
Pelayan Moderna Café and Resto menyambut ramah sosok Dhea yang telah memesan meja dengan view terbaik. Dengan langkah ringan Dhea memberi isyarat Devano untuk mengikutinya.
Tidak terlihat banyak pengunjung di tempat itu. Pengunjung Moderna Café and Resto akan membludak saat malam tiba, karena areanya menyuguhkan tampilan lampu-lampu hias modern yang cocok sekali digunakan untuk tempat berswafoto.
“Silakan menunya, Nona. Menu baru kami pekan ini adalah pasta. Kami rekomendasikan juga menu chicken katsu untuk penggemar olahan ayam, atau ada juga ayam geprek sambal suka-suka sebagai menu andalan kami,” pelayan menawari dengan sopan.
“Em, roti bakar isi selai blueberry saja.”
Hanya itu makanan ringan yang Dhea pesan karena dia tidak tahu makanan berat kesukaan Devano.
“Boleh kami bantu catat minumannya juga?”
“Boleh. Dua gelas jus alpukat.”
“Satu saja. Satu lagi kopi hitam tanpa gula.”
Dhea terheran mendengar pesanan Devano. Setahu Dhea, Devano menyukai jus alpukat, apalagi jika ditambah taburan kental manis coklat.
“Dev, serius?”
“Aku suka kopi hitam.”
“Sejak kapan?”
“Sejak terjebak hujan di warung kopi.”
Tampak jelas Dhea tidak tahu menahu tentang Devano yang pernah terjebak hujan di warung kopi. Demi menyamakan kesukaan, Dhea memilih dua cangkir kopi hitam sebagai pesanan. Sedangkan Devano, dia sama sekali tidak mencegah Dhea jika dia mau memesan menu yang sama dengannya.
Pelayan kembali mengulang menu pesanan, dua porsi nasi bakar isi selai blueberry dan dua cangkir kopi hitam. Di luar dugaan, Dhea justru menambah pesanan sebanyak empat bungkus nasi ayam geprek sambal suka-suka sebagai oleh-oleh untuk Devano nantinya.
“Tidak perlu repot-repot. Masakan ibuku bisa-bisa tidak tersentuh.”
“Devano, apa kamu tidak pernah diajari gurumu, hm? Menolak rezeki itu tidak baik. Jadi, harus diterima. Titik." Dhea memberi isyarat pada pelayan untuk segera membuatkan pesanannya.
Saat itu juga Devano terdiam, bukan karena merasa tertampar kata-kata Dhea, tapi karena kata 'guru' yang seketika itu mengingatkan Devano pada Intan. Kejadian tadi pagi di Café Bintang masih jelas membayang. Apalagi bagian pengakuan Intan.
‘Lelaki yang mengisi ruang hatiku, dia adalah definisi rasa nyaman yang begitu nyata. Dia pantas untukku. Benar-benar pantas untukku. Dia bahkan rela menceburkan dirinya ke kolam ikan, hanya agar aku tidak basah kuyup sendirian. Dia mengenalkanku pada sisi lain dunia, tentang berbagi, dan makna bahagia yang sebenarnya. Sekali lagi, dia pantas untukku.’ Untuk ke sekian kalinya Devano kembali teringat kalimat yang diucapkan Intan pada Sandhi.
“Dev! Kenapa melamun melulu, sih?” seru Dhea yang langsung membuyarkan ingatan Devano.
“Tidak apa-apa. Langsung saja, apa yang mau dibahas?”
“Tentu saja tentang hubungan kita, Dev.”
“Dhea, maaf. Seperti yang Bang Yoga katakan, ada seorang wanita yang cintanya akan kukejar. Dan, itu bukan kamu.” Devano terang-terangan.
__ADS_1
Ada rasa dongkol dalam hati Dhea saat Devano menyatakan penolakannya. Namun, Dhea tetap berusaha tenang dan kembali melanjutkan niatan untuk berbaikan.
“Ngejar melulu capek, Dev.”
“Itulah yang kurasakan dulu terhadapmu. Aku yang jelas-jelas ada di hadapanmu, justru sama sekali tidak tampak.”
“Tapi itu dulu, Dev. Sekarang aku sudah menyadari kesalahanku. Harusnya aku melihatmu.”
“Harusnya. Tapi nyatanya?” Devano membuat Dhea mati kutu.
Untuk sejenak Dhea tampak bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Devano. Nyatanya, itulah yang terjadi dulu. Saat itu Dhea mencintai sosok lainnya, sehingga tidak bisa melihat ketulusan Devano. Hingga saat sang kekasih mengkhianati cintanya, Dhea justru memilih memperbaiki keadaan bersama Devano yang sempat dia lewatkan.
Singkat cerita tentang mantan kekasih Dhea, dia adalah lelaki yang berprofesi sama dengannya. Seorang model, berparas tampan, dan harta tahtanya lumayan untuk tujuh turunan. Kala itu memang banyak wanita yang mengejarnya, tapi cinta yang terpilih adalah Dhea. Sayang sekali, mereka berdua yang sudah sempat merencanakan pernikahan akhirnya harus putus hubungan karena kehadiran sosok cantik lainnya.
“Aku menyesal, Dev.”
“Penyesalan memang selalu ada di belakang.”
Reaksi Devano benar-benar di luar yang Dhea sangka. Sikap manis yang dulu sering Devano tunjukkan pada Dhea, saat ini benar-benar tidak lagi sama.
