
Masih setia di depan laptop sambil ditemani headphone, itulah yang tampak pada diri Sandhi saat ini. Dia baru saja selesai meeting dadakan secara virtual dengan beberapa dosen pengajar. Sandhi yang tadinya berniat menjemput Fani, niatannya harus diurungkan demi meeting dadakan yang tidak bisa dihindari.
Mamanya Sandhi yang saat itu ada di rumah juga sesekali mengintip kegiatan sang putra. Terhitung sudah dua kali mengintip tanpa disadari Sandhi sama sekali. Itu karena tadi Sandhi begitu konsentrasi, memakai headphone pula, sehingga suara-suara lain di sekitarnya sama sekali tidak didengar olehnya.
Untuk yang ketiga ini, kehadiran mama Sandhi disadari. Sandhi langsung menoleh dan bertanya niatan sang mama datang menghampiri.
"Kamu masih meeting?"
"Baru saja selesai. Ada apa, Ma?"
Mama Sandhi tidak lagi di ambang pintu, melainkan melangkah masuk ke dalam kamar Sandhi. Ada yang ingin disampaikan pada sang putra. Pertama, tentang penyesalannya. Dan yang kedua, tentang keinginannya. Namun, dua niatan itu tak kunjung juga berhasil diungkapkan. Begitu sudah sampai di hadapan sang putra, mama Sandhi justru terdiam.
Melihat gelagat sang mama, Sandhi mengira akan ada hal penting yang akan disampaikan. Dugaan Sandhi mengarah kepada sikap gengsi sang mama atau bisa jadi karena tidak tahu bagaimana cara memulai kata.
"Ada apa, Ma?" tanya Sandhi untuk yang kedua kalinya. "Katakan saja," imbuh Sandhi sambil melepas headphone yang tadi masih bertahan menghiasi bagian kepala hingga telinga.
Diawali dengan anggukan, mama Sandhi pun akhirnya memulai percakapan. Anehnya, kata yang keluar lebih dulu adalah kata maaf. Maaf? Maaf untuk apa? Begitulah pikir Sandhi saat itu. Dan, rasa penasaran Sandhi langsung terjawab saat sang mama mulai mengungkap.
"Maaf ... em ... mama minta maaf karena sebelum ini selalu mengunggulkan Nisa." Yang dimaksud adalah Nisa, perempuan yang dulu gagal dijodohkan dengan Sandhi. "Untuuung saja kamu tidak berjodoh sama Nisa. Attitude-nya tidak bisa dijaga. Kalau kamu tahu kelakuan Nisa tadi waktu ketemu mama, heeeem ... pasti kamu juga sebel. Sombong banget dia. Pakai acara pamer ayang pula."
Mulanya mama Sandhi tampak ragu untuk bercerita, tapi setelahnya kalimat yang keluar justru sudah sepanjang rel kereta. Mama Sandhi curhat tentang rasa sebal yang dirasakan saat tadi bertemu Nisa. Setelahnya, mama Sandhi justru tiba-tiba saja bertanya tentang Intan.
"Oya, Sandhi. Apa kamu masih menyukai Intan? Mama menyesal karena sempat tidak memberi restu."
Memang, yang namanya penyesalan selalu saja ada di belakang. Sandhi tahu betul akan hal itu. Kini, saat sang mama mengungkap penyesalannya, Sandhi tidak lagi terlalu terkejut. Ditambah lagi, saat ini mulai bersemayam nama Fani yang jelas-jelas mulai mengisi ruang hatinya.
"Intan akan segera menikah dengan laki-laki pilihannya, Ma. Sandhi tidak punya kesempatan lagi."
Ya, memang seperti itulah kondisi saat ini. Sekuat apa pun Sandhi memperbaiki, Intan telah menetapkan hati. Dan, hati yang terpilih itu bukan dirinya, melainkan Devano, sang rival yang begitu beruntung bisa dipilih oleh Intan. Begitulah pikir Sandhi. Juga, waktu telah memberi banyak perubahan, termasuk suasana hatinya yang kini mulai dipenuhi nama Fani.
