PANTAS

PANTAS
Bab 67 - Bukan dengan Paksaan


__ADS_3

Selama tiga jam penuh Intan terlelap di sofa kontrakan Devano. Kini, kedua matanya terbuka perlahan, dan yang ditangkap pertama kali adalah pemandangan Devano yang terlelap dalam posisi duduk bersandar di sofa tunggal.


Tubuh Intan terasa lebih enakan dibanding tadi pagi. Kepalanya juga tidak terasa berat lagi. Namun, bagian hidung terasa ada cairan yang menghalangi. Juga, tenggorokan Intan terasa tidak nyaman. Khas sekali seperti orang yang terserang flu di periode awal.


Intan mencoba duduk, dan bisa. Dia bisa duduk dengan nyaman di sofa tanpa mengeluhkan bagian kepala seperti sebelumnya. Sesaat kemudian, senyum Intan mengembang. Dilihatnya wajah Devano yang nyata begitu tampan. Tersirat juga wajah lelah, tapi tertutupi oleh sikap luar biasa yang sebelum ini disuguhkan untuk merawat calon istrinya.


Sama sekali Intan tidak ingin mengganggu tidur Devano. Intan berdiri dari duduknya, lalu melangkah dengan pelan menuju kamar mandi kontrakan. Ada ingus di hidung yang harus Intan buang. Juga, Intan ingin cuci muka demi sensasi rasa segar usai mengistirahatkan badan selama tiga jam.


Selanjutnya Intan menuju kompor. Teko kecil diambil dan diisi air. Kemudian ....


Ceklek! Bunyi kompor saat dinyalakan ternyata cukup nyaring. Intan sama sekali tidak menduganya. Dan, saat itulah Devano muncul dari arah ruang tamu kontrakan. Tentu saja Devano terkejut melihat Intan yang sudah bisa berdiri dengan tegak, bahkan sedang memasak air.


"Kamu baik-baik saja?" Devano menghampiri Intan dan langsung menempelkan punggung tangan untuk mengecek suhu badan.


"Aku sudah lebih baik, Dev." Senyum Intan mengembang.


"Tan, suaramu?"


Devano tidak menyangka suara Intan akan berubah seserak itu. Memang, the power of flu.


"Nanti juga sembuh." Intan optimis.


Perhatian Devano kini tertuju ke arah kompor dan teko. Dengan gesit dia memegangi lengan Intan kemudian memintanya duduk di kursi meja makan. Intan menurut saja, membiarkan Devano mengambil alih semuanya.


"Aku buatkan teh hangat, ya." Devano bersiap meracik.


"Tidak, Dev. Aku perlu air hangatnya saja. Biar nggak batuk-batuk."


Intan merasa tenggorokannya mulai gatal dan akan sangat mungkin muncul batuk-batuk ringan.


"Tunggu di sini sebentar ya," pinta Devano.


Intan mengangguk. Tidak bertanya pula apa yang hendak Devano lakukan setelahnya. Intan hanya melihat Devano keluar dari kontrakan kemudian mengayunkan langkah belok ke arah kanan. Sambil menunggu Devano kembali, Intan mengintip panasnya air. Setelah dirasa cukup, Intan menuangnya ke gelas, dan didiamkan sebentar hingga tidak terlalu panas. Baru setelahnya Intan menyeruput air hangat tersebut demi untuk melegakan tenggorokan.


Tak lama kemudian, Devano kembali sambil menenteng bungkusan kresek hitam. Ternyata Devano membeli kecap dan jeruk nipis. Devano siap menerapkan ramuan dari sang ibu yang biasa dibuat saat Devano flu dan bermasalah dengan tenggorokan.


"Mau bikin apa?" tanya Intan yang langkahnya mulai terayun mendekati Devano.


"Kamu ... duduk saja." Devano mengantar Intan hingga kembali ke tempat duduknya. Sikap Devano benar-benar lembut dan penuh perhatian pada Intan.


Saat itu juga Intan memperhatikan Devano bergelut dengan wadah, kecap dan jeruk nipis yang baru saja dibeli olehnya. Kecap dituang secukupnya ke dalam wadah, kemudian jeruk nipis diris tipis jadi beberapa bagian dan diperas ke dalam kecap yang sudah lebih dulu dituangkan. Devano tidak hanya memeras sebutir jeruk nipis, melainkan dua. Melihatnya saja Intan sudah menelan ludah.


Lanjut lagi, Devano mengaduk-aduk campuran kecap dan jeruk nipis. Selanjutnya diperhatikan sebentar, lalu dituang sedikit kecap lagi agar rasanya tidak terlalu asam. Begitulah pikir Devano. Ramuan ini dibuat dengan penuh cinta kasih untuk Intan.


