
Tentang Devano yang berniat mengantar sampai di rumah, Intan tidak keberatan. Juga, saat Devano mengatakan akan memperkenalkan dirinya pada orang tua Intan dan Mira, sama sekali Intan tidak mencegah. Justru dengan kehadiran Devano, Intan bisa lebih mudah menceritakan semuanya, khususnya menyampaikan niat baik Devano.
“Adikku namanya Mira. Dia sedikit jahil.” Intan setengah berbisik pada Devano. Posisinya kini berada di halaman depan rumahnya.
“Oke. Tenang saja. Aku bisa mengatasinya. Bagaimana dengan ayah ibumu?”
“Mereka baik. Sangat-sangat baik. Aku yakin kamu pasti lulus ujian.”
“Kok ada ujiannya segala?” Pikiran Devano mendadak kemana-mana.
“Hehe. Nggak akan sulit, kok.”
Intan terus memelankan suaranya sembari memberi tahu Devano tentang siapa-siapa yang akan ditemui di dalam rumah. Dengan penuh perhatian, Devano mendengarkan Intan. Semua yang Intan katakan terdengar akan mudah ditakhlukkan, kecuali bagian ujian yang dimaksud Intan, Devano sama sekali tidak memiliki bayangan.
Setelah merasa siap, Intan dan Devano mulai melangkahkan kaki mereka menuju teras depan. Saat itu masih sore hari, tapi rumah Intan terlihat sepi layaknya tidak ada orang di dalam. Dan, ternyata yang terlihat memang benar. Memang tidak ada siapa pun di dalam rumah Intan. Yang terlihat hanya tiga ekor kucing betina peliharaan Intan yang langsung berlarian keluar begitu tahu tuannya telah datang.
“Kok sepi, Tan?” tanya Devano sambil menggendong salah satu kucing betina berwarna keabuan.
“Apa masih keluar, ya?”
Intan mempersilakan Devano duduk di sofa, sementara dirinya menuju arah dalam rumah untuk mencari tahu keberadaan Mira dan orang tuanya. Area dapur, kamar mandi, bahkan halaman belakang sudah Intan datangi, tapi tidak menemukan sosok yang dicari.
“Sepertinya masih keluar, Dev. Aku buatkan minum dulu, ya.”
“Boleh. Silakan.”
“Mau yang dingin atau yang panas?”
“Yang hangat saja.”
“Suka yang manis-manis, nggak?”
“Cukup kamu saja yang manis, Tan. Yang lain jangan.”
“Meeooww!”
Devano berniat membuat Intan tersipu dengan gombalannya, tapi yang menyahuti justru si kucing gembul yang sedari tadi digendong Devano. Intan sampai tertawa karenanya.
“Dilarang gombal tuh sama si Bora.”
“Ouh. Jadi namamu Bora.” Devano mengusap kepala kucing yang sedang digendongnya.
“Dev, apa kamu pet lovers?”
“Bisa dikatakan seperti itu. Ya, meskipun yang kupelihara di rumah cuma satu kucing betina.”
Intan antusias mendengarnya. Spontan saja Intan duduk bersebelahan dengan Devano, sampai lupa jika akan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Obrolan mereka sangat seru karena membahas kegemaran yang sama, yakni sama-sama penyayang binatang. Dari sanalah Intan merasa semakin dekat dengan Devano, bahkan jarak tempat duduk mereka juga sangat dekat. Benar-benar dekat, sehingga bisa menimbulkan salah sangka bagi siapa pun yang melihat mereka. Termasuk Mira yang saat itu tiba-tiba saja muncul di ambang pintu rumah.
Kresek kecil dalam genggaman tangan Mira sampai jatuh begitu saja. Mira tidak menyangka akan mendapati sang kakak duduk bersebelahan dengan seorang lelaki di ruang tamu rumahnya.
“Kak Intan pacaraaaaaan!” seru Mira dengan kencangnya.
Baik Intan maupun Devano, mereka sama-sama terkejut sampai refleks berdiri dari duduknya. Seruan Mira benar-benar tidak disangka-sangka. Intan sampai malu dengan seruan yang dibuat Mira.
“Mira …. Jangan teriak-teriak gitu, ah!” Intan gemas sekali dengan sikap Mira.
Intan menghampiri Mira, kemudian menarik pelan pergelangan tangannya. Intan sempat menengok ke arah depan rumah, khawatir ada orang di sekitar sana yang mendengar seruan Mira. Untung saja, di sekitaran rumah Intan tidak ada tetangga yang berlalu lalang. Aman.
“Hehe. Prank!” Mira dengan ringannya berkata demikian.
Dan, seketika itu tangan kanan Intan mengambil peran. Satu cubitan gemas mendarat di hidung mancung Mira.
“Nggak lucu, Mir.”
“Iya-iya. Maaf.”
Mira menampilkan wajah penyesalan. Setelahnya, dia lebih mendekat ke arah Intan, lalu setengah berbisik mempertanyakan Devano.
“Itu siapa, Kak?”
