PANTAS

PANTAS
Bab 47 - Pilihan Sulit


__ADS_3

Istirahat beberapa menit cukup memulihkan tenaga dan membuat mental tenang. Intan terjaga usai beberapa menit terlelap di sofa ruang tunggu UKS sekolah. Lebih dulu Intan mengecek ponsel milik Helen, membalas beberapa pesan dari Devano, kemudian mengayunkan langkah mendekati Gion yang masih saja terlelap dengan nyenyak. Benar-benar pulas sampai Intan bisa mendengar dengkuran halus darinya.


Tangan kanan Intan maju perlahan. Diusapnya puncak kepala Gion dengan lembut, seraya menyalurkan rasa peduli sekaligus kasihan. Ya, Intan prihatin dengan kondisi mental Gion. Bahkan, Intan masih teringat jelas mimik wajah Gion yang saat itu begitu pasrah, sampai beranggapan bahwa menghilang adalah jalan terbaik untuknya.


"Kamu berhak bahagia seperti anak-anak lainnya," ucap Intan dengan lirih.


Ada yang menyentuh pundak Intan. Dia menoleh dan mendapati Helen di sana.


"Kamu sudah selesai mengajar?" tanya Intan.


"Tinggal satu kali tatap muka untuk hari ini. Anak-anak masih istirahat. Tuh!" Helen membuka tirai UKS demi menunjukkan aktivitas anak-anak di jam istirahat.


Senyum Intan mengembang. Dia teringat anak-anak di kelasnya. Kejadian yang menimpa dirinya pastilah membuat panik beberapa pihak, tapi Intan berharap agar kepanikan itu tidak sampai di telinga murid-muridnya.


"Kamu suka anak kecil ya?" Helen membuka topik.


Intan mengangguk. "Mereka adalah generasi kebanggaan. Tiap-tiap dari mereka memiliki mimpi besar. Dan, akan jadi satu kebahagiaan tersendiri jika melihat mereka sukses di masa depan."


Saat mengatakan itu, Intan membayangkan murid-murid di kelasnya. Apa yang Intan katakan barusan sekaligus menjadi harapan dan doa untuk murid-murid yang dia ajar.


"Aku lihat kamu sangat peduli pada anak-anak, khususnya pada Gion. Apa di sekitar lingkunganmu banyak anak kecil?"


"Banyak sekali. Hampir setiap hari aku bermain dan belajar bersama mereka di kelas," ungkap Intan.


"Kamu seorang guru juga?" Bola mata Helen melebar, sementara senyumnya mengembang. Helen langsung menyambut hangat saat Intan memberi anggukan sebagai jawaban.


"Profesi kita sama," ucap Intan.


Helen langsung menjabat tangan Intan. Dia tidak menyangka bahwa Intan adalah seorang pendidik, sama sepertinya.


"Aku senang bisa mengenalmu, Tan. Di lain kesempatan, kita bisa banyak berdiskusi tentang pendidikan. Apa kamu mau?"


"Boleh. Aku mau."


"Asik. Oya, bagaimana dengan Devano. Apa sudah dihubungi. Em, sebentar. Ponselmu."


Helen pamit sebentar menuju ruang kelas. Ponsel Intan diisi daya di sana. Sudah lebih dari separuh daya telah terisi. Lumayan, kini ponsel Intan bisa digunakan lagi.


"Ini. Kamu bisa menghubungi Devano pakai ponselmu."


Intan sungguh berterima kasih. Dia mengembalikan ponsel milik Helen, kemudian mengambil alih ponsel miliknya. Saat itu juga Intan minta waktu sebentar untuk menghubungi beberapa orang. Orangtuanya, Mira, bahkan kepala sekolah di tempat dia bekerja. Intan tidak mengatakan bahwa dirinya menjadi korban penculikan. Intan hanya menjelaskan bahwa dirinya terjebak dalam situasi tak terduga.


"Bagaimana, Tan? Lancar?" tanya Helen saat melihat kelegaan di wajah Intan.


