
“Intan, jangan pergi!” bisik seorang lelaki di telinga Intan.
Beberapa detik Intan terbuai aroma parfum dari tubuh yang mendekapnya. Aroma parfum yang begitu dikenal membuat Intan bisa langsung menebak siapakah gerangan sosok lelaki yang dengan lancang memeluknya.
“Jangan bersedih lagi, Tan. Ada aku di sini,” ucap si lelaki yang semakin mengeratkan dekapan.
Nada suara yang khas menjadi penegas identitas si lelaki. Seketika itu Intan tersadar, kedua tangannya bergerak cepat memutus dekapan si lelaki yang tidak lain adalah Sandhi.
Intan terheran dengan kedatangan Sandhi yang di luar nalar. Bukankah Sandhi ada di luar kota? Kenapa tiba-tiba dia ada di sini dengan waktu kurang dari dua jam sejak Intan mengirim pesan penolakan? Untuk apa Sandhi datang ke sini? Bukankah dia sudah setuju untuk menyudahi, yang ditegaskan dengan kata ‘baiklah’ di akhir balasan pesannya pagi ini? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini memenuhi pikiran Intan. Raut wajah Intan sampai dengan jelas menyiratkan rasa heran.
“Kenapa kamu ada di sini, San?” Pertanyaan itulah yang pertama kali keluar.
“Aku mencarimu.”
“Untuk apa lagi?”
“Untuk membuktikan perasaanku.”
Intan sampai menajamkan pendengaran demi memastikan dirinya tidak salah dengar.
“Bukankah kamu sudah menerima keputusanku untuk tidak melanjutkan kisahku bersamamu?” Jeda sejenak, “Kata baiklah di akhir pesanmu tadi pagi,” imbuh Intan demi mempertegas kalimatnya.
“Tadi pagi itu maksudnya, baiklah aku akan membuktikan perasaanku.” Senyum Sandhi mengembang. “Kalau aku lebih dulu bilang akan datang menemuimu, pasti kamu mencegahku,” imbuh Sandhi.
Masih saja Intan terheran dengan penjelasan Sandhi. Saat Intan pikir-pikir lagi, melihat dari jeda waktunya, Sandhi langsung menuju ke kota tempat tinggal Intan sesaat setelah Intan memberinya pesan balasan. Dan, Intan yakin sekali bahwa Sandhi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga mereka berdua bisa bertemu secepat ini.
“It's so crazy,” gumam Intan.
“Hm? Aku tidak gila, Tan. Aku hanya melakukan apa yang pantas aku lakukan.” Dengan ringan Sandhi berkata demikian.
Seketika itu tangis Intan pecah, tapi berusaha ditahan olehnya, sehingga mimik wajah yang tampak saat itu benar-benar membuat siapa pun yang melihat Intan jadi kasihan. Intan membuang pandang ke sisi kolam ikan, lalu menyeka berulang air matanya yang terus-terusan keluar.
Bagi Intan, kondisi yang sedang dia alami begitu membingungkan. Seperti sebuah lawakan, tapi tidak ada tawa yang mampu diungkapkan. Sandhi, dia yang seharusnya telah pergi dengan wanita yang dipilihkan orangtuanya, nyatanya hadir kembali menyuguhkan perasaan untuk Intan. Meski Intan telah memberi penolakan, tapi Sandhi telah memutuskan untuk berjuang. Sementara Devano, dia yang begitu Intan harapkan, nyatanya menyimpan fakta menyakitkan dan baru saja Intan dengar.
“Hapus air matamu, Tan.” Sandhi menyodorkan sapu tangan.
Intan sama sekali tidak memedulikan. Dia masih melanjutkan tangis tanpa isakan demi mengurangi luka perih yang begitu terasa menyakitkan. Tidak ada darah, tapi begitu nyata sakitnya.
“Kita duduk dulu di sebelah sana,” ajak Sandhi sambil kembali memegangi lengan kanan Intan.
“Lepas!”
__ADS_1
Sandhi melepas lengan Intan.
“Aku ingin sendiri. Pergilah!” Intan menyuruh Sandhi pergi.
“Apa kamu tega mengusirku, Tan? Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk membuktikan perasaanku.”
Intan langsung terdiam. Ada perasaan tidak tega saat Sandhi menegaskan demikian.
“Tadi aku datang ke rumahmu,” ungkap Sandhi.
Seketika itu Intan menoleh demi bisa melihat keseriusan di wajah Sandhi. Dari sorot matanya, Sandhi tidak terlihat sedang bercanda. Itu artinya Sandhi benar-benar datang ke rumah Intan sebelum sampai di Café Bintang.
“Adikmu bilang kamu ada di sini,” imbuh Sandhi.
Pikiran Intan langsung tertuju pada Mira. Jika ceritanya sudah seperti ini, pastilah adiknya itu akan terus-terusan mengungkit nama Sandhi. Apalagi Mira sempat tahu masa lalu perasaan Intan yang pernah menaruh hati untuk Sandhi.
Perlahan, Intan mengusap air matanya. Tidak dengan sapu tangan yang disodorkan Sandhi, Intan mengusapnya dengan lengan hoodie-nya sendiri. Kaca mata biasa yang sempat dipakai Intan pun seketika itu tidak dipakai lagi. Intan tidak lagi menangis, karena tangisnya telah terganti dengan keterkejutan akibat ulah Sandhi.
“Bilang apa saja kamu pada Mira?” tanya Intan, penasaran.
