
Lelaki bertubuh gempal dengan kumis tipis dan senyum menawan, begitulah sosok Reynal. Senyum Reynal juga begitu murah, dan tersuguh untuk siapa saja yang berbincang hangat dengannya. Tua muda, teman atau orang asing sekalipun, Reynal akan selalu bersikap ramah. Kecuali, di saat keadaan tertentu yang membuat dirinya harus bersikap tegas dan perlu kebijaksanaan sikap.
“Sejak kapan jadi mata empat, Rey?” Jefri bertanya sambil membantu Reynal membuka kaleng-kaleng biskuit untuk disuguhkan.
“Sejak dua bulan lalu. Tampilan kita jadi sama, Bro. Sama-sama berkacamata. Beda lagi kalau Devano, semakin ke sini semakin terlihat awet muda.”
“Bisa saja kau, Rey.”
Obrolan berlanjut seputar cerita Reynal selama di tempat rantau. Tentang kegiatan kemanusiaan, pengalaman membantu kesembuhan mental seseorang, hingga tiba-tiba saja Reynal teringat kepada Dhea.
“Oya, bagaimana hubunganmu dengan Dhea, Dev?”
“Kalau yang satu itu jangan ditanya, Bro!” Jefri memberi kode pada Reynal agar tidak melanjutkan pertanyaan. Namun, Reynal sudah terlanjur penasaran perihal sesuatu yang terjadi pada Devano.
“Maksudnya?” Reynal kepo juga.
“Maksudnya, tidak lagi ada hubungan.” Devanolah yang mempertegas agar tidak lagi ada pertanyaan.
Reynal dengan cepat memahami penegasan Devano. Dia tidak bertanya lebih. Yang dilakukan hanya mengangguk-angguk pelan, kemudian menepuk bahu Devano. Hanya itu saja, karena Reynal tidak akan memaksa sampai Devano memilih sendiri untuk berbagi cerita. Namun, ada Jefri di sana, yang sejatinya suka asal jeplak kalau bicara.
“Devano punya gebetan baru, Rey.” Jefri menyahuti sambil menaik turunkan alisnya.
“Oh ya? Serius, Dev?” Reynal antusias ingin tahu, tapi dia yang terbiasa dicurhati orang, seketika itu tahu perubahan mimik wajah Devano. Sahabat baiknya itu terlihat enggan bercerita.
“Jef. Jangan ember jadi cowok!” Sindir Devano sembari memberi lirikan tajam.
“Ngaku aja, Dev. Biar makin banyak yang ngedukung. Bisa-bisa jalanmu makin mujur sama si In … hm-hmmm!”
Devano auto membekap mulut Jefri saat hendak menyebut nama Intan. Satu jitakan pelan juga mendarat di kepala Jefri yang berambut klimis.
“Sudah-sudah. Aku tunggu saja sampai Devano mau bercerita.” Reynal menengahi.
Barulah Devano melepaskan Jefri dengan senyum lebar usai Reynal berkata demikian. Sementara Jefri, dia melampiaskan kekesalannya dengan mengambil biskuit-biskuit yang tersuguh dalam porsi besar, lantas mengunyahnya dengan cepat sambil melihat ke arah Devano.
“Lebih baik dengarkan alasanku kembali ke kota ini.” Reynal membuat topik baru agar Devano tidak lagi bertengkar dengan Jefri.
Berhasil. Devano dan Jefri seketika itu membetulkan posisi untuk mendengar cerita Reynal. Tidak disangka, ternyata Reynal kembali karena akan melangsungkan pernikahan dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan.
“Selamat, ya Bro. Doakan Devano juga, tuh! Kasihan, galau melulu.”
Devano tidak berminat membekap Jefri lagi. Dia hanya memberikan lirikan tajam satu kali, dan seketika itu Jefri pun bungkam tanpa berniat melanjutkan sindirannya lagi.
“Anak mana, Rey?” Devanolah yang bertanya.
“Anak kota sini. Setelah menikah, dia akan ikut bersamaku.”
“Apa pekerjaannya?” Kali ini Jefri yang bertanya.
“Guru,” jawab Reynal singkat.
__ADS_1
Deg!
Ingatan Devano langsung tertuju pada Intan. Mulai dari wajah, cara tersenyum, sampai wajah cemberut Intan pun seketika itu membayang. Lebih parah dari itu, tentang Intan yang menangis saat salah paham di Café Bintang, ingatan itu juga tiba-tiba muncul tanpa bisa diredam. Spontan Devano melihat ke arah ubin sambil tetap melambungkan pikiran.
“Kalau istrimu ikut, jadinya dia harus berhenti jadi guru di tempatnya mengajar sekarang, dong!” Jefri antusias menduga-duga.
“Begitulah. Sudah kami bicarakan, dan dia tetap bersedia menikah denganku.”
“Uwow!” Jefri berseru tertahan, sementara lirikan matanya tertuju pada Devano yang masih saja melambungkan pikirannya pada Intan.
Reynal tidak sempat menangkap mimik wajah Devano yang berubah, karena dia terburu mengambil minuman untuk disuguhkan. Begitu kembali, Devano tidak lagi melambungkan pikiran karena sempat disikut lengan Jefri.
“Kalian berdua ini selalu bertengkar, ya?” tanya Reynal begitu kembali.
“Tidak juga. Hanya saja hari ini Jefri sedikit membuatku naik darah,” ungkap Devano yang langsung disahuti tawa oleh Jefri.