__ADS_1
“Calon kakak iparmu,” sahut Intan.
Mira membulatkan bola matanya. Pandangannya tertuju pada Devano yang sudah beralih ekspresi menjadi lebih murah senyum dan berwajah ramah.
“Hai, Kak.” Mira tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah Devano.
Devano mengimbangi, dia menanggapi sambil ikut-ikutan melambaikan tangannya ke arah Mira.
Di momen melambaikan tangan itulah Mira membatin, membanding-bandingkan sosok Devano dengan Sandhi. “Dari segi tampang, lumayan. Nggak malu-maluin-lah kalau diajak ke kondangan. Penampilan juga oke, masih sebelas dua belas dengan Kak Sandhi.”
Pandangan Mira beralih pada pergelangan tangan Devano, kemudian membatin lagi. “Cocok nih sama Kak Intan. Pemakai jam tangan. Pasti disiplin waktu.”
Intan mengetahui gelagat Mira. Sedari tadi adiknya itu tidak melepaskan pandangan matanya dari Devano, bahkan sesekali mengangguk-angguk sendiri. Intan bisa menebak bahwa sang adik tengah melakukan uji kepantasan.
“Sudah belum?” bisik Intan.
“Sudah Mira amati, Kak. Kak Devano lumayan cocok sama kakak.” Yang ini tidak dibatin, melainkan diucapkan dengan terang-terangan. Intan sampai buru-buru menutup mulut Mira.
“Em, Dev. Duduklah dulu. Aku mau bicara sebentar dengan adikku. Oya, akan aku ambilkan minum juga untukmu. Sebentar, ya.”
Tanpa menunggu persetujuan Devano, Intan segera menarik lengan Mira menuju dapur. Di sanalah tempat yang benar-benar aman bagi Intan untuk bisa mengobrol dengan sang adik yang selalu saja tidak bisa mengontrol ucapan.
“Yang sopan dikit dong, Mir. Malu sama Devano,” ungkap Intan.
“Santai saja, Kak. Mira berani jamin, Kak Dev nggak masalah.”
“Ah! Terserah, deh. Aku mau bikin minum dulu.”
“Sambil ngobrol ya, Kak.”
“Iya. Cepetan mau ngomong apa? Mumpung di sini.”
“Mira cuma mau ngomong sama kakak, kalau Mira mau menemui Kak Dev. Daaaa!”
Usai berkata demikian, langkah Mira diayun cepat menuju ruang tamu. Jika sudah seperti itu, Intan tidak bisa mencegah. Sekalian saja Intan memberi kesempatan pada adiknya itu untuk lebih mengenal calon kakak iparnya. Intan memilih tetap berada di dapur, membuatkan minuman untuk Devano.
Di ruang tamu. Devano tampak tenang ditemani kucing peliharaan Intan. Tadinya hanya seekor saja yang mendekat, sekarang tiga-tiganya sudah berani duduk di dekat Devano.
Devano mengangguk, sambil memperbaiki posisi duduknya.
“Kak Dev suka sama Kak Intan, ya?”
Ternyata oh ternyata, Mira memilih untuk tidak basa-basi dengan pertanyaannya.
“Iya,” jawab Devano tanpa ragu sambil melebarkan senyumnya.
“Sayang sama Kak Intan, nggak?” tanya Mira lagi.
Lagi-lagi Devano menjawab tanpa ragu. “Iya.”
“Kok iya juga? Yang benar mana, Kak? Suka, apa sayang?”
Pertanyaan Mira sempat membuat Devano berpikir lebih dalam, sebelum akhirnya dia pun memilih kata sayang sebagai ungkapan untuk Intan.
“Sayang.”
“Kenapa kok bisa sayang?” Mira terus bertanya.
Bagi Devano, pertanyaan Mira terdengar seperti pertanyaan spontan tanpa pikir panjang. Tapi, semua yang Mira tanyakan itu tidak ada yang bisa disalahkan.
“Karena … karena itulah yang aku rasakan untuk kakakmu.” Devano sempat ragu dengan susunan kalimatnya.
“Kak Intan suka bunga mawar, lho.”
Devano tidak tahu, kalimat Mira yang terakhir itu pemberitahuan atau hanya pancingan menuju pertanyaan lanjutan. Namun, Devano memilih untuk memberi imbuhan penegasan, demi lebih meyakinkan Mira tentang perasaan Devano pada Intan.
“Ya. Intan suka sekali dengan mawar putih.”
Devano menjeda kata. Dia merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan lipatan kertas lipat milik Gion. Di dalam sana ada satu gambar mawar buatan Devano. Dengan senyum mengembang, Devano melihat gambar mawar di atas kertas lipat itu. Namun, yang terbayang di sana adalah sosok Intan, bukan gambar mawar.
__ADS_1
“Andai Intan adalah bunga mawar, aku tidak akan memetiknya. Aku akan terus merawatnya hingga tumbuh subur, mekar, dan indah. Akan terus kujaga, dan tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh apalagi merusaknya.”
