
Masih dengan rutinitas harian, Intan mengajar murid-muridnya di sekolah. Kegiatan yang sama, tapi dengan suasana hati yang berbeda. Intan tampak lebih bersemangat, lebih riang, bahkan senyumnya pun senantiasa mengembang. Devano, dia menjadi pemeran utama yang membuat Intan jadi lebih bersemangat menjalani hari.
“Good job. Selamat, ya. Kamu dapat nilai 100,” puji Intan pada salah satu muridnya, Chintya.
“Mama papa pasti senang. Terima kasih, Bu Guru Intan.”
Intan menyambut Chintya yang menghambur ke arahnya. Dipeluknya Chintya dengan penuh kasih, layaknya anak Intan sendiri. Ditambah lagi, ini adalah hari terakhir Chintya bersekolah, sehingga Intan meluangkan waktu khusus untuk memberikan nasihat-nasihat sederhana yang bisa berguna.
“Apa di sekolah baru Chintya ada bu guru yang seperti bu guru?” tanya Chintya dengan polosnya, yang dimaksud adalah guru seperti Intan.
“Memangnya kenapa kalau ada Bu Guru Intan?” Dengan ramah Intan menanggapi pertanyaan Chintya.
"Soalnya Bu Guru Intan nggak galak. Kalau ngajar jelaaaaas banget. Makanya Chintya betah di sekolah. Tapi, besok Chintya pindah sekolah.”
Betapa hati Intan saat itu terenyuh mendengar penuturan murid yang tidak akan belajar lagi di kelasnya. Berat untuk berpisah, tapi Chintya harus ikut tinggal bersama kedua orangtuanya yang juga harus pindah tempat kerja.
“Siapa pun gurunya, Chintya harus tetap semangat belajar, ya. Jadilah contoh baik untuk teman-teman Chintya. Dan, jangan lupa selalu mendengar nasihat mama papa. Oke?”
Chintya mengangguk berulang, kemudian memeluk Intan. Tanpa Intan sadari, kedua orangtua Chintya menyaksikan. Memang, saat itu adalah jam pulang sekolah. Sengaja kedua orangtua Chintya menjemput bersama sekaligus berpamitan pada Intan dan guru-guru lainnya.
Dari orangtua Chintya, Intan tidak hanya mendapatkan ucapan maaf dan terima kasih atas bimbingannya selama ini. Ada kado kecil yang Intan terima. Dari Chintya, Intan juga menerima ucapan terima kasih. Bukan berupa benda, melainkan tulisan tangan Chintya sendiri. Sangat sederhana, tapi begitu berarti.
“Setiap yang datang, cepat atau lambat pasti akan pergi. Meski untuk satu alasan yang tidak disukai, tapi perubahan itu pasti terjadi.” Batin Intan, sementara tangan kanannya melambai melepas kepergian Chintya dan orangtuanya.
Pulang ke rumah menjadi tujuan Intan selanjutnya. Namun, Intan berniat membagi kue pemberian orangtua Chintya dengan Devano, sehingga Intan akan mampir ke tempat kerja Devano lebih dulu sebelum pulang ke rumah. Apalagi jalan yang Intan lalui searah dengan tempat Devano bekerja.
Sayang sekali, Devano sedang berada di ruangan Pak Bos Besar saat Intan tiba di parkiran percetakan. Intan tidak bisa menemui Devano, karena pembahasan dengan Pak Bos Besar tidak bisa ditinggalkan.
Tak terduga, ada Benny di sana. Seperti biasa, Benny baru saja membantu salah satu pelanggan memasukkan pesanan ke dalam mobil. Begitu melihat Intan, Benny langsung menghampiri dan bertanya kepentingan Intan di percetakan.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Benny, ramah.
Intan tersenyum, lantas menggeleng pelan sebagai jawaban.
“Mungkin ada yang mau ditemui di dalam sana?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Benny.