"Maafkan mama, ya. Mama benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa, Ma. Sandhi sudah bisa menerima takdir yang ada. Tapi, jika mama ingin memberi restu pada Sandhi, tolong restui Sandhi dengan wanita yang sebentar lagi akan Sandhi kenalkan pada mama."
"Siapa dia yang beruntung itu?"
"Namanya Fani."
Mama Fani tampak girang karena Sandhi berani mengenalkan nama seorang wanita. Kalau sudah seperti ini, itu artinya sang putra serius. Sama seriusnya saat membatalkan perjodohan dengan Nisa untuk memperjuangkan Intan, sayangnya itu dulu dan Sandhi kurang beruntung dengan itu.
"Coba kamu ceritakan bagaimana si Fani itu." Antusias mama Sandhi begitu kentara, membuat Sandhi begitu optimis mendapat restu dari sang mama.
"Cantik, modis, dan ... saat ini dia tinggal di kontrakannya mama."
"Apa? Sejak kapan? Kok bisa?" Mimik wajah mama Sandhi berubah, penuh keterkejutan, karena tidak menyangka selama ini Sandhi merahasiakan fakta tentang Fani.
Dimulailah cerita Sandhi tentang Fani. Mulai dari awal bertemu, hingga akhirnya muncul perasaan itu. Tentu saja Sandhi tidak bercerita bagian ketika membuat kesepakatan dengan Farel yang berujung tantangan 31 hari. Kalau sampai Sandhi bercerita, pasti sang mama langsung syok. Sandhi hanya bercerita bagian kecil tentang cerita Fani yang sempat malang, hingga akhirnya terjebak hutang. Tentang pekerjaan Fani yang sekarang, bagian itu juga tidak luput Sandhi ceritakan.
"Jadi yang namanya Fani itu punya hutang sama kamu, tinggal dikontrakan mama, dan sekarang kamu akan menikahinya? Iya?"
Tidak disangka-sangka, mama Sandhi justru murka usai Sandhi menjelaskan semuanya.
"Sandhi menyukainya, Ma."
"Jangan buta, Sandhi! Itu bukan perasaan suka, tapi kamu hanya kasihan padanya." Mama Sandhi berdiri, hendak meninggalkan kamar Sandhi. "Kalau seperti ini jalan ceritanya, mama lebih setuju kamu berhubungan sama Intan. Asal usulnya lebih jelas."
Mama Sandhi menarik nafas dalam, kemudian kembali menegaskan. "Silakan saja kalau Fani mau tinggal di kontrakan mama, tapi mama tidak merestuimu menikahinya." Usai berkata seperti itu, mama Sandhi melangkahkan kakinya menuju arah pintu kamar Sandhi. Tapi begitu sampai di ambang pintu, tiba-tiba saja mama Sandhi berhenti.
"Kejar cinta yang lain saja. Mahasiswamu juga tak apa. Yang penting asal usulnya jelas." Jeda sejenak. "Sekali lagi mama minta maaf. Tolong pikirkan baik-baik apa yang mama katakan. Mama permisi dulu."
__ADS_1
Blam! Pintu kamar Sandhi tertutup rapat dengan sedikit hentakan. Dan, saat itu pula hati dan pikiran Sandhi auto jadi berantakan. Dia merasa perjalanan cintanya begitu kacau. Yang awalnya dijodohkan dengan Nisa, membatalkan perjodohan itu demi mengejar cinta Intan, tapi gagal dan harus menelan pil kekecewaan. Sekarang, saat Sandhi sudah menetapkan pilihan lagi, hubungannya justru ditentang.
Menit demi menit berlalu dengan Sandhi yang masih memikirkan kalimat-kalimat itu. Kalimat sang mama, tidak dapat restu darinya, juga ... Sandhi menghubungkan fakta yang saat ini tengah terjadi, yakni tentang Fani yang mengakui perasaannya pada Benny.
