PANTAS

PANTAS
Bab 48 - Melibatkan Diri


__ADS_3

Area bandara menjadi pemandangan terkini. Baru saja pesawat yang ditumpangi Devano dan Reynal mendarat dengan selamat. Ojek online roda empat langsung dipesan setelah Devano meminta alamat lengkap kontrakan Helen.


Rupanya tidak secepat dugaan. Perjalanan menuju alamat kontrakan Helen kurang lebih empat puluh lima menit dari area bandara, membuat Devano harus benar-benar bersabar untuk bertemu Intan.


"Jalannya macet, Mas. Mau lewat jalan tikus, nggak?" sang sopir menawari.


"Terserah mau jalan apa saja, yang penting bisa segera sampai," ucap Devano yang langsung mendapat tepukan di pundaknya.


"Dev, tenangkan dirimu."


"Aku baru bisa tenang jika sudah melihat Intan langsung dengan mata kepalaku sendiri."


"Kalau begitu ... minumlah dulu. Biar isi kepalamu lebih segar."


Reynal menyodorkan botol air mineral berukuran kecil. Tangan Devano lekas meraihnya, kemudian menghabiskan isinya dalam beberapa kali tegukan saja. Meski dahaganya terobati, pikiran Devano masih saja tidak tenang, karena kondisi Intan belum dia pastikan.


Untuk sejenak, fokus Devano tertuju pada Reynal yang tengah sibuk berbalas pesan. Devano tidak sengaja menangkap nama Sandhi di layar ponsel Reynal.


"Apa ada info terbaru dari Sandhi?" tanya Devano yang tidak ingin bertanya-tanya dalam hati.


"Sandhi bilang dia jadi pulang ke kotanya. Terkait kakaknya Fani, Sandhi berjanji akan segera mengurusnya. Dia tidak ingin Intan terlibat."


"Yang bermasalah itu Fani. Dialah yang harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan Intan ataupun Sandhi. Tapi kalau Sandhi bersedia membantunya, itu lain urusan. Semoga saja tidak berlarut-larut."


Setelahnya tidak ada obrolan. Devano membiarkan Reynal saling berbalas pesan dengan Sandhi. Sementara Devano sendiri, dia mengedarkan pandang ke arah luar kaca mobil. Berharap pemandangan di luar bisa memberinya sedikit ketenangan.


"Sudah mau sampai, Mas."


Kode dari sang sopir membuat Devano melebarkan senyumnya. Semangatnya kembali. Sebentar lagi dia akan bertemu Intan, wanita yang begitu dia khawatirkan.


Sampai juga mereka di kontrakan Helen. Reynal yang mengurus ongkos kendaraan, sedangkan Devano langsung mengayunkan langkah ke halaman kontrakan. Sudah ada Helen di sana.


"Hai, Dev. Apa kabar?" Helen menyapa dengan begitu ramah. Sayangnya, Devano justru buru-buru menanyakan keberadaan Intan, tidak menjawab kabar yang ditanyakan Helen barusan.


"Di mana Intan?"


Reynal lekas menyahuti. Dia benar-benar penengah yang bisa mengamankan kondisi.


"Devano baik, Len. Bagaimana kabarmu?" Reynal menepuk pundak Devano. Sebagai tanda juga agar Devano bisa bersikap lebih baik.


"Seperti yang kau lihat, Rey. Aku baik. Yuk, silakan masuk!" Helen kembali ramah karena sikap Reynal.


"Aku tahu kau tidak sabar bertemu Intan. Tapi jangan sampai melupakan pertemanan. Jaga sikapmu, Dev. Walau bagaimanapun Helen sudah membantu Intan." Reynal berbisik memperingatkan Devano.


Anggukan kecil tercipta. Devano memahami apa yang Reynal ingatkan padanya. Tadi Devano hanya tidak sabaran saja, sehingga muncullah sikap terburu-buru.


"Intan masih mandi. Aku mau melihat Gion dulu di dapur. Tadi dia masih makan. Tunggu sebentar, ya."