“Tadinya iya,” jawab Intan singkat dan tetap ramah.
Bola mata Benny langsung tertuju pada kotak kue yang ditenteng Intan. Langsung menduga-duga pula niatan Intan dan kotak kue yang dibawa.
“Mau diberikan pada siapa, Mbak? Sini, biar saya bantu.”
Intan berpikir sejenak, kemudian memilih untuk menerima tawaran Benny. Tidak ada salahnya jika merepotkan Benny sebentar, sehingga kotak kue yang dibawa Intan bisa sampai pada Devano.
“Untuk Devano Albagri. Tolong ya, Mas ....” Intan menggantung kalimatnya karena tidak tahu dengan siapa dia berbicara.
__ADS_1
“Benny. Panggil saja saya Benny."
"Oke. Mas Benny. Tolong ya, Mas."
"Siap. Oya, dari siapa ini?”
“Intan.”
Benny mengangguk-angguk, kemudian teringat satu nama yang dicurigai sebagai wanita yang berhasil merebut hati Devano dari Dhea. Seketika itu juga, Benny memperhatikan Intan lebih detail, mulai dari wajah, penampilan, dan senyum manis yang Intan suguhkan.
“Lumayan cantik. Pantas saja Dhea tersingkir.” Batin Benny.
“Mas, hallo?” Intan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Benny. Sedikit tidak nyaman pula karena diperhatikan seperti tadi.
“Iya. Baik. Akan saya antarkan ke ruangan Devano. Saya permisi masuk dulu.”
Ucapan terima kasih Intan sampaikan, kemudian lanjut pulang. Sementara Benny, dia mengayunkan langkahnya menuju lantai tiga, tempat Devano bekerja. Saat itu Devano masih belum selesai berbincang dengan Pak Bos Besar. Benny yang melihat peluang, dia membuat keisengan dengan memberikan cita rasa tambahan pada kue pemberian Intan.
“Kue bantal rasa sambal.” Batin Benny, sambil membubuhi roti bantal pemberian Intan dengan bubuk cabai.
Bubuk cabai yang digunakan Benny didapat dari meja kerja Jefri. Ya, akhir-akhir ini Jefri mulai menyukai rasa pedas, sehingga sering menambahkan bubuk cabai ke dalam makanannya. Ditambah lagi, Jefri dan Devano berada di ruang kerja yang sama, bahkan meja kerjanya pun berdekatan. Pas sekali, dengan mudah menjadi pendukung keisengan Benny.
Aksi Benny terpergok Jefri, tapi secara diam-diam. Jefri yang saat itu baru kembali dari kamar mandi langsung menangkap perbuatan Benny. Sempat direkam pula menggunakan ponselnya. Hanya beberapa detik saja. Setelahnya Jefri bersembunyi agar kehadirannya tidak disadari.
Sekembalinya Devano dari ruangan Pak Bos Besar, Jefri mengadukan ulah Benny. Awalnya Devano tidak percaya, tapi rekaman video membuktikan segalanya. Devano sampai mem-pause video itu berulang demi memastikan kebenaran.
“Kue itu dari Intan kan, Bro?”
“Iya. Tadi Intan mengirim pesan, tapi aku tidak bisa turun menemuinya.”
“Nah. Bisa saja ini salah satu niatan Benny untuk membuat hubunganmu dengan Intan jadi jauh. Ingat, Dev. Benny bersahabat baik dengan Dhea. Jadi ….” Jefri berprasangka.
Devano tidak sepenuhnya mengiyakan prasangka Jefri pada Benny. Sempat ada pikiran ke arah sana, tapi Devano tidak terlalu ambil pusing dengan itu semua.
“Sudah. Biarkan saja dia.”
“Biarkan-biarkan. Kau ini jangan terlalu santai, Dev! Kalau Benny dibiarkan, lama-lama bisa kelewatan.”
“Nah. Itu tugasmu, Jef.”
