
Sesampainya di kontrakan, Devano tidak banyak pikir lagi dan langsung menggendong tubuh Intan hingga sampai di ruang tamu kontrakan. Devano membaringkan Intan di sofa panjang, kemudian bergegas mengambil handuk kecil dan air. Perhatian Devano sepenuhnya ditujukan pada Intan yang saat ini kondisinya setengah sadar.
"Maaf," ucap Intan dengan nada lemah. Intan merasa dirinya sangat merepotkan.
'"Ssut. Jangan minta maaf, Tan. Berbaring saja. Biar aku kompres, ya." Devano mulai menunjukkan kasih, begitu tulus, dan seringkali dia ucapkan kata permisi demi menghormati Intan.
Devano memperhatikan ketika Intan berulang kali memijit pelan kepalanya. Saat Devano bertanya, Intan mengeluhkan kepalanya yang terasa berat. Saat itu juga, Devano langsung pergi ke apotek terdekat untuk membeli obat sakit kepala karena flu. Devano juga membelikan Intan vitamin, air mineral, juga beberapa roti untuk dimakan.
Tidak sampai lima belas menit, Devano sudah kembali lagi ke kontrakan. Buru-buru dia mengecek suhu tubuh Intan, dan ternyata masih demam. Bergerak cepat lagi, Devano menuju dapur untuk membuatkan Intan teh hangat. Jika masalahnya adalah karena flu, maka setelah minum obat Intan harus segera beristirahat.
"Permisi, Tan. Ayo diminum dulu obatnya."
Intan mengangguk pelan, kemudian berusaha untuk duduk tapi tidak bisa. Lagi-lagi Devano membantu sampai obatnya benar-benar sudah diminum oleh Intan.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu."
"Maaf, Dev."
"Ssut. Sudah. Jangan memikirkan apa-apa. Tidurlah."
Intan kembali berbaring di sofa panjang. Kedua matanya terpejam. Dengan cekatan, Devano kembali meletakkan kompres dan menyelimuti Intan. Gelas teh hangat dirapikan, beserta obat-obat dan kue yang tadi Devano belikan untuk Intan.
Tidak tinggal diam, Devano langsung menghubungi Mira via pesan singkat. Devano menjelaskan kondisi Intan, tapi tidak dilebih-lebihkan. Tidak lupa juga Devano menyuruh adik Intan itu untuk tidak khawatir dan melanjutkan kegiatan demi kepentingan kuliahnya. Tentu saja Mira tidak mudah mengiyakan, tapi Devano sudah belajar banyak dari Intan untuk bisa membuat Mira yakin sehingga tidak terlalu kepikiran. Jadilah, Mira melanjutkan kegiatannya, dan berjanji akan menemui kakaknya jika sudah menyelesaikan semua urusannya.
Lanjut lagi, kali ini Devano menghubungi Benny, tapi tidak melalui pesan singkat, melainkan lewat telepon dan langsung diangkat. Devano menjelaskan secara singkat tentang apa yang terjadi, juga tentang kondisi Intan saat ini.
"Wow, Dev. Rupanya kau berani berduaan dengan Intan di kontrakan." Via telepon, filter kata Benny juga rusak. Suka sekali asal ceplas-ceplos saat berbicara.
"Cobalah sesekali jernihkan pikiranmu, Ben."
"Hahaha. Oke-oke. Aku paham kondisinya. Em, begini saja. Kamu temani Intan, dan shift malam ini biar aku gantikan. Tapi lain kali gantian ya?"
"Serius, Ben?"
"Ck. Apa kau meragukan sisi baikku, Dev? Meskipun aku mesum, tapi aku punya rasa peduli yang kuat untuk urusan kemanusiaan."
__ADS_1
Devano geleng-geleng kepala dengan pengakuan Benny via telepon. Coba saja Benny mengakui kebiasaan buruknya itu di hadapan Fani, ya ... tidak akan mungkin, sih. Bisa-bisa Fani ilfeel dan menjauhi Benny.
Ngomong-ngomong soal Fani, Devano jadi teringat dengan janji temu yang sudah dibuat Intan. Cepat-cepat Devano berterima kasih pada Benny, mengakhiri teleponnya, kemudian berniat menghubungi Fani. Tapi, Devano tidak punya nomor telepon Fani. Yang dia miliki hanya nomor ponsel Sandhi. Tidak mungkin juga Devano menghubungi Sandhi, apalagi setelah kejadian tidak mengenakkan di rumah makan tadi malam.
