PANTAS

PANTAS
Bab 66 - Dipaksa Menikahi


__ADS_3

Langkah demi langkah Devano ayunkan menuju arah pintu kamar Benny, perlahan tapi pasti. Terus terang saja, pikiran Devano sempat kemana-mana. Pintu kamar Benny tertutup, tapi ada suara dari dalam. Apalagi Benny dan Fani belum ditemukan. Kalau memang benar mereka berdua ada di dalam sana, lalu apa yang mereka berdua lakukan? Begitulah pikir Devano. Pikiran buruk mulai meracuni.


Semakin langkah Devano mendekat ke arah pintu, semakin terdengar suara yang begitu dikenalinya, yaitu suara Benny. Suaranya tampak setengah berbisik. Dan, suara lainnya adalah suara wanita. Devano yakin sekali itu suara Fani. Tapi, ada isak tangis yang terdengar dari dalam sana.


Raut wajah Devano tampak serius. Kini tujuannya adalah membuka lebar pintu kamar Benny dan memergoki kelakuan mereka yang begitu mengundang rasa curiga. Devano siap meneriaki Benny, juga menasihati Fani.


Brak!


Devano membuka paksa pintu kamar Benny. Dan ... ternyata yang terjadi di dalam sana sungguh di luar dugaan Devano. Tampak Benny ada di sudut kamar, benar-benar jauh dari Fani. Tadi Devano sempat melihat kedua mata Benny ditutupi sendiri menggunakan kedua tangannya, sebelum akhirnya menoleh ke arah pintu kamar yang didobrak Devano. Sedangkan Fani, dia terduduk di tepi kasur sambil menangis tiada henti, bahkan saat Devano mendobrak pintu pun tangis Fani semakin menjadi.


"Dev! Kau bikin kaget saja!" seru Benny.


"Devano nggak peka banget, sih!" protes Fani di sela isak tangisnya.


Devano jadi merasa serba salah. Seharusnya dialah yang protes, ngomel-ngomel, bahkan meminta penjelasan pada Benny dan Fani. Sayangnya, Devano-lah yang justru diprotes oleh Benny dan Fani.


"Hei, kalian berdua! Harusnya aku yang bertanya. Sedang apa kalian di dalam kamar ini dengan pintu kamar yang terkunci, ha?"


Devano murka. Dia juga tidak bisa mengontrol suaranya. Lupa juga jika dia harus menjaga Intan agar tetap beristirahat di sofa tanpa gangguan.


"Dev-dev! Jauhkan dia dariku!" Tiba-tiba Benny melangkah cepat dan bersembunyi di belakang Devano.


"Benny ... kamu tega banget, sih? Apa kamu sebegitu tidak sukanya dengan aku, ha? Apa aku kurang cantik bagimu? Atau ... atau-atau-atau memang ada wanita lain yang kau suka? Iya? Huaaa!" Tangis Fani semakin menjadi.


Semakin bingung saja Devano dengan situasi yang terjadi di sana. Tidak tahu juga harus membela siapa, karena nampaknya Benny dan Fani berbeda paham, bahkan tidak saling setuju hingga terpiculah tangisan kencang. Hingga kemudian .... Tiba-tiba saja ada suara lain dari arah depan. Dan suara itu adalah suara Intan.


"Dev!" Nada suara Intan sangat serak, khas seseorang yang sakit tenggorokan.


"Intan?" Devano panik. Dia langsung balik badan, melangkah cepat menuju ruang tamu kontrakan.


Tampak Intan sedang berpegangan di tembok ruang tamu, tangan lainnya memegangi kepala. Terlihat jelas sekali bahwa Intan sedang memaksakan diri untuk tahu apa yang sedang terjadi. Apalagi tadi yang Intan dengar adalah seruan suara dari Devano.


"Tan, kamu masih sakit." Nada Devano terdengar sangat ramah. Dia memegangi Intan, kemudian membimbingnya kembali menuju sofa panjang.


"Tadi itu ribut-ribut apa?" tanya Intan dengan nada suara yang lemah. Saat ini Intan setengah sadar, juga karena pengaruh obat yang mengandung efek samping berupa kantuk.


"Tidak ada apa-apa. Tadi itu aku melihat tikus sama kecoa di kamar Benny. Jadi aku langsung berteriak," jelas Devano, sedikit berbohong demi membuat Intan tidak berpikiran macam-macam.


