PANTAS

PANTAS
Bab 42 - Ada yang Membuntuti


__ADS_3

Kuliah sudah berakhir sejak sore tadi, tapi Mira belum juga pulang ke kos-kosan hingga malam menyuguhkan bintang dan rembulan. Alasan utamanya adalah menyelesaikan tugas kuliah bersama teman-teman. Alasan lain juga menyertai, tapi alasan yang satu ini gara-gara Sandhi.


Untuk pertama kalinya hari ini Sandhi mengajar di kelas Mira. Dan untuk pertama kalinya pula mereka bertemu sebagai seorang dosen dan seorang mahasiswa. Sandhi sempat terkejut meski tidak ditampakkan terang-terangan. Berbeda dengan Mira yang sudah lebih dulu menyiapkan mental, sehingga selama Sandhi mengajar tidak ada ekspresi aneh yang dia tunjukkan. Sandhi dan Mira seperti orang asing yang sebelumnya tidak saling kenal. Benar-benar sikap profesional. Yang satu terus mengajar, sedangkan yang satu lagi diam memperhatikan.


Mira sengaja tidak buru-buru pulang ke kos-kosan demi meredam pikiran dan perasaan tak nyaman. Memang, Mira sama sekali tidak merasa nyaman selama pelajaran yang diterangkan Sandhi. Ada rasa tidak enak hati sekaligus rasa bersalah yang terus-terusan mengusik pikiran dan hati. Mira ingin segera menyelesaikan urusannya, tapi dia tidak tahu cara memulainya.


"Harusnya aku bodoh amat aja sama Kak Sandhi." Mira berjalan di tepian jalan raya sambil sesekali kakinya menendang kerikil jalanan.


Kruuuk! Bunyi perut Mira. Rasa lapar mulai menyerang. Mira baru sadar bahwa dirinya memang belum makan sedari tadi siang. Tanpa pikir panjang lagi, Mira langsung mengayunkan kakinya ke salah satu penjual lalapan nasi lauk bakaran. Sebenarnya ada beberapa penjaja makanan yang berjajar, tapi Mira sengaja memilih yang antriannya tidak terlalu panjang agar segera bisa menyantap makanannya begitu sampai di kos-kosan.


"Kak Intan pasti lagi telponan sama Kak Dev." Mira teringat kakaknya.


"Pesanannya sudah jadi, Neng."


"Oh iya. Sebentar, Bu."


Mira buru-buru mengambil selembar uang sepuluh ribuan dari dompet, berniat membayar pesanannya, tapi ada orang lain yang lebih dulu menyodorkan uang pada si ibu penjual nasi lalapan lauk bakaran. Begitu Mira menoleh, ternyata yang kini berada di sampingnya adalah Sandhi. Cepat-cepat Mira memperbaiki sikap kemudian menunduk sopan sebagai rasa hormat.


"Selamat malam, Pak."


"Tidak perlu seformal itu. Cepat ambil pesananmu."


"Pak ..."


"Jika di luar kelas panggil saja Kak Sandhi, seperti sebelumnya. Ayo kuantar pulang!"


Malam yang sungguh mengejutkan. Makanan pesanan Mira sudah dibayarkan, sekarang juga akan diantar pulang. Dan sosok yang ada di balik itu semua tidak lain adalah si dosen tampan yang sempat mengganggu pikiran.


"Nggak perlu, Kak. Mira bisa pulang sendiri naik ojek."


Sandhi tidak menyahuti. Dia terus saja berjalan menuju mobil bercat putih yang terparkir tidak jauh dari tempat Mira memesan makanan.


"Nggak papa Mira. Justru ini kesempatanmu untuk meluruskan semua. Biar rasa nyamanmu kembali seperti sedia kala." Sisi lain dari hati Mira berkata demikian. Jadilah Mira tak lagi membuat penolakan untuk diantar pulang.


Baru dua menit di dalam mobil, Mira sudah merasa kedinginan gara-gara AC. Sandhi yang peka langsung mengecilkan AC mobilnya tanpa banyak basa-basi dulu dengan Mira. Sikap Sandhi benar-benar cool. Pantas saja sosoknya begitu diidolakan di kalangan mahasiswa.


"Ada yang mau disampaikan?" tanya Sandhi membuka obrolan.


"Iya, ada." Mira blak-blakan. Tidak lagi sungkan karena merasa telah mendapat kesempatan. "Maafkan Mira, ya Kak."


"Maaf untuk apa?"


