PANTAS

PANTAS
Bab 24 - Yang Sebenarnya


__ADS_3

Pengakuan Devano membuat Intan mengernyitkan dahi. Setengah tidak percaya, tapi kalimat itulah yang baru saja ditangkap pendengarannya. Kenapa Devano tiba-tiba membuat pengakuan seperti itu? Bukankah Devano sudah memiliki kekasih? Pertanyaan itulah yang kini berputar-putar di kepala Intan.


“Apa kamu bilang?” Intan berharap dirinya salah dengar.


“Intan, aku tidak menyukaimu.”


Intan menggarisbawahi kata tidak yang Devano ungkapkan. Benar-benar kata yang tidak ingin Intan dengar.


“Kamu tidak menyukaiku, Dev?”


“Iya. Karena aku tidak pantas untukmu.”


Pantas. Lagi-lagi kata itu yang Intan dengar. Sepersekian detik Intan langsung melambungkan ingatan ke masa silam, terkenang momen pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh sang mantan. Saat itu sang mantan menggunakan kata pantas untuk mengakhiri hubungan.


Juga, tentang Sandhi, ingatan tentangnya hadir kembali. Sandhi lebih memilih wanita yang dijodohkan dengannya daripada memilih Intan. Sebelumnya Sandhi mengaku menyimpan rasa untuk Intan sejak di bangku kuliah, tapi tidak kunjung diungkap karena merasa belum pantas mendapatkan cinta Intan. Nyatanya, seiring berjalannya waktu, cinta Sandhi hanya membingungkan Intan saja.


Kenapa harus ada kata pantas? Batin Intan, tatapannya dialihkan ke sembarang, tidak lagi melihat bola mata Devano.


“Lalu ….” Devano hendak melanjutkan kalimatnya.


Intan terpancing, hingga kembali melihat ke arah Devano.


“Lalu apa?” Hati Intan sudah setengah tak bernyawa lantaran dipenuhi rasa kecewa.


“Lalu, aku tahu sesuatu tentang Sandhi, dosen muda yang begitu mencintaimu.”


Kali ini Intan terpaku. Sungguh Intan tidak menyangka bahwa Devano akan tahu tentang identitas Sandhi. Bahkan, tentang Sandhi yang mencintai Intan, Devano juga tahu.


“Sandhi begitu tampan, penampilannya menarik, seorang dosen pula. Masih muda sudah memiliki profesi yang membuat bangga. Benar-benar sosok lelaki yang ideal, dan … pantas untukmu, Tan.”


Lagi-lagi Devano membicarakan kepantasan. Telinga Intan sudah tergelitik, dan rasanya tidak lagi ingin mendengar. Rasa kecewa dalam hatinya juga semakin membuncah. Sudah siap Intan luapkan semuanya.


“Lihat ini!” Devano menunjukkan buket bunga mawar putih pemberian Sandhi. “Untukmu, dari Sandhi,” imbuh Devano.


Intan menghela nafas dalam. Atmosfir di nana’s ice cream mendadak saja membuatnya gerah, tidak tahan berada di sana. Rasa-rasanya Intan ingin segera mengayunkan langkah untuk pulang ke rumah.


Buket bunga mawar putih diletakkan Devano di atas meja. Setelahnya, dia menunjukkan satu bingkai lukisan. Yang ada dalam bingkai adalah lukisan wajah Intan. Sengaja Devano buat ulang saat tahu lukisan wajah Intan yang dipajang di kamarnya menghilang.


“Yang ini … dariku. Untukmu, Tan.”


“Jangan membuatku bingung, Dev! Apa maksud semua ini?” Air mata Intan hampir saja keluar karena hatinya sudah tidak bisa menahan.


Devano meletakkan lukisan wajah Intan tepat di samping buket bunga mawar putih pemberian Sandhi. Setelahnya, tatapan mata Devano melembut, tersorot hangat untuk Intan yang air matanya masih saja tertahan.


