PANTAS

PANTAS
Bab 62 - Sikap yang Salah


__ADS_3

Malam itu menjadi malam penuh pengakuan, khususnya dari Sandhi yang ternyata sama sekali tidak bisa menyembunyikan rahasia apa pun dari Intan. Sandhi teramat jujur. Selain karena rasa percaya, itu semua Sandhi lakukan karena ada hubungannya dengan Intan.


Sedangkan Intan, dia sudah mengantongi solusi untuk sang adik, Mira. Sandhi juga telah sepakat untuk menjaga jarak sementara dengan Mira. Namun, Intan masih belum bisa memberi tanggapan tentang tantangan 31 hari yang Sandhi sampaikan. Jujur saja, Intan benar-benar terkejut mendengarnya. Meski alasan yang Sandhi gunakan adalah untuk melindungi Intan ataupun Fani, dan meski saat ini perasaan Sandhi sudah lebih fokus pada Fani, tetap saja Intan tidak bisa menerima keputusan Sandhi yang terkesan nekat sekali.


"Sandhi, bagaimana jika Fani benar-benar meneruskan perasaannya pada Benny? Yang ada kamu akan tersiksa sendiri. Tantangan 31 hari tidak akan terpenuhi, dan kamu juga tidak akan mendapatkan hati Fani." Intan rasional menanggapi sesuai keadaan.


"Aku tahu, Tan. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Seperti kamu dulu, yang ternyata lebih memilih Devano daripada aku. Waktu itu aku sudah berusaha, dan segera melepasmu setelahnya."


Tiba-tiba obrolan Sandhi menjurus ke masa lalu. Intan kurang suka dengan pengalihan yang dibuat Sandhi, apalagi sebelumnya Sandhi telah mengatakan bahwa pertemuan mereka kali ini tidak akan membahas tentang perasaan di masa lalu.


"Jangan membahas masa lalu," ucap Intan sambil mengalihkan pandangan ke arah kanan.


Dan ... saat itulah Intan menangkap sosok seorang lelaki berkacamata yang tampak tidak asing bagi dirinya. Intan langsung memfokuskan pandangan. Aneh sekali, laki-laki yang dilihat Intan itu pun tidak terusik sama sekali, bahkan balik menatap Intan.


Detik berikutnya, barulah Intan mulai menyadari sosok si lelaki berkacamata hitam yang penyamarannya benar-benar handal. Andai lelaki itu tidak membuka kacamata hitamnya, Intan pun tidak akan sekaget saat ini. Dan, lelaki yang sedang menyamar itu adalah Devano Albagri, sang calon suami.


"Devano?" Intan spontan melebarkan mata, kemudian berdiri dari duduknya.


Sandhi, dia terusik dengan ekspresi Intan yang tiba-tiba, kemudian ikut melihat ke arah yang dilihat oleh Intan. Rupanya, tepat di seberang meja Sandhi dan Intan, ada Devano dalam mode penyamaran. Sandhi sempat terkejut juga, tapi tidak kentara seperti yang ditunjukkan Intan.


Diawali dengan satu senyuman ringan, Devano berjalan mendekati meja Sandhi dan Intan. Lebih dulu Devano mendekati Intan, berhenti tepat di hadapannya, kemudian menatapnya sambil tetap menyuguhkan senyuman.


"Hai, jangan terkejut seperti itu, Tan." Nada Devano terdengar begitu lembut.


Meski demikian, tetap saja Intan tidak bisa cepat-cepat memudarkan keterkejutan. Intan khawatir setelah ini justru akan terjadi keributan. Apalagi Intan membuat janji temu dengan Sandhi tanpa sepengetahuan Devano.


"Dev, aku bisa menjelaskan."


Intan hendak memberi penjelasan, tapi Devano buru-buru menempelkan jari telunjuknya ke bibir Intan. Satu kode agar Intan tidak perlu repot-repot memberi penjelasan.


"Kamu tidak salah. Kamu datang untuk Mira. Bukan untuk yang lainnya."


