, Sayang.”


“Horeeee!”


Momen di hadapan Intan begitu menggetarkan hati. Tanpa sadar, senyum Intan mengembang sendiri. Hingga tak lama kemudian, bola mata Intan tidak sengaja menangkap sosok lelaki yang memenuhi pikirannya sebelum ini.


“Devano?”


Posisi Intan memang berada di teras depan rumah Yunia. Sehingga, dia bisa dengan jelas melihat siapa saja orang-orang yang melintas dan berhenti di area sekitar rumah Yunia.


“Kak Intan kenapa, Kak?” tanya Yunia begitu sang bunda kembali ke dalam rumah.


“Yunia kenal sama om-om yang masuk ke rumah itu?” Intan menunjuk rumah yang tepat berada di sebelah rumah Yunia.


“Oh. Itu Kak Devano. Bukan om-om, Kak.”


“Memang tinggal di sana?” Intan setengah berbisik.


“Iya.”


Deg!


Mendadak saja jantung Intan berdebar-debar. Benar-benar berdebar kencang sampai Intan sulit mengendalikan.


“Apa ini kebetulan? Atau justru memang sudah ditakdirkan?” Batin Intan.


Les privat sore itu pun berakhir. Intan pamit pulang. Namun, langkahnya terhenti saat melintasi rumah Devano.


“Ehem. Kok jalan kaki?” Devano menghampiri Intan.


Sebenarnya Devano mengenali sosok Intan yang beberapa saat lalu masih berada di teras rumah Yunia. Namun, Devano memutuskan untuk tidak menyapa Intan lebih dulu hingga les privatnya selesai.


“Iya, Dev. Nggak begitu jauh, kok. Em, aku pulang dulu, ya. Keburu malam, nih.”


“Tunggu sebentar. Biar kuantar.”


“Aku rasa ...."


Intan berniat mencegah, tapi Devano terburu menuju motor yang masih terparkir di halaman rumahnya. Dan, tanpa Intan dan Devano sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Senyumnya merekah menghiasi wajah, kemudian jemarinya bergerak cepat meraih ponsel dan menghubungi seseorang via panggilan suara.


“Misi berhasil,” ucap si lelaki, lantas bersembunyi agar keberadaannya tidak diketahui.

__ADS_1


Intan akan berboncengan dengan Devano? Apa jadinya, ya? Lalu, siapakah lelaki yang memperhatikan Intan dan Devano? Mungkinkah orang dengan niatan jahat? Nantikan lanjutan ceritanya! Like+Fav


Bersambung ….


__ADS_2