PANTAS

PANTAS
Bab 53 - Malam Sebelum Berpisah


__ADS_3

Semoga suka dengan kisah Intan-Devano-Sandhi. Mohon maaf kemarin tidak UP. Terima kasih author ucapkan atas hadiah, vote, like, dan komentar yang telah diberikan. Salam Purple Luv đź’ś Sehat-sehat selalu buat pembaca sekalian đź’ś


***


Rencana Devano untuk romantis berdua bersama Intan telah gagal. Kehadiran Reynal, Jefri, bahkan Gion sama sekali tidak diharapkan. Namun, mereka sudah ada di sana. Mana mungkin juga Devano mengusir sahabat-sahabatnya itu. Apalagi, yang mengundang adalah Intan.


“Dev, ini untukku?”


Intan menunjuk kalung perak berliontin yang sedari tadi masih berada di dalam kotak dan masih di pegang Devano.


“Ya. Ini hadiah dariku. Terimalah.”


Devano memberikan kalung perak berliontin lengkap dengan kotak cantiknya kepada Intan. Sama sekali tidak ada adegan romantis, memakaikan kalung seperti yang telah direncanakan. Semua gegara lemparan bungkus makanan, yang telah sukses membuyarkan momen romatis di puncak bianglala. Kini, yang bisa Devano lakukan hanya tersenyum manis sampai Intan menerima kalung yang dihadiahkan. Hingga akhirnya, roda bianglala kembali berputar.


Fokus Intan tak lagi tertuju pada kalung perak berliontin. Hamparan lampu-lampu perkotaan terlihat jelas dan tampak menawan, membuat Intan terhipnotis, dan tanpa sadar bibirnya mengembangkan senyuman. Sungguh indah pemandangan kota kala dilihat dari bianglala.


“Kamu suka?” tanya Devano tiba-tiba.


“Iya. Pemandangannya bagus sekali.”


“Bukan itu maksudku.”


Intan langsung menoleh.


“Oh. Maksudmu kalung ini, ya? Aku suka sekali. Terima kasih, ya Dev.”


Devano semakin melebarkan senyumnya. Sedikit berani juga dengan mendekatkan wajahnya ke arah Intan, hingga bulu mata lentik Intan tampak jelas di mata Devano.


“Maksudku, apa kamu suka naik bianglala bersamaku,” ucap Devano setengah berbisik.


Nada bicara Devano dari jarak sedekat itu sungguh membuat deg-degan. Intan sampai kehilangan kata-kata untuk memberi balasan. Hingga kemudian, lagi-lagi ada yang melempar Devano dengan bungkus makanan yang diremat membentuk bola. Rematan bungkus makanan itu tepat mengenai wajahnya. Devano sampai memejamkan mata, kemudian kembali ke posisinya. Kali ini tidak perlu mengedarkan pandangan ke sana-sini, karena Devano sudah bisa menebak si biang keladi.


“Je-fri,” desis Devano sambil menyuguhkan senyuman penuh arti.


“Hai, Dev. Jaga jarak! Kau dalam pengawasan!” seru Jefri, blak-blakan.


Intan yang mendengar itu sampai tertawa tertahan. Tidak menyangka saja bahwa Jefri akan berkata demikian.


Akhirnya, roda bianglala selesai berputar. Intan dan Devano turun, begitu juga dengan Jefri, Reynal, dan Gion. Benar-benar tidak ada kesempatan bagi Devano untuk membuat momen, karena saat itu Gion langsung berlarian kecil dan menghambur ke pelukan Intan.


“Kakak cantik, ayo main tembak-tembakan!” ajak Gion dengan semangatnya.


“Let’s go!” Intan menggandeng tangan Gion, kemudian menuju tempat permainan yang dimaksud.


Kehadiran Devano seolah terlupakan. Intan begitu saja meninggalkan Devano bersama Jefri dan Reynal.


“Kalian kenapa ke sini juga, sih?” Devano berani protes karena tidak ada Intan di sana.


“Hei, Bro. Seharusnya kau berterima kasih pada kami. Dengan begitu, kami bisa menghalau bujuk rayu setan yang menggodamu. Untung tadi ada aku. Kalau tidak, pasti kau sudah main sosor kayak bebek.” Jefri menjitak kepala Devano dengan jitakan ringan.


Reynal langsung menengahi mereka. Dia berdiri tepat di antara Devano dan Jefri. Tawa kecil pun menyertai demi merenyahkan suasana di antara Devano dan Jefri.


“Kau mau membuat momen, ya Dev?” tebak Reynal.


“Ya … begitulah, Rey.”