"Akan kujelaskan semua saat aku kembali ke kotaku."


"Kalau begitu, kamu bisa ke kontrakanku. Paling tidak sampai Devano datang menjemput. Dia bilang akan datang bersama Reynal, kan?" Helen memastikan, karena baru saja dia melihat isi chat Intan di ponselnya.


"Iya. Kata Devano, Reynal seorang psikolog. Jadi, dia bisa membantu Gion."

__ADS_1


Perhatian Intan kembali pada Gion. Puncak kepala si bocah lelaki itu kembali diusap pelan. Benar-benar penuh kasih, layaknya anak Intan sendiri.


***


Sementara itu, Sandhi dan Fani dalam perjalanan menuju tempat Devano. Sebenarnya Sandhi lelah, tapi dia tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Sandhi, biar aku yang mengemudi, ya?" Fani khawatir.


"Kuulang lagi pertanyaanku waktu itu. Sudah berapa kali latihan mengemudi?"


"Dua kali."


"Sudah punya surat izin mengemudi?"


"Hehe, belum."


"Kalau begitu jadilah berguna dengan tidak banyak bicara. Tidurlah jika kau lelah."


Fani cemberut. Pandangan matanya terarah ke jalanan. Pohon-pohon tampak berlarian seiring mobil Sandhi yang melaju kencang. Sayangnya Fani tidak menikmati pemandangan itu sama sekali. Dia merasa tidak enak hati karena di saat seperti ini tidak bisa membantu Sandhi.


"Halo, Rey. Bagaimana? Devano tidak keberatan jika aku membantunya?" Sandhi menerima telepon dari Reynal.


Sandhi terdiam untuk beberapa saat. Dia mendengarkan penjelasan Reynal tentang Intan yang lokasinya sudah ditemukan. Reynal juga sedikit menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Intan, tentu saja versi singkat karena saat itu Intan juga bercerita singkat.


Selanjutnya, Sandhi tiba-tiba saja berinisiatif untuk ikut bersama Reynal dan Devano. Akan tetapi, Sandhi sadar posisi. Dia bukanlah siapa-siapa. Intan akan lebih membutuhkan Devano daripada dirinya.


Sandhi senang, tapi juga sedih secara bersamaan. Senang karena posisi Intan telah ditemukan, dan sedih karena tidak bisa memainkan peran penting dalam kehidupan Intan.


"Ssut!" kode Fani, agar Sandhi lekas berbagi informasi.


"Posisi Intan sudah diketahui. Dia diculik, meski sebenarnya bukan dia yang diculik."


Fani spontan tepuk tangan. Dia girang mendengar kabar tentang Intan. Tapi, mendadak saja terdiam karena gagal mencerna kalimat terakhir yang Sandhi katakan.


"Intan diculik meski sebenarnya bukan Intan yang diculik? Kok aku nggak paham, ya?"


"Loading-mu memang lama," celetuk Sandhi.


Di luar dugaan, Fani justru menjewer telinga Sandhi. Benar-benar dijewer layaknya anak nakal yang tutur katanya brutal.


"Aaaa!"


"Mahasiswamu harusnya malu punya dosen sepertimu. Seenaknya ngatain orang loading lama. Memangnya kenapa kalau aku lola, ha?"


"Maaf," ucap Sandhi dengan ringannya.


"Permintaan maaf macam apa itu? Nggak niat banget!"


Fani membuang pandang. Dia lagi-lagi melihat ke arah pepohonan yang seolah berlarian seiring laju mobil Sandhi yang kencang.

__ADS_1


Saat itulah Sandhi memperhatikan Fani. Bukan perhatian layaknya seorang kekasih, melainkan karena Sandhi teringat lagi tentang Farel, kakak kandung Fani.


"Fan, Intan sudah ditemukan. Itu artinya Farel tidak lagi punya kesempatan. Apa aku salah jika berpikiran seperti itu?" Sandhi serius bertanya.


Fani tidak langsung menjawab. Sejujurnya dia sendiri pun tak yakin, karena sang kakak sering kali memiliki rencana tak terduga.