"Tikus?" ucap Benny dengan lirih.


"Kecoa?" Batin Fani, menggaris bawahi kalimat Devano tadi.


Benny dan Fani, mereka berdiri tidak jauh dari Devano. Mereka kompak menjadi penonton dari perhatian penuh kasih Devano Albagri kepada Intania Zhesky. Mereka berdua juga kompak menahan diri agar tidak ribut lagi. Bahkan, Fani juga seketika itu tidak menangis lagi.


Beberapa menit Devano bertahan menemani Intan. Devano memastikan Intan benar-benar kembali terlelap, karena dia ingin Intan segera sehat. Dan, begitu Intan sudah hilang kesadaran, Devano ganti mengurus Benny dan Fani. Dalam satu kode tangan, Devano menyuruh Benny dan Fani mengikutinya ke arah belakang. Meja makan menjadi tempat perbincangan. Tapi, baru saja Benny dan Fani duduk, mereka sudah protes lagi.


"Dev, menurutmu aku ini tikus?" protes Benny.


"Dan kecoa! Apa wajah cantikku ini terlihat seperti kecoa?" Fani tidak kalah seriusnya dari Benny.


Spontan saja saat itu Devano memijit pelan keningnya. Mendadak saja kepalanya pusing. Tentu pusing yang dirasakan bukan karena tertular flu dari Intan, melainkan karena melihat kekompakan Benny dan Fani. Mereka kompak memberi protes, padahal seharusnya Devano-lah yang protes.


Menyerah. Itulah yang Devano pilih setelahnya. Benar-benar tidak habis pikir Devano melihat tingkah Benny dan Fani yang jelas-jelas sebelum ini sudah mengundang negative thinking yang luar biasa.


"Terserah kalian saja, deh. Maunya apa. Balik lagi berduaan di dalam kamar juga terserah kalian. Pegang-pegangan, mesra-mesraan. Terserah saja deh."


"Woi, Dev! Kau menyuruhku messum sama dia? Ogah!"


"Dev! Jaga bicaramu, ya! Kalau Intan dengar pasti kamu sudah diomeli habis-habisan!" Fani juga tidak terima dengan apa yang Devano katakan.


Semakin pusing saja kepala Devano. Dirinya benar-benar serba salah. Niat untuk memprotes, justru jadi bumerang untuk dirinya. Kini justru Devano yang terus-terusan diprotes oleh Benny dan Fani. Padahal sampai detik ini Devano belum tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.

__ADS_1


"Oke-oke. Aku minta maaf. Kata-kataku tidak pantas!"


Nah, sekarang justru Devano yang meminta maaf. Pusing-pusing-pusing, itulah yang saat ini Devano rasakan.


"Dev, aku cuma minta dinikahi Benny. Itu saja!" jelas Fani.


"Eh?" Devano terkejut.


"Ya nggak bisa semudah itu dong. Kesannya malah sudah terjadi apa-apa dengan kita. Padahal nyentuh kamu saja belum pernah." Celetuk Benny.


"Oke-oke. Aku mulai paham apa yang terjadi pada kalian. Sekarang, Benny, coba kau ceritakan semuanya dari awal," pinta Devano.


Dan ... dimulailah cerita singkat Benny tentang apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Fani.


Flashback On


Setelah Benny meletakkan bungkusan makanan di dekat kompor, dia menuju galon air minum. Sengaja Benny pulang sebentar karena peduli pada Devano dan Intan, ya ... sebenarnya juga untuk memperbaiki kesan karena selama ini Benny terlihat kurang peduli. Setelahnya, Benny menuju kamarnya sebentar untuk menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Tapi, baru saja dia melewati ambang pintu kamar, tiba-tiba saja Benny mendapat pelukan dari belakang.


"Benny, please nikahi aku!" Fani berucap sambil memeluk erat.


Tentu saja Benny kaget dengan sikap sekaligus pengucapan Fani yang dadakan. Ditambah pula, status Fani saat ini adalah salah satu pelanggan dan pesanannya masih dalam proses pengerjaan. Tentu saja Benny benar-benar menjaga sikap. Sayangnya, justru Fani yang tidak tahan untuk menjaga sikap hormat.


"Fan, apa maksudmu?" tanya Benny. Dia berusaha melepas pelukan, tapi yang ada Fani justru mengeratkan.