"Untuk dukungan Mira yang tiba-tiba saja berubah. Mira hanya ingin melihat Kak Intan bahagia."


Senyum Sandhi mengembang. Mimik wajahnya terlihat jauh lebih ramah.


"Sejujurnya aku pun ingin melihat Intan bahagia. Jadi, kuputuskan untuk merelakan kakakmu bersama Devano."


Ucapan Sandhi terdengar ringan, padahal dalam hatinya bergejolak melawan sisa-sisa rasa kecewa karena teringat storie wa Mira yang mengabarkan lamaran Intan dan Devano.


"Kak Sandhi nggak marah?"


"Tidak sama sekali." Senyum Sandhi mengembang demi bisa melihat Mira tenang.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Mira sempat takut, Kak. Apalagi saat tahu Kak Sandhi jadi dosen Mira."


"Selanjutnya santai saja, ya. Aku dan kakakmu sudah jadi teman baik. Juga, aku sudah berjanji pada Intan akan menjagamu di sini."


Deg!


Mira spontan menoleh karena kalimat Sandhi yang terakhir. Dia tidak tahu menahu tentang penjagaan yang dimaksudkan Sandhi. Intan, kakaknya itu sama sekali tidak membahas apalagi mengungkit-ungkit nama Sandhi.


"Ouh, jadi Kak Sandhi sudah berbaikan sama Kak Intan. Baguslah." Pada akhirnya kalimat itulah yang Mira pilih, bukan lagi mempertanyakan penjagaan Sandhi. Tapi, setelah ini Mira akan menelpon Intan untuk meminta penjelasan lebih.


"Gang nomor dua yang ada gerobak gorengannya, Kak. Aku berhenti di sana saja."


"Kuantar sampai depan kos-kosan saja."


"Jangan!"


Mira panik. Dia sama sekali tidak ingin diantar Sandhi sampai depan kos-kosannya, karena teman-teman Mira pastilah akan berpikiran macam-macam tentangnya. Apalagi Sandhi merupakan dosen idola. Sebisa mungkin dirinya harus menjaga jarak demi mencegah gosip-gosip di antara para mahasiswa.


"Kenapa, Mir?"


"Nggak papa. Mira maunya turun depan gang saja." Mira masih tampak panik. "Stop-stop! Berhenti di sini, Kak."


Sandhi menurut. Mobilnya ditepikan perlahan di dekat gerobak penjual gorengan.


"Terima kasih, Kak." Mira cepat-cepat turun dari mobil Sandhi. Langkahnya terayun cepat sekali karena khawatir ada teman yang melihatnya.


"Mirip Intan." Batin Sandhi, kemudian mengembangkan senyuman hingga sosok Mira menghilang di ujung gang.


"Apa sih maunya?"


Sandhi mulai kewalahan menghadapi laju mobil yang membuntutinya. Hingga tak lama kemudian, Sandhi melihat ada mobil polisi patroli yang terparkir. Cepat-cepat Sandhi menghentikan mobilnya tak jauh dari sana. Dan saat itulah mobil yang membuntuti Sandhi berputar arah, tak lagi membuntuti.


Detik berikutnya, ada satu pesan masuk dari Fani. Sungguh pesan yang memancing rasa khawatir berlebih.


Abaikan saja jika ada yang membuntuti. Mereka anak buah Kak Farel. Tenang saja. Mereka tidak akan berani macam-macam. Begitulah bunyi pesan Fani.


"Seberapa hebat kuasa kakaknya Fani sampai dia berani berbuat seperti ini?" Sandhi bertanya-tanya.


Tanpa pikir panjang lagi, Sandhi melajukan mobilnya menuju kontrakan Fani. Sandhi benar-benar butuh penjelasan lebih.


"Ceritakan padaku semuanya tentang kakakmu!" pinta Sandhi begitu sampai di kontrakan Fani.


"Masuklah dulu. Aku juga baru tiba di kontrakan."


Yang Fani katakan benar. Dia baru saja tiba di kontrakan setelah mengambil waktu lembur demi pekerjaan. Tas masih dipakai, sepatu hak tinggi masih menghiasi kaki, dan riasan wajah masih kentara di wajah Fani. Begitu Fani melepas outer panjangnya, tampaklah pakaian sexy yang sedikit memperlihatkan bagian paha.


"Mulai besok ganti pakaianmu dengan yang lebih sopan." Sandhi memberi saran sambil memalingkan pandangan. Dia tidak ingin mencuri kesempatan.