Jefri langsung teringat satu hal tentang Devano. Saat itu juga Jefri menyesal telah membuat rusuh, bahkan telah menggagalkan momen romantis Devano dan Intan.


“Hehe. Sorry, ya Bro. Aku lupa."


“Mungkin, inilah cara semesta menjaga cinta kami. Tidak seharusnya aku mencuri kesempatan seperti tadi,” jawab Devano sambil memperhatikan Intan dari jauh.


“Kalau begitu ke sanalah. Main sama Gion juga. Dengan begitu Intan tidak akan canggung dengan sikapmu,” saran Reynal.


“Kau ini si pembaca pikiran ya, Rey?” Devano geleng-geleng kepala karena apa yang Reynal sarankan juga terbersit dalam benaknya.


“Pakai basa-basi segala. Sudah sana, Dev!” Jefri mendorong Devano.


Dan, Devano pun memanfaatkan kesempatan itu. Ini adalah malam untuk membuat momen bersama Intan sebelum dirinya melaksanakan tugas tambahan yang diminta Pak Bos Besar. Akan ada batasan waktu temu setelah ini. Sebelum itu terjadi, Devano Albagri akan membuat kenangan manis bersama Intania Zhesky.


“Geser ke kanan sedikit, Kak.” Gion mengarahkan Intan yang bersiap melempar bola ke arah botol mainan yang berputar.

__ADS_1


“Begini?” Intan bergeser sedikit ke arah kanan.


“Sudah pas, Tan. Fokuuuus, dan … lempar sekarang!”


Hap! Intan melempar bola sesuai arahan Devano. Benar-benar arahan yang tepat. Target terbidik dalam satu kali lemparan, dan hadiah pun berhasil Intan dapatkan.


“Kau hebat, Tan.”


“Terima kasih, Dev. Tapi hadiahnya buat Gion, ya.”


Devano mengangguk. Dia mempersilakan Intan untuk memberikan hadiah hasil permainan. Hadiah yang didapat adalah balon karakter berukuran besar. Meski bukan hadiah mobil-mobilan seperti yang diharapkan, tapi Gion tetap senang dan menerima hadiah pemberian Intan.


“Kakak cantik sama Kak Dev memang baik,” puji Gion.


“Kak Dev akan menikah dengan kakak cantik, lho.” Devano benar-benar mengambil kesempatan.


“Wah. Keren. Apa Gion juga diundang makan-makan?” tanya Gion dengan polosnya.


“Tentu saja. Gion boleh makan sepuasnya di pesta pernikahan kakak cantik. Tapi ….”


“Gion mengerti. Kakak cantik selamat bersenang-seneng sama Kak Dev. Aku mau ke Kak Reynal dulu!”


Padahal Devano belum belum melanjutkan kata-katanya, Gion sudah mengerti saja. Intan sampai terkejut melihat itu semua.


“Deeeev, itu tadi terdengar seperti sogokan!” tegur Intan, dia gemas.


“Hehe. Aku tidak bermaksud seperti itu, Tan. Tapi, baguslah.”


“Bagus apanya?” Intan bersedekap tangan, masih gemas dengan sikap Devano.


Devano tidak membalas dengan kata, melainkan dengan sikap yang tiba-tiba. Ya, tiba-tiba saja tangan kiri Intan digenggam, kemudian diajak menuju bangku panjang yang tidak jauh dari bianglala yang tadi mereka naiki bersama.


Tangan Intan dilepas saat sudah sampai di bangku panjang. Devano meminta Intan duduk, sementara dirinya pamit pergi sebentar. Devano membeli es krim batang rasa vanilla. Tak butuh waktu lama, dia pun kembali dengan sikap heboh, meminta Intan agar segera memakan es krim bagiannya.


“Ayo-ayo-ayo. Kita makan es krimnya sebelum mencair,” pinta Devano.


“Malam dingin begini beli es krim?” tanya Intan, yang sebenarnya tidak keberatan.


“Kamu tidak suka makan es krim malam-malam, ya?”


“Hihi. Iya juga, sih. Karena rencana Bang Yoga, malam itu kita jadi makan es krim di sana.”


“Berarti, aku harus berterima kasih pada abangmu, Dev.” Tiba-tiba saja Intan berkata demikian.


Devano berpikir sejenak, kemudian bertanya karena kurang paham dengan perkataan Intan.


“Terima kasih untuk apa?”


“Untuk usaha abangmu. Karena dia, kita bisa bersama.”


Senyum Devano mengembang. Sejenak, dia menatap bola mata Intan.