Intan sukses dibuat bingung dengan sikap Devano. Aura yang dipancarkan Devano adalah aura nyaman. Wajah Devano juga tetap menyuguhkan senyuman untuk Intan. Padahal jelas-jelas Intan telah membuat satu kesalahan dengan tidak memberi tahu Devano tentang janji temu malam ini.


"Sekarang, kamu duduk lagi, ya. Dan ... aku juga akan duduk di ... sini." Devano telah mengambil posisi duduk tepat di sebelah Intan.

__ADS_1


Sandhi, dia pun langsung duduk lagi. Tatapannya tertuju pada Devano, menyelidik dengan hati-hati.


"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Devano pada Sandhi, langsung, tanpa basa-basi.


Lebih dulu Sandhi berdehem, kemudian memperbaiki posisi duduknya agar terlihat lebih nyaman di hadapan Devano.


"Aku ... tidak akan minta maaf karena telah meminta Intan menemuiku sendirian, tanpamu, ataupun yang lainnya." Begitu tenang ekspresi Sandhi saat mengatakan itu.


"Oke. Tidak masalah. Karena sekarang aku sudah tahu. Tadi aku juga mendengar semua obrolanmu dengan calon istriku, dari awal hingga akhir. Aku sengaja mencuri dengar. Jadi, maaf atas kesengajaan yang aku lakukan."


Dalam hati Sandhi ada rasa kesal, tapi sama sekali tidak ditunjukkan. Yang Sandhi tunjukkan hanyalah sikap tenang. Ingin rasanya menegur Devano habis-habisan, tapi semua sikap itu hanya akan menurunkan image-nya, apalagi ada Intan di sana.


"Tentang Mira, aku setuju dengan Intan. Lebih baik kau menjaga jarak, agar kehidupan Mira juga lebih tenang. Aku akui, kau memang tampan, cool, dan pastinya diam-diam banyak yang mengagumimu. Tapi, sepertinya salah satu dari mereka telah berani mencari gara-gara dengan memusuhi Mira." Devano membuat pendapat sesuai dengan apa yang tadi dia dengar dengan sengaja dari meja sebelah.


"Aku janji. Selanjutnya aku akan lebih berhati-hati. Aku akan membuat jarak dengan Mira." Janji Sandhi di hadapan Intan dan Devano.


Devano tampak puas dengan penegasan Sandhi. Sejenak, Devano menoleh ke arah Intan, lantas mengembangkan senyuman. Melihat itu, Intan juga tersenyum dengan sedikit dipaksakan. Maklum saja, Intan masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan.


Terdengar deheman lagi. Tapi bukan dari Sandhi, melainkan dari Devano. Kali ini Devano membahas tantangan 31 hari. Dengan tegas Devano menyuruh Sandhi untuk tidak melibatkan Intan sama sekali, karena keputusan itu murni keputusan yang dibuat Sandhi. Devano tidak ingin Intan terlibat, apalagi sampai membantu Sandhi memenangkan hati Fani.


"Sekali lagi, jangan libatkan Intan." Devano kembali menegaskan dengan nada yang benar-benar tegas.


Devano sedikit terkejut karena Intan tiba-tiba memberi pembelaan. Bukan khawatir Sandhi menjadi besar kepala karena pembelaan Intan, Devano hanya tidak menyangka saja Intan akan berkata demikian.


"Intan, apa kamu ingin membantu Sandhi untuk memenangkan tantangan 31 hari?" tanya Devano.


"Dev, kau salah paham. Aku hanya bercerita pada Intan. Bukan untuk meminta bantuan." Sandhi menyahuti.


"Ouw, begitu. Yakin hanya bercerita saja? Bukan untuk menarik perhatian Intan, kemudian mencuri kesempatan? Sandhi, jelas-jelas kau tadi sempat mengungkit masa lalu. Untuk apa itu kalau tidak untuk menarik perhatian Intan, ha?" Nada Devano meninggi.


Intan merasa seperti ada yang tidak beres dalam diri Devano. Tadi Devano tampak baik-baik saja, begitu tenang, memancarkan aura nyaman, bahkan tersenyum pada Intan. Namun, sikap yang saat ini Devano tunjukkan sungguh berkebalikan. Nada bicara Devano dengan mudahnya meninggi, seperti tengah meluapkan perasaan cemburu yang dia pendam sedari tadi.