"Apa benar yang kurasakan ini bukan cinta? Benarkah rasa ini hanya rasa kasihan saja?" Batin Sandhi, dia berusaha menemukan jawaban itu seorang diri.
Bermenit-menit lagi terlalui, dan Sandhi masih berusaha menemukan jawaban itu sambil tetap merenung dan bertanya dalam hati. Hingga kemudian, Sandhi merasa perjalanan cintanya begitu lucu. Sampai-sampai Sandhi tertawa sendiri, menertawakan nasibnya yang hingga kini belum bersatu dengan cinta sejati.
"Haruskah aku melepas Fani? Tapi bagaimana dengan kegilaan Farel?" Memikirkan itu, Sandhi jadi pusing sendiri. Saat itu juga Sandhi sadar bahwa selama ini dia terlalu memaksakan diri, sampai-sampai berani mengambil tantangan 31 hari.
Berdiam diri di dalam kamar terus membuat Sandhi jadi berantakan. Kepala Sandhi sampai cenat-cenut. Bukan pusing, tapi hanya sedang banyak pikir. Setelahnya, Sandhi memutuskan untuk keluar saja. Mengemudi tanpa tempat tujuan, dan hanya berputar-putar untuk menjernihkan pikiran. Niatan Sandhi yang semula ingin menjemput Fani, seketika juga langsung hilang. Sungguh-sungguh pikiran Sandhi kali ini benar-benar berantakan.
Momen di saat Sandhi terjebak dalam kekacauan pikiran, membuat Sandhi teringat dengan kalimat Intan. Kalimat yang dulu pernah dia dengar dari Intan, yang maknanya terlampau dalam. "Ruang hati harus terisi. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan." Kurang lebih seperti itulah kalimat yang Sandhi dengar. Sandhi segera tersadar, bahwa yang selama ini dia lakukan terlalu dipaksakan. Bermula dengan memaksakan diri untuk menerima tantangan 31 hari, kini perasaan itu tumbuh bukan lagi berdasar pada ketulusan hati, dan Sandhi baru menyadari.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" ucap Sandhi, setengah frustasi.
Saat ini pikiran Sandhi benar-benar tertuju pada Farel. Dia khawatir, saat dirinya gagal menyelesaikan tantangan 31 hari itu, Farel jadi kembali mengganggu Intan. Sandhi benar-benar tidak ingin hal itu terjadi.
Ciiiiit! Mendadak saja Sandhi mengerem mobilnya. Baru saja dia menyerempet pejalan kaki. It is a bad day, begitulah batin Sandhi sebelum akhirnya dia turun untuk mengecek siapa yang dia serempet tadi.
Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu tidak menyalahkan Sandhi, karena seseorang yang tadi terserempet itu tampak bingung, hingga akhirnya terserempet mobil Sandhi. Dan ... yang paling membuat Sandhi terkejut saat mengecek siapa yang terserempet, ternyata dia seorang wanita. Wanita itu sangat dikenal oleh Sandhi, karena dia adalah salah satu mahasiswanya, yang baru beberapa waktu lalu diungkit dalam obrolan di rumah makan bersama Intan. Dia adalah ....
"Mira?"
"Kak Sandhi?"
Dari sekian banyak manusia di bumi, kenapa harus Sandhi yang ditemui. Begitulah yang Mira pikirkan saat tahu siapa orang di balik kemudi mobil yang menyerempetnya.
"Kamu tidak apa-apa, Mir?" Sandhi panik.
"Mira baik-baik saja." Mira spontan memalingkan wajah demi memenuhi apa yang sudah dia janjikan pada Intan, yakni menjauhi Sandhi dan menjaga jarak dengannya demi mencegah kebaperan.
"Hanya lecet." Cepat-cepat Mira menyembunyikan kakinya.