“No-no-no! Kita bisa bersama, karena kita berjodoh. Semoga niat baik kita dipermudah sampai hari pernikahan kita, ya."


Perkataan Devano terdengar tulus. Apalagi disertai tatapan mata yang menyiratkan rasa cinta yang begitu nyata. Akan tetapi, yang diucapkan Devano setelahnya sungguh tidak terduga.


“Tan, aku mau bilang sesuatu.”


“Apa itu?”


“Kalau kita harus berpisah sebentar saja, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Devano.


“Berpisah sebentar saja? Maksudnya?”


Perkataan Devano sama sekali tidak Intan pahami. Yang Intan tahu, berpisah itu adalah terpisah jarak dan tidak bisa saling bertemu.


“Begini. Sebelumnya, maaf aku belum memberitahumu. Tapi, ayah ibumu sudah kuberi tahu lebih dulu tadi. Mereka oke-oke saja. Karena waktunya juga tidak lama.”


Intan semakin tidak paham arah pembicaraan Devano. Kenapa bisa ayah ibunya bisa tahu lebih dulu sementara tidak dengan dirinya?


“Dev, aku benar-benar tidak paham apa yang kamu bicarakan.”

__ADS_1


“Tan, aku harus keluar kota untuk waktu satu bulan.”


Senyum Intan langsung memudar. Mimik wajahnya pun berganti tegang. Intan terkejut, karena tiba-tiba saja Devano berkata demikian.


Demi mengusir rasa penasaran dalam diri Intan, Devano pun bercerita. Sebenarnya, hari ini dia mendapat tawaran dari Pak Bos Besar untuk membantu Benny. Benar-benar tawaran, bukan desakan apalagi ancaman. Pak Bos Besar juga menawarkan tambahan gaji yang lumayan.


Awalnya Devano tidak langsung mengiyakan. Dia benar-benar bergelut dengan pikiran, termasuk memikirkan lanjutan hubungannya dengan Intan. Namun, Devano juga tidak ingin mengecewakan Pak Bos Besar. Memang, sebelum ini Devano tidak ingin dipindahtugaskan dengan beberapa alasan termasuk karena jangka waktu yang lama. Namun, saat Pak Bos Besar hanya meminta satu bulan, Devano jadi berubah pikiran. Ditambah lagi, Pak Bos Besar sangat mengharapkan bantuan Devano demi membantu perkembangan kantor cabang.


Tadi sore saat orangtuanya datang melamar Intan, Devano sempat mengabarkan pada ayah ibu Intan. Devano juga izin pada mereka, meminta waktu khusus bersama Intan demi bisa menjelaskan. Sengaja tidak Devano jelaskan saat di momen lamaran, karena Devano khawatir Intan akan bereaksi di luar dugaan. Dengan alasan itu pula akhirnya Devano merencanakan momen manis di bianglala pasar malam.


“Satu bulan?” tanya Intan.


“Iya. Satu bulan saja. Itulah salah satu alasan orantuaku segera datang melamarmu. Mereka, termasuk aku, sama sekali tidak ingin berlama-lama. Paling tidak, di antara kita sudah ada ikatan. Jadi …” Devano menjeda kalimatnya. Dia menatap Intan dengan penuh ketulusan. “Maukah kamu menungguku, Tan?”


Sejujurnya, Intan kaget mendengarnya. Namun, Intan menggarisbawahi waktu satu bulan yang Devano katakan. Bukan waktu yang lama, meski nantinya tetap akan tercipta rindu di antara mereka.


“Pernikahan kita masih satu setengah bulan lagi. Sementara kamu di luar kota hanya satu bulan. Baiklah, Dev. Silakan.” Senyum Intan mengembang demi menyemangati Devano.


“Kamu sungguh tidak apa-apa dengan itu?” Devano memastikan.


“Em, gimana ya? Sebenarnya sih apa-apa. Tapi, aku percaya padamu, Dev. Kamu itu rumah. Dan aku yakin, kehadiranmu bukan hanya untuk singgah.”


Kalimat Intan membuat Devano tersentuh. Devano sadar, Intan memang seorang penulis novel terkenal. Namun, kalimat yang baru saja dia dengar, rasanya sungguh berbeda dari sekedar kata-kata bualan. Sorot mata Intan buktinya. Devano menangkap ketulusan di sana.


“Boleh aku pakaikan kalungnya?”


Anggukan kecil meluncur. Segera saja Intan mengeluarkan kotak kecil berisi kalung perak berliontin dari ransel mini yang dia bawa. Dan, akhirnya .... Rencana Devano terlaksana. Dia berkesempatan memakaikan kalung yang dia hadiahkan untuk Intan. Bianglala pasar malam saksinya.


