
Wajah kesal tergambar jelas pada diri Benny. Dia baru saja keluar dari ruangan Pak Bos Besar. Sudah waktu jam pulang kerja juga, sehingga langkah Benny terus diayunkan menuju parkiran motor sambil tetap menampilkan wajah kesalnya. Rekan kerja yang berpapasan sampai tidak berani menyapa apalagi mempertanyakan.
Ketika di parkiran, ada Devano dan Jefri yang juga berniat pulang usai menyelesaikan pekerjaan mereka. Untuk beberapa detik, Benny melayangkan tatapan mata tajam khususnya pada Jefri. Tidak ingin kalah dari Benny, Jefri pun melayangkan tatapan yang sama, tapi tidak begitu lama karena ada Devano yang mengingatkan.
Sayang sekali, tanpa diduga Benny justru menghampiri Jefri. Dengan masih mempertahankan tatapan mata tajam dan wajah kesal, Benny ptotes. Yang diprotes adalah Jefri. Karena usulan Jefri waktu itu, Benny segera akan dipindahtugaskan ke luar kota. Hanya tinggal menghitung hari saja.
“Puas kau!” Tatapan Benny semakin tajam menghujam Jefri.
Jefri tersenyum meledek, sebagai penegas juga bahwa dirinya sama sekali tidak takut pada Benny. Namun, senyum Jefri membuat Benny tersinggung. Benar-benar tersinggung sampai wajah kesalnya berubah menjadi emosi yang tidak dapat terbendung lagi. Tangan kanan Jefri mengepal, kemudian diayunkan menuju wajah Jefri. Tapi, gagal. Devano dengan gesit menghalau kepalan tangan Benny.
“Jangan seperti anak kecil. Jika kau tidak bersedia untuk pindah kerja, terus terang saja pada Pak Bos.” Devano tegas, bijak, dan benar-benar menjadi penengah yang bisa diandalkan.
Benny menjauhkan kepalan tangannya dari halauan tangan Devano. Selanjutnya sama sekali tidak ada tanggapan, apalagi komentar. Yang Benny lakukan hanyalah kembali memberi tatapan mata tajam pada Jefri, kemudian pergi.
Melihat Benny yang seolah kalah dari kata-kata Devano, Jefri seketika itu tersenyum lebar, kemudian merangkul Devano.
“Thanks, Bro. Kau memang yang terbaik.”
Devano ikut senang, tapi hatinya masih menyimpan kekhawatiran. Dari kejadian barusan, jelas sekali Benny emosi pada Jefri. Tidak menutup kemungkinan emosinya justru berubah jadi sikap membenci.
***
Motor Benny dihentikan di salah satu café mini. Ada janji temu yang sudah dia buat dengan Dhea. Katanya, ada tawaran menarik yang sudah Dhea siapkan untuknya.
“Hai, Ben. Ada apa dengan wajahmu, ha?” tanya Dhea.
“Bulan depan aku pindah kerja.”
“Kau dipecat?”
Benny yang masih emosi, dia begitu enggan membuat penjelasan panjang lebar. Lemon tea milik Dhea yang masih utuh lekas diambil alih, diseruput isinya hingga tandas setengah.
“Kau haus, Ben? Biar aku pesankan lagi, ya?”
“Tidak perlu.”
“Baiklah. Tapi, ceritakan dulu padaku apa yang sudah terjadi hingga wajahmu kesal seperti itu.”
Mulanya Benny masih enggan, tapi Dhea terus-terusan mendesak. Dengan sedikit rayuan manja ala Dhea, Benny pun akhirnya luluh dan langsung menceritakan semua, termasuk kronologi ulah kepalan tangan yang baru saja digagalkan oleh Devano.
“Tunggu-tunggu. Kata-kata Devano bener, lho. Kenapa nggak terus terang aja sama Pak Bos kalau kau nggak mau dipindah.”
“Gaji yang ditawarkan lumayan besar.”
“Terus kenapa harus kesal sama Jeje? Em … maksudku Je-fri?” Dhea keceplosan menyebut nama masa kecil Jefri.
“Karena Jefri yang merekomendasikan namaku.”
“Ya, iya. Kenapa harus semarah itu? Kau bilang tadi gajinya juga lumayan.”
“Aku membencinya.”
“Beneran kayak anak kecil kau, Ben. Mending jangan cari musuh, deh. Apalagi sama Jefri. Aku tidak suka kau bermusuhan dengannya. Awas saja kalau kau lanjutkan!”