Sebenarnya, Mira baru saja datang dari observasi lapang yang sebelum ini dilakukan bersama teman kelompoknya. Niat Mira hendak langsung menuju kontrakan Devano. Namun, teman Mira yang tadi membonceng tidak searah dengan kontrakan Devano. Mira memutuskan untuk turun di tepian jalan, kemudian menunggu ojek online pesanan. Namun, beberapa menit menunggu ternyata pesanan Mira di-cancle.
Mira yang sedang terburu-buru pun akhirnya kesal. Tampak bingung juga setelah memutuskan untuk naik angkot saja, tapi angkot yang ditunggu tidak datang-datang juga. Hingga kemudian, Mira berniat ke seberang jalan. Dalam kondisi bingung seperti itu Mira kurang awas memperhatikan jalan. Jadilah, dia terserempet mobil Sandhi. Memang tidak parah. Tadi hanya tersentuh mobil Sandhi sedikit, dan Mira refleks mundur ke belakang. Sayangnya kondisi tubuhnya tidak seimbang. Mira akhirnya jatuh dan kakinya terkena bebatuan.
"Biar aku obati," desak Sandhi.
"Tidak perlu, Kak."
Mira bangkit dari posisinya, kemudian hendak berlari menghindar dari Sandhi. Tapi, dengan gesit Sandhi memegangi lengan Mira agar tidak bisa pergi.
"Ikut aku! Masuk ke dalam mobil!" Sandhi serius. Dia merasa bersalah karena sudah menyerempet Mira.
"Tidak mau!" Mira keras kepala, demi bisa memenuhi ucapan janjinya pada Intan.
"Menurut, atau kamu tidak lulus pada mata kuliahku." Sandhi tidak punya pilihan lagi. Terpaksa dia lakukan agar Mira menuruti perintahnya. Juga, kalau bukan karena itu adalah Mira, Sandhi tidak akan mungkin membuat pilihan seperti itu.
Dan, ternyata ancaman Sandhi berhasil. Mendadak saja mimik wajah Mira berubah, lebih terlihat bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Jangan dong, Kak. Nanti Kak Intan kecewa kalau lihat nilai Mira jelek. Kasihan Kak Intan. Dia yang sudah bantu biaya kuliah Mira." Tanpa disadari, ucapan Mira yang ini terhitung curhat kepada Sandhi.
"Masuklah ke dalam mobil. Akan aku obati lukamu."
Mira menggeleng. "Tolong antar Mira ke kontrakan Kak Dev saja, ya Kak."
"Kamu mau ke sana?"
__ADS_1
"Iya. Kak Intan lagi sakit. Sekalian Mira mau menemani Kak Intan menginap di sana. Biar Mira bisa bantu Kak Intan sampai pulih. Mira nggak mau lihat Kak Intan sakit lama-lama." Lagi-lagi Mira curhat.
Sandhi tidak terkejut karena sudah tahu informasi itu. "Baiklah, ayo!" Ucap Sandhi mengiyakan permintaan Mira.
Dan, gagal sudah usaha Mira untuk menjaga jarak dari Sandhi. Bukan hanya gagal menjaga jarak, tadi Mira juga gagal mengondisikan diri, bahkan sampai curhat pada Sandhi.
Pikiran tentang Fani benar-benar terganti karena ada Mira saat ini. Hanya kebetulan atau justru ini bagian dari takdir? Itulah pertanyaan yang sempat memenuhi pikiran Sandhi, karena kebetulan sang mama tadi sempat menjatuhkan pilihan untuk memilih cinta lainnya, pada salah satu mahasiswanya pun tak apa. Dan Mira, dia terhitung sebagai salah satu mahasiswa Sandhi, meski Sandhi tidak akan lama mengajar di kelas Mira.
"Mungkinkah wanita itu adalah .... Mira?" Pikiran Sandhi sempat menggaungkan perkiraan itu, tapi cepat-cepat dia singkirkan jauh-jauh.
Sandhi fokus mengemudi. Dia juga tidak membuat obrolan apa pun dengan Mira. Pikirannya sibuk sendiri, meski kini sudah tidak seserius tadi.
