
Cukup lama Jefri mengobrak-abrik isi jok motornya. Devano dan Reynal sampai bertanya-tanya, sebenarnya ada apa saja di dalam sana hingga membuat Jefri begitu kesulitan mencari barang titipan Dhea.
Memanfaatkan jeda waktu itu, Reynal bertanya pada Devano tentang perasaannya pada Dhea. Sebagai jawaban, Devano mengaku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa. Justru satu nama yang benar-benar mengisi ruang hati Devano adalah Intan, bukan Dhea lagi.
“Kau yakin, Dev?”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” Devano serius.
Reynal tertawa ringan, kemudian menepuk-nepuk bahu Devano. Sebenarnya Reynal tidak berniat membuat pancingan apa-apa. Dia hanya ingin melihat lebih dalam lagi keseriusan Devano pada Intan.
“Aku percaya padamu, Dev. Kau sudah membuktikan semuanya saat di danau berair jernih. Belum pernah kutemui lelaki senekat dirimu,” ungkap Reynal.
“Semua mengalir begitu saja, Rey. Kalau bukan karena dorongan perasaan yang kuat, mungkin aku tidak akan sampai sejauh itu.” Devano senyum-senyum sendiri teringat momen saat Intan menjadi korban salah culik.
Setelahnya, Reynal meminta waktu sejenak untuk menerima telepon dari Sandhi. Tidak begitu lama. Sandhi hanya memberi kabar bahwa dia telah sampai di kotanya. Tentang Fani, Shandi tidak mengatakan apa-apa. Yang Sandhi minta justru agar Reynal bisa segera menghubungi bila Intan dalam bahaya, butuh bantuan, atau bahkan dibuat sedih oleh Devano.
“Sandhi bilang begitu?” Devano seolah tidak percaya saat Reynal menyampaikan pesan Sandhi.
“Jangan terlalu dipikirkan, Dev. Itu wajar. Tapi, satu peringatan juga agar kau tidak menyia-nyiakan Intan.”
“Itu sudah pasti. Akan kulakukan meskipun tidak ada gertakan dari Sandhi. Yang aku tidak habis pikir, kenapa Sandhi belum bisa benar-benar melepaskan Intan.”
“Tidak se-instan itu, Dev. Butuh waktu. Sekarang, kau fokus saja melanjutkan niat baikmu pada Intan.”
Sahabat seperti Reynal benar-benar menunjukkan kepeduliannya pada Devano. Selalu saja ada nasihat bijak yang membuat Devano bersemangat dan mantap untuk melanjutkan niat.
“Oke, Rey. Akan aku lanjutkan niat baikku pada Intan.”
Halaman depan kembali menjadi perhatian. Devano sudah mulai tidak sabaran. Jefri benar-benar lama sekali di jok motornya, padahal hanya mengambil barang titipan Dhea. Ukuran jok motor juga tidak terlalu besar layaknya almari dalam rumah. Pastilah barang yang dititipkan juga tidak terlalu besar bentuknya.
Akhirnya, Jefri kembali ke dalam rumah sambil tertawa lebar. Benar-benar tertawa habis-habisan. Devano dan Reynal sampai merinding, mengira Jefri kerasukan setan. Dan, tentu perkiraan itu hanya sebuah candaan demi mengimbangi tawa Jefri yang belum memiliki kejelasan.
“Bro-bro sekalian. Sepertinya aku butuh piknik. Nggak fokus sama sekali. Nih, lihat!” Jefri mengeluarkan beberapa benda dari saku celananya. “Barang titipan Dhea ada di saku celanaku, bukan di jok motorku. Haha.”
Bantal sofa seketika itu mendarat cantik di wajah Jefri. Reynal yang melakukan, tapi tawa Jefri tetap saja dilanjutkan. Sementara Devano, dia fokus memperhatikan beberapa benda yang baru dikeluarkan Jefri dari saku celananya. Ada kalung, cincin bermata biru, dan selembar foto kue ulang tahun berhias initial DD.
"Ternyata Dhea sempat mencetak foto itu," celetuk Devano yang langsung menghentikan tawa Jefri.
Jefri menghentikan tawanya. Dia mengambil posisi duduk di tengah-tengah antara Reynal dan Devano.
"Aku tadi juga sempat berpikir seperti itu, Dev. Sepertinya dulu Dhea pernah sampai baper karena aksimu. Foto ini buktinya. Kalau dilihat-lihat, foto ini sudah lama tercetak." Jefri mengamati foto kue ulang tahun Dhea.