“Tidak banyak. Aku hanya bilang … sedang mencarimu. Lalu Mira memberitahuku kalau kamu ada di sini.”
“Hanya itu?”
Deg!
Sedari tadi yang Intan dapatkan dari Sandhi adalah kejutan. Kejutan yang membingungkan. Mulai dari kedatangannya yang tiba-tiba sampai pada perkenalan dirinya pada Mira, semua itu sangat mengejutkan bagi Intan.
“Sandhi, untuk apa kamu bilang begitu pada Mira?”
“Kan sudah aku bilang, aku akan membuktikan perasaanku. Aku tidak sedang main-main, Tan.”
“Tidak main-main kamu bilang? Waktu itu kamu bilang lebih memilih wanita yang dijodohkan denganmu. Tiba-tiba saja perjodohannya batal dan kamu bilang akan kembali memperjuangkanku. Aku sudah ikhlash kamu pergi, San!” Intan mengungkap apa yang dia rasakan.
“Kenapa kamu datang lagi, ha? Jika pergi, pergi saja! Jangan datang lagi! Aku bingung dengan keadaan seperti ini! Kamu benar-benar membuatku bingung,” imbuh Intan melanjutkan kata-katanya dengan nada penuh penekanan.
Suara hati Intan membungkam Sandhi. Sempat pula dia merasa bersalah telah membuat keadaan terbolak-balik seperti ini. Namun, tekad Sandhi benar-benar sudah kuat. Dia telah berniat memperjuangkan cinta Intan lagi.
“Kali ini aku serius, Tan.”
“Apa kamu sudah dapat restu dari orangtuamu, San?” Tiba-tiba saja Intan mempertanyakan.
__ADS_1
Untuk pertanyaan yang satu itu, Sandhi tidak mampu mengungkap, karena memang belum mendapat restu dari sang ibu. Ibu Sandhi bahkan masih kecewa karena perjodohan Sandhi dan Nisa batal hanya karena Sandhi ingin memperjuangkan Intan.
“Jawab, San!” Intan mendesak.
“Belum.”
“Baiklah. Kalau begitu tidak perlu kita lanjutkan.”
Intan mantap memutuskan karena dia tidak ingin dibuat bingung lagi oleh keputusan Sandhi yang penuh kejutan.
“Sepertinya kamu butuh sendiri dulu, agar lebih jernih memikirkan hal ini.”
“Perasaanku tidak seperti dulu. Namamu sudah terganti oleh lelaki lain.” Intan terang-terangan mengungkapkan.
Sandhi masih menampilkan mimik tenang. Sejauh ini Sandhi masih bertahan untuk Intan.
“Siapa dia?”
“Kamu tidak perlu tahu.”
“Aku harus tahu untuk memastikan dia pantas untukmu.”
Pantas. Lagi-lagi kata itulah yang mengambil peran. Intan yang mendengar kata-kata itupun seketika itu tidak pikir panjang lagi, dan memutuskan untuk mengungkap siapa lelaki yang telah berhasil mewarnai hari-harinya.
“Lelaki yang mengisi ruang hatiku, dia adalah definisi rasa nyaman yang begitu nyata. Dia pantas untukku. Benar-benar pantas untukku. Dia bahkan rela menceburkan dirinya ke kolam ikan, hanya agar aku tidak basah kuyup sendirian. Dia mengenalkanku pada sisi lain dunia, tentang berbagi, dan makna bahagia yang sebenarnya. Sekali lagi, dia pantas untukku. Sayangnya ….” Jeda sejenak, Intan melanjutkan kata-katanya dalam hati, “Sayangnya, dia telah bersama wanita yang dicintainya. Aku diundang ke sini hanya untuk menyaksikan sebuah fakta tentang kehidupan cintanya.”
“Sayangnya apa, Tan?”
“Lupakan. Sebaiknya kamu kembali, San. Maaf, aku tidak bisa melanjutkan. Permisi.”
Intan pergi meninggalkan Sandhi yang masih berdiam diri di tempatnya berdiri. Sandhi tidak berusaha mencegah apalagi menyusul langkah Intan. Dalam suasana hati Intan yang masih diselimuti kesedihan, Sandhi merasa tidak akan mampu membuat perubahan meski dipaksakan.
Sementara itu tidak jauh dari sana, tampak Devano juga terdiam. Bedanya, Devano tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Intan. Ya, posisi Devano saat ini memang tidak terlalu jauh dari tempat Intan dan Sandhi tadi. Apalagi dengan emosi Intan yang berlebih, ucapan Intan dapat didengar jelas oleh Devano. Temasuk pada bagian akhir pengakuan Intan, Devano langsung bisa menebak siapa lelaki yang dimaksud Intan.
‘Lelaki yang mengisi ruang hatiku, dia adalah definisi rasa nyaman yang begitu nyata. Dia pantas untukku. Benar-benar pantas untukku. Dia bahkan rela menceburkan dirinya ke kolam ikan, hanya agar aku tidak basah kuyup sendirian. Dia mengenalkanku pada sisi lain dunia, tentang berbagi, dan makna bahagia yang sebenarnya. Sekali lagi, dia pantas untukku.’
“Lelaki itu, dia adalah … aku," ucap lirih Devano.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Devano bisa mendengar ucapan Intan pada Sandhi? Di mana Dhea, yang sebelum ini duduk di meja yang sama dengan Devano? Nantikan lanjutan ceritanya!
Salam Luv 💜
__ADS_1
Bersambung ….