Nah, itu dia. Intan langsung sadar dengan apa yang terjadi. "Mungkinkan Devano sempat cemburu melihatku bertemu Sandhi diam-diam?" Intan mulai bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kau tidak tahu apa-apa, Dev." Sandhi menyangkal.

__ADS_1


"Sandhi, aku tahu kau masih mengharapkan cinta Intan meski ada Fani yang harus kau perjuangkan. Benar begitu bukan?" Bidik Devano.


"Dev, sudah! Pelankan suaramu. Nggak enak sama pengunjung yang lain." Intan setengah berbisik sambil mengedarkan pandangan ke arah sekitar.


Benar saja, nada tinggi Devano rupanya memancing perhatian pengunjung rumah makan. Tidak sedikit yang mulai mengamati bahkan mulai menyiapkan ponsel untuk merekam. Melihat itu, Intan segera mengambil sikap. Dia tidak ingin adu mulut antara Sandhi dan Devano justru menjadi konten dan tersebar ke media sosial. Sama sekali Intan tidak mengharapkan yang demikian. Sebelum berlanjut lebih parah, Intan langsung membuat penegasan dengan segera.


"Sandhi, terima kasih sudah mau mengerti keadaan Mira. Tentang Fani, kalau kau benar-benar memiliki perasaan padanya, buktikan saja. Good luck for you." Pandangan Intan beralih ke arah Devano. "Dev, malam ini aku benar-benar kecewa dengan sikapmu."


Setelah berkata demikian, Intan langsung beranjak dari tempat duduknya. Langkah kaki diayun begitu cepat menuju pintu keluar rumah makan. Intan sama sekali tidak memedulikan panggilan Devano. Terus saja melangkah hingga akhirnya sampailah Intan di tepi jalan raya.


"Tan, tunggu sebentar. Aku minta maaf!" seru Devano.


Lagi-lagi Intan tidak menanggapi. Langkahnya terus diayun hingga sampai di pangkalan ojek dekat rumah makan. Karena Devano berhasil mengejar, Intan urungkan untuk memesan ojek. Intan balik badan, kemudian kembali memberi penegasan.


"Aku butuh waktu untuk sendiri, Dev."


Devano terdiam. Bola matanya tidak bisa terlepas dari Intan. "Maafkan aku," ucapnya kemudian.


"Aku maafkan, tapi tinggalkan aku sendiri dulu."


"Biarkan aku mengantarmu ke kosan Mira, ya." Nada Devano semakin melembut.


"Dev, biarkan aku sendiri dulu."


"Maafkan aku, Tan. Tadi aku hanya sedikit cemburu dan ...."


"Devano!" Giliran Intan yang meninggikan nada bicara. Terdiam sebentar, kemudian nadanya melemah. "Please, biarkan aku sendiri dulu ya. Sebaiknya kamu pulang. Aku juga akan pulang ke kosan Mira. Oke?"


Devano terdiam sebentar. Aslinya sulit bagi dirinya untuk mengiyakan. Tapi suasananya begitu berbeda kali ini.


"Please, Dev. Biarkan aku sendiri dulu," ulang Intan dengan nada yang semakin melemah, seolah hati dan pikiran Intan benar-benar sudah lelah."


"Baiklah. Silakan. Sekali lagi maafkan aku, Tan."


Usai Devano berkata demikian, Intan langsung balik badan. Langkahnya kembali terayun tapi lebih pelan. Selanjutnya, Intan naik ke dalam angkot yang berhenti tidak jauh dari pangkalan ojek rumah makan. Dan ... selanjutnya yang tersisa hanyalah penyesalan. Devano menyesali sikap gegabahnya, yang tiba-tiba ikut campur dalam obrolan dan langsung membuat penegasan.

__ADS_1


"Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku. Aku hanya ingin melindungimu. Tapi, sepertinya sikapku salah karena terburu-buru." Batin Devano sambil memperhatikan angkot yang dinaiki Intan melaju perlahan.


Bersambung ....


__ADS_2