Jeda sejenak. Tetiba saja ada yang menelepon Reynal. Devano dan Jefri dipersilakan menyantap suguhan di meja sementara Reynal menerima panggilan dari seseorang di seberang.
Reynal menerima telepon di ruang tengah. Samar-samar, Devano mendengar Reynal menyebut-nyebut nama Intan. Akan tetapi, saat itu Devano masih tidak berpikiran macam-macam. Hingga kemudian ….
“Dev, kamu ingat Intan?”
Deg!
“Intan yang mana?”
Jefri mendengarnya. Tapi, dia memilih diam saja meski tahu siapa Intan yang dimaksud. Jefri tidak ikut bersuara, dan tetap mengunyah biskuitnya.
“Pernikahanku memang masih beberapa bulan lagi. Alasanku kembali cepat ke kota ini salah satunya karena dia,” ungkap Reynal, berterus terang.
“Dia? Maksudmu Intan?” Devano mempertanyakan kejelasan.
Reynal mengangguk sebagai tanda mengiyakan pertanyaan Devano. Sayang sekali, obrolan tidak lekas berlanjut lagi karena lagi-lagi Reynal mendapat telepon dari nomor yang sama seperti sebelumnya. Bedanya, Reynal menerima telepon itu dengan tetap duduk di samping Devano.
“Iya. Tenang saja, San. Aku akan membantumu. Ada teman baikku juga di sini. Dia pasti bersedia membantu,” ucap Reynal menyahuti telepon Sandhi.
Bersamaan dengan itu, jantung Devano berdebar-debar tidak karuan. Ada firasat tidak enak, sehingga mengacaukan pikiran.
“Dev, kamu tahu alamat rumah Intan, kan?” tanya Reynal tiba-tiba.
Terasa berat bagi Devano hanya untuk sekedar berkata iya. Pasalnya, firasat buruknya semakin kuat saja.
“Dev?” panggil Reynal karena Devano tidak menyahuti.
“Iya. Aku tahu.” Akhirnya, keluar juga kata-kata Devano meski lidahnya sempat kelu.
“Halo. Sandhi. Pesankan saja buket bunga mawar putihnya. Nanti temanku akan membantumu juga mengantar buketnya ke rumah Intan,” kata Reynal kemudian.
Deg!
__ADS_1
Pikiran Devano semakin tidak karuan. Dia mulai menduga-duga arah pertanyaan dan perkataan Reynal barusan. Sementara itu, Jefri, samar-samar dia pun menyadari. Tapi, lagi-lagi dia memilih bungkam dan tetap mengamati.
“Siapa yang menelponmu, Rey?” Devano langsung mengajukan tanya.
“Namanya Sandhi. Dia seorang dosen, Dev. Dan, kamu tahu? Sandhi menyukai Intan.”
“Maksudmu, Intan teman kita?” Devano ingin kejelasan nama.
“Benar. Teman kita. Intania Zhesky.”
Deg!
Terjawab sudah firasat Devano. Detik itu juga, pikiran Devano melambung ke kejadian tadi pagi di Café Bintang. Devano teringat seorang lelaki yang saat itu bersama Intan. Devano yakin sekali, Sandhilah yang bersama Intan tadi pagi.
“Lalu? Kenapa dia menelponmu, Rey? Buket bunga mawar putih? Apa maksudnya?” Lagi-lagi Devano ingin kejelasan lebih.
Dimulailah cerita Reynal tentang Sandhi yang meminta bantuan kepadanya. Kebetulan juga posisi Reynal saat itu tidak jauh dari kota asalnya. Sehingga Reynal memutuskan untuk pulang ke kotanya saat itu juga demi bisa segera membantu Sandhi.
“Sandhi menghubungi saat aku ada kunjungan di kota sebelah. So, sekalian saja deh aku pulang ke kota ini.”
“Kamu bilang, Sandhi menyukai Intan?” tanya Devano.
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Entahlah, Dev. Aku tidak bertanya jauh. Aku cuma disuruh membantu ….”
“Hubungan mereka?” tebak Devano yang seketika itu menyela kalimat Reynal.
Reynal spontan menunjukkan rasa herannya atas sikap Devano yang dengan jelas berubah.
“Hei, Dev. Bukan! Aku disuruh mencari tahu lelaki yang disukai Intan.”
Deg! Deg-deg!
Untuk ke sekian kalinya, Devano teringat kata-kata Intan saat di Café Bintang. ‘Lelaki yang mengisi ruang hatiku, dia adalah definisi rasa nyaman yang begitu nyata. Dia pantas untukku. Benar-benar pantas untukku. Dia bahkan rela menceburkan dirinya ke kolam ikan, hanya agar aku tidak basah kuyup sendirian. Dia mengenalkanku pada sisi lain dunia, tentang berbagi, dan makna bahagia yang sebenarnya. Sekali lagi, dia pantas untukku.’
Rey, apa kamu akan tetap membantu Sandhi saat tahu lelaki itu adalah aku? Batin Devano.
“Sandhi berencana mengirim buket bunga mawar putih untuk Intan. Kamu ikut aku ke rumah Intan, ya Dev? Kita kirimkan buket bunganya sekalian cari info,” imbuh Reynal dengan antusias mengutarakan rencananya.
Devano tidak menyahuti. Pikirannya masih berkelana ke sana-sini.
“Bagaimana, Dev?”
“Rey, aku …. Sebenarnya ….”
Bersambung ….
__ADS_1