
Intan akan dijadikan istri kedua oleh Farel? Tentu saja Sandhi-lah orang pertama yang tidak diterima. Sandhi spontan berdiri. Wajahnya dipenuhi emosi.
"Jaga ucapan Anda, Tuan Farel. Saya tidak akan membiarkan semua itu terjadi!" tegas Sandhi.
"Oh-oh. Sandhi Ardiaz Putra, ada apa ini? Bukankah kau hanya berstatus sebagai teman baik Intania Zhesky?"
Salah satu anak buah Farel yang sedari tadi berdiri di samping kanan, tiba-tiba saja mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Farel. Tidak terlalu lama, tapi cukup membuat perubahan ekspresi di wajah Farel.
"Ternyata oh ternyata, seorang Sandhi Ardiaz Putra pernah menaruh hati pada Intania Zhesky. Sayang sekali cintanya tak terbalas karena Intania Zhesky lebih memilih Devano Albagri." Farel tertawa pelan. "Menarik sekali perjalanan cinta kalian. Kita lihat saja nanti, apakah Intan akan mampu menolak pesona seorang Farel yang memiliki tubuh atletis seperti ini?" imbuhnya dengan wajah tenang.
Sandhi semakin muak. Emosi, kesal, geregetan, semua Sandhi rasakan. Tangan Sandhi sampai mengepal. Akan tetapi, Fani yang sudah hafal dengan sikap sang kakak yang menyebalkan, dia langsung membuat makian.
"Kak Farel keterlaluan. Dan kau asisten sok tahu, kau benar-benar menyebalkan. Sandhi, ayo kita cari Intan. Jangan sampai Kak Farel yang duluan." Fani menarik lengan Sandhi ke arah pintu keluar.
"Fani adikku, jangan pergi! Kakak ipar sangat rindu padamu."
Fani tidak menyahuti. Dia terus mengayunkan langkah sambil tetap memegangi lengan Sandhi. Sepanjang perjalanan menuju mobil, Fani bahkan terus menggerutu, masih tetap memaki-maki kakaknya.
"Ayah ibu di surga sana pasti kecewa dengan sikapmu, Kak. Semaunya sendiri. Benar-benar tidak punya hati," gerutu Fani.
Di dalam mobil, Fani masih saja mengomel. Sandhi sampai prihatin melihatnya, karena omelan dan gerutuan Fani tidak jauh-jauh dari hubungan keluarga yang tidak harmonis di masa lalu.
"Harta tahta telah berhasil membuat Kak Farel buta. Aku kasihan, tapi juga muak dengan apa yang sedari dulu dilakukan. Dasar-dasar-dasar!" Tangan Fani memukul-mukul kotak tisu di hadapannya.
Dengan cepat tangan Sandhi menghentikan tingkah Fani dengan mencengkram pergelangan tangan. Fani sempat memberontak, tapi Sandhi semakin kuat mencengkram.
"Lepasin, nggak?"
"Baiklah. Silakan lanjutkan!" Sandhi melepaskan cengkraman.
"Uuuuh. Aku sebal sekali!"
Fani melanjutkan aksinya. Tapi kali ini bukan tisu yang dipukuli, melainkan lengan kiri Sandhi. Fani memukul-mukulkan tangannya beberapa kali demi meluapkan emosi. Beruntungnya, Sandhi tidak masalah sama sekali. Dibiarkan saja Fani memukul-mukul lengan kirinya. Hingga kemudian, Fani menangis. Fani menangis sambil merangkul lengan kiri Sandhi.
"Intan tidak boleh sampai masuk dalam kehidupan Kak Farel." Di tengah kesedihannya, Fani masih sempat memikirkan Intan.
"Kenapa kamu peduli sekali pada Intan? Padahal statusmu hanyalah seorang penggemar," ujar Sandhi tiba-tiba.
Fani mendongakkan wajahnya, melihat ke arah Sandhi, kemudian melepas lengan kiri Sandhi yang tadi sempat dijadikan tempat menumpahkan tangisan.
