
Masih belum terlalu malam, tapi Intan memutuskan untuk langsung pulang. Tidak mampir-mampir lagi ke tempat lain usai meninggalkan parkiran nana’s ice cream. Laptop di meja kamarnya sudah membayang, akan menjadi teman semalaman demi melanjutkan bab-bab novel yang harus segera dia lanjutkan. Mumpung suasana hati sedang mendukung. Pastilah akan sangat mudah menorehkan kata-kata bermakna yang bisa memikat hati pembaca.
“Bab 36, romantis berdua.”
Intan berhasil membuat judul untuk bab yang sedang digarap. Padahal, posisi Intan saat ini masih berada di halaman depan rumahnya. Atribut berkendara bahkan masih melekat di tubuhnya. Mesin motor belum dimatikan, dan lampu depan motor masih menyala terang, hingga nyalanya menarik perhatian Mira untuk keluar rumah.
Melihat Mira membuka pintu rumah, Intan bergegas mematikan mesin motor. Garasi mini menjadi tujuan selanjutnya. Intan menuntun motornya, lantas memarkir motor di sana.
Sedari Intan mematikan mesin motor hingga selesai memarkir, Mira terus membuntuti Intan. Tidak hanya itu saja, tatapan Mira pun penuh selidik. Sama sekali tidak mengalihkan fokusnya dari Intan yang saat itu memang terlihat sangat riang.
“Ada apa, Mir?” Intan bertanya sembari melepas helm.
“Aneh,” ucap Mira penuh selidik.
Sebagai tanggapan, Intan hanya tersenyum lebar kemudian melewati Mira begitu saja. Di luar dugaan, Mira justru terus membuntuti kakaknya.
“Mau sampai kapan kamu mengekori kakak, Mir?” tanya Intan begitu sampai di depan pintu kamarnya.
“Mengekori? Memangnya Mira anak bebek?” Mira bersedekap, tidak terima.
“Duh, jangan mulai, deh! Kakak lagi bahagia, nih. No debat untuk malam ini, ya.” Intan mencubit pelan kedua pipi Mira.
“Men-curi-gaaaa-kan!”
“Sudah-sudah. Kakak mau masuk kamar saja.”
Dengan gesit Mira mencegah Intan menutup pintu kamar. Dan, adegan kekanakan dua bersaudara pun dimulai. Kaki dimainkan. Satu kaki menahan, kaki lainnya usil menendang. Tangan pun mengambil peran nakal. Berusaha menggapai wajah, sambil sesekali mencuri celah agar pintu kamar Intan lebih terbuka.
“Miraaa! Kamu kayak anak kecil saja!” seru Intan yang masih meladeni Mira.
“Apa bedanya sama kakak, tuh. Biarkan Mira masuk, Kak.”
“Nggak boleh! Mending kamu masuk kamar, terus packing baju. Balik kos-kosan sana!”
“Nggak mau! Mira mau masuk kamar Kak Intan.”
Adegan kekanakan antara Intan dan Mira rupanya mengundang kedatangan sang ibu. Ajaib, sang ibu menjadi penengah tanpa perlu banyak mengeluarkan tenaga. Cukup satu kali deheman tegas, aksi Intan dan Mira pun berhasil diberantas.
“Ekhem!”
Intan dan Mira langsung bersikap biasa. Tidak berniat lagi melanjutkan sikap kekanakan mereka.
“Sudah malam. Lebih baik kalian istirahat,” nasihat sang ibu.
“Mira mau ke kamar Kak Intan sebentar, Bu. Ada mata kuliah yang mau Mira tanyakan.” Mira berdalih, yang seketika itu mendapat lirikan penuh arti dari Intan.
“Tan, ajari adikmu. Yang sabar jadi kakak. Dan kamu, Mira. Jadilah lebih dewasa.”
Nasihat malam yang tidak biasa dari ibu Intan dan Mira. Biasanya sang ibu akan terus mengomel, hingga Intan dan Mira jera dengan sikap mereka.
Saat itulah Mira memanfaatkan momen tidak biasa itu untuk masuk kamar kakaknya. Intan, dia menyerah. Tidak lagi mencegah sang adik masuk kamarnya.
“Kakak mau cuci muka sebentar, ya.”
“Oke. Mira tunggu sambil rebahan di sini.”
Intan mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi yang letaknya di dekat dapur. Rutinitas yang biasa dilakukan Intan setelah bepergian, sebelum nantinya akan berlama-lama di depan layar laptop dan menghalu ria dengan novel karyanya.