“Intan. Aku tidak menyukaimu. Karena aku tidak pantas untukmu.” Devano mengulang kalimat pertamanya tadi. Namun, kalimat selanjutnya justru lebih mengejutkan lagi. “Kalimat itulah yang ingin aku sampaikan padamu saat aku tahu tentang Sandhi yang mencintaimu, Tan. Tapi ….” Devano menggantung kalimatnya.

__ADS_1


Mimik wajah Intan ikut melembut. Lebih memperhatikan dibanding sebelumnya. Ada gejolak rasa yang berubah, hingga membuat Intan memilih bertahan duduk di kursinya.


“Tapi, aku teringat kalimatmu saat di café Bintang. Kalimat yang kamu sampaikan pada Sandhi.” Senyum Devano benar-benar mengembang kali ini. “Boleh aku ulang kalimat yang aku dengar waktu itu, Tan?”


Tiada kata yang sanggup Intan keluarkan. Darinya hanya terwujud satu anggukan ringan untuk mengiyakan.


“Lelaki yang mengisi ruang hatiku, dia adalah definisi rasa nyaman yang begitu nyata. Dia pantas untukku. Benar-benar pantas untukku.” Devano menjeda kalimatnya, sengaja menunggu reaksi Intan yang kali ini tampak lebih berkaca-kaca. “Aku suka mendengar definisi buatanmu,” imbuh Devano.


Perlahan, raut wajah Intan berubah. Semakin melembut, bahkan sudah tertoreh senyum simpul.


“Dia bahkan rela menceburkan dirinya ke kolam ikan, hanya agar aku tidak basah kuyup sendirian. Hmm … sepertinya aku mulai menyukai kolam ikan.” Deretan gigi Devano terlihat mengiringi tawa ringannya.


Ajaib. Kalimat Devano membuat Intan jadi ikut tertawa.


“Masih mau mendengar lanjutannya?” Devano menawari, dan langsung mendapat anggukan berulang dari Intan.


“Kalimat yang ini adalah bagian yang paling aku suka.” Jeda sejenak. Devano mengubah tatapan matanya, menjadi tatapan penuh cinta.


“Dia … mengenalkanku pada sisi lain dunia, tentang berbagi, dan makna bahagia yang sebenarnya. Dia pantas untukku.” Sorot mata Devano semakin dalam, menyiratkan dalamnya perasaan yang selama ini dia pendam. “Sekali lagi, dia pantas untukku. Devano Albagri, dia pantas untuk Intania Zhesky.”


Tes!


Air mata Intan tak lagi sanggup ditahan. Mengalir begitu saja membasahi pipinya. Intan terharu. Sungguh terharu usai mendengar yang sebenarnya.


“Eit, jangan nangis, dong!” Devano memelankan suaranya sambil menengok kanan kirinya. “Aku nggak punya sapu tangan ajaib seperti di sinetron-sinetron.” bisik Devano.


"Wanita yang kamu lihat saat di cafe Bintang, dia bukan kekasihku. Memang, dulu aku menyukainya. Tapi sekarang, dalam hatiku sudah tidak ada lagi cinta."


Intan tersenyum lembut, lantas mengangguk. Intan sadar, dia telah salah paham. Sempat mengira wanita yang dilihatnya adalah kekasih Devano, ternyata dugaannya salah. Dan kini Intan bersyukur telah mengetahui faktanya langsung dari mulut Devano.


“Jadi ….” Devano membuat pancingan kata.


“Jadi apa?” tanya Intan tanpa memudarkan senyumnya.


“Mana yang kamu pilih? Buket bunga atau lukisan wajah?”


“Ya buket bunga, dong!” Tangan Intan gesit meraih buket mawar putih pemberian Sandhi.


Dari sana, senyum Devano sempat surut. Dia kaget dengan pilihan Intan.


“Kalau disuruh pilih mawar putih atau lukisan wajah, ya aku pilih mawar putihnya. Tapi, kalau disuruh pilih orangnya … ya aku pilih si pembuat lukisan wajah.”