"Sekarang aku tanya padamu. Kenapa kamu cinta mati pada Intan, ha? Padahal statusmu hanyalah seorang teman. Harusnya kalian hanya berteman, bukan bermain perasaan."
Perkataan Fani menohok hati Sandhi. Tidak lagi-lagi dia mempertanyakan status Fani yang menurutnya hanya sebatas penggemar dari novel karya Intania Zhesky.
"Orang sepertimu mana tahu rasanya memiliki idola," celetuk Fani sambil mengusap air matanya.
Beberapa detik sempat terjadi kebekuan. Namun, Sandhi berhasil mencairkan keadaan dengan menurunkan ego yang tadinya sempat meninggi.
"Maaf," ucap Sandhi kemudian.
__ADS_1
"Nggak akan kumaafkan. Ayo cepat kita cari Intan!"
Sandhi pun menginginkan yang demikian. Ingin rasanya segera mencari Intan sampai ketemu. Tapi, harus mencari mulai dari mana?
"Aku benar-benar tidak tahu harus memulai pencarian dari mana. Dan lagi, saat ini Devano pasti juga sedang berupaya menemukan Intan."
"Nah. Itu saja. Kita bergabung dengan Devano. Semakin banyak yang mencari, semakin besar peluang menemukan Intan."
Sandhi oke-oke saja. Tapi saat ini dirinya benar-benar lelah usai menempuh tiga jam perjalanan.
"Sebaiknya kita makan dulu. Terutama kamu, San. Aku tahu kamu butuh istirahat sebentar."
Sandhi mengangguk setuju. Itulah yang dia butuhkan saat ini. Istirahat sebentar agar tenaganya kembali.
"Eh-eh. Aku lupa belum minta izin sama Bos Ezza. Masa iya baru masuk kerja sudah main bolos saja."
"Sudah kumintakan izin," sahut Sandhi sambil mulai mengemudikan mobilnya untuk mencari tempat makan.
"Em, bagaimana denganmu?" Fani kepikiran, karena sebagai seorang dosen, Sandhi pastilah memiliki kewajiban untuk mengajar.
Sebagai jawaban, Sandhi hanya melayangkan senyuman. Sebenarnya Sandhi juga kepikiran karena tidak bisa bersikap profesional pada pekerjaan. Meskipun sudah ada tugas mandiri yang bisa diakses mahasiswanya, tapi tetap saja Sandhi merasa bersalah karena harus izin dan tidak bisa bertemu tatap di kelas bersama mahasiswanya.
"Semoga Intan segera ditemukan, agar pikiranku tenang." Batin Sandhi.
***
Devano masih melanjutkan misinya. Bersama Jefri dan Reynal, Devano terus mencari petunjuk tentang Intan. Meski banyak bertemu dengan kemustahilan, tapi Devano sama sekali tidak menyerah.
"Buat apa? Agar aku dimaki-maki karena tidak bisa menjaga Intan?"
"Kondisinya bukan lagi tentang persaingan hati, Dev. Tapi, tentang kemanusiaan. Intan harus segera ditemukan. Semakin banyak yang mencari, peluang Intan ditemukan juga semakin besar." Reynal begitu bijak.
Takdir seperti sedang terhubung. Tadi Fani menyarankan agar Sandhi bergabung dengan Devano agar lebih cepat menemukan Intan. Sekarang, Reynal menyarankan Devano agar meminta bantuan Sandhi dalam misi pencarian. Takdir seolah berkata bahwa Devano dan Sandhi masih tetap harus mewarnai perjalanan cinta sang guru muda. Intania Zhesky, dia sungguh beruntung karena dikelilingi orang-orang yang peduli padanya.
"Baiklah." Akhirnya Devano menurunkan egonya. Dia menuruti saran Reynal.