Sepuluh menit kemudian, ponsel Intan bergetar. Perhatian Mira langsung tertuju pada ponsel Intan. Tiba-tiba saja ada niatan untuk mengintip isi pesan, dan saat itu juga langsung Mira lakukan.
__ADS_1
“Devano?”
Mira merasa tidak mengenal nama si pengirim pesan. Cerobohnya Intan, dia tidak membuat kode rahasia untuk mengunci layar. Jadilah, Mira bisa leluasa membaca pesan dari Devano. Satu pesan yang cukup singkat, tapi penuh isyarat.
Semoga mimpi indah + (emoticon love)
“Pasti orang iseng, nih. Nggak tau apa kalau hati Kak Intan hanya untuk Kak Sandhi. Harus diblokir.”
Ceklek!
Tepat waktu. Pintu kamar Intan terbuka, tepat sebelum jari tangan Mira memblokir kontak Devano.
“Ada apa, Mir?” tanya Intan saat melihat ponselnya ada di genggaman tangan Mira.
“Kak, ada orang iseng, nih. Pasti mau modus!” tuduh Mira.
“Nomor tidak dikenal?”
“Ada namanya, Kak. Devano.”
“Apa?”
Intan gesit melangkah, lantas merebut ponselnya. Setelahnya, Intan melihat sebal ke arah Mira. Tapi, tidak lama. Dengan cepat Intan tersadar, dan langsung memperbaiki mimik wajahnya.
“Devano bukan orang asing, Mir. Dia spesial.”
“Maksud Kak Intan?”
“Dia akan datang melamar kakak. Segera. Secepatnya.” Intan melebarkan senyumnya.
Sepersekian detik, dapat terlihat jelas keterkejutan di wajah Mira. Detik berikutnya Mira justru geleng-geleng kepala. Mimik wajahnya berubah menjadi setengah tidak percaya.
“Kenapa bukan Kak Sandhi, Kak?”
“Ck. Kak Intan salah pilih! Kak Sandhi kurang apa sih, Kak? Dia dosen, tampan, mapan, baik, pengertian. Di kampus pasti punya banyak penggemar.”
Mira terus memuji Sandhi. Awalnya Intan tidak terima dengan sikap Mira. Intan sampai berniat melontarkan pembelaan dengan cara menyebutkan kelebihan lelaki pilihannya. Namun, lagi-lagi Intan langsung tersadar. Dia mencoba bersikap lebih dewasa dengan berasumsi bahwa Mira masih belum mengenal Devano, sehingga dengan mudahnya mengunggulkan Sandhi.
“Sepertinya kamu harus mengenal Devano.”
“Nggak mau! Mira lebih setuju Kak Intan sama Kak Sandhi saja.”
“Jangan egois, Mir!"
“Mira nggak egois, Kak. Mira hanya sedang berusaha supaya Kak Intan nggak buta.”
Sudah cukup Intan mendengarnya. Sang adik jelas sekali menunjukkan siapa kubu yang dibelanya. Apalagi, yang Mira kenal hanya Sandhi, bukan Devano.
“Duduklah dulu!” pinta Intan dengan penuh kesabaran.
“Nggak mau!”
“Duduk, Mir!”
Nada bicara Intan kali ini terdengar lebih tegas, hingga membuat Mira akhirnya menurut dan duduk di tepian kasur. Kembali, wajah Intan melembut, agar penjelasan yang akan dia sampaikan mampu membuat sang adik jadi berubah pandangan.
Setelahnya, Intan membuka satu per satu jari tangan kanannya, hingga kelima-limanya terbuka semua.
“Lima pertanyaan. Silakan.”
__ADS_1
Itu kode dari Intan agar Mira tidak lagi banyak membandingkan, melainkan mengajukan lima pertanyaan untuk tahu lebih banyak tentang lelaki pilihan Intan.
“Oke setuju. Pertama. Apa pekerjaannya? Kak Intan kenal di mana? Dan, bagaimana ciri-cirinya?”
“Itu terhitung tiga pertanyaan, Mir.”
“Satu.”
Intan benar-benar tidak habis pikir dengan Mira. Kalau sudah seperti ini, Intan-lah yang harus lebih banyak bersabar menghadapi sikapnya.
“Baiklah. Kakak jawab. Devano itu seorang desainer.”
“Bukan dosen?”
“Hus! Kamu ini, ya. Dengarkan kakak dulu.”