Dhea mulai mengeluarkan kejutan. Kalung berliontin merpati perak dia keluarkan dari tas kecilnya. Dengan senyum mengembang, Dhea memperlihatkan pada Devano kalung yang dia pegang.
“Ingatkah kamu tentang kalung ini, Dev?”
Sikap Devano yang semula tenang mendadak jadi terusik karena sebuah kenangan. Refleks saja Devano mengalihkan pandangan ke arah kanan, berharap pendiriannya tidak akan tergoyahkan.
“Lihat sebentar, Dev!” pinta Dhea dengan nada yang terdengar serius.
“Apa itu?” tanya Devano begitu melihat foto kue ulang tahun berhias initial DD, yang merupakan singkatan dari Devano-Dhea.
“Jangan pura-pura lupa! Kue ini juga pemberianmu waktu itu.”
Gawat. Devano jadi teringat kenangan lama atas perasaannya pada Dhea. Jantung Devano sempat berdebar-debar pula, otomatis juga menegaskan bahwa nama Dhea masih menempati salah satu ruang hatinya meski tidak dominan.
Akan tetapi, Devano mencoba teguh pendirian dengan kembali mengingat niatannya kepada Intan. Ingatan tentang ucapan sang kakak juga menyumbang kokohnya niatan. ‘Pantas itu pembuktian. Jika kamu memang mencintai seseorang, buktikan. Bukan terus-terusan mengumpulkan pendapat tentang kepantasan tanpa ada niatan untuk berjuang. Jangan ragu. Teruslah maju sampai kamu berhasil bilang i love you.’
“Itu masa lalu,” ucap Devano kemudian.
“Lalu, apa salahnya jika itu masa lalu? Kita bisa memperbaiki dan menjadikannya cerita baru untuk masa sekarang, Dev.”
“Maaf, Dhea. Sudah kubilang, ada cinta seorang wanita yang mau kuperjuangkan.”
Tangan Dhea spontan mengepal karena geregetan. “Siapa dia?”
“Wanita sederhana yang memiliki banyak penggemar,” sahut Devano sebagai jawaban. Dia teringat sosok Intan yang hobi menulis novel hingga membuatnya memiliki banyak penggemar.
__ADS_1
Tampak Dhea tengah mencerna kalimat Devano. Bagaimana bisa wanita sederhana justru memiliki banyak penggemar? Begitulah pikirnya.
“Cantik mana sama aku?” Dhea tidak menyadari bahwa pertanyaannya kali ini begitu salah di mata Devano.
“Lebih cantik dia. Karena dia tidak pernah melihat fisik untuk melabeli seseorang sebagai satu definisi rasa nyaman.”
Kali ini senyum Devano mengembang karena teringat bagian kalimat Intan yang menyebut dirinya sebagai definisi rasa nyaman. Devano juga semakin yakin bahwa dialah lelaki yang dimaksud Intan.
Brak!
Kekesalan Dhea sudah tidak bisa dibendung. Dia menggebrak meja kemudian kembali meminta kejelasan pada Devano.
“Kesempatan terakhir, Dev. Kamu pilih dia … atau aku.”
“Maaf. Aku tidak bisa terus hidup di masa lalu. Jadi …”
“Oke. Tidak perlu dijelaskan lagi.” Dhea memakai tasnya, kemudian berdiri. “Permisi.” Dhea pamit pergi.
Devano tidak berniat mengejar Dhea. Baginya, sikap Dhea barusan telah menunjukkan akhir dari kisah mereka. Saatnya bagi Devano untuk kembali fokus pada Intan.
Senyum Devano yang semula hanya mengembang ringan, kini semakin dilebarkan saat dia menangkap sosok Intan. Ya, Devano melihat Intan dari kejauhan, sedang tengok kanan-kiri untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Ada satu yang seketika membuat Devano bersyukur, Intan tidak melihat dirinya duduk di meja yang sama dengan Dhea.
“Intania Zhesky, sepertinya kamu adalah jodoh yang disiapkan untuk Devano Albagri.” Dengan PD-nya Devano berucap demikian.
Langkah Devano terayun hendak menghampiri Intan. Satu kesempatan pula bagi dirinya untuk meluruskan kesalahpahaman yang sempat terjadi di Café Bintang. Akan tetapi, langkah Devano hanya sebatas dua langkah saja karena ada pelayan yang mengantar pesanan.
“Ck. Sial.” Devano sebal karena pada akhirnya dialah yang bertanggung jawab atas semua tagihan pesanan. Bergegas Devano menuju meja kasir, menyelesaikan pembayaran, kemudian kembali hendak menemui Intan. Sayang sekali, Intan terlepas dari pandangan.
Devano tidak tahu kalau Intan sedang berada di toilet, sementara sosok Mira tertutup oleh pelayan yang sedang mencatat pesanan. Niat untuk mencari Intan sudah ada, tapi satu dering panggilan suara langsung mengubah niatannya. Jefri yang menelepon Devano.
“Halo. Ada apa, Jef?”
“Gawat, Bro! Gawat!”
“Apanya yang gawat?”
“Tidak bisa dijelaskan via telpon. Kamu cepatlah datang ke tempat kerja. Pokoknya benar-benar gawat!”
“Sekarang?”
“Jangan sampai tahun depan!”
“Oke. Aku ke sana sekarang.”
Panggilan telepon diakhiri. Devano urung mencari Intan. Tempat kerjalah yang saat ini menjadi tujuan. Apanya yang gawat? Penasaran? Nantikan lanjutan ceritanya!
__ADS_1
Bersambung ….