
Pagi-pagi sekali Intan mendapat kejutan. Bukan uang dadakan ataupun hadiah dari penggemar. Intan mendapati sang adik tercinta sudah bediri di depan pintu rumah sambil melebarkan senyumnya. Benar-benar senyum lebar yang penuh tipu daya, karena Intan tahu pasti ada maksud tersembunyi di balik itu semua.
“Selamat pagi kakakku tersayang,” sapa Mira.
“Miraaa!” seru Intan.
Intan berniat memarahi sang adik karena tiba-tiba pulang sepagi itu tanpa memberi kabar lebih dulu. Namun, Mira lebih dulu memeluk erat tubuh Intan.
“Jangan menghilang lagi, ya Kak. Mira khawatir banget, lho.”
Nada bicara Mira terdengar tulus. Intan yang mendengarnya sampai tersentuh. Hatinya luluh, hingga pelukan Mira pun langsung dibalas dengan sama eratnya.
“Maafkan kakak, ya Mir.”
“Minta maaf ke Kak Dev sana! Kak Dev yang paling bingung, tuh. Malam-malam sampai telpon Mira.” Mira menepuk-nepuk bahu Intan sambil tetap memberi pelukan.
Intan hanya menanggapinya dengan senyuman serta mengeratkan pelukan. Tentang Devano, tentu saja Intan sudah berterima kasih kepadanya. Bahkan lebih dari itu, perasaan cinta Intan pada Devano juga semakin bertambah. Cinta Devano telah terbukti melalui rasa peduli dan perjuangannya dalam menemukan Intan. Memang, demi yang tersayang pasti apapun akan dilakukan.
“Apa kamu pulang ke rumah karena khawatir pada kakak?” tanya Intan.
Mira melepas pelukan. “Tentu saja tidak. Kan tadi malam Kak Intan sudah ngasih Mira kabar. Ya, ada sih sisa khawatirnya. Tapi sedikit.” Mira kembali dengan sikap tengilnya.
Tangan Intan dilipat di depan dada, ekspresinya pun berubah. “Ibuuuuu. Mira bolos kuliah, Buuuu!” seru Intan.
Dan, aktivitas pagi itu pun dimulai dengan keributan. Karena seruan kencang Intan, sang ibu langsung ngomel-ngomel dengan nasihat yang terus-terusan dilontarkan. Bukan hanya Mira yang ditegur, tapi Intan juga kena batunya. Salah Intan juga karena sudah berteriak dengan kencang sekali sampai diperhatikan tetangga yang kebetulan lewat di depan rumahnya.
Setelahnya, Mira disuruh istirahat sebentar sambil menikmati sarapan. Begitu juga dengan Intan, dia duduk tenang di meja makan, menikmati sarapannya dengan emosi tertahan. Namun, lama-lama Intan jadi merasa tidak tega dengan adiknya itu. Sejak diomeli sang ibu, Mira terus-terusan cemberut.
“Mir, sebentar lagi kakak antar ke terminal.” Emosi Intan sudah bisa dikendalikan. Dia tampak jauh lebih tenang.
“Nggak mau! Masa Mira baru datang sudah diusir aja, sih!”
__ADS_1
“Terus, kamu maunya gimana? Mau bolos kuliah?” tanya Intan.
“Em ….” Mira tidak langsung menjawab. Bergantian bola matanya terarah pada ibu dan ayahnya. “Iya, deh. Mira balik lagi. Kasihan ayah ibu yang biayain Mira kuliah.”
“Bagus.” Intan langsung mengacungkan jempolnya. “Kalau begitu habiskan sarapanmu, kemudian kakak antar.”
“Eh, tunggu sebentar. Kalau Kak Intan yang ngantar Mira ke terminal, pasti nanti telat datang ke sekolahnya. Kasihan murid-muridnya kakak, lho. Kemarin kan kakak sudah bolos ngajar. Eh, maksud Mira absen ngajar, hehe.”
Sang ayah sempat menawarkan diri, tapi Intan tidak setuju. Lagipula kondisi ayahnya sedang kurang sehat. Sementara sang ibu, andai bisa mengendarai motor, pasti sudah menawarkan diri untuk mengantar Mira. Sayangnya beliau tidak bisa.
“Mira naik ojek aja, deh.”
“Irit, Mir. Biar kakak yang mengantar.”
“Kalau kakak telat ke sekolah gimana? Nanti kena omel kepala sekolah, lho.”
“Kakak bisa izin sebentar. Paling tidak kakak mau memastikan kamu naik bus. Begitu sampai di kos-kosan langsung hubungi kakak.” Intan begitu peduli pada adiknya. Memang, demi yang tersayang, apapun akan Intan lakukan. Termasuk memperhatikan semangat kuliah sang adik demi kebaikan.
Mira tidak punya pilihan lain. Alhasil, satu anggukan kecil pun meluncur. Mira bersedia, dan berjanji tidak akan lagi-lagi berniat bolos kuliah.
Dalam foto itu ada potret Sandhi bersama seorang wanita berpakaian sexy. Wanita itu sebenarnya adalah Fani, tapi Mira tidak mengenalnya. Yang membuat Mira kaget bukanlah Sandhi dan wanita yang menurutnya sangat sexy itu, kekagetan Mira muncul justru karena pesan tertulis di balik foto.
