PANTAS

PANTAS
Bab 43 : Tertuduh


__ADS_3

Malam hari pukul sembilan lewat tiga puluh enam menit, Devano masih setia mondar-mandir ditemani motor kesayangan demi menemukan keberadaan Intan. Teman kerja Intan dihubungi, termasuk tempat yang mungkin didatangi Intan pun tidak luput didatangi. Devano benar-benar bergerak cepat, berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya, tanpa peduli lelah dan hawa dingin yang mulai terasa menusuk kulitnya.


Devano belum meminta bantuan siapapun, termasuk Jefri ataupun Reynal yang akan sangat mungkin bersedia jika dimintai bantuan. Sengaja Devano lebih dulu mencari Intan sendirian agar tidak membuat panik banyak orang.


"Kemana lagi harus kucari?" Batin Devano. Dia terdiam di tepian jalan dengan tetap menaiki motor tanpa mematikan mesinnya. Pikiran Devano dibuat terus berputar mencari kemungkinan-kemungkinan. Sesekali Devano juga menghubungi nomor ponsel Intan meski tetap tidak mendapat sambungan.


Lanjut lagi. Devano berniat mencari Intan di sepanjang area kota dekat taman. Akan tetapi, sebelum motornya benar-benar dilajukan, tiba-tiba saja ada motor lain yang berhenti tepat di samping motornya. Pengendaranya adalah seorang lelaki yang begitu Devano kenal. Satu tempat kerja, tapi hubungan pertemanan mereka sama sekali sedang tidak baik-baik saja.


"Hai, Dev. Mau nongki? Biar malam ini aku traktir, sebagai salam perpisahan sebelum aku dipindahtugaskan," ucap Benny usai mematikan mesin motornya.


Devano memasang sikap awas karena tidak biasa-biasanya Benny begitu ramah apalagi sampai berniat memberi traktiran. Mesin motor Devano ikut dimatikan. Pandangan matanya tertuju pada Benny, menyelidik sejenak.


"Ada apa dengan wajah itu? Tenang saja, Dev. Aku tidak berniat buruk."


"Aku sibuk," sahut Devano dengan singkat.


"Apa yang kau sibukkan? Calon istrimu? Di mana dia?" Tetiba saja Benny teringat kejadian saat melihat Intan di area jembatan. "Ouh, iya. Hari ini aku sempat melihatnya di jembatan sana," imbuh Benny.


Bola mata Devano melebar, seolah mendapat satu titik terang.


"Kapan kau melihatnya? Di jembatan mana?" Devano sampai turun dari motor dan menghampiri Benny.


"Di ... jembatan ujung sana. Eh, tunggu-tunggu. Ada apa dengan Intan?"


Devano tidak mendengarkan pertanyaan Benny. Dia menuju motor dan bersiap menuju jembatan yang dimaksudkan.


"Hei, Dev. Tunggu! Aku ikut!" seru Benny kemudian melaju di belakang motor Devano.


Sampai di jembatan yang dimaksudkan, Devano hanya menemukan motor Intan, tanpa kunci motor ataupun barang-barang lainnya. Devano sempat mengedarkan pandang ke segala arah, berharap bisa menjumpai sosok yang begitu dicintainya.


Benny mendekati Devano. Dia pun sedikit terkejut karena motor yang sedari siang dilihatnya ternyata masih pada posisi yang sama tanpa pemiliknya.


"Dev, terakhir kali kulihat Intan sedang menerima telpon sambil melihat ke arah aliran sungai di bawah jembatan." Benny memberi penjelasan tanpa diminta. "Apa mungkin Intan sudah bundir (bunuh diri)?"


Dengan cepat Devano mencengkram kra kemeja kotak-kotak yang dikenakan Benny. Mimik wajahnya dipenuhi emosi.


"Jaga bicaramu!"


"Ups. Sorry, Dev. Bisa kau lepaskan cengkraman tanganmu? Kau benar-benar membuatku takut. Dan, ada banyak orang di seberang sana yang pasti akan membantuku bila aku berteriak." Benny berucap dengan tenang tanpa rasa takut sedikitpun.


Devano melepaskan cengkraman tangannya, tapi tatapan mata tajamnya tetap saja dia berikan pada Benny.


"Katakan padaku, apa yang kau tahu." Nada bicara Devano terdengar mendesak.


"Maaf saja, Dev. Aku benar-benar tidak tahu-menahu tentang calon istrimu itu."


"Katakan!" Devano kembali mencengkram kra kemeja Benny.


Melihat mimik wajah Devano yang semakin serius, nyali Benny mulai goyah. Dia tidak setenang sebelumnya. Aura Devano benar-benar berbahaya.


"Apa kau dalang di balik semua ini?" Devano melayangkan tuduhannya.


Sebagai sosok yang tertuduh, Benny langsung menggeleng tegas karena dia memang tidak tahu menahu. Yang Benny lihat adalah saat Intan menerima telepon sambil melihat ke arah aliran sungai di bawah jembatan. Setelahnya Intan memang tidak terlihat lagi, seolah hilang begitu saja. Dan Benny tidak mengira bahwa Intan memang sedang tidak diketahui keberadaannya.


Demi keselamatan diri, Benny berinisiatif menjelaskan part saat dia melihat Intan di area jembatan. Ceritanya begitu jelas, hingga perlahan-lahan berhasil membuat cengkraman tangan Devano terlepas.


"Maaf," ucap Devano kemudian.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu dengan Intan?"


Mulanya Devano hanya diam, tapi lama-lama dia mengungkap bahwa Intan menghilang.


"Akan kubantu." Benny spontan mengatakan itu, tapi dia sungguh-sungguh.


"Tidak perlu. Pulanglah!"


Dari ucapan Devano sudah menegaskan bahwa Benny belum mendapat kepercayaan. Ditambah pula, Devano memang tidak ingin melibatkan Benny, apalagi dalam urusan pencarian Intan.


"Pak, permisi." Devano menghampiri seseorang di seberang jalan untuk bertanya tentang motor Intan. "Apa Bapak tahu pemilik motor yang di sana itu?" Devano menunjuk motor Intan.


"Seingat Bapak sih cewek cantik, Mas. Tadi sempat telpon di jembatan sana. Setelah itu Bapak nggak tahu dia ke mana."


"Kami kira prank, Mas. Sekarang kan lagi musim yang seperti itu demi konten." Seorang pemuda menyahuti.


"Saya pun nggak berani dekat-dekat motor yang di sana itu, Mas. Takut kena prank." Pemuda lainnya menimpali.


Devano memaklumi alasan mereka, sehingga sangatlah wajar jika motor Intan masih terparkir rapi di dekat jembatan. Sempat Devano putus asa, hingga kemudian datanglah pemuda lain memberi keterangan yang membuat kaget semua orang.


"Si Mbaknya tadi dibawa masuk ke mobil, Mas. Ada anak kecilnya juga. Mirip adegan penculikan, sih. Tapi sepertinya nggak, deh. Soalnya Mbaknya nggak berontak sama sekali. Kalau diculik pasti sudah minta tolong, kan."


"Semprul kau! Lah kalau Mbaknya lagi diancam mana bisa teriak minta tolong." Bapak-bapak yang sempat ditanyai Devano menegur si pemuda yang membuat keterangan.


"Oh iya, ya. Waduh, jangan-jangan Mbaknya beneran diculik."


Kekhawatiran Devano bertambah. Dari keterangan si pemuda, Intan jelas-jelas dalam bahaya.


"Aku bantu." Benny langsung menyambut begitu Devano balik badan. Benny juga sempat mencuri dengar semua penjelasan warga sekitar, termasuk bagian penjelasan si pemuda tentang adegan penculikan.


"Tidak perlu. Pulanglah!"


Tinggal Devano sendirian. Dia berdiri di samping motor Intan. Informasi yang diterima masih belum terlalu kuat, tapi ada indikasi bahwa Intan telah menjadi korban penculikan.


Inilah saatnya sahabat baik memainkan peran. Baru saja Devano menelpon Jefri dan Reynal dan dalam hitungan menit saja mereka sudah sampai di area jembatan. Baik Jefri maupun Reynal sama-sama langsung menuju lokasi yang diminta Devano.


"Siapa yang berani menculik calon istri Devano, ha? Biar kubabat habis dia!" Datang-datang Jefri langsung berkata demikian.


"Apa yang bisa kami bantu, Dev?" Reynal lebih bijak dengan langsung menawarkan bantuan.


"Rey, tolong urus motor Intan, ya. Terkunci." Devano mempercayakan urusan motor pada Reynal. "Dan kau, Jef. Ikut aku mencari lebih banyak informasi dari orang-orang sekitar sini."


Dua sahabat baik Devano sigap dengan arahan yang dikatakan. Reynal langsung menghubungi seorang teman, memintanya datang, kemudian akan membawa motor Intan ke tempat yang lebih aman. Sementara Jefri, dia bersama Devano terus mengumpulkan informasi, bahkan mencari jejak-jejak tersembunyi di area jembatan.


Pukul setengah satu dini hari. Wajah Devano terlihat sangat letih. Tidak jauh beda dengan Jefri yang sudah menguap beberapa kali.


"Bagaimana perkembangannya?" Reynal kembali bergabung setelah selesai mengurus motor Intan.


"Sama sekali tidak ada jejak, Bro. Keterangan dari warga sekitar juga sangat terbatas," ungkap Jefri.


"Kalau begitu pencarian Intan kita lanjutkan besok," saran Reynal.


Devano tampak keberatan. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Maunya terus mencari Intan tanpa jeda.


"Aku paham kondisimu, Dev. Tapi kau perlu memulihkan tenagamu untuk lanjut mencari Intan." Reynal menepuk pelan bahu Devano. "Kami akan terus membantu sampai Intan ditemukan," imbuhnya.


Jefri mengangguk setuju. Dia turut meyakinkan Devano.

__ADS_1


"Baiklah." Akhirnya, Devano menurut juga.


***


Pukul enam pagi mobil Sandhi sudah memasuki kota tempat tinggal Farel. Fani ada di kursi sampingnya, sama sekali tidak bisa tidur sejak pukul setengah tiga dini hari tadi.


Sungguh melenceng dari perencanaan. Semula Sandhi mengatakan akan menjemput Fani pukul tujuh pagi, tapi Sandhi justru menghampiri kontrakan Fani pukul setengah tiga dini hari. Dan, lima belas menit setelahnya mereka melakukan perjalanan selama tiga jam menuju kota tempat tinggal Farel.


"Belok mana?" tanya Sandhi. Fokusnya masih sama seperti saat pertama kali berangkat tadi.


"Kanan. Setelah itu ada lampu merah, lurus saja. Nanti ketemu perumahan elit," terang Fani setengah mengantuk.


Sandhi mengangguk singkat, kemudian menambah kecepatan mobilnya. Sandhi benar-benar ingin segera sampai di tempat Farel.


"Sandhi, jangan ngebut, dong!"


"Darurat. Intan menghilang," ungkap Sandhi setelah sebelumnya memilih bungkam.


"Apa? Serius? Dari mana kamu tahu?"


Sandhi bercerita singkat. Pukul satu dini hari tadi, dia menerima pesan dari Mira. Awalnya Mira hanya tanya-tanya biasa. Tapi karena Sandhi merasa ada yang tidak wajar, akhirnya dia pun mendesak Mira agar bercerita. Mira saat itu langsung mengaku bahwa dia mendapat kabar itu dari Devano. Sengaja Devano menelpon Mira, jaga-jaga bila Mira tahu sesuatu tentang kakaknya. Akhirnya, saat ini yang tahu kabar hilangnya Intan tidak hanya Devano dan teman-temannya, tapi juga Mira, ditambah Sandhi dan Fani.


"Pasti Kak Farel dalang dari semua ini. Keterlaluan!" Fani meremat ujung kaos yang dipakainya. Ada emosi dan rasa tidak terima yang bergejolak.


Mobil Sandhi akhirnya sampai di kawasan perumahan elit. Rumah yang ada di sana tampak mewah-mewah. Termasuk rumah Farel. Untuk masuk ke halamannya saja mobil Sandhi harus dicek oleh penjaga. Tapi, karena ada Fani di sana, jadilah mobil Sandhi bisa lolos tanpa perlu banyak ritual keamanan.


"Kakakmu sekaya ini. Kenapa dia tega membiarkanmu punya hutang sampai sebesar itu, hm?" celetuk Sandhi.


"Beda urusan," jawab Fani singkat. Dari mimik wajahnya tampak sekali bahwa Fani benar-benar tidak ingin memberi penjelasan lebih.


Farel yang saat itu mendapat kode dari tim penjaga di gerbang, dia langsung menyambut kedatangan Fani. Tubuh atletis Farel bahkan sengaja dipamerkan saat tahu adiknya datang bersama laki-laki yang sebelum ini sudah dia mata-matai.


"Sandhi Ardiaz Putra," ucap Farel di teras depan rumah. Dia bersiap menyambut Fani dan Sandhi yang tampak baru turun dari mobil.


Sayang sekali. Bukan sambutan hangat yang Fani suguhkan, melainkan tuduhan. Fani tidak basa-basi. Dia langsung meminta Farel untuk segera membebaskan Intan.


"Fani, adikku tersayang. Apa yang kau maksud dengan membebaskan Intan?"


"Kak Farel sudah menculik Intan, kan? Cepat bebaskan dia sebelum pacar sahnya membuat perhitungan!" Fani menunjuk ke arah Sandhi.


Senyum Farel yang sebelum ini mengembang langsung memudar. Pandangan matanya tertuju pada Sandhi.


"Sandhi Ardiaz Putra, kau pacar sahnya Intania Zhesky? Benar begitu?" Tutur kata Farel tampak berwibawa dengan menyebut nama panjang Sandhi dan Intan.


"Saya teman baiknya," ungkap Sandhi jujur. Dia tidak ingin bermain api.


"Oh Fani, adikku. Kau berbohong rupanya."


"Cepat bebaskan Intan, Kak!" Fani mendesak.


"Tapi kakakmu ini sama sekali belum menculik Intania Zhesky. Lalu apa yang mau dibebaskan, ha?"


Farel berkata jujur. Semula di berniat tidak baik dan akan menculik Intan demi membuat Fani pulang. Tapi, ucapan Fani justru membingungkan, menjelaskan pula bahwa ada yang lebih dulu menculik Intan sebelum dirinya.


"Be-benarkah? Lalu, Intan dimana?" Fani seolah kehilangan harapan. Begitu pula dengan Sandhi.


Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Intan? Nantikan lanjutan ceritanya! Salam Luv 💜💜💜

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2