Kali ini Devano mengangguk sambil tersenyum ramah. Dia sabar menunggu sambil menikmati teh hangat yang telah terhidang. Terlihat sekali bahwa Helen telah mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan di meja juga terhidang kudapan ringan.


"Kelaparan, Dev?" sindir Reynal, tentu saja bercanda.


Devano hanya melirik sebentar tanpa memberi komentar. Terus saja dia mengunyah hingga sebungkus kue lumpur pun habis dimakan. Hingga kemudian, pandangan mata Devano tertuju pada sosok Intan yang baru saja keluar dari dalam.

__ADS_1


Bola mata Devano berbinar. Senyumnya pun mengembang. Ada rasa syukur yang menggetarkan, senang sekali bisa melihat Intan dalam kondisi baik-baik saja seperti saat terakhir kali Devano melihatnya.


Tanpa berlama-lama lagi, Devano berdiri. Dia melangkah begitu cepat ke arah Intan, kemudian memeluknya.


"Dev," ucap Intan lirih. Dirinya begitu terkejut karena mendapat pelukan tiba-tiba.


Seperti hilang kendali, Devano justru semakin mengeratkan pelukannya. Sampai-sampai Intan terdorong ke arah dinding ruang tamu kontrakan.


"Aku merindukanmu," bisik Devano, dan hanya terdengar di telinga Intan.


Saat itulah hati Intan tersentuh. Spontan saja dia membalas pelukan Devano dengan sama eratnya.


"Aku juga merindukanmu, Dev. Terima kasih sudah menemukanku di sini."


Helen tidak sengaja melihat adegan itu. Spontan saja dia menutup mata Gion yang belum sempat melihat Intan dan Devano berpelukan.


"Ada apa, Kak?" tanya Gion.


"Ada yang ketinggalan di dapur. Gion ikut kakak sebentar, ya."


Cepat-cepat Helen membawa Gion ke dapur. Dadanya sempat bergetar. Ada rasa cemburu yang bersarang tapi tidak terlalu dalam. Cemburu tetaplah cemburu. Dan pemicunya adalah perasaan yang belum hilang. Helen tidak sanggup melihat kemesraan Devano dan Intan.


Sudah cukup. Reynal tidak ingin berlama-lama melihat adegan pelukan yang menurutnya kelewatan. Reynal paham betul, apa yang dilakukan Devano bukanlah mencuri kesempatan. Sikap Devano itu adalah sikap spontan, tapi tetap saja tidak boleh dibiarkan.


"Ehem!"


Reynal berdehem kencang sekali demi memberi kode pada Devano. Dan ... berhasil. Devano melepas pelukannya.


"Hai, Tan. Bagaimana keadaanmu?" Reynal memberi kode agar Intan segera duduk di sofa.


"Pasti kubantu. Asalkan ...." Reynal menjeda kalimatnya. Dia melirik ke arah Devano sebentar demi bisa melihat wajah penasaran.


"Asalkan ...." Intan tak sabar.


"Asalkan kamu dan Devano segera menikah. Yang barusan kalian lakukan itu ... PANAS." Sengaja Reynal menekan kata panas sambil melirik ke arah Devano.


"Jangan dengarkan Reynal, Tan. Dia hanya iri pada kita."


"Jangan dengarkan? Barusan itu Reynal menyuruh kita segera menikah, Dev. Memangnya kamu tidak mau?" Intan bersedekap tangan sambil mengembangkan senyuman.


Reynal langsung terbahak-bahak. Sementara Devano, dia bingung memberi penjelasan.


"Kakak cantik!" seru Gion yang sekaligus membuyarkan obrolan di sana.


"Hai. Apa yang kamu bawa itu?" Intan mengubah mimik wajahnya. Jadi ceria dan amat sangat ramah.


"Rujak. Buat dimakan kakak-kakak tamu," jelas Gion.


"Silakan dimakan dulu. Selanjutnya terserah kalian mau mengobrol apa saja." Helen mempersilakan. Dia tidak ikut makan, karena memang tidak terlalu lapar. Sengaja Helen memberi banyak suguhan demi menghormati dua temannya yang jauh-jauh datang untuk menjemput Intan.


"Len, bisa bicara sebentar?" Ternyata Devano belum memakