PANTAS

PANTAS
Bab 6 - Tolong Aku


__ADS_3

Devano panik begitu melihat Intan. Motor miliknya sampai roboh juga karena tidak benar saat memarkir di tepi jalan. Meski motornya roboh, dia sama sekali tidak memedulikan. Fokusnya benar-benar tertuju pada Intan.


Saat ini Intan dalam kondisi tergeletak di samping motornya. Intan masih sadar, kedua matanya terbuka lebar. Bagian tubuhnya pun tidak mengalami luka sama sekali. Anehnya, Intan justru tidak bergegas bangun meski dirinya baik-baik saja.


“Tan, apa kakimu terkilir?” Devano berjongkok di samping Intan.


“Tidak,” jawab Intan lirih.


“Kamu baik-baik saja?”


“Iya.” Lagi-lagi Intan menjawab dengan nada lirih.


“Oke. Kamu sedang tidak baik-baik saja. Bangunlah dulu! Sini biar aku bantu.”


Intan mencegah Devano yang akan membantunya. Dengan perlahan Intan duduk, lantas berdiri tanpa banyak kata. Yang Intan katakan benar, dia baik-baik saja, tapi secara fisik usai terjatuh dari motornya. Apalagi, sebelum ini laju motor Intan tidak terlalu kencang dan jalanan sepi kendaraan. Intan mengalami kecelakaan tunggal akibat fokusnya berkurang.


Motor Intan yang roboh diurus Devano. Begitu pula dengan barang-barang yang semula berantakan, ditata ulang juga oleh Devano. Sedangkan Intan, dia hanya diam.


“Baiklah. Tinggal satu yang belum beres.” Devano berkacak pinggang.


“Motormu?” tebak Intan.


“Bukan motorku, tapi kamu.”


“Memangnya ada apa denganku, Dev?”


“Kamu … tidak waras.”


Terpancing juga reaksi Intan. Devano berhasil mengubah mimik wajah Intan, jadi sebal setelah sebelumnya diam tanpa ekspresi.


“Ha? Apa kamu bilang? Aku baik-baik saja, Dev. Kamu saja yang berlebihan!”


“Hahaha. Ini baru Intan. Yasudah. Ayo, kita pulang! Akan aku antar sampai rumahmu.”


“Tidak mau!”


“Harus mau!”


“Deeeev!”


Devano tidak lagi mendengarkan teriakan Intan. Dengan sikap tenangnya, Devano menuju motor miliknya, merapikan sedikit barang bawaan yang tercecer, lantas mulai mengemudikan motornya. Kali ini dengan pelan, karena Devano tidak ingin Intan kembali mengalami kecelakaan.


Masih beberapa gang lagi sebelum Intan sampai di area gang rumahnya, hingga kemudian motornya dihentikan tiba-tiba. Devano yang melihat itu pun langsung putar haluan dan menghampiri Intan.

__ADS_1


Mesin motor Intan dan Devano masih sama-sama menyala. Namun demikian, meski motor mereka bersebelahan, tapi tidak ada yang membuka obrolan hingga beberapa detik lamanya.


“Dev, tolong aku.”


Akhirnya, Intanlah yang membuka obrolan. Namun, kalimat yang keluar dari mulutnya justru membuat Devano kebingungan. Sebelum ini Intan memang kecelakaan tunggal, tapi dia sama sekali tidak mengatakan tolong karena memang kondisinya tidak mengkhawatirkan. Sekarang, kata tolong yang terucap justru sangat mengherankan bagi Devano.


“Apa yang bisa aku bantu?”


“Tolong aku, Dev. Aku tidak mau dijodohkan.”


Mimik kaget tergambar jelas di wajah Devano. Dia tidak menyangka bahwa sedari tadi yang Intan pikirkan sepanjang perjalanan adalah tentang perjodohan yang sama sekali tidak diharapkan.


“Kamu mau dijodohkan, Tan?”


Intan mengangguk sambil menunjukkan wajah meminta belas kasihan. Sebenarnya sikap yang seperti ini jarang sekali Intan tunjukkan. Biasanya Intan terlihat tegar. Sepertinya, ada gejolak rasa yang tidak bisa dia kuasai, hingga kata tolonglah yang keluar demi bisa mengurangi beban di hati.


Mesin motor akhirnya dimatikan setelah Devano mengisyaratkan. Devano ingin mendengar penuturan Intan lebih jelas agar lebih paham duduk permasalahan. Setelah diminta, Devano pun mendengarkan cerita Intan secara singkat hingga pada topik perjodohan.


“Kenapa kamu tidak mau dijodohkan, Tan?”


“Karena aku tidak mencintainya, Dev?”


“Apa kamu sedang mencintai orang lain?”


“Tidak juga. Aku hanya tidak mau dijodohkan.”


“Menurutku … dia pantas untukmu, Tan.” Devano berpendapat usai mendengar latar belakang seseorang yang akan dijodohkan dengan Intan.


“Pantas? Pantas dari mana, Dev?”


“Kamu cantik, baik, berpendidikan, dan karirmu bagus. Sedangkan calonmu, dia tajir, punya mobil, dan pastinya punya cinta untukmu, Tan. Kamu pasti akan bahagia bersamanya.”


Seketika itu Intan langsung mengalihkan pandangan. Ada rasa kecewa karena Devano tidak bisa memahami perasaannya.


“Kamu tidak paham,” ucap Intan dengan tetap mengalihkan pandangan.


Jeda sejenak. Baik Intan maupun Devano sama-sama terdiam. Intan masih larut dengan perasaannya, sedangkan Devano larut dalam pikirannya.


“Pantas itu bukan tentang yang dipandang bisa membahagiakan karena keadaan uang, Dev. Aku … tidak menginginkannya. Tidak pula mencintainya.”


“Lalu, apa kamu akan tetap membiarkan ruang hatimu kosong, Tan? Bukankah tadi kamu bilang tidak sedang mencintai seseorang?”


“Ruang hati harus terisi. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan.”

__ADS_1


Kalimat Intan yang terakhir sungguh dalam. Dari sanalah Devano mulai memahami Intan. Cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta juga tidak bisa berlandaskan hanya dengan kata pantas yang tersuguhkan.


“Tan, jika kamu memang tidak ingin dijodohkan, katakan! Bicarakan baik-baik. Kurangi beban hatimu.”


Sebenarnya, Intan tahu apa yang harus dilakukan. Sama persis dengan apa yang Devano katakan. Ya, Intan harus mengatakan, hingga beban hatinya berkurang. Intan tahu itu. Sejauh ini, yang Intan butuhkan adalah penguatan. Dan, hari ini dia mendapatkan penguatan itu dari Devano.


“Dev, terima kasih sudah mendengar curhatku. Malam ini aku akan mengatakannya.” Senyum Intan mengembang.


Senyuman Devano pun mengembang. Senyum itulah yang menjadi salam perpisahan dengan Intan di hari itu. Baik Intan maupun Devano, mereka sama-sama tidak tahu kapan bisa bertemu lagi karena di antara mereka sudah tidak ada hutang ataupun balas budi.


Ajaib. Selain karena takdir, kata itulah yang pantas mengiringi segala hal yang terjadi hari ini. Termasuk saat malam hari di rumah Intan, dia memberanikan diri untuk mengutarakan beban hati pada ayah ibunya. Ada adik Intan juga di sana. Usai melewati beberapa obrolan, perjodohan pun resmi dibatalkan.


Bulan sabit menghiasi langit malam. Bintang berhamburan dan berkedip manja pada Intan. Seutas senyum pun mengembang. Hati Intan malam itu diselimuti rasa syukur yang mendalam.


“Di bawah langit yang sama, adakah orang yang memikirkan aku di luaran sana? Wahai jodohku, tempat manakah yang ditakdirkan bagi kita untuk bertemu?” Intan bermonolog, sembari melihat bulan sabit dan gemintang yang berkedip.


***


Di bawah langit yang sama, di waktu yang sama, tapi berbeda kota. Sandhi, si dosen tampan yang pernah menjadi pujaan hati Intan itu tengah terlibat permasalahan serius dengan ibunya.


“Sandhi! Apa maksudmu tiba-tiba membatalkan perjodohan ini?” Sang ibu murka karena keputusan Sandhi yang tiba-tiba. Padahal, acara perjodohan akan berlangsung minggu depan.


“Maafkan Sandhi, Ma. Setelah Sandhi pikir, hati Sandhi bukan untuk Nisa. Sandhi …. Sandhi mencintai seseorang yang lain.”


Plak!


Satu tamparan tangan mendarat mulus di pipi kiri Sandhi. Sandhi hanya menunduk, sambil menerima saja murka sang ibu padanya.


“Harusnya kamu bilang dari awal. Kalau sekarang, apa yang akan mama katakan pada keluarganya Nisa, ha?”


“Maafkan Sandhi, Ma. Sandhi tidak bisa ….”


“Cukup! Pikirkan lagi ucapanmu itu! Kamu hanya pantas bersanding dengan Nisa. Perjodohan itu … tetap akan dilaksanakan!”


“Tapi, Ma!”


Sang ibu tidak lagi mendengarkan penuturan Sandhi. Keputusannya tidak dapat diganggu gugat lagi.


***


Di bawah langit yang sama, Devano tersenyum riang sambil mengamati beberapa potret hasil bidikan saat anak-anak belajar. Namun, yang paling banyak adalah potret wajah Intan. Potret wajah Intan yang tertawa riang, potret wajah Intan yang cemberut sebal, bahkan potret wajah Intan saat galau di atas ayunan pun berhasil diabadikan.


“Tan, andai aku bilang cinta, apakah kamu akan menerima? Tapi, apa aku pantas untukmu?” Batin Devano, bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sandhi mendadak membatalkan perjodohannya, sedangkan Devano berangan bisa mengungkapkan cinta. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan lanjutan ceritanya!


Bersambung ….


__ADS_2