Reynal merebut foto yang dipegang Jefri. Dia ikut mengamati dan membenarkan dugaan Jefri.
"Waktu itu sainganmu berat, Dev." Reynal berpendapat. Dia teringat sosok lelaki yang sempat menjadi kekasih Dhea.
"Yang ini juga nggak kalah berat. Devano malah harus saingan sama Sandhi. Dosen muda tampan berkarir cemerlang, Bro. Penampilan Sandhi cool, nggak kayak Devano yang suka asal kalau milih pakaian. Aduh!" Jefri ditimpuk bantal sofa lagi oleh Reynal karena kalimatnya yang terakhir.
__ADS_1
"Tapi Intan nggak buta. Dia bisa melihat, merasakan, bahkan memilih siapa lelaki yang pantas untuk menjadi calon suaminya. Ehem, Bro Dev. Congratulation," imbuh Jefri yang langsung disambut dengan senyuman oleh Devano.
"Jadi, apa maksud Dhea menitipkan barang-barang itu?" Devano kembali ke topik awal.
"Oh ini. Dhea mengembalikan ini semua. Nih, ambil!"
Sambil menyerahkan kalung, cincin bermata biru, beserta selembar foto pada Devano, Jefri menyampaikan bahwa Dhea akan segera memamerkan pacar barunya.
"Dhea bilang begitu?" Reynal-lah yang bertanya.
"Yo'i, Bro. Dhea bilang begitu. Eh Dev, kau panas nggak?"
"Buat apa? Fokusku sekarang adalah Intan. Tapi, kalau diperlukan ... Dhea akan kukirimi undangan pernikahanku dengan Intan."
"Lanjutkan!" Jefri memberi dukungan penuh pada Devano.
Sebenarnya, masih ada satu hal lagi yang ingin Jefri ceritakan. Tapi, tentang yang satu ini Jefri memilih untuk tidak tergesa menyampaikan. Semua masih sebatas dugaan. Apalagi, tadi Jefri hanya menangkapnya secara sekilas. Kurang jelas. Tadi, kode mata dan senyuman Dhea pada Jefri tampak berbeda. Tidak seperti biasanya.
"Masa iya Dhea naksir aku, sih?" Batin Jefri.
***
Hari berganti. Rutinitas harian kembali dilakoni. Seperti biasa Intan mengajar siswa-siswi di kelasnya. Tidak lupa pula senantiasa memberi nasihat baik untuk mereka. Seperti hari ini, Intan mengajarkan kebaikan agar anak-anak di kelasnya membiasakan diri untuk berbagi dengan sesama. Sempat pula Intan menceritakan kisah anak-anak di danau berair jernih. Nama Devano juga tersebut dalam ceritanya.
"Bu Guru Intan, bolehkah saya langsung berbagi?" Salah satu anak perempuan manis langsung bertanya.
"Laura mau berbagi dengan siapa, Sayang?" Intan tersenyum ramah, menunggu lanjutan kalimat siswa perempuan bernama Laura.
"Mama baru pulang dari luar negeri. Terus mama bawa oleh-oleh buanyaaaak sekali. Tapi permen semua. Bolehkah saya berbagi dengan teman-teman?"
Nada bicara Laura terdengar polos sekali, khas anak-anak. Intan saat itu juga mengiyakan. Dia menemani Laura membagikan permen-permen itu pada teman sekelas.
"Teman-teman, jangan lupa bilang apa pada Laura?"
"Terima kasih Laura." Teman sekelas Laura kompak bersuara.
Benar-benar hari yang indah. Intan sungguh menikmati profesinya. Ditambah lagi, suasana hati Intan memang sedang berbunga-bunga sejak Devano berniat baik terhadapnya.
"Saatnya pulang, anak-anak. Sampai bertemu lagi, ya."
Jam pulang sekolah akhirnya tiba. Sepulang dari sekolah Intan tidak mampir kemana-mana. Dia langsung pulang ke rumah. Apalagi, sore ini dia harus mengantar Mira ke terminal. Adik hebohnya itu sudah harus kembali ke kos-kosan. Libur panjang mahasiswa sudah berlalu. Saatnya kembali kuliah.
Akan tetapi, ada yang mengejutkan saat Intan sampai di rumahnya. Sang ibu yang baru saja pulang dari rumah saudara yang melahirkan, tiba-tiba saja sudah berdiri di teras depan sambil menunjukkan wajah garang. Jantung Intan sudah berdebar-debar sampai enggan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Intan!" seru sang ibu begitu Intan selesai memarkir motornya.
