
Satu papan tulis dipenuhi tulisan Sandhi. Tulisannya besar-besar, jelas, dan pastinya tidak ada mahasiswa yang gagal paham dalam menafsirkan ilmu matematika yang sedang dia terangkan. Tapi, di ruangan tempat Sandhi berada sama sekali tidak ada mahasiswanya. Sandhi merekam dirinya dengan tripod dan kamera. Video yang dibuat nantinya akan di-upload di akun pribadinya sebagai persiapan bahan ajar yang bisa diakses mahasiswa.
Video yang Sandhi buat menjadi penutup kegiatan padatnya di kampus. Tepat pukul empat sore, Sandhi menuju parkiran. Hanya tinggal beberapa mobil saja yang terparkir di sana, karena rekan kerja Sandhi sudah ada yang pulang lebih dulu, bahkan sebagian lainnya ada tugas di luar kota. Sandhi memilih untuk tidak terburu-buru pulang, karena di rumahnya telah menunggu gerutuan-gerutuan sang ibu. Sudah terjadi beberapa kali, dan kali ini Sandhi benar-benar mulai jenuh.
“Lihat Nisa! Tadi pagi dia menemui mama sambil memamerkan calon suaminya yang kaya!”
“Biarkan saja, Ma. Itu artinya Nisa memang tidak pantas untukku.”
“Boddoh kamu, San! Harusnya kamu yang bersanding dengan Nisa. Bukan laki-laki itu!”
“Mama ini gimana, sih? Masa anak sendiri di boddoh-boddohin? Mama harus ikhlash dengan keputusan Sandhi.”
Sang ibu bersedekap, kemudian membuang pandang.
“Mama belum bisa ikhlash, karena kamu lebih memilih wanita yang sama sekali tidak pantas bersanding denganmu!”
“Intan pantas untuk Sandhi, Ma. Paras dan hatinya cantik.”
“Heleh. Tahu apa kamu tentang pantas, San. Mama ini sudah berpengalaman. Lebih tahu, mana wanita yang lebih pantas untukmu.”
Sebenarnya Sandhi masih ingin melanjutkan kalimat pembelaannya, tapi Sandhi benar-benar tidak ingin terus-terusan beradu kata apalagi sampai keluar kata-kata kasar dari mulutnya.
Drrrt-drrt
Ingatan Sandhi langsung buyar begitu ponselnya bergetar. Sandhi mengusap wajahnya sebentar, demi mengusir ingatan suram tentang protes sang ibu yang terjadi kemarin malam.
“Iya halo, Rey. Ada apa?”
Telepon itu dari Reynal, sahabat Devano yang juga kenal baik dengan Sandhi. Reynal mengaku ada di kota tempat tinggal Sandhi. Tidak lebih dulu basa-basi, Reynal meminta bertemu di D’café Ajaib. Sebuah café yang tidak jauh dari kampus tempat Sandhi mengajar. Café yang sering menjadi tempat tongkrongan muda-mudi yang berburu camilan.
Butuh sekitar sepuluh menit bagi Sandhi hingga sampai di lokasi. Segera saja dia menuju meja tempat Reynal menunggunya. Ada di lantai dua, dan pengunjungnya tidak seramai di lantai utama.
“Apa kabar teman?” Sapa Sandhi begitu melihat sosok Reynal.
“Baik, seperti yang kau lihat, San. Ayo duduk! Sudah aku pesankan minuman untukmu.”
Sandhi melihat dua gelas jus alpukat dengan toping alpukat yang dipotong dadu. Benar-benar minuman favorit Sandhi. Tampak hijau, segar, dan pastinya minuman yang menyehatkan.
“Waktu kuliah dulu, Intan suka sekali memesan minuman ini. Sebelum akhirnya dia jadi penggemar kopi.” Sandhi teringat kenangan beberapa tahun lalu saat masih sama-sama kuliah dengan Intan.
“Intania Zhesky. Apa dia cukup terkenal saat di kampus?” tanya Reynal, membuat Sandhi semakin semangat mengungkit ingatan.
“Tentu saja. Apalagi setelah dia memenangkan kontes bercerita.” Sandhi senyum-senyum sendiri teringat momen kala itu.
Reynal, dia dengan setia mendengarkan potongan kisah masa lalu Sandhi dengan Intan. Reynal tidak terburu menyela kalimat Sandhi demi bisa menyampaikan kabar penting yang dibawa. Reynal benar-benar menjadi pendengar yang baik.
“Oh ya. Apa ada info tentang laki-laki yang disukai Intan?” Sampailah Sandhi pada pertanyaan ini.
__ADS_1
“Iya. Ada. Tapi, setelah kamu mendengar ini semua, kuharap pertemanan kita masih baik-baik saja.” Reynal memulai kalimatnya.
Dari sanalah suasana café seolah berubah. Lebih serius dari saat pertama kali Sandhi tiba. Sandhi terpancing dengan kalimat pembuka Reynal, yang mengingatkan tentang pertemanan. Benar-benar kode kata yang tegas agar ekspresi Sandhi tidak melewati batas.
“Sepertinya keadaan tidak memihak padaku, ya?” tebak Sandhi.
“Aku tidak berkata seperti itu, San. Karena hari ini bisa saja berbeda dengan minggu depan. Boleh jadi hari ini keadaan tidak memihakmu, tapi di lain waktu kamu justru bisa meraih keinginanmu.”
“Apa yang kau maksud adalah takdir?”
Reynal mengangguk. “Tidak ada yang tahu takdir seseorang,” imbuhnya kemudian.
Sandhi terdiam sebentar. Dia mencoba menenangkan hati dan pikiran.
“Lalu, apa yang mau kau sampaikan padaku, Rey?”