‘Jangan bermain api, PELAKOR. Pak Sandhi sudah punya kekasih. Awas saja kalau ketahuan satu mobil lagi dengan Pak Sandhi!’ Begitulah pesan tertulis di balik foto.
Mira langsung menduga bahwa pengirimnya adalah salah satu teman kuliahnya. Terbukti dengan sapaan Pak Sandhi yang digunakan dalam pesan. Mira juga menduga, saat Sandhi mengantarnya pulang malam itu, ada yang melihat. Mira khawatir gosip macam-macam tentang dirinya sudah menyebar. Itulah pemicu yang membuat Mira enggan datang di jadwal perkuliahan hari ini. Tapi, cara yang dipilih Mira sangatlah salah. Lebih salah lagi karena Mira justru pulang ke rumah dan mendapat omelan dari ibunya.
“Aku nggak boleh kekanakan. Kak Intan benar. Aku nggak boleh bolos kuliah terus. Mau jadi apa aku nanti. Biar saja mereka mau bilang apa. Yang penting aku bukan Pelakor.” Batin Mira, dia menyemangati diri sendiri.
Sepanjang perjalanan dibonceng motor oleh Intan, Mira sempat kepikiran untuk berbagi cerita dengan kakaknya itu. Tapi, Mira terlalu banyak menimbang. Mira khawatir menambah beban pikiran kakaknya. Ditambah pula sang kakak baru saja bernafas lega usai mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.
“Duh, cerita nggak, ya? Tapi, kalau nanti aku cerita, Kak Intan jadi kepikiran, terus nggak fokus ngajar.” Pikir Mira. Dia bingung.
__ADS_1
“Mir! Tumben kamu diam terus. Biasanya bawel. Masih ngambek sama kakak?” seru Intan sambil tetap memperhatikan jalan dan mempertahankan laju motornya dengan kecepatan sedang.
“Enggak kok, Kak. Mira cuma sedikit capek.”
“Makanya lain kali jangan bolos-bolos lagi!”
“Iya kakak bawel. Mira sudah kapok!”
Intan tertawa ringan. Sesaat kemudian, dia justru mendapat pelukan dari belakang. Adik bawelnya itu sedang bersikap manja, dan Intan membiarkan saja.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di terminal. Beruntungnya Mira langsung mendapati bus yang sesuai dengan kota tujuannya, sehingga Intan tidak menunggui Mira terlalu lama.
“Yakin, nih? Nggak ada yang mau diceritakan lagi sama kakak?” Sebenarnya Intan menangkap kegelisahan Mira, tapi dia putuskan untuk tidak mendesaknya. Intan membiarkan sang adik untuk bercerita dengan sendirinya.
“Enggak ada kok, Kak.” Mira memilih memendamnya sendiri. “Kak Intan hati-hati di jalan, ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Kak Dev. Biar Kak Dev makin CINTA. Hahaha. Daaa!”
Mira menekan kata ‘cinta’ sambil bergaya ala-ala Korea. Setelahnya Mira tertawa, kemudian berlarian kecil masuk ke dalam bus. Mira sempat mengintip Intan dari kaca bus, tersenyum manis ke arah kakaknya, dan tak lupa melambaikan tangan juga. Itu semua Mira lakukan demi membuat Intan tidak khawatir berlebihan.
“Huft. Baiklah. Saatnya kembali ke dunia nyata. Aku siap menghadapi siapa saja. Aku … bukan pelakor!” ucap Mira, serius.
***
Sandhi, saat ini dia telah menunggu kedatangan Farel. Sengaja waktu temunya dibuat pagi, karena siang nanti Sandhi ada jadwal mengajar hingga sore hari.
Wajah Sandhi terlihat sangat tenang, meskipun saat ini hatinya dipenuhi nama Intan. Jujur saja, sisa-sisa perasaan itu masih saja ada. Dan, saat ini Sandhi duduk menunggu Farel, itu pun Sandhi lakukan juga demi Intan, demi yang tersayang, sosok indah yang namanya masih tersimpan.
“Berbahagialah dengan Devano, Tan. Sementara aku ….” Sandhi menjeda kalimatnya sebentar. Dia menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan perkataan. “Aku akan menikahi Fani.”
Keputusan Sandhi sudah bulat. Satu kesepakatan akan dia buat. Demi melepaskan Intan dari jeratan Farel, Sandhi akan menikahi Fani. Dengan begitu dirinya jadi punya alasan kuat agar Fani tidak dipaksa kembali. Sandhi yang akan menjaga Fani, sekaligus menjaga Intan juga, meski sosok Intan tidak akan bisa diraih.
Detik berikutnya, bola mata Sandhi menangkap sosok bertubuh atletis berjalan ke arahnya. Itu Farel. Dia datang dengan didampingi asistennya.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kesepakatan yang dibuat akan disetujui dengan mudah? Sudah benarkah pemikiran Sandhi yang menganggap Intan tidak lagi bisa diraih? Nantikan lanjutan ceritanya! Salam Luv 💜
Bersambung ….