PANTAS

PANTAS
Bab 49 - Demi yang Tersayang


__ADS_3

Perjalanan pulang menuju kota asal berjalan tanpa halangan. Transportasi udara masih menjadi andalan demi mengurangi waktu tempuh perjalanan jarak jauh. Kini, rombongan Devano butuh waktu sekitar satu jam dari area bandara menuju alamat rumah. Kecepatan sedang sengaja dipilih agar Intan dan Gion bisa beristirahat dengan nyaman di sepanjang perjalanan. Bahkan, Devano sering menegur sang sopir ojek online roda empat saat kedapatan menambah kecepatan.


Devano menoleh ke kursi belakang. Tampak Intan masih terlelap sambil mendekap Gion. Yang didekap juga sama terlelapnya.


“Intan keibuan, ya?” celetuk Reynal.


“Ya. Intan begitu peduli pada anak-anak.” Senyum Devano mengembang. “Itulah alasanku mendukungnya untuk membantu Gion,” imbuh Devano.


“O, jadi itu alasanmu. Bukan karena cinta?”


Devano semakin melebarkan senyumnya. “Kalau yang itu jangan ditanya lagi, Rey. Demi yang tersayang, apa pun akan kulakukan.”


“Pantas saja tadi meluk Intan sampai segitunya. Wooohoho!” Reynal spontan menghindari Devano yang berniat memberi jitakan di kepala.


"Tadi itu sulit dikendalikan, Rey. Seperti ada perasaan rindu yang begitu hebat dan aku ….”


“Ya-ya, aku paham. Intinya perasaanmu sudah begitu dalam. Jadi, segerakan saja ya, Dev!”


Devano mengangguk mantap. Memang itulah yang menjadi niatannya. Segera mempersunting Intan untuk menjadi istrinya. Apalagi, kedua pihak keluarga sudah menyentujuinya. Tinggal lamaran resmi, kemudian menentukan tanggal pernikahannya saja. Sudah sedekat itu, dan Devano benar-benar tidak sabar menunggu momen itu.


Mobil telah sampai di rumah Reynal. Baik Intan maupun Devano juga turun di sana, karena mereka berdua ingin memberi penguatan lebih banyak sebelum Gion tinggal bersama Reynal untuk sementara.


“Kakak cantik hati-hati di jalan, ya? Kalau ketemu paman jahat langsung ngumpet aja.” Gion memeluk Intan.


“Siap grak! Kamu juga jaga diri, ya. Kalau butuh apa-apa langsung bilang ke kakak ganteng yang di sana itu. Dia baik, kok.” Intan menunjuk Reynal.


“Ehem!”


Itu deheman Devano. Dia kurang terima dengan kalimat Intan yang menjuluki Reynal sebagai kakak ganteng baik hati.


“Kak Dev juga baik, lho. Nggak kalah ganteng dari Kak Reynal.” Devano memuji dirinya sendiri. Dia meraih tubuh Gion kemudian menggendongnya.


Gion yang kaget, dia langsung berseru kencang. Tapi, sejurus kemudian tawanya keluar. Gion tampak menikmati momen itu. Rasa bahagia yang tergambar di wajahnya tampak nyata, sampai menggetarkan hati Intan yang saat itu terus-terusan memperhatikan.


“Gion, kamu berhak bahagia seperti anak-anak lainnya. Semoga masalah yang ada segera bertemu jalan keluarnya, sehingga kamu bisa kembali ke sekolah.” Batin Intan.

__ADS_1


Saatnya Intan dan Devano pamit pulang. Khususnya Intan, dia harus segera pulang agar kedua orangtuanya di rumah tidak terus-terusan kepikiran.


Devano tidak mengizinkan Intan naik angkot. Dia sendiri yang akan mengantar Intan hingga sampai di rumahnya. Maklum, rasa khawatir itu masih ada, sehingga Devano jaga-jaga. Dia sama sekali tidak keberatan jika harus mengantar Intan kemana saja. Sayangnya, tidak demikian dengan Intan.


Intan merasa kurang nyaman jika harus berboncengan dengan Devano dalam kondisi belum terikat pernikahan. Bukan karena apa-apa. Intan hanya menjaga diri dari gosip-gosip tetangga. Selain itu, ada pula yang Intan khawatirkan lagi, yakni setan sebagai pihak ketiga yang kapan saja bisa membuatnya tergoda.


“Aku naik becak saja, ya?” pinta Intan.


“Becak? Kamu yakin? Nanti lama loh sampai di rumah.”


“Ya nggak papa, Dev. Nggak sampai setengah jam juga, kok.”


“Baiklah. Tapi aku tetap akan mengawal di belakang becak.”