Usaha kedua, akhirnya pelukan Fani terlepas juga. Fani yang mengira Benny hendak kabur, dia justru menutup rapat pintu kamar Benny. Benar-benar aksi yang berani dan sungguh tidak pernah diduga oleh Benny.


Dalam situasi mendesak seperti ini, otak kotor Benny sempat bereaksi, apalagi pakaian yang digunakan Fani adalah tipe pakaian yang jelas menonjolkan bagian kaki jenjangnya. Namun, Benny cepat-cepat memalingkan wajah, bahkan mundur hingga ke sudut tembok kamarnya.


"Benny, please!"


"Berhenti di sana! Jangan mendekat!"


"Hiks. Huhuhuhu." Fani mulai terisak. Tepian kasur langsung menjadi tempat duduk nyaman untuk meluapkan rasa sedih yang tertahan.


"Ben, nikah yuk!" ajak Fani kemudian.


"Kau jangan gilla, Fan!


"Aku sadar dengan apa yang aku minta padamu," terang Fani di sela isak tangisnya.


Fani berdiri, dia kembali mendekat ke arah Benny dan memeluknya lagi.


"Aah, jangan seperti ini dong, Fan! Kalau Devano memergoki kita, dia bisa salah paham." Kedua tangan Benny kini mulai berusaha lagi melepas pelukan Fani. Sekuat tenaga juga dia berusaha agar tidak khilaf diri.


Berhasil, pelukan Fani terlepas. Karena tenaga Benny yang asal digunakan, jadilah dia menyenggol kotak kecil dan terjatuh di lantai. Suara inilah yang didengar Devano dari arah luar pintu kamar.


Setelah Benny berhasil melepas pelukannya, Fani kembali ke tepi ranjang, kemudian melanjutkan tangisan. Sementara Benny, dia kembali menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dan ... saat itulah Devano mendobrak pintu dan mendapati mereka dalam keadaan seperti itu.


Flashback Off


Selesai menjelaskan, Benny langsung menuju kamarnya. Sengaja dia mengambil jaket panjang Korean Style untuk Fani. Setengah memaksa juga agar Fani memakainya, agar otak Benny tidak berpikir kemana-mana.


"Lain kali jangan pakai baju seperti itu kalau datang ke sini," ucap Benny.


"Iya, maaf."


"Satu lagi. Lain kali jangan meluk-meluk seperti tadi. Untung saja aku tidak tergoda." Benny mengelus dada.


Kali ini Fani tidak mengiyakan. Dia justru cemberut.


"Fan, kenapa tiba-tiba saja kamu meminta Benny menikahimu?" tanya Devano yang sudah sedari tadi menahan rasa penasarannya.

__ADS_1


Saat ditanya seperti itu oleh Devano, Fani langsung terdiam. Dia enggan bercerita pada Devano, karena Devano pasti akan bercerita pada Intan. Jujur saja, Fani ingin mengatasi masalahnya tanpa sepengetahuan Devano dan Intan. Namun, gara-gara Fani yang terburu-buru bersikap pada Benny, jadilah aksinya terpergok dan dirasa akan gagal sebelum terealisasi. Salah Fani juga yang tadi baper dan menggunakan jurus tangisan yang ternyata sama sekali tidak mempan digunakan untuk meluluhkan hati Benny.


"Dev, maaf. Aku tidak bisa bercerita padamu. Kalau boleh, aku ingin bercerita pada Benny saja. Karena aku sangat berharap bisa menikah dengannya, dan secepatnya."


Giliran Benny yang pusing kali ini. Dia mengira akan terbebas dari Fani, nyatanya justru dia harus mengambil alih posisi. Dalam hati, sebenarnya Benny enggan, gegara sikap Fani juga yang seperti tadi. Namun, Benny merasa bahwa Fani sedang butuh bantuan. Dan, yang saat ini begitu diharapkan Fani adalah dirinya, bukan Devano, Intan, atau yang lainnya.


"Ya ... itu sih terserah Benny. Dia mau atau tidak," ucap Devano.


"Oke-oke. Baiklah. Aku akan mendengar ceritamu, tapi tidak di sini. Kamu ikut aku ke kantor dulu. Biarkan Devano menemani Intan istirahat. Tapi ... ingat. Jangan bersikap aneh di depan karyawanku. Janji?"


"Oke. Setuju." Mimik wajah Fani terlihat girang lagi.