"Selesai," ucap Devano dengan wajah girang. Ini adalah pertama kali bagi dirinya meniru ramuan yang biasa dibuat sang ibu.


"Silakan, Tan. Minum ini pakai ini." Devano menyodorkan sendok kecil pada Intan.


"Untuk?" tanya Intan.


"Untuk melegakan tenggorokan." Devano semakin mendekatkan wadah berisi ramuan beserta sendoknya.


Seketika itu senyum Intan melebar. Rupanya, apa yang tadi Devano buat adalah ramuan tradisional untuk membantu melegakan tenggorokan Intan yang terasa gatal dan sudah batuk-batuk ringan. Soal rasa, ya ... tentu saja kecuuuut. Tapi tetap ada sensasi rasa manis yang terasa di lidah Intan. Manisnya kecap, dipadu manisnya perhatian yang disuguhkan Devano padanya.


"Minum ini setiap kali tenggorokanmu gatal ya. Cukup satu sendok saja. Karena aku tahu rasanya pasti nano-nano sedap."


Intan mengangguk sambil tetap menikmati sensasi rasa kecut. Cukup kecut di lidah, tapi khasiatnya benar-benar terbukti secara nyata. Tenggorokan Intan jadi terasa jauh lebih lega.


"Terima kasih ya, Dev. Aku beruntung bisa dicintai olehmu," ungkap Intan.


Devano salah tingkah karena Intan menyebut kata cinta. Memang sih, semua yang Devano lakukan bukan hanya sebatas rasa peduli, tapi juga terbumbu cinta kasih. Apalagi Intan memang calon istrinya.


Ngomong-ngomong soal calon istri, Devano segera membuat topik baru terkait persiapan pernikahan mereka. Devano juga teringat file yang dikirimkan Jefri usia video call tadi. Langsung saja Devano menunjukkan file itu pada Intan, karena yang dikirimkan Jefri adalah desain undangan pernikahan.


"Waw, Jefri oke juga kalau bikin desain." Bola mata Intan terus mengamati sembari memberi pujian.


"Kamu suka?"

__ADS_1


Intan mengangguk. "Suka banget, Dev."


"Mau foto couple juga?" Tanya Devano yang tiba-tiba saja kepikiran.


Kali ini Intan tidak memberi anggukan. Intan justru menggeleng. "Nanti saja setelah menikah, ya. Kita nikmati waktu kebersamaan kita. Boleh juga kalau mau foto couple sepuasnya."


"Oke. Aku setuju. Em ... Tan. Setelah menikah nanti, kamu mau bulan madu ke mana?"


Pertanyaan Devano begitu dadakan. Intan yang dalam posisi menyuap ramuan jeruk nipis dan kecap auto tersedak. Buru-buru Devano mengambil air putih untuk Intan.


"Kamu tidak apa-apa?"


Intan menggeleng. Dia baik-baik saja, hanya kaget saat Devano bertanya mau bulan madu ke mana.


"Nikah dulu aja, ya. Setelah itu aku akan ikut kamu ke mana saja," jawab Intan pada akhirnya.


Dua hati tengah dinaungi perasaan happy. Baik Intan maupun Devano, mereka sama-sama bersyukur atas takdir yang menghampiri. Sama-sama telah yakin bahwa cinta mereka tak lain adalah cinta sejati, yang nantinya akan dipenuhi keberkahan sekaligus kebahagiaan.


"Terima kasih telah memilihku untuk jadi calon suamimu," ucap Devano tiba-tiba.


Untung saja kali ini Intan tidak tersedak lagi. Intan menanggapi dengan tatapan tulus, kemudian menunduk, dan lanjut meminum ramuan buatan Devano tadi.


"Ruang hatiku sungguh telah terisi. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan." Batin Intan. Dia bersyukur karena perasaan cintanya pada Devano bukanlah perasaan yang dipaksaan. Intan dengan sadar dan penuh ketulusan telah memilih Devano.


Obrolan berlanjut lagi. Dan, lebih banyak membahas tentang persiapan pernikahan. Dengan begini, keinginan Devano benar-benar sudah terpenuhi. Tidak ada pembahasan tentang Fani ataupun Sandhi, yang Intan bahas hanyalah seputar pernikahan.


Bungkusan makanan di dekat kompor seketika tertangkap pandangan mata Devano. Dia langsung teringat Benny. Ya, bungkusan makanan itu adalah pemberian Benny. Segera saja Devano mengambilnya, lantas menyiapkan dua piring untuknya dan untuk Intan. Lagipula sudah waktunya makan siang.


"Makan dulu, yuk!"


Intan menggeleng. Dengan kondisinya yang seperti ini, rasanya tidak ada selera. Jangankan untuk makan banyak, makan sedikit saja tidak bersemangat.