“Tugas apa?”
“Tugas sebagai sahabat yang baik.” Devano mendekat, lalu berbisik di telinga Jefri. “Kau harus membantuku mengawasi Benny. Keluarlah sebentar. Benny menguping di balik pintu.”
Saat itu juga bola mata Jefri membulat. Dia langsung balik badan, lalu menuju pintu ruangan. Dugaan Devano benar. Sedari tadi Benny berusaha menguping pembicaraan. Sayang sekali, Benny lebih dulu mengambil langkah seribu sebelum Jefri berhasil menegurnya.
__ADS_1
“Awas kau, Ben!” desis Jefri.
Sore hari, sudah waktunya pulang untuk Devano dan Jefri. Biasanya Devano bersedia saja diajak Jefri ke warung kopi selepas bekerja, tapi tidak untuk kali ini. Devano melajukan motornya ke toko buku. Buku cerita, kertas warna-warni, balon, dan beberapa peralatan lain Devano beli untuk persiapan akhir pekan ini. Bayangan anak-anak dan danau berair jernih sudah memenuhi pikiran Devano. Terlebih lagi, ada satu rencana yang akan dijalankan untuk mengerjai Sandhi.
Devano senyum-senyum membayangkan kejutan untuk Sandhi. Semacam tantangan, tapi lebih banyak terbumbu kejahilan. Devano sengaja, demi membuat kesan tak terlupakan atas dirinya. Sekalian saja Devano mengambil kesempatan lebih, mumpung tidak ada Intan di sana.
“Sandhi. Semoga dengan ini kau jadi sadar bahwa aku memang pantas untuk Intan.”
Beres dengan barang belanjaan, Devano menelpon Reynal. Devano benar-benar matang merencanakan akhir pekannya di danau berair jernih. Lewat perantara Reynal, Devano berpesan agar Sandhi membawa baju renang.
“Baju renang? Untuk apa, Dev?”
“Sampaikan saja pesanku pada Sandhi.”
“Dev, sebaiknya kau tidak macam-macam dengan Sandhi. Ingat, hati Intan sudah milikmu. Sementara Sandhi, dia hanya ingin berkenalan denganmu. Sudah, itu saja.”
“Tenang saja, Rey. Tidak akan macam-macam. Cuma satu macam saja.” Dengan tenang Devano menyampaikan demikian.
Percuma saja Reynal mencegah saat Devano sudah membulatkan tekadnya. Apalagi obrolan Reynal dan Devano dilakukan via telepon, jadi lebih sulit bagi Reynal untuk memberi nasihat ataupun mencegah.
“Apa Intan kau beri tahu?” Reynal kepikiran.
“Tidak.”
“Kalau Jefri?”
“Tidak juga. Dia memang sahabat yang baik, tapi … ya … kau tahu sendiri bagaimana Jefri jika disuruh menyimpan cerita.”
Di seberang sana, Reynal memahami alasan Devano. Namun, dia tetap saja kepikiran. Apalagi Devano sampai menyuruh Sandhi membawa baju renang.
“Satu lagi, Dev. Bagaimana jadwal masuk kerjamu?”
“Sudah aku atur.”
“Bolos?”
“Tentu saja tidak. Aku karyawan teladan. Profesional.”
Dari sini, Devano terlihat matang sekali mempersiapkan semua. Apalah daya Reynal yang tidak lagi sanggup mencegah. Dan, pertemuan Minggu nanti akan menentukan lanjutan kisah Intan, Devano, dan Sandhi.
“Sampai jumpa di danau berair jernih …. San-dhi.” Devano mengeja nama Sandhi dengan penuh arti.
Mungkinkah Devano akan berlebihan menyambut Sandhi? Bagaimana reaksi Intan andai dia tahu pertemuan Devano dengan Sandhi? Nantikan lanjutan novel ini! Salam Luv 💜
Bersambung ….
__ADS_1