Devano spontan berdiri dari duduknya. Wajahnya menyiratkan rasa bahagia yang sungguh luar biasa. Ada haru, tapi tiada air mata yang mewakilinya. Devano bersyukur, karena akhirnya bisa sampai di titik pengakuan rasa.


Lantaran tidak ingin menjadi pusat perhatian, Intan bergegas menyuruh Devano untuk duduk. Baik Intan maupun Devano, mereka tampak bahagia. Benar-benar bahagia.

__ADS_1


“Ohya, Dev. Apa yang tadi itu ungkapan cinta?”


“Maksudnya?”


“Maksudku … kok nggak ada kata i love you-nya?” Intan sengaja.


“Ouh. Oke. I love you, Tan.”


Intan nyengir kuda. “Love you too, Dev. Lalu?”


“Hem? Lalu apa memang?” Devano benar-benar tidak tahu maksud Intan.


“Lalu … apa tidak sebaiknya kita memesan es krim?”


“Oh iya. Es krim. Aku hampir lupa. Sebentar, ya. Tunggu di sini. Aku pesankan yang spesial untuk kita.”


Devano lekas menuju tempat pemesanan. Sedangkan Intan, dia mencoba bersabar karena sebenarnya tadi dia berharap Devano tidak hanya sekedar bilang i love you, tapi ….


“Kapan aku bisa menemui orangtuamu, Tan?” Devano mendadak muncul dan berkata demikian.


Ya. Kalimat itulah yang tadi Intan harapkan. Dan, sekarang Devano sudah mengucapkan.


“Aku kaget, Dev. Kamu cepat sekali kembali ke sini?” Intan mengelus dadanya. Dia benar-benar kaget.


“Jadi kamu ingin aku berlama-lama berdiri di meja kasir? Terus yang menemani kamu di sini siapa?” Devano mengembangkan senyumnya, sengaja menggoda.


“Sudah-sudah. Em, tadi kamu bilang apa?”


“Kapan aku bisa menemui orangtuamu, Tan?”


Betapa hati Intan saat itu berbunga-bunga. Kalimat itulah yang dia tunggu, karena Intan tidak mau buang-buang waktu dengan hubungan tanpa ikatan.


“Secepatnya. Segeralah datang melamarku, Dev.”


Devano mengangguk. Senyumnya tetap merekah untuk Intan. Sungguh Rabu malam yang mengejutkan, karena sebelum ini Devano sempat terjebak dalam rasa bimbang. Gegara kata pantas, Devano hampir saja menyerah atas perasaannya. Namun, kata pantas sendiri itulah yang justru membuat Devano terus maju hingga pada fase pembuktian. Devano tidak lagi mempertanyakan kepantasaan, tapi memilih untuk mengungkapkan perasaan.


Yoga, kakak Devano bukanlah satu-satunya yang berjasa. Kekuatan hati Devanolah yang paling kuat mengambil perannya. Karena ruang hatinya telah terisi. Bukan karena paksaan, melainkan dengan ketulusan hati. Dan, ketulusan hatinya itu tersuguh untuk Intania Zhesky.


***


Masih di nana’s ice cream, di meja lain yang jauh dari meja tempat Intan dan Devano. Yoga, dia tersenyum puas menyaksikan senyum yang tertoreh di wajah Devano dan Intan. Meski tidak berkesempatan mendengar pembicaraan, tapi Yoga begitu yakin bahwa semuanya berjalan lancar.


“Intan. Aku hanyalah salah satu pengagummu di masa lalu. Sekarang, berbahagialah dengan adikku. Dan, semoga rasa itu tidak kembali tumbuh,” gumam Yoga kemudian.


Ada apa dengan perasaan Yoga di masa lalu? Bukankah dia sudah memiliki istri? Apa yang sebenarnya terjadi? Sudah benarkah langkahnya kali ini? Nantikan lanjutan ceritanya!

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2