Benny menggaris bawahi kalimat pembelaaan yang Dhea tujukan untuk Jefrri. Kenapa tiba-tiba Dhea membela Jefri? Sejak kapan Dhea punya rasa peduli? Dan, apa tujuannya? Itulah pertanyaan yang berputar di kepala Benny.
“Apa kau mengenal Jefri dengan baik?” tanya Benny.
“Eng-nggaak. Siapa yang bilang aku kenal dekat dengan Jefri? Ngawur itu.” Dhea masih tidak berniat untuk jujur dengan masa lalunya.
__ADS_1
“Sadar tidak? Barusan kau membelanya,” ungkap Benny, ingin penjelasan lebih.
“Ah, sudah-sudah. Balik ke pembahasan pindah kerja. Kenapa kau merekomendasikan Devano? Kau sengaja mau menjauhkan Devano dariku, iya?”
Dhea benar-benar pintar membuat pengalihan. Dia justru mengungkit nama Devano yang semula diakui Benny sebagai nama yang direkomendasikan.
“Justru karena aku peduli padamu, Dhea. Dengan Devano berada di luar kota, dia akan jauh dari Intan. Dan kau bisa membuat kesempatan. Apa aku salah berencana seperti itu?”
Tidak disangka, Benny justru berpikir jauh ke depan, dan itu dia lakukan untuk Dhea.
“Wow. Ide bagus, sih.”
“Sayangnya Pak Bos sudah menyuruhku dan aku tidak bisa mengabaikan tawaran gaji itu.”
“Lalu kenapa kau semarah itu pada Jefri?”
Lagi-lagi dia mengungkit kemarahan Benny pada Jefri. Sebenarnya Dhea sangat penasaran, kenapa Benny bisa sebenci itu pada Jefri. Pasti alasannya bukan sekedar rasa tidak suka semata.
“Dhea, apa kau berniat membela Jefri lagi?”
“Tidak. Sama sekali tidak.” Bola mata Dhea berputar. Cepat-cepat dia mencari pengalihan. “Oya, tentang tawaran yang kumaksudkan … apa kau masih mau mendengarnya?”
Benny mengangguk. Untuk alasan itulah dia langsung memenuhi janji temunya dengan Dhea.
“Begini. Aku butuh bantuanmu untuk membuat Devano melihat lagi ke arahku.”
Dengan cepat Benny membuang pandang ke arah kanan, menarik nafas pelan, lantas kembali lagi melihat ke arah Dhea dengan senyuman. Sebelum ini Benny sudah menduganya. Tawaran yang dimaksudkan Dhea pastilah tidak akan jauh-jauh dari nama Devano.
“Apa timbal baliknya untukku?” Benny tetap mengembangkan senyumnya. Jika itu tawaran, pastilah ada sesuatu yang menguntungkan.
“Sebagai gantinya, aku akan membantumu bersatu dengan seseorang yang kau cintai. Bagaimana?”
“Kedengarannya bagus.” Benny manggut-manggut.
“Mumpung Devano sama Intan belum resmi menikah. Jadi, kesempatan untukku masih terbuka.” Dhea begitu percaya diri.
Lagi-lagi Benny mengangguk. Senyumnya melebar sambil memperhatikan perubahan ekspresi Dhea yang tampak lebih bersemangat dibanding sebelumnya.
“Oke. Aku setuju. Aku membantumu, dan kau membantuku.”
“Asiik. Apa kau sudah punya rencana?” Dhea semakin bersemangat menyambut kesediaan Benny.
“Bisa diatur nanti. Aku bisa membawa Devano ke luar kota dengan alasan tim sementara. Seperti sistim kontrak beberapa bulan, kemudian selesai begitu terlihat ada perkembangan.”
Benny yakin sekali dengan idenya kali ini. Dia akan mengatur kata-kata jitu untuk meyakinkan Pak Bos Besar.
“Wow. Kau memang bisa diandalkan, Ben. Kalau begitu sekarang giliranku. Katakan, siapa dia?” Yang dimaksud Dhea adalah wanita yang dicintai Benny.
“Kau mengenalnya,” ungkap Benny.
Dhea berpikir sejenak, mencoba mencari satu nama wanita. Tapi, tidak ada satu pun yang terbersit dalam pikirannnya. Karena, selama ini Dhea memang tidak terlalu dekat dengan siap-siapa kecuali Benny dan mantan kekasihnya.
“Siapa, Ben? Beri tahu saja namanya.”
Benny mencondongkan wajahnya, lebih dekat ke arah Dhea, kemudian berkata, “Kaulah orangnya. Dhea, aku menyukaimu.”
Deg!
Mimik wajah Dhea spontan berubah. Semangat yang tadi menggebu, sekarang pergi entah kemana. Pernyataan Benny sungguh mengejutkan, sampai Dhea tidak bisa berucap apa-apa.