“Tap-“


“Ssuuut! Tidak menerima penolakan.”


Sebelum benar-benar pergi dari rumah Reynal, Devano sempat membisikkan sesuatu di telinga Reynal. Obrolan singkat yang sungguh serius.


“Serahkan padaku, Dev. Dan, suruh Jefri hati-hati.”


Devano mengangguk. Tentu saja dia sudah menasihati Jefri untuk berhati-hati. Apalagi urusan kali ini bukanlah urusan biasa, melainkan sudah masuk ke ranah kriminal. Namun, bukan Jefri namanya jika menyelesaikan urusan dengan setengah-setengah. Untung saja kenalan Jefri banyak dan sebagian di antaranya memiliki profesi yang bisa mendukung terurusnya kasus Gion.


***


Dua puluh menit yang menyenangkan meski Devano hanya mengekori becak yang ditumpangi Intan. Bagaimana tidak senang, sementara wanita yang sempat dia khawatirkan akhirnya kembali aman. Ada kelegaan dalam hati, hingga senyumnya pun mengembang tanpa henti. Devano Albagri, dia benar-benar jatuh hati lagi, lagi, dan lagi dengan sosok yang masih sama, yakni pada Intania Zhesky.


“Syukurlah Intan selamat.”


“Ibu, ayah.”


Intan bergantian mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Sang ibu bahkan memeluk Intan dengan erat, bahkan tanpa sadar sampai menitihkan air mata. Legaaaa sekali bisa melihat putri pertamanya itu kembali dengan selamat.


“Apa ada yang sakit, Nak?” Ibu Intan menyelidik dari bawah ke atas. Kemudian memeluk Intan lagi saat tahu putrinya itu tidak terluka sama sekali. “Syukurlah. Kamu baik-baik saja.”

__ADS_1


“Maafin Intan, Bu. Intan sudah membuat khawatir banyak orang.”


Sang ibu melepas pelukan. “Tidak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu. Sama sekali bukan salahmu. Yang penting sekarang kamu selamat.”


Perhatian sang ibu beralih ke Devano. Beliau sangat berterima kasih pada calon menantunya itu. Dan, lagi-lagi air mata ibu Intan mengalir tanpa bisa dikondisikan.


“Intan beruntung mengenalmu, Nak Dev. Ibu harap kalian berdua bisa segera menikah. Kalau perlu minggu depan saja. Lebih cepat lebih baik.”


“Ibuuu!” Intan jadi malu, karena justru ibunyalah yang saat ini begitu menggebu-gebu.


“Jangan dengarkan Intan, Nak Dev. Dia pasti mau. Sekarang saja lagaknya malu-malu.”


Intan hanya senyum-senyum. Kosa kata yang biasanya selalu siap dilontarkan, mendadak hilang, hanyut terbawa perasaan kasmaran.


Setelahnya, Intan meminta Devano cepat-cepat pulang. Alasannya agar Intan bisa segera beristirahat, tapi Devano tahu bahwa kekasihnya itu sedang salah tingkah dan tidak bisa meladeni dengan debat.


“Akhir pekan ini orangtuaku datang. Kamu jangan menghilang lagi, ya?” Devano setengah berbisik.


“Tidak akan lagi, karena ada kamu, Dev. Kamu pahlawanku.”


“Dan sebentar lagi status pahlawan itu akan berubah jadi lebih berarti lagi dalam hidupmu. Tunggu, ya?”


Intan mengangguk sambil tetap tersenyum malu-malu. Kemudian, tangannya dilambaikan seiring laju motor Devano yang mulai meninggalkan halaman rumah Intan.


***


Malam hari, Mira baru saja selesai antri membeli makanan. Kini dia bersiap pulang. Namun, lama sekali dirinya tidak menemukan angkot yang searah dengan alamat kos-kosan. Awalnya Mira berniat memesan ojek saja, tapi Mira urungkan niatan itu dengan alasan menghemat uang bulanan. Hingga kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Mobil yang sama sekali tidak Mira kenal itu menurunkan kaca, kemudian melempar selembar foto ke arah wajahnya.


“Dasar kurang aj- … jar. Heeeei! Ke sini kau kalau berani!” Mira marah-marah sendiri saat tahu mobil di depannya itu melaju lagi.


Mira mengambil selembar foto yang sempat mengenai wajahnya, tapi terjatuh. Dan, bola mata Mira langsung melebar saat melihat foto yang dia pegang.


“I-ini tidak mungkin.”


Foto apa yang dilihat Mira? Apa ada hubungannya dengan sang kakak? Nantikan lanjut ceritanya!

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2