“Lelaki yang disukai Intan, dia adalah sahabat baikku. Namanya Devano. Devano Albagri.”
Ya. Reynal telah tahu semuanya. Bukan dari Devano sendiri, melainkan dari Jefri. Kemarin malam Jefri menemui Reynal dan bercerita tentang Devano dan Intan. Tentu saja Jefri melakukannya diam-diam, tanpa sepengetahuan Devano. Semua itu Jefri lakukan demi mendukung kisah cinta sahabat sekaligus rekan kerjanya. Jefri tidak mau Devano mengalah pada Sandhi.
“Lalu, apa Devano juga mencintai Intan?” tanya Sandhi, penasaran.
“Iya.”
Seketika itu juga bola mata Sandhi dilayangkan ke arah langit-langit café. Dilihatnya sembarang benda yang dijumpai di sana. Lampu hias, ornamen penghias, dan masih banyak benda bagus lainnya, tapi sama sekali tidak menarik perhatian Sandhi. Ada rasa nyelekit yang saat ini Sandhi rasakan dalam hati.
Setelahnya, Sandhi dan Reynal berpisah. Sandhi menuju rumahnya, sedangkan Reynal langsung pamit kembali ke kotanya. Sejauh ini Sandhi bisa menjaga sikap tenangnya di depan Reynal. Begitu berpisah jalan, barulah Sandhi meluapkan kekecewaannya. Bantal sandaran kursi mobilnya menjadi sasaran empuk, dipukul berulang oleh Sandhi yang tengah patah hati.
***
Malam harinya, di kota tempat Intan tinggal. Intan tampak memijit-mijit kedua legannya karena pegal. Ada Mira yang sedari tadi memperhatikan. Sudah berniat jahil, tapi urung dilakukan.
“Habis main apa sama anak-anak di sekolah, Kak?” tanya Mira.
“Lempar tangkap bola.”
“Oh. Jadi pegal-pegal karena bola?”
“Ya bukan, sih. Tadi sore habis nyuci, nguras kamar mandi, ngepel. Kakak kecapekan gara-gara kamu ngumpet!” Intan sebal, karena seharusnya hari ini giliran Mira yang bersih-bersih kamar mandi. Terpaksa Intan ambil alih karena Mira bersembunyi.
“Hihi. Maaf-maaf. Sebagai gantinya, yuk Mira buatin mie goreng.”
“Nggak perlu, Mir. Kakak mau keluar. Ada janji.”
“Oh. Mau Mira temani?”
“Tidak perlu. Kakak sendiri saja.”
__ADS_1
Mira mengangguk. Tidak lagi menawarkan hal aneh-aneh karena melihat sang kakak yang tampak serius sedari tadi. Mira tidak tahu jika pikiran Intan sedari tadi menerka-nerka orang yang akan dia temui malam ini. Seorang penggemar, seorang teman, atau justru hanya satu kejahilan.
Pukul tujuh malam. Nana’s ice cream ramai pengunjung. Kebanyakan muda-mudi yang ingin mencoba es krim varian baru. Tidak peduli siang ataupun malam, bagi mereka yang menginginkan, pastilah akan segera datang membeli es krim kesukaan.
Langkah Intan terayun pelan memasuki area nana's ice cream. Pandangan matanya diedarkan ke segala penjuru, berharap orang yang mengundangnya akan melambaikan tangan ke arahnya.
Gagal. Sama sekali tidak ada tanda-tanda orang yang berniat menghampiri Intan. Padahal, langkah Intan sudah sampai di ujung ruangan.
Balik badan, Intan sekali lagi mengedarkan pandang. Dan ... kali ini Intan menangkap sosok seseorang. Seorang lelaki, dan sangat Intan kenal. Lelaki itu duduk di salah satu meja, sendirian, dan sedang melihat ke arah Intan.
"Devano," ucap Intan lirih.
Serba salah rasanya. Jika tidak menyapa, Intan jelas salah. Mau marah pun tidak bisa Intan lakukan karena sebelum ini dia dan Devano memang tidak sedang menjalin hubungan spesial. Tidak ada jalan lain. Intan tersenyum simpul, kemudian menghampiri meja Devano.
"Hai, Dev." Intan menyapa duluan.
"Hai." Devano berdiri dari duduknya.
Canggung. Baik Intan dan Devano sama-sama bingung.
"Sendirian saja, Dev?" Intanlah yang akhirnya membuka suara setelah kecanggungan di antara mereka.
"Nggak juga. Ini lagi nungguin kamu, Tan."
"Hm? Nunggu aku?"
"Iya." Devano melebarkan senyumnya.
Jelas sekali Intan menampakkan mimik bingung, hingga kemudian Intan teringat nama si pengirim lukisan wajah.
"agoyngab96.id. Apa itu nama samaranmu?"
"Bukan, Tan. Itu ulah abangku. Dia lancang masuk kamarku dan mengambil lukisan wajahmu."
Wajah Intan mendadak tersipu karena penjelasan Devano. Ada lukisan wajah Intan di kamar Devano. Bagian penjelasan itulah yang membuat pikiran Intan jadi kemana-mana.
"Kamu ... melukis wajahku? Untuk apa?" tanya Intan ragu-ragu.
"Duduklah dulu, Tan. Aku akan membuat pengakuan."
"Pengakuan ... apa?"
Devano memulainya dengan senyuman. Dalam hatinya begitu tenang. Setelahnya, meluncurlah satu kalimat yang membuat Intan melebarkan pandangan.
"Intan. Aku tidak menyukaimu," ungkap Devano. "Karena ... aku tidak pantas untukmu," imbuhnya.
Bersambung ....
__ADS_1
Benarkah kalimat Devano itu? Bagaimana reaksi Intan? Penasaran? Nantikan lanjutan ceritanya! Like+Fav 💜