Cepat-cepat Intan melepas helm, kemudian berlarian kecil menemui ibunya.
__ADS_1
"Ada apa, ya Bu?" tanya Intan dengan jantung yang masih berdebar-debar.
"Masuk ke dalam rumah!" Nada sang ibu tidak meninggi, tapi cukup tegas memerintahkan Intan untuk segera masuk ke dalam rumah.
Intan menurut saja. Begitu sampai di ruang tamu, barulah sang ibu bersuara lebih dari sebelumnya.
"Tan, apa benar kamu berani membawa laki-laki ke rumah ini saat rumah sedang sepi? Berduaan di sini? Pacaran di sini? Mesra-mesraan di sini? Ayo ngaku!" Nada sang ibu meninggi.
Intan kaget bukan kepalang. Jantungnya pun semakin berdebar. Seketika itu bola matanya menangkap sosok Mira yang bersembunyi di balik etalase besar samping televisi. Mira tampak menjulurkan lidah, kemudian berlarian kecil masuk ke dalam kamarnya.
"Bu, apa Mira yang bilang pada ibu?" Intan hampir saja terpancing emosi, tapi lekas diredam karena dia tidak ingin suasana semakin runyam akibat ulah Mira yang melebih-lebihkan cerita.
"Benar. Adikmu yang bilang pada ibu. Ayahmu juga sudah tahu, tuh. Ini, ibu juga ada fotomu sama laki-laki itu." Sang ibu menggeser-geser layar ponselnya, tapi foto yang tadi dikirimi Mira sudah dihapus lagi oleh pengirimnya. "Loh. Kok nggak ada, sih. Miiiir! Miraaaa! Ke sini sebentar!"
Ceklek! Mira hanya mengintip dari pintu kamarnya yang terbuka sebagian.
"Mira nggak mau! Kak Intan pasti marah besar. Mira kan habis ngarang cerita ke ibu dan ayah!" seru Mira tanpa rasa bersalah.
"Apa?" Sang ibu seketika menoleh. "Miraaaaa! Kamu ini bisa-bisanya ngerjain orang tua! Ke sini kau!"
"Maafin Mira, Bu. Itu-itu. Tanya Kak Intan saja. Laki-laki yang di foto tadi mau melamar Kak Intan. Namanya Kak Devano." Setelah berkata demikian, Mira menutup pintu kamarnya.
Giliran Intan yang menjadi perhatian ibunya. Dari sini, Intan sadar bahwa dirinya memang harus segera menjelaskan semuanya. Tentang Mira, Intan hanya menduga bahwa cerita karangan yang dibuat tidak lain hanyalah untuk mempermudah dirinya bercerita.
"Tan, apa benar yang dikatakan Mira?"
Intan mengangguk. Senyum disuguhkan, kemudian Intan menggandeng lengan sang ibu agar duduk di sofa bersamanya.
"Ceritakan pada ibu, sekarang, semuanya, sejelas-jelasnya." Nada bicara sang ibu mulai terdengar ramah.
"Namanya Devano Albagri."
Usai menyebutkan nama, Intan lanjut dengan cerita detail tentang sosok Devano, pekerjaannya, kepribadiannya, hingga kepeduliannya pada pendidikan anak, khususnya anak-anak di danau berair jernih.
"Devano baik. Cintanya tulus. Dan, dia berniat baik padaku. Dev akan menemui ayah dan ibu."
"Kapan itu?"
"Segera. Mungkin, akhir pekan ini." Intan menyampaikan sesuai pesan Devano. Tapi ....
"Terlalu lama kalau harus menunggu sampai akhir pekan. Besok malam, suruh dia datang menemui ayah dan ibu."
"Ha? Besok?"
Sang ibu mengangguk mantap. Tidak lupa pula mengembangkan senyuman agar Intan tidak terlalu tegang. Lebih dari itu, sang ibu pun langsung menemui suaminya. Semua diceritakan dengan lengkap, dan langsung setuju agar Devano datang besok malam.
Siapkah mental Devano bila waktunya dipercepat? Apakah semua akan berjalan lancar? Eit, tentang Dhea yang naksir Jefri, benarkah itu? Nantikan lanjutan ceritanya!
__ADS_1
Yok komen yok! Tap 💜 dan Fav ya 😉
Bersambung ....