"Tapi ini dari Benny. Makan, ya. Sedikit saja tidak apa-apa," bujuk Devano.


"Dari Benny? Di mana dia sekarang?"


"Benny tidak masalah aku numpang di sini?" Intan khawatir Benny keberatan.


"Tentu saja tidak. Justru dia sangat senang kamu ada di sini." Devano sempat teringat Fani, tapi tidak menjelaskan kalau tadi Fani ada di kontrakan, bahkan sempat terjadi kesalahpahaman. Namun, jika dipikir-pikir lagi, Intan pasti akan mengecek riwayat pesan masuk dan otomatis akan tahu kalau tadi Fani mampir mengunjungi.


"Oya, tadi Fani datang ke sini sebentar. Karena tidak ingin mengganggumu, jadi dia tidak berlama-lama," jelas Devano pada akhirnya.


Seketika itu Intan jadi merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi janji temu yang sudah disepakati sebelumnya. Demi membuat Intan tenang, Devano langsung memberi penjelasan bahwa Fani tidak apa-apa karena tidak jadi bertemu. Devano juga sedikit menjelaskan tentang dirinya yang membalas pesan dari Fani tanpa izin lebih dulu. Untung saja Intan tidak bertanya lebih, bahkan tidak membahas lagi kedatangan Fani saat di kontrakan.


"Dev, terima kasih tadi sudah merawatku. Sebaiknya aku segera ke terminal dan pulang."


"Tidak kuizinkan. Kondisimu memang lebih baik, tapi kamu masih sakit. Wajahmu terlihat pucat, Tan. Suaramu juga serak. Apa kamu mau mengajar murid-muridmu dengan kondisi seperti ini? Yang ada mereka jadi khawatir saat melihatmu."


Omongan Devano benar-benar Intan pikirkan. Benar, apa yang dikatakan Devano banyak benarnya. Dulu Intan juga pernah memaksakan diri hadir ke sekolah dalam keadaan sakit kepala berat, yang ada dirinya justru merepotkan beberapa orang dan membuat murid-muridnya jadi kepikiran, tidak tega melihat Intan.


"Kamu izin sakit dulu saja, ya. Biarkan kondisimu membaik. Setelah sehat, kamu bisa mengajar murid-muridmu lagi dengan semangat." Nada suara Devano terdengar meyakinkan, bahkan membuat Intan jadi lebih tenang. Sampai-sampai Intan langsung mengiyakan.


"Baiklah. Kalau begitu aku menginap lagi di kos-kosan Mira saja, ya."


"Tidak aku izinkan. Menginap di sini saja."


Bola mata Intan melebar. Tidak mungkin juga dia menginap di kontrakan Devano, apalagi ada Benny. Masa iya Intan perempuan sendiri. Rasa-rasanya sungguh tidak pantas.


"Benny akan menginap di kantor. Dia lembur." Aslinya Devanolah yang sebentar lagi akan mengatur. "Kalau menginap di sini ranjangnya lebih luas. Aku akan tidur di kamar satunya."


Pikir Devano, kebutuhan Intan selama memulihkan keadaan akan lebih terpenuhi jika dia ada di kontrakan. Kalau di kos-kosan Mira, semuanya serba terbatas. Tidak ada kompor, dan pasti tidurnya harus berjejalan karena ranjang tidak terlalu lebar. Devano juga akan sigap membantu kalau nantinya terjadi sesuatu dengan Intan jika ada di kontrakan.


"Tapi, Dev. Apa kata tetangga?" Intan khawatir.


"Tetangga yang mana, Tan?"


Saat Devano bertanya seperti itu, Intan teringat kembali dengan posisi kontrakan Devano. Kanan kirinya memang banyak rumah, tapi rata-rata bukan sang pemilik yang menempatinya, melainkan pendatang yang mengontrak, ada pula yang kos sementara. Tidak jauh dari kontrakan Devano juga banyak penginapan lain yang disewakan. Selain tertutup, para tetangga juga jarang saling sapa karena memang tidak kenal. Satu-satunya yang akrab dengan Devano hanyalah ibu-ibu pemilik warung di ujung jalan sana.

__ADS_1


"Tapi tetap tidak enak, Dev. Masa kita hanya berdua saja di sini. Malam-malam lagi. Bukan apa-apa, sih. Takutnya ada setan salah alamat, terus menggodamu." Pikiran Intan kemana-mana.


"Baiklah. Akan kutelpon Mira biar menemanimu di sini. Okey?" Devano tidak mau mengalah. "Kalau masih kurang, kamu boleh mengundang Fani biar ramai sekalian."


Intan berpikir sebentar, kemudian mengiyakan. Kalau ada Mira, mungkin tidak akan apa-apa, begitulah pikirnya.