Ponsel Intan langsung menarik perhatian. Di dalam kontak ponsel Intan pasti ada nomor Fani. Sayangnya, layar ponsel Intan terkunci. Devano tidak tega membangunkan Intan hanya untuk menanyakan nomor ponsel Fani. Dengan sedikit nekat, akhirnya Devano mencoba keberuntungannya. Dia menekan beberapa angka, tapi ... salah. Ternyata sandinya bukan tanggal lahir Intan. Devano juga iseng menekan beberapa angka berdasar tanggal lahirnya, maksudnya tanggal lahir Devano, ternyata juga salah.
Tinggal satu kesempatan lagi. Devano berpikir sejenak, dan dalam pikirannya langsung terbersit tanggal jadian. Rasa-rasanya begitu kuat hati Devano merasakan keyakinan. Setelah beberapa kali menimbang, akhirnya Devano mencobanya juga. Ajaib, ternyata benar. Langsung saja Devano bersorak tertahan.
"Kayak gini nih yang bikin makin sayang sama Intan," celetuk Devano dengan nada pelan. Bola matanya sempat terarah kepada Intan sebentar, kemudian fokus lagi pada niatan awal.
Ponsel Intan sudah dipenuhi beberapa pesan, tapi yang teratas adalah pesan dari Fani. Segera saja Devano membalas pesan itu, berterus terang juga bahwa Intan mendadak sakit dan tidak bisa memenuhi janji untuk bertemu di salah satu rumah makan yang sudah menjadi kesepakatan.
"Beres." Devano meletakkan ponsel Intan. "Kamu bisa istirahat sampai kondisimu membaik," ucap Devano kemudian.
Perhatian Devano tidak bisa terlepas dari Intan. Ada perasaan khawatir sekaligus kasihan. Devano juga menduga bahwa Intan kecapekan, apalagi sebelum ini pikirannya tidak karuan. Memikirkan sang adik, juga ditambah fakta mengejutkan yang diungkap Sandhi kemarin malam saat di rumah makan. Intan juga kepikiran Fani setelahnya.
"Wanita tangguh sepertimu, ternyata juga bisa flu." Celetuk Devano sambil mengembangkan senyuman. Dia berjalan mendekati Intan, menatap wajahnya yang pucat.
"Setelah kita menikah nanti, aku bisa leluasa mencurahkan perasaan. Sekarang, hanya perhatian kecil seperti ini yang bisa aku lakukan." Batin Devano tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Intan.
"Intan bisa izin sakit, dan aku bisa mengantarnya pulang pakai mobil Pak Bos Besar. Tinggal izin dan kesepakatan sama Benny saja, sih. Tapi iya kalau Intan mau, kalau nggak gimana ya?" Devano bertanya-tanya dalam hati. Dia teringat dengan sifat Intan yang sangat tidak nyaman jika merepotkan orang lain.
"Ah, pikir nanti saja, deh. Biar Intan istirahat dulu," ucap Devano kemudian.
Dan, tiba-tiba saja ponsel Intan bergetar. Devano yang sudah tahu kode sandinya langsung membaca pesan itu yang ternyata dari Fani. Di luar dugaan, Fani ternyata sedang dalam perjalanan menuju kontrakan menggunakan jasa ojek roda dua. Dia sendirian, tidak bersama Sandhi.
Sambil menunggu kedatangan Fani, Devano memilih untuk ke dapur membuat mie instan untuk dirinya. Sebenarnya tadi Devano belum makan, dan tidak sempat membeli makanan. Tentang kue yang tadi Devano beli, itu khusus untuk Intan. Dan, karena terlalu fokus dengan kondisi Intan, dia sampai lupa dengan dirinya yang belum sarapan.
Terdengar bunyi motor berhenti dari arah luar. Devano membiarkan saja, tidak terburu-buru pula karena sudah tahu siapa yang datang ke kontrakannya. Apalagi suara Fani begitu khas terdengar setelahnya, berseru lantang mengucap salam dan menyebut nama Intan. Dan, saat itulah Devano berlarian kecil menuju ruang tamu kontrakan. Dia sigap mencegah Fani agar tidak membangunkan Intan.
"Ssuuut. Maaf, Fan. Tapi Intan jangan dibangunkan, ya?" Pinta Devano. Dia datang tepat waktu.
"Ups. Oke-oke." Fani mengangguk paham. Dia memilih duduk di sofa sebelah Intan.