“Jaga hati untukku, ya?” pinta Devano.


“Kamu juga. Jangan mudah tergoda oleh wanita di luar sana. Ingat, satu setengah bulan lagi kita menikah.” Intan menegaskan, kemudian melanjutkan kata-katanya. “Dev, senyum dong! Aku tidak sedang mengancammu.”


Devano langsung tersenyum setelah sebelumnya sempat mematung karena terjerat pesona Intan. Setiap kata yang baru saja Intan katakan, terdengar merdu di telinganya. Di tambah senyum yang tersuguh di wajah Intan, semua itu menambah kuat bujuk rayu setan. Untung saja Devano masih tahu batasan.


“Aku akan sering-sering memberi kabar. Tapi, kalau kamu mau mengunjungiku juga dipersilakan.”


“Tunggu-tunggu. Luar kota yang kamu maksud itu luar kota mana?” Intan sampai lupa tadi tidak bertanya.


“Di kota yang sama dengan tempat adikmu kuliah,” terang Devano.


Intan senang mendengarnya, karena kota yang dimaksud Devano tidaklah terlalu jauh. Bisa saja sesekali Intan berkunjung ke sana, tentu dengan dalih sekalian mengunjungi Mira. Begitulah yang sempat terbersit di pikiran Intan.


“Baguslah kalau begitu. Itu tidak terlalu jauh. Eh, kalau ketemu Sandhi sama Fani, titip salam buat mereka, ya?” Tiba-tiba saja Intan teringat.


Untuk yang satu itu, Devano langsung menggeleng tegas. Dia tidak mau menyampaikan salam dari Intan, khususnya jika suatu hari nanti bertemu Sandhi.


“Aku sih tidak berharap bertemu rivalku lagi," tegas Devano.


“Dev, jangan begitu, dong.” Intan gemas dengan sikap Devano.


“Benar. Jangan gitu, Dev!” Yang ini suara Jefri, dia berjalan mendekat ke arah bangku panjang yang digunakan Devano dan Intan.


Reynal juga menghampiri sambil menggendong Gion. Bedanya, Reynal tidak sempat mendengar obrolan Devano dan Intan. Tidak seperti Jefri yang hobinya memang mencuri dengar.


“Kalian kok datang lagi, sih?” Devano protes terang-terangan kali ini.


“Intan harus segera pulang, Bro. Kalau nggak, nanti bisa mual gara-gara dimanisin melulu sama kata-katamu yang nggak bermutu itu. Iya kan, Tan?” Jefri mencari dukungan Intan.


“Hehe. Baiklah. Sebaiknya kita pulang saja. Kasihan Gion juga kalau lama-lama kena angin.” Intan langsung beranjak dari bangku panjang dan menghampiri Gion yang tengah digendong Reynal.


Mau bagaimana lagi, Devano tidak punya alasan lagi untuk berlama-lama di pasar malam. Yang penting, pesan penting untuk Intan sudah tersampaikan. Dengan begitu, dia bisa membantu Benny di kantor cabang dengan tenang. Kemudian, begitu kembali, dia akan segera bersanding di pelaminan bersama Intan.


“Oke. Ayo kita pulang!” Jeda sebentar, kemudian Devano berseru kencang. “Sampai jumpa lagi bianglala pasar malam! Akan kujaga hatiku untuk Intan!”


“Deeeev,” desis Intan. Cepat-cepat dia menghampiri Devano, dan menutup mulutnya sebelum keluar kata-kata lainnya.


“Hei, kalian. Jangan romantis-romantisan melulu. Bikin iri saja. Cepetan pulang!” tegur Jefri.


Tidak lagi berlama-lama, Intan dan Devano pun pulang. Termasuk juga Reynal, Gion, dan Jefri. Benar-benar malam yang berkesan, khususnya bagi Devano dan Intan.


Sementara itu …. Di kota lain, tempat Sandhi berada. Dia saat ini sedang galau memikirkan tantangan 31 hari. Namun, bukan Fani yang mengganggu pikiran Sandhi saat ini, melainkan Mira. Gara-gara Sandhi memeluk Mira, efeknya justru di luar yang dia kira.

__ADS_1


Bersambung ....


Devano akan satu kota dengan Sandhi selama satu bulan, akankah semua baik-baik saja? Juga, apakah hubungan Sandhi, Fani, dan Mira akan menjadi cinta segitiga? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan lanjutan ceritanya! Salam Luv đź’ś


__ADS_2