"Memangnya kenapa? Aku biasa dengan pakaian seperti ini. Bos Ezza juga tidak masalah dengan pakaianku."


Fani memang lama tinggal di ibukota. Tren fashion sempat dia ikuti, juga tidak masalah baginya jika memakai pakaian sexy. Akan tetapi, dia akan lebih sering memakai kaos lengan panjang dipadu celana jeans jika di luar urusan pekerjaan. Kaos itu pula yang menjadi pilihan Fani untuk dihadiahkan pada Intan sebagai rasa cinta dari seorang penggemar. Begitulah sosok Fani.


"Aku tidak suka melihatnya. Akan kubelikan baju yang lebih pantas untukmu. Aku sendiri yang akan bilang pada Ezza jika dia tidak mengizinkan."

__ADS_1


"Terserah kamu saja, deh."


Fani tidak mau ambil pusing. Outer panjang yang tadi sempat dilepas segera dipakai lagi begitu sadar akan Sandhi yang merasa tidak nyaman.


"Tadi ada yang membuntutimu, nggak?" Fani memulai topiknya.


"Iya. Ada mobil aneh yang membuntuti."


"Huft. Kak Farel benar-benar keterlaluan. Ternyata benar, dia tidak hanya memata-mataiku saja."


Fani tampak kesal. Benar-benar kesal dengan ulah sang kakak. Ditambah pula, kakaknya itu sudah berhasil mendapat nomor telepon baru Fani. Sempat pula Fani disuruh pulang, tapi Fani tidak mau menuruti.


"Apa yang diinginkan kakakmu?"


"Kepulanganku. Tapi aku tidak mau, San. Kakakku memang punya kuasa dan banyak harta, tapi aku kurang suka. Kalau aku dijodohkan lagi bagaimana?" Fani mulai panik karena pemikirannya sendiri.


"Aku antar menemui kakakmu dan bicara baik-baik dengannya," ide Sandhi


"Jangan! Bisa-bisa aku langsung disuruh nikah sama kamu. Memangnya kamu mau kalau kejadiannya seperti itu?"


Sandhi terdiam. Tentu saja Sandhi tidak mau hal itu terjadi. Baginya, pernikahan harus dilandasi dengan rasa cinta meski hanya setitik saja. Keterpaksaan hanya akan membuat rasa sakit yang tertunda.


"Tuh kan langsung diam. Pasti kamu nggak mau menikah denganku. Seleramu kan Intan, bukan aku." Fani membahas fakta yang telah terjadi dan itu berhasil menohok hati Sandhi.


Di tengah kebekuan, ponsel Fani bergetar. Satu pesan masuk, dan pesan itu berisi sebuah screenshot tampilan. Cover novel berjudul Takdirku Bersamamu karya Intania Zhesky seketika itu membuat Fani berpikiran macam-macam. Ditambah dengan sedikit pesan, semakin kuatlah dugaan Fani bahwa Intan akan terlibat dalam urusannya.


"Gawat. Sepertinya kakakku akan memanfaatkan Intan demi membuatku pulang."


"Jangan sampai itu terjadi. Besok, akan kuantar kau menemui kakakmu."


"Tapi, San ...."


"Tidak ada tapi-tapian. Tidak boleh terjadi sesuatu pada Intan." Sandhi berdiri. "Aku permisi. Kujemput pukul tujuh pagi." Setelah berkata demikian, Sandhi pulang.


Sementara itu, kepanikan mulai terjadi. Mira merasa ada yang aneh karena teleponnya tidak kunjung diterima Intan. Sedangkan di rumah Intan, ayah ibunya juga mulai mencari Intan yang tidak kunjung pulang. Ponselnya juga tidak dapat dihubungi.


"Halo, Nak Dev. Tahu Intan di mana nggak?" sang ibu memutuskan untuk menelpon Devano.


"Maaf, Bu. Dari tadi Dev juga tidak bisa menghubungi Intan."


"Aduh, anak itu ke mana, sih? Sudah malam sekali." Nada bicara sang ibu terdengar khawatir sekali.


"Ibu yang tenang, ya. Biar Dev bantu mencari Intan."


Devano Albagri, mendadak saja ada satu firasat tidak enak yang dia rasakan saat ini.


"Semoga kamu baik-baik saja, Tan."


Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Farel ada di balik semua ini? Nantikan lanjutan ceritanya!


Bersambung ....


Yok komen yok 😉 Suka nggak sih? 💜

__ADS_1


__ADS_2