Dan, saat itulah Devano langsung memalingkan pandangan dari Fani. Dia baru sadar bahwa pakaian yang saat ini digunakan Fani terlalu berani. Agak sexy.
__ADS_1
"Duduklah dulu, temani Intan. Aku tinggal ke dapur dulu." Devano berkata tanpa melihat Fani, dan langsung mempercepat langkah menuju dapur lagi.
Apes. Devano kurang beruntung dengan aksi menggoreng telur. Karena ditinggal ke ruang tamu kontrakan, telur ceplok buatan Devano jadi gosong. Sama sekali tidak bisa dimakan, dan akhirnya Devano memecah telur lainnya untuk digoreng di wajan. Saat itulah Devano mendengar suara motor lainberhenti di depan kontrakan. Tentu saja Devano bertanya-tanya tentang siapa yang datang ke kontrakannya. Tanpa pikir panjang lagi, Devano lekas mengamankan telur dan mie instan yang sudah jadi, membawanya ke depan, lalu melihat siapa yang datang.
"Benny? Kenapa pulang sih?" Devano terkejut. Apalagi Benny menggunakan motor karyawan lain, tidak menggunakan mobil seperti biasanya.
"Kenapa, Dev? Tidak suka melihatku datang, ha? Biar kau bisa leluasa berduaan dengan Intan?" Benny ceplas-ceplos lagi, padahal posisinya masih di ambang pintu masuk kontrakan. Benny juga belum sadar kalau di ruang tamu kontrakan ada Fani.
Detik berikutnya, Benny baru sadar bahwa ada Fani di ruang tamu kontrakan. Dan, detik itu juga Benny langsung memperbaiki image, tidak asal ceplas-ceplos lagi seperti sebelumnya.
"Dev, aku cuma datang membawakanmu ini." Benny menunjukkan bungkusan berisi makanan. "Bisa kau makan nanti saja bersama Intan. Habiskan mie instanmu. Aku permisi ke dapur sebentar. Mau minum." Benny melihat ke arah Fani, tersenyum sebentar, kemudian mengayunkan langkah menuju dapur kontrakan.
"Sebentar lagi aku langsung balik, Dev. Makanannya aku letakkan di dekat kompor ya!" seru Benny yang baru setengah jalan menuju dapur.
Devano mengiyakan dengan nada pelan, karena tidak mau mengusik tidurnya Intan.
"Dev, aku izin ke kamar mandi sebentar ya?" Tiba-tiba saja Fani izin mau ke kamar mandi.
"Silakan. Ada di dekat dapur, ya." Lagi-lagi Devano berbicara tanpa melihat ke arah Fani.
Kini, Devano berusaha santai menikmati mie instan buatannya. Baru dua suapan, Devano menyempatkan diri untuk mengecek suhu tubuh Intan. Suhu tubuh Intan sudah membaik dibanding saat pertama kali Devano memeriksanya. Devano juga menyempatkan diri mengganti kompres. Setelahnya, baru Devano lanjut makan lagi dengan hati tenang.
Sampai makanan Devano habis, baik Benny maupun Fani belum juga kembali. Tapi, Devano tidak mau ambil pusing. Apalagi sampai harus mengecek ke dapur. Ditambah lagi, Devano tidak mau bertemu Fani lama-lama dengan pakaian Fani yang terbilang berani.
"Kalau Intan tahu, pasti Fani diomeli habis-habisan." Batin Devano.
Tiba-tiba saja Intan bergerak. Devano langsung menghampiri Intan, jaga-jaga jika ada sesuatu yang dibutuhkan. Tapi, ternyata Intan hanya menggeser posisi tidurnya. Matanya masih saja terpejam. Karena tidak ingin mengganggu, Devano buru-buru kembali ke kursinya. Dia akan stay di sana menemani Intan.
Sudah dua puluh lima menit berlalu sejak Benny ke dapur dan Fani pamit ke kamar mandi. Belum ada tanda-tanda mereka akan kembali.
"Sepertinya ada yang aneh," celetuk Devano. Dia mulai curiga.
Tanpa pikir panjang lagi, Devano mengayunkan langkah menuju dapur. Tapi tidak ada Benny di sana. Di kamar mandi juga tidak ada Fani. Selanjutnya, Devano mendengar ada suara dari arah kamar Benny. Suara benda jatuh, dan suara itu langsung menarik perhatian Devano untuk mendekati pintu kamar Benny.
Bersambung ....
__ADS_1
Hayyo, kira-kira apa yang terjadi?