"Kok mobilnya berhenti, Kak?" tanya Mira.
"Kamu sudah pernah ke kontrakan Devano?"
Mira menggeleng.
"Turunlah. Kita sudah sampai," ungkap Sandhi dengan santai. Dia melepas sabuk pengaman dan bersiap turun bersama Mira. Tapi ....
"Jangan ikut turun, Kak!" Mira mencegah. Dia tidak ingin Intan jadi berpikiran macam-macam saat melihat Sandhi datang juga.
"Kenapa?" tanya Sandhi, dia pura-pura tidak tahu. Padahal dirinya juga sudah diminta Intan untuk menjaga jarak dengan Mira, dan Sandhi sudah mengucapkan janjinya malam itu saat di rumah makan.
"Biar Mira masuk sendiri. Terima kasih sudah mengantar Mira. Permisi."
Mira cepat-cepat turun dari mobil Sandhi. Langkahnya diayun begitu cepat ke arah gerbang kontrakan, tapi tangan yang tergopoh membuat Mira kesulitan membuka pengait gerbang. Jadilah, Sandhi membantu tanpa persetujuan Mira. Dan ... tentu saja Mira semakin tidak tenang, apalagi di ambang pintu tampak Devano sudah berniat menuju ke teras kontrakan.
"Gawat! Sudah tidak bisa membuat alasan, nih." Batin Mira.
"Hai, Mira. Silakan masuk. Rupanya ada Sandhi juga," ucap Devano yang ternyata suaranya didengar oleh Intan.
"Siapa, Dev?" Intan berjalan keluar dengan langkah perlahan. Bola matanya langsung menangkap sosok Sandhi dan Mira. Jujur saja, hati Intan saat itu was-was. Sempat berprasangka pula bahwa hubungan sang adik dengan Sandhi sepertinya memang bukan kebetulan belaka.
"Kak Intan." Mira berlarian kecil dan langsung memeluk Intan.
Sungguh pemandangan yang tampak tulus dari seorang adik perempuan pada kakaknya. Usai memeluk Intan, Mira mengecek suhu tubuh Intan dengan menempelkan tangan kanan ke kening Intan. Tidak panas, dan Mira pun senang.
"Suara Kak Intan diumpetin sama Kak Dev ya?" canda Mira. "Tapi wajah Kak Intan kok pucat banget, sih. Ayo masuk! Kak Intan harus tiduran." Mira asal menggandeng tangan Intan, dan membawanya masuk ke kontrakan.
"Itu, Sandhi, Mir."
"Ada Kak Dev!" ucap Mira dengan entengnya, lalu lanjut melangkah.
Tersisa Devano dan Sandhi di sana. Teras kontrakan menjadi saksi kebekuan sejenak di antara mereka. Baik Devano maupun Sandhi sama-sama terdiam sekian detik lamanya. Desir angin yang melewati kuping sampai begitu kentara.
"Tadi Mira tidak sengaja terserempet mobilku. Ada luka kecil di kakinya."
"Oke. Aku mengerti. Jangan khawatir!"
"Terima kasih. Aku permisi."
"Iya. Silakan. Hati-hati."
Sungguh obrolan yang begitu singkat, padat, dan jelas. Tanpa ada basa-basi atau keakraban yang coba mereka wujudkan. Namun, sebelum Sandhi benar-benar melajukan mobilnya, tiba-tiba saja Devano berlarian kecil menghampiri mobil Sandhi.
"Tunggu! Fani sedang bersama Benny. Datangi mereka, dan buat perubahan yang berarti. Sepertinya itu akan berpengaruh baik untuk perjalanan cintamu." Devano menepuk pelan lengan Sandhi, kemudian tersenyum padanya. "Good luck, brother!"
Apakah Sandhi akan menuruti saran Devano? Tapi, perubahan seperti apa yang dimaksudkan Devano pada Sandhi? Apakah sekarang mereka sepaham? Nantikan lanjutan ceritanya? Salam Luv 💜
__ADS_1
Bersambung ....