PANTAS

PANTAS
Bab 51 - Tantangan 31 Hari


__ADS_3

"Selamat pagi, Sandhi Ardiaz Putra." Farel mengembangkan senyum berwibawa.


Sandhi menjabat tangan Farel, kemudian dipersilakan duduk kembali oleh sang asisten.


Obrolan tidak langsung dimulai. Sandhi harus bersabar menunggu asisten Farel memberi bisikan pada bosnya. Yang dilakukan Farel hanya mengangguk-angguk saja tanpa mengatakan ya atau kalimat lainnya. Sebenarnya Sandhi ingin tahu topik bisikan itu. Tapi, apalah daya Sandhi yang saat ini hanya bisa menahan diri demi terlaksananya misi.


"Apa minuman kesukaanmu, Tuan? Akan saya bantu pesankan." Asisten Farel bertanya usai selesai dengan aksi bisikan pada bosnya.


"Samakan saja pesanannya."


"Baiklah. Akan saya pesankan paket menu sarapan spesial."


Usai berkata demikian, asisten Farel menuju meja kasir tempat pemesanan. Namun, tidak kembali bergabung dengan bosnya, melainkan menunggu di parkiran. Rupanya, Farel yang meminta agar bisa berbincang empat mata dengan Sandhi. Pantas saja asisten Farel membisikkan beberapa hal sebelum dia undur diri.


Dimulailah obrolan serius di antara Sandhi dan Farel. Yang memulai dulu adalah Farel dengan kalimat basa-basi memuji kota tempat tinggal Sandhi. Farel juga memuji sikap berani Sandhi yang telah mengirim pesan dan menawarkan kesepakatan.


"Jadi, apa yang kau tawarkan padaku, wahai Sandhi Ardiaz Putra?" tanya Farel dengan sikap tenangnya.


"Tolong lepaskan Intan. Jangan libatkan dia. Sebagai gantinya, aku akan menjaga Fani di sini. Aku akan menikahinya." Sandhi mengungkap niatannya dengan lancar. Semua dia lakukan demi Intan.


"Hahaha. Kau mengorbankan perasaanmu sendiri hanya demi wanita yang tidak memilihmu? Sandhi Ardiaz Putra, aku tanya padamu, apa kau baik-baik saja dengan itu?"


Baik-baik saja? Pertanyaan itu berputar di kepala Sandhi. Andai bisa berkata jujur, maka Sandhi akan langsung mengungkap yang sebenarnya. Tapi, baik-buruknya sudah Sandhi pertimbangkan. Sebenarnya bukan hanya demi melindungi Intan, tapi keputusan Sandhi juga akan membuat Fani terlepas dari Farel. Namun, untuk saat ini alasan yang paling mendominasi adalah demi keselamatan dan kebahagiaan Intan.


"Aku akan menikahi Fani. Itulah keputusanku." Sandhi tidak menjawab pertanyaan Farel yang tadi. Yang dia lakukan justru mempertegas tawaran sebelum ini.


"Pria yang tegas. Aku suka itu." Lagi-lagi Farel memuji Sandhi. "Begini. Sedikit akan kuceritakan padamu tentang diriku ... yang sebenarnya sangat peduli pada adikku Fani. Ya, meskipun adikku Fani tidak berpikir seperti itu."


Sungguh Sandhi tidak pernah menyangka akan bisa melihat wajah sendu Farel. Sebelum-sebelum ini sama sekali tidak pernah Sandhi temui. Demi bisa lebih tahu lebih dalam lagi, Sandhi mendengarkan kisah Farel dan Fani.


Di masa kecil, Farel dan Fani begitu akrab sebagai saudara kandung. Segala kebutuhan mereka terpenuhi karena harta tahta yang dimiliki orang tua. Namun, semua itu berubah saat Farel duduk di bangku kelas 3 SMA. Sedangkan Fani, dia saat itu masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Orang tua Farel dan Fani bertengkar hebat, karena alasan perselingkuhan yang terungkap. Setiap hari mereka bertengkar, dan tanpa sadar telah berdampak pada mental Fani dan Farel.


Perceraian menjadi puncak pertengkaran. Ayah Farel memenangkan hak asuh atas kedua anaknya. Sejak saat itulah kehidupan Farel dan Fani benar-benar berbeda. Rasa nyaman hanyalah harapan. Dan kebahagiaan adalah dahaga yang harus segera dipuaskan.