***
Takdir lain juga sedang terhubung di tempat Intan berada saat ini. Seorang guru bernama Bu Helen, ternyata dia berasal dari kota yang sama dengan Intan. Helen juga seumuran dengan Intan. Helen bekerja di luar kota karena lulus tes dan telah ditempatkan untuk mengajar di sana.
"Belum ada setahun aku bekerja di sini," ungkap Helen.
Intan menyambut hangat pengakuan Helen. Seperti ada harapan bagi dirinya agar bisa kembali ke kotanya dengan segera.
"Em, adik manis. Sudah mau menyebutkan namamu belum?" Helen berjongkok di depan si bocah lelaki yang ekspresinya masih datar.
Baru saja Intan menceritakan pada Helen kronologi penculikan si bocah lelaki yang juga melibatkan dirinya. Terkesan kebetulan, tapi Intan menganggapnya sebagai satu cerita yang telah ditakdirkan. Bagi Intan, jika sudah demikian pastilah akan ada satu pembelajaran, bahkan fakta baru yang akan memberi kejutan.
"Tan, kamu sebaiknya minum dulu. Tenangkan hatimu. Ayo dimakan rotinya. Biar aku yang membujuk anak manis ini."
__ADS_1
Intan mengangguk. Baru saja tangannya hendak meraih sepotong roti, si bocah lelaki tiba-tiba saja memeluknya.
"Kakak cantik tolong suapi aku, ya?" Pinta si bocah lelaki sambil mengeratkan pelukannya pada Intan.
Pelukan yang Intan terima terasa berbeda. Seolah ada rasa yang tersalurkan, bahwa si bocah lelaki butuh kasih sayang.
"Sini kakak suapi. Tapi, sebutkan dulu namamu." Intan membuat penawaran.
"Gion. Namaku Gion Samudra, Kak."
Deg!
Saat itu juga Intan teringat nama yang sama, yang sekaligus melambungkan ingatan Intan pada anak-anak di danau berair jernih, termasuk juga kebersamaannya dengan Devano Albagri.
"Gion? Aku benar-benar tidak asing dengan nama itu. Nama kalian benar-benar sama." Bukan Intan yang berkata demikian, tapi Helen.
Intan menoleh. Sedikit terkejut karena Helen juga mengenal nama yang sama.
"Intan, apa kamu tahu kalau di kota kita ada satu tempat yang indah? Namanya Danau Berair Jernih," ungkap Helen tiba-tiba saja bercerita.
"Ya. Aku tahu."
"Nah, ternyata di sana ada anak-anak hebat. Salah satunya ada yang bernama Gion. Namanya sama dengan anak manis ini." Helen mencubit pelan hidung mancung si bocah lelaki.
Deg!
Dalam hati Intan muncul rasa senang, karena Helen juga mengenal Gion, si anak danau berair jernih. Namun, tiba-tiba saja rasa senang Intan berubah menjadi cemburu karena Helen menyebut nama sang kekasih.
"Oya, apa kamu juga mengenal nama Devano Albagri?" tanya Helen, dan lagi-lagi begitu tiba-tiba, sungguh tidak terduga.
"Ya. Aku mengenalnya."
"Sampai sekarang aku masih menyukainya," ungkap Helen.
Deg!
"Menyukai ... siapa?" tanya Intan, ingin memastikan.
"Devano Albagri. Waktu itu kami sering jalan berdua."
Deg!
Ada perih yang Intan rasakan, tapi sebisa mungkin masih Intan tahan.
"Ah, sudah beberapa bulan aku tidak bertemu dengannya. Sejak ditugaskan mengajar di kota ini. Semoga saja Devano belum punya kekasih."
Deg! Deg-deg!
Hati dan pikiran Intan benar-benar teralihkan dari si bocah lelaki. Fokusnya kali ini tertuju pada pengakuan Helen yang ternyata menyimpan rasa untuk Devano. Tanpa banyak basa-basi lagi, Intan berani membuat pengakuan.
__ADS_1
" Perkenalkan. Aku adalah calon istri Devano Albagri."
Bersambung ....