Devano menyerahkan masalah Fani pada Benny. Devano juga tidak khawatir jika Benny akan bersikap macam-macam, karena sikap Benny yang memberi Fani jaket panjang sudah menunjukkan sisi baik Benny yang selama ini belum Devano ketahui.


"Tenang saja, Dev. Akan kuberi tahu kau nanti. Aku tidak ingin terlibat sendirian." Bisik Benny ketika Fani mulai melangkah ke arah ruang tamu kontrakan.


"Oke. Aku percaya padamu, Ben. Hati-hati, ya."


Benny menepuk pelan pundak Devano. "Kaulah yang harus hati-hati di sini. Jangan sampai kau apa-apakan si Intan sebelum kau nikahi. Tahan napsumu, Dev. Haha. Da!"


Devano geleng-geleng kepala saat mendengar ucapan Benny yang terakhir itu. Ternyata, Benny tetaplah Benny. Meski sempat terlihat sisi baiknya, tapi sesekali filter katanya tetap saja rusak.


Tidak lagi ambil pusing, Devano kembali menemani Intan saat Benny dan Fani pergi dari kontrakan. Lagi-lagi Devano mengecek suhu tubuh Intan, dan ....


"Syukurlah. Kondisimu sudah membaik." Batin Devano.


Sofa di sebelah Intan langsung Devano duduki lagi. Dia berdiam diri di sana, sambil sesekali mengecek pesan dan file-file yang dia terima via ponsel. Tapi, tidak lama setelah itu Devano justru menerima panggilan video dari Reynal.


"Tumben banget Reynal video call?"


Begitu Devano menerima, ternyata yang tampil di layar adalah Gion. Di sebelah Gion adalah Jefri. Sama sekali tidak terlihat ada Reynal di sana.


"Hai Gion. Kak Rey ke mana?" Devano langsung bertanya.


Belum sempat Gion menjawab, ponselnya direbut Jefri lebih dulu. Fefri agak menjauh dan mengatakan bahwa Reynal sedang memberi kesaksian atas kasus penculikan yang pernah dialami Gion.


"Ada aku di sini yang nemenin Reynal, Dev. Mungkin Intan nantinya juga akan dimintai kesaksian," terang Jefri.


"Baiklah. Kalau Intan, sekarang dia sedang sakit. Nih lagi tiduran di kontrakanku."


"Wo-wo-wo! Gilla, Bro. Intan tidur bersamamu?" Filter kata Jefri mendadak sama rusaknya seperti Benny.


"Kau yang gilla. Seenaknya main tuduh saja."


"Eh-eh, tadi apa katamu? Intan sakit? Wah, firasat Gion betul, nih. Makanya dia maksa video call Intan, tapi nggak diangkat."


Devano meminta Jefri memberikan ponselnya pada Gion lagi. Langsung saja Devano memberi penjelasan yang tidak mengkhawatirkan. Devano memang bilang kalau Intan sedang sakit, tapi juga menjelaskan bahwa kondisinya sudah membaik.


"Salam untuk kakak cantik ya, Kak Dev. Semoga cepat sembuh. Gion tutup dulu telponnya biar Kak Dev bisa menemani kakak cantik istirahat. Dada!"


Panggilan video berakhir. Fokus Devano kini tertuju pada Intan. Bola matanya tidak henti-hentinya melihat wajah pucat Intan dari sofa tempatnya duduk. Senyum Devano juga mengembang, sedangkan hatinya dipenuhi rasa syukur yang mendalam, dan semua itu karena Intan.


"Orang baik pasti dikelilingi orang baik. Karena kebaikanmu, banyak doa baik pula yang kembali padamu." Devano bersyukur karena ditakdirkan untuk menjadi bagian penting dalam perjalanan cinta Intan.


"Semoga cerita Fani pada Benny sama sekali tidak ada hubungannya denganmu," doa Devano kemudian.


Apa yang akan diceritakan Fani pada Benny? Dan, berapa lama Intan akan berada di kontrakan Devano? Bagaimana dengan Sandhi? Apa kabarnya? Nantikan lanjutan cerita ini ya!


Bersambung ....


NB : Silakan bergabung dengan grup author, untuk mendapat info update dan lainnya. Terima kasih sudah mendukung karya author yang satu ini. Salam Luv 💜

__ADS_1


__ADS_2