__ADS_1
“Kenapa diam, Sayang?” Benny berulah, dia sengaja menyebut Dhea dengan sapaan sayang.
“Kau bercanda, kan?” Dhea masih tidak percaya.
“Aku serius."
Dhea sampai menelan ludah, kemudian mengalihkan tatapan matanya. Mendadak saja Dhea tidak nyaman dengan tatapan Benny padanya.
“Pasti bukan aku!” Dhea berusaha menyangkal.
“Aku menyukaimu. Itulah faktanya.”
“Kau tahu betul siapa laki-laki yang aku sukai. Itu Devano, bukan kau. Kau hanya temanku,” tegas Dhea.
“Lalu, kenapa? Perasaan ini muncul karena pertemanan kita.”
“Kenapa kau bilang? Bagimana bisa kau bersedia membantuku bersatu dengan Devano sementara orang yang kau sukai adalah aku?”
Rumit sekali perkara yang tengah dihadapi Dhea. Semula, dia mengira semua rencananya akan berjalan lancar, tapi yang terjadi justru tidaklah demikian.
“Its okay. Aku memang akan membantumu dengan Devano. Sesuai tawaran, kau juga harus membantuku.”
Dhea terdiam, setengah membelalakkan mata. Ucapan Benny sama sekali belum dipahami olehnya.
“Aku tidak masalah melihatmu menikah dengan Devano. Tapi, jadikan aku cinta keduamu. Aku bisa menjadi kekasih simpananmu.”
“Kau gilla. Benar-benar gilla!”
Dhea mulai beranjak dari tempat duduknya, berniat pergi dari Benny.
“Dhea, aku tidak kalah tangguh dibanding Devano! Aku bisa memuaskanmu!”
“Dasar gilla! Kau gilla!"
Dhea benar-benar pergi. Sementara Benny, dia semakin melebarkan senyumnya. Tidak masalah baginya jika dianggap gilla, yang terpenting rasa itu sudah berhasil diungkap olehnya.
“Aku tahu, kau tidak akan menerimaku,” gumam Benny, sudah bisa menebak ending yang terjadi. "Perasaan ini muncul karena pertemanan kita. Tapi, pertemanan kita justru berakhir karena ungkapan perasaan yang tidak dapat aku cegah." Benny sendu.
Tak lama kemudian, Benny juga memilih pergi meninggalkan café. Dia tidak memiliki rencana apa-apa lagi selain menyiapkan mentalnya untuk bekerja di tempat baru. Tentang Dhea, Benny juga akan melupakannya. Untuk hal gilla yang baru saja terjadi, Benny sama sekali tidak menyesal. Paling tidak, Dhea tidak akan meminta bantuannya lagi. Begitulah pikir Benny.
Laju motor Benny masih seperempat jalan ketika dia melihat Intan. Ya, Benny yang sudah mulai hafal dengan perawakan Intan pun sangat yakin bahwa yang saat ini dilihatnya adalah Intan.
Benny melihat Intan sedang menerima telepon di jembatan, sambil melihat ke arah aliran deras dari sungai yang berada persis di bawah jembatan tadi. Motor Intan tampak terparkir tidak jauh dari sana.
“Sedang apa dia?” Benny bertanya-tanya.
Pandangan mata Benny hanya teralihkan sebentar saja karena melihat anak kecil yang tiba-tiba berlari ke arah jalanan. Benny refleks menghentikan motornya demi menghindari tabrakan. Tidak hanya itu, Benny juga menghentikan motor, menghampiri si anak kecil tadi, kemudian mengecek kondisinya.
“Untung baik-baik saja,” ujar Benny, lega. “Lain kali hati-hati ya, Dek. Main di rumah saja,” nasihatnya kemudian.
Setelahnya, Benny kembali ke motornya. Ketika berniat mengidupkan mesin motor, dia sudah tidak melihat Intan di jembatan. Tapi, ada yang aneh. Motor Intan masih ada di sana. Benny sudah mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, tapi tidak melihat keberadaan Intan.
“Masa iya terjun ke sungai, sih? Tapi itu tidak mungkin.”
Karena tidak mau berpikir macam-macam lagi, Benny pun berhenti mencari tahu. Ditambah pula, Benny merasa tidak begitu mengenal Intan. Jadilah, Benny terus melajukan motornya menjauhi area jembatan.
Motor Intan masih tetap ada di area jembatan sampai sore tiba, sampai senja pamit pada dunia, dan sampai bintang dan rembulan menghiasi langit malam. Kemanakah Intan?
Bersambung ….
__ADS_1