Beres. Devano senang karena Intan setuju. Kalau seperti ini, Devano bisa mengontrol kondisi Intan tanpa repot harus berjauhan tempat.


"Dev, itu. Ponselmu. Ada telpon." Intan menunjuk ponsel Devano.


Layar ponsel Devano menampilkan nama Sandhi. Sungguh bukan panggilan telepon yang diharapkan. Devano justru berharap Benny-lah yang menelponnya untuk bisa mengetahui apa yang diceritakan Fani.


"Angkat saja, Dev. Siapa tahu ada yang penting."


"Tunggu di sini sebentar, ya."


Intan mengangguk. "Tapi jangan ribut-ribut sama Sandhi ya," pesan Intan kemudian.


Devano mengiyakan saja, meskipun hal itu sulit untuk diduga. Mengingat, kejadian tadi malam di rumah makan masih belum bisa dilupakan.


"Ada apa, San?" tanya Devano, nada bicaranya dibuat senetral mungkin, seolah sebelum ini tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


"Aku cuma mau tanya, apa benar Fani masih ada di kontrakanmu? Aku mau menjemputnya. Tadi dia kirim pesan kalau mau menjenguk Intan."


Rupanya Sandhi tahu kalau Intan sedang sakit. Alasan Sandhi ingin menjemput Fani pasti hanyalah dalih agar dia bisa bertemu Intan, begitulah pikir Devano. Meskipun masih jauh dari kata benar, tapi Devano sangat sulit untuk mencegah dirinya agar tidak membuat prasangka berlebihan.


"Intan sudah membaik. Ada aku di sini yang menjaganya. Kalau Fani, tadi dia pergi bersama Benny." Devano tidak menutup-nutupi.


"Kamu tahu mereka ke mana?" tanya Sandhi.


"Entahlah."


Sandhi tidak meneruskan pertanyaan lagi, karena dia sadar bahwa Devano sedikit enggan.


"Baiklah. Terima kasih sudah bersedia menerima telponku. Maaf, sudah mengganggu waktumu. Dan maaf untuk yang semalam. Salam untuk Intan. Semoga lekas sembuh."


"Ya. Tapi aku tidak janji akan menyampaikan pesan itu padanya."


"Tidak apa-apa. Terserah kau saja. Aku tutup dulu telponnya. Terima kasih."


Tut-tut-tut


Telepon berakhir. Devano sadar, sempat terjadi kebekuan, tapi untungnya tidak sampai dibesarkan. Selanjutnya, Devano menelpon Benny. Bernego sebentar, sambil bertanya tentang Fani.


"Gilla, Dev. Si Fani agresif banget. Dari tadi maunya deket-deket terus. Untung hari ini bentengku kuat." Via telpon, suara Benny terdengar berbisik. Karena dia sedang menyempil di pojok ruangan.


"Lalu? Dia masih maksa ngajak kamu nikah?"


"Ya iyalah. Aku juga sudah tahu alasannya kenapa. Besok aku ceritakan deh. Kamu urus dulu si Intan sampai sembuh. Oya, tentang ajakan nikah dari Fani, kuputuskan untuk iya-iya saja deh."


"Yakin, Ben? Nikah karena paksaan itu kurang baik lho." Devano mengingatkan.


"Aku sama sekali tidak terpaksa, Dev. Ikhlash. Mumpung juga. Mumpung ada yang mau sama cowok sepertiku. Aku ini banyak kurangnya, tapi Fani mau-mau saja."


"Ya tapi, Ben ...."


"Sudah-sudah. Nasihatnya besok-besok saja. Aku tidak menginap di kontrakan malam ini. Salam buat Intan ya. Cepat sembuh. Dan kau, ingat! Tahan napsumu. Hoho. Da!"


Benny terburu mengakhiri teleponnya, padahal Devano masih mau banyak bertanya. Khususnya bagian alasan Fani yang tiba-tiba saja mengajak Benny menikah. Meski bukan urusan Devano, tapi tetap saja membuat kepo.


"Sebaiknya Intan tidak boleh tahu dulu tentang ini," ucap Devano, kemudian melangkah lagi menemui Intan di ruang makan.


Saat Intan bertanya tentang Sandhi yang menelpon, Devano hanya bercerita singkat, menjelaskan bahwa Sandhi hanya bertanya keberadaan Fani. Setelah itu tidak ada hal penting lagi. Begitulah yang Devano katakan. Demi agar Intan tidak berpikir macam-macam, Devano langsung menyuruh Intan untuk makan, kemudian kembali beristirahat di kamar.


Sebenarnya apa yang menjadi alasan Fani? Nantikan lanjutan cerita ini! Salam Luv 💜


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2