Jawaban Devano berhasil membuat Mira mengubah mimik wajahnya. Mira sukses tersenyum lebar, kemudian bertepuk tangan.
“Kak Dev ternyata lebih asik. Nggak sekaku Kak Sandhi.”
Deg! Devano terkejut saat nama Sandhi disebut.
“Oya, Kak Dev kerja di mana?” tanya Mira.
“Di percetakan.”
“Sebagai?”
“Sebagai … tukang bersih-bersih.”
Devano memilih jawaban yang sama saat dulu pertama kali Intan bertanya tentang pekerjaannya. Bagi Devano, pertanyaan dan jawaban itu adalah sejarah. Momen yang tidak akan pernah dia lupakan. Karena selanjutnya, Intan memiliki imbuhan untuk kalimatnya.
“Lebih tepatnya tukang bersih-bersih masalah, Mir.” Intan menyahuti. Di tangannya sudah ada secangkir teh hangat untuk Devano.
Ya. Imbuhan itulah yang menurut Devano begitu bersejarah. Tukang bersih-bersih masalah. Devano suka sekali dengan sebutan itu, membuatnya seperti berprofesi ganda. Tidak hanya sekedar desainer biasa, tapi desainer yang keberadaannya sangat berguna bagi sekitar.
“Kak Dev, jangan bercanda sama Mira, dong. Ayo, ngaku! Kak Dev kerja apa?” desak Mira.
“Kak Dev seorang desainer, Mir.”
“Wow, keren. Mira boleh nggak ….”
“Nggak boleh!” Intan langsung memotong kalimat Mira. Dia sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan Mira.
“Kak Intan nggak asik!” Mira mengerucutkan bibirnya.
Obrolan selanjutnya lebih biasa, tapi penuh keakraban di sana. Mira menujukkan sisi baiknya sebagai seorang adik demi menghargai keberadaan calon kakak iparnya. Selain itu, Mira juga mulai jenuh jika harus kena omel kakaknya.
Saat Intan pamit sebentar menerima telepon dari rekan kerjanya, Mira memanfaatkan momen itu untuk menyampaikan pesan pada Devano. Satu pesan yang begitu berarti, sekaligus tanda bahwa Mira telah setuju jika Intan memilih Devano.
“Kak Dev, tolong jaga Kak Intan, ya. Kak Intan orangnya agak baperan. Tapi buaiiik banget. Sering-sering ditanyain ya, Kak Intan mau curhat apa. Biar nggak terus-terusan curhat sama laptop. Soalnya, Mira nggak bisa sering-sering jadi adik heboh. Mira sudah harus balik ke kos-kosan.”
“Sudah mulai masuk kuliah?” tanya Devano.
“Iya, Kak. Jadi, tolong jaga Kak Intan, ya? Dukungan penuh deh buat Kak Dev. Oke?”
Devano mengiyakan. Dia senang karena telah mendapat kepercayaan untuk menjaga Intan.
“Mir, ayah ibu kemana, ya?” Intan sampai lupa, tadi tidak bertanya.
“Eh, Mira belum bilang ya? Bang Sat istrinya lahiran, Kak. Ibu bantu nemenin di sana. Ayah ikutan juga. Mungkin menginap. Tapi belum tahu lagi, sih.”
Saat itu ada rasa yang mengganjal di hati Devano, karena dia tidak bisa segera bertemu orangtua Intan. Namun, ada pula setitik rasa senang yang dia rasakan karena dengan begitu bisa menyiapkan mental lebih untuk menghadapi ujian dari orangtua Intan.
“Tan, akhir pekan ini saja aku menemui orangtuamu, ya?”
“Baiklah. Maaf, ya Dev. Aku tidak tahu kalau orangtuaku ada acara menginap di luar.”
“Tidak apa-apa. Sampaikan salamku saja untuk mereka. Sampaikan juga kalau aku berniat baik terhadapmu.”
Kalimat Devano yang terakhir terdengar begitu tulus, sampai-sampai membuat jantung Intan berdebar-debar.
“Eh-eh, tunggu! Ayah ibu akan pulang sebentar lagi!” seru Mira sambil melihat ke ponselnya.
Gantian Devano yang kali ini berdebar-debar. Mentalnya dipaksa untuk siap saat itu juga, demi terlihat baik di depan orangtua Intan. Devano sampai mengatur nafasnya, perlahan, demi bisa mengurangi rasa gerogi yang dirasakan. Akan tetapi, persiapan mental Devano harus diruntuhkan akibat ulah Mira.
“Tapi bohong! Ayah ibu menginap dua hari!” seru Mira yang langsung mengambil langkah seribu menuju kamarnya.
“Miraaaaa!” seru Intan, gemas sekali dengan Mira.
Sementara Devano, dia seketika langsung bersandar ke bantal sofa.
Tap 💜 dan tinggalkan komentar untuk author ya. Vote dan hadiahnya juga boleh lho. Salam Luv 💜
__ADS_1
Bersambung ….