Mira mengangguk, mengerti. Fokusnya kembali, dan tidak akan menyela kata apapun lagi.
“Kita dulu pernah sekelas. Bertahun-tahun berlalu, tidak saling temu, dan beberapa waktu lalu ada takdir indah di tepian kolam ikan. Kakak bertemu lagi dengan Devano di sana. Kemudian …”
“Langsung jatuh cinta? Iya?”
Kedua tangan Intan gesit mencubit pipi Mira. Kali ini Intan benar-benar sebal dengan sikap Mira.
“Au-au! Iya, maaf. Mira dengarkan cerita Kak Intan dulu, deh.”
“Nah, memang begitu seharusnya.”
Intan memperbaiki posisi duduknya sebentar, kemudian meminta Mira untuk lebih tenang mendengarkan cerita Intan. Sengaja Intan berlama-lama, agar sang adik penasaran dengan ceritanya. Selanjutnya, Intan menggambarkan sosok Devano. Badan tinggi tegapnya, senyum manisnya, sikap tenangnya, bahkan rasa pedulinya terhadap orang-orang di sekitarnya, khususnya anak-anak di danau berair jernih.
Dari sanalah Mira menangkap ketulusan hati sang kakak untuk lelaki yang sedang diceritakan. Mira tidak melihat apalagi mendengar sesuatu yang dilebih-lebihkan. Cerita tentang Devano yang Mira dengar, benar-benar mampu mengubah pemikiran.
Pertanyaan keempat. “Kak Intan cinta sama Kak Dev?”
Intan mengangguk sambil tersenyum tulus. Ruang hatinya benar-benar telah terisi. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan.
“Hem. Sepertinya Kak Dev pantas untuk Kak Intan,” ungkap Mira kemudian.
Intan menggarisbawahi kata pantas yang Mira sematkan untuk Devano. Seketika itu senyum Intan semakin mengembang, kemudian mengulang kalimat ajaibnya yang sebelum ini juga Devano ulang saat momen mengungkap perasaan di nana's ice cream.
“Devano adalah definisi rasa nyaman yang begitu nyata. Dia pantas untukku. Benar-benar pantas untukku. Dia bahkan rela menceburkan dirinya ke kolam ikan, hanya agar aku tidak basah kuyup sendirian. Dia mengenalkanku pada sisi lain dunia, tentang berbagi, dan makna bahagia yang sebenarnya. Jadi ….”
“Iya-iya. Mira paham. Kak Dev pantas untuk Kak Intan. Baiklah. Sepertinya Mira harus merelakan Kak Sandhi.” Mira benar-benar mengubah pandangannya setelah mendengar cerita Intan. Bahkan, sebelum dia menghabiskan lima kesempatan bertanya yang diberikan.
“Eh tapi, Kak Sandhi apa sudah tahu tentang Kak Dev? Wah, gimana ya kalau Kak Sandhi sampai tahu? Bakal seru, nih!”
“Hus! Apanya yang seru?”
“Kak Sandhi sama Kak Dev. Pasti mereka berantem ... kayak anak kecil. Hihihi."
Meski terdengar seperti bercanda, tapi omongan Mira ada benarnya. Intan belum berpikiran sampai ke sana. Akan tetapi, Intan sama sekali tidak mau ambil pusing. Intan sudah memilih Devano. Andai Sandhi tidak terima, Intan tetap tidak akan mengubah pilihan hatinya.
Usai obrolan di kamar Intan, Mira menuju kamarnya. Sempat menimbang sebentar, sebelum akhirnya Mira memutuskan untuk menghubungi Sandhi. Mira tidak menelpon seperti biasanya, karena dia tidak ingin jadi kikuk karena telah mengubah dukungannya. Jadilah, Mira putuskan untuk mengirim pesan saja.
Maaf, Kak. Mira tidak bisa membantu Kak Sandhi lagi. Mira ingin melihat Kak Intan bahagia dengan pilihan hatinya. Maaf. Semoga Kak Sandhi tidak marah.
Begitulah isi pesan yang Mira kirimkan pada Sandhi. Sayang sekali, sampai bermenit-menit lamanya, pesan Mira tidak kunjung mendapat balasan dari Sandhi. Pesan Mira hanya dibaca, centang biru dua.
“Ck. Kak Sandhi nggak asik!” ketus Mira, lantas mematikan ponselnya.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tentang pertemuan Devano dan Sandhi, apa akan baik-baik saja? Nantikan lanjutan ceritanya! Like+Fav 💜
Bersambung ….