"Kamu nggak salah. Hanya saja ... Semoga Kak Farel benar-benar menyerah." Fani tersenyum sebentar, kemudian kembali melihat ke arah jalanan.


"Kalau begitu kita pulang saja. Reynal akan kuberi tahu."


Usai berkata demikian, Sandhi menelpon Reynal. Tidak lama. Sandhi hanya memberi tahu bahwa dia akan pulang ke kotanya. Tidak jadi ke kota tempat tinggal Intan.


Sementara Fani, pikirannya benar-benar terusik. Bayangan Farel terus berputar di kepalanya. Semakin dipikirkan, semakin Fani kehilangan ketenangan. Hatinya dipenuhi kekhawatiran tentang dirinya, juga Intan yang sama sekali tidak ingin dia libatkan.


"Intan tidak pantas terlibat. Tapi, aku tidak ingin pulang. Aku sudah mulai nyaman di kontrakan Sandhi." Batin Fani.


Pilihan sulit. Fani harus memilih apakah tetap bertahan di kota tempat tinggal Sandhi atau justru pulang demi menyelamatkan beberapa pihak termasuk Intan yang tak pantas dilibatkan dalam urusannya.


"Em, Sandhi. Boleh minta pendapat nggak?"


"Apa?"


"Bolehkah aku berubah pikiran? Maksudku, aku akan pulang ke rumah Kak Farel saja. Biar Kak Farel mengurungkan niat mengganggu Intan." Beraaat sekali hati Fani saat mengatakan itu. Tapi, dia juga tidak enak hati jika keadaannya justru harus melibatkan Intan. Apalagi, Sandhi masih menyimpan perasaan untuk Intan.


Sandhi langsung menoleh. Dia terdiam sebentar sambil mengamati mimik wajah Fani.


"Aku tidak setuju." Usai berkata demikian, Sandhi kembali fokus ke jalanan. "Kau tidak perlu berkorban apa-apa. Intan pun pasti tidak akan setuju jika dia tahu keputusanmu. Pasti ada cara lain."


Fani lesu. Ternyata rencananya tidak disetujui Sandhi. Dan, obrolan yang barusan itu adalah obrolan terakhir hingga Fani dan Sandhi sampai di kontrakan. Benar-benar sisa perjalanan yang penuh kebekuan karena masing-masing dari mereka larut dalam pikiran.


"Segera hubungi aku jika ada sesuatu yang genting. Jaga diri baik-baik. Aku pulang dulu."


Fani hanya mengangguk. Dia tidak langsung masuk ke dalam kontrakan, melainkan menunggu mobil Sandhi menghilang dari pandangan. Setelahnya, air mata Fani mengalir. Dia menangis.


***


Anak-anak buah suruhan Farel sudah dikerahkan di dekat lokasi Intan saat ini. Farel bergerak sangat cepat demi memenuhi ambisinya. Dengan uang yang dia miliki, begitu mudah rencananya dapat terealisasi.


"Lapor, Bos. Devano Albagri dan Reynal si psikolog baru saja berangkat. Prediksi sampai adalah tiga jam dari sekarang," terang asisten Farel.


"Mereka kalah cepat. Intan akan lebih dulu kudapatkan demi kepulangan adikku Fani. Pesan ayah dan ibu harus segera aku penuhi. Biar mereka bahagia di surga sana."


Farel terdiam sebentar sambil memandangi foto ayah ibunya yang telah tiada. Istri Farel, dia berada di sampingnya. Sedari tadi menemani, tapi dia tidak bisa membantah apa-apa. Dia bahkan setuju-setuju saja, berharap pula agar Fani bisa segera kembali ke rumah utama.


"Hm? Apa ini?" Farel tiba-tiba mendapat pesan. Setelahnya dia tertawa lebar. Tak hanya berhenti di sana, seluruh anak buah yang diperintahkan untuk membawa Intan, seketika itu dia tarik dan rencana pun dibatalkan.


Apa yang terjadi? Siapa yang mengirim pesan pada Farel?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2