Farel dituntut banyak hal, termasuk dalam hal mengelola bisnis dan harta kekayaan. Lambat laun sikap Farel berubah. Harta dan kekuasaan telah membutakan hatinya. Anak buah yang dimiliki bahkan semakin banyak, dan digunakan hanya untuk melancarkan rencana-rencananya.


Sikap Farel pada Fani juga berubah. Dan, ternyata sikap itulah yang membuat Fani tidak betah. Fani sempat merantau untuk membuka bisnisnya sendiri, tapi justru gagal dan terjebak hutang.


"Aku akui, sikapku memang tidak pantas. Tapi tuntutanku sangat besar. Aku menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan sejak ayahku jatuh sakit dan perusahaan terancam. Aku telah menjadi pahlawan dengan caraku," ungkap Farel.

__ADS_1


Sandhi yang mendengarkan cerita itu sungguh tidak menduga. Sama sekali tidak ada dalam bayangannya, bahwa Farel justru akan mengungkap masa lalunya. Curhat, kata itulah yang pas menggambarkan momen saat ini. Bagi Sandhi, Farel sudah sadar bahwa sikapnya tidak pantas, tapi Farel justru berbangga diri.


"Ayahku meninggal saat aku di puncak kesuksesan. Saat itu aku memenangkan proyek besar. Dapat kau bayangkan sendiri, tiada pujian atas upaya besarku. Adikku Fani saat itu justru memilih pergi dari rumah. Meninggalkanku."


"Apa itu alasanmu menginginkan Fani kembali?" tanya Sandhi.


"Itu hanya salah satunya. Ada alasan lain. Mamaku yang masih terhubung denganku sejak perpisahan itu, mama juga meninggal karena penyakit bawaan, beberapa hari setelah ayahku meninggal. Sebelum meninggal, mama berpesan agar aku melindungi adikku Fani, membuatnya ceria seperti dulu lagi. Pesan serupa juga disampaikan ayahku sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya." Wajah Farel tampak sendu, kemudian berubah tak lama setelah itu.


"Tapi aku tidak bisa melindunginya apalagi membuatnya bahagia, karena adikku Fani lebih memilih jauh dariku. Sekarang dia bahkan tidak mau pulang karena nyaman di kota ini."


Jeda sejenak. Mimik wajah Farel benar-benar berubah-ubah. Kadang sendu, kadang tegas seperti biasanya. Kini, Farel mendekatkan wajahnya ke arah Sandhi. Sorot matanya terlihat lebih tegas.


"Tentang Intania Zhesky, sebenarnya kata-kataku waktu itu bukan sekedar gertakan untuk membuat adikku Fani pulang. Aku akui, aku langsung tertarik pada Intania Zhesky begitu melihat profilnya. Aku benar-benar menginginkannya menjadi istri keduaku. Hahahaha."


Tangan Sandhi spontan mengepal. Dia tidak terima dengan pengakuan Farel atas diri Intan yang akan dijadikan istri kedua. "Jangan coba-coba menyentuh Intan!" tegas Sandhi kemudian.


Mimik wajah Farel berubah lagi. Tawanya bahkan lebih menggelegar dibanding tadi.


"Tenangkan dirimu, wahai Sandhi Ardiaz Putra. Dosen tampan yang setelah ini pasti bisa kuandalkan."


Deg!


Ucapan Farel barusan sungguh menarik perhatian.


Farel menjeda lagi. Dia bersandar di kursi. Sikapnya tampak begitu tenang, tapi sorot matanya masih saja tampak tajam.


"Jujur saja, aku hampir menyerah pada sikap adikku Fani. Jadi, aku terima tawaranmu. Aku tidak akan mengganggu Intania Zhesky lagi. Kau juga boleh menikahi adikku Fani. Tapi ...."


Kalimat Farel tidak segera berlanjut. Tampak jelas bahwa Farel tengah memikirkan sesuatu.


"Tapi aku tidak bisa terima jika adikku Fani dinikahi tanpa cinta. Hatimu masih menyimpan nama Intania Zhesky. Jadi, kuberi kau waktu 31 hari untuk mengosongkan hatimu dari nama Intania Zhesky. Cintai adikku Fani dengan sepenuh hati. Jatuh cintalah dengannya."


Farel tidak main-main dengan keputusannya. Pikirnya, dengan dia mengizinkan Sandhi menikah dengan Fani, maka akan ada sosok yang bisa melindungi dan membahagiakan sang adik. Tapi, ada syarat yang harus Sandhi penuhi. Sandhi harus jatuh cinta pada Fani.


Atas syarat yang diajukan, Sandhi spontan mengiyakan tanpa berpikir panjang lebar. Baginya, sungguh tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan cinta Intan. Cara yang dilakukan Sandhi kali ini, dia anggap sebagai pengorbanan terakhirnya untuk Intan.


"Aku akan belajar mencintai Fani. Semoga dengan itu perasaanku pada Intan juga memudar." Batin Sandhi. "Cinta oh cinta. Tak kusangka akan serumit ini jadinya."


Dan ... tak disangka-sangka, ada seseorang yang menguping obrolan itu sedari tadi. Mira, dialah yang menguping. Awalnya tidak sengaja mendengar, tapi justru melanjutkan karena nama sang kakak disebut dalam pembicaraan.

__ADS_1


Niat awal Mira hanya ingin membeli makanan di sana. Tadi dari arah terminal kota, dia naik angkot hendak menuju kampusnya. Tapi, dia turun di rumah makan yang tidak jauh dari area kampus untuk membeli makanan sebagai bahan sogokan untuk teman dekatnya. Nyatanya, takdir tak terduga membuatnya harus mencuri dengar obrolan Sandhi.


"Ternyata Kak Sandhi memang masih suka sama Kak Intan. Tapi, kalau terpaksa menikah dengan orang lain juga kasihan. Duh! Kenapa aku kepikiran, ya?" Fani bermonolog. Posisinya saat ini ada di area parkir rumah makan. Dia sampai tidak jadi memesan. Langsung kabur begitu mendengar kesanggupan Sandhi atas tantangan 31 hari.


"Kak Intan harus tau apa nggak, ya? Atau ... aku bilang saja sama Kak Dev? Duh, kasihan Kak Sandhi."


Mira kebingungan. Dia menimbang, akan cerita pada Intan Devano atau tidak.


"Tapi kalau aku cerita, nanti Kak Intan kepikiran. Gimana, ya?"


Mira mondar-mandir di area depan rumah makan. Sesekali posisinya dibuat sedikit menjauhi area rumah makan sambil menunggu angkot lewat. Tapi, tumben sekali angkot yang ditunggu terasa begitu lama dibanding biasanya. Terhitung, Mira sudah berdiri di sana bermenit-menit lamanya.


"Tumben banget sih Kang Angkot nggak lewat-lewat. Biasanya juga banyak."


Mira gelisah. Sempat berpikir untuk naik ojek saja menuju kampusnya, tapi urung karena teringat moto hematnya.


Tanpa sadar, dua puluh menit sudah Mira berdiri di sana. Posisi Mira memang sudah tidak lagi di dekat area rumah makan karena langkah kakinya yang dibuat menjauh perlahan. Hingga kemudian, ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Dan, mobil itu adalah mobil Sandhi.


"K-kak Sandhi." Mira sampai terbata sangking kagetnya.


Wajah Sandhi tampak serius. Dia melangkah cepat menghampiri Mira, kemudian memintanya masuk ke dalam mobilnya. Mira yang syok, dia pasrah saja. Begitu sudah di dalam mobil, barulah dia tahu apa yang membuat Sandhi memperlihatkan mimik wajah sepanik itu.


"Yang tadi itu berbahaya, Mira. Orang tadi bisa saja membuatmu celaka."


Sandhi, sebenarnya dia tahu Mira menguping obrolannya. Tapi Sandhi tidak bisa mencegah, karena salah tingkah sedikit saja, maka Farel pasti akan menandai Mira, bisa-bisa Farel juga akan memata-matainya.


"Maafkan Mira, Kak. Mira cuma penasaran karena orang tadi nyebut nama Kak Intan sama Kak Dev."


Mira tampak ketakutan. Apalagi saat Sandhi mengatakan kata 'orang tadi bisa saja membuatmu celaka.


Deg!


Pikiran Sandhi memang dalam kondisi yang kurang stabil. Jadilah, saat dia memperhatikan wajah Mira yang ketakutan, mendadak saja bayangan Intan berkelebatan. Memang, wajah Mira hampir mirip dengan wajah Intan. Dan, di tengah ketidakstabilan itu, Sandhi langsung meraih tubuh Mira, kemudian memeluknya dengan penuh cinta. Sangat erat, sampai Mira bisa merasakan detak jantung Sandhi.


"Kak Intan. Apa kakak juga pernah dipeluk Kak Sandhi seperti ini?" Batin Mira.


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mira akan diam saja, tidak memberi tahu Intan? Nantikan lanjutan ceritanya!


Bersambung ....

__ADS_1


Like + Fav + Komentari + Vote 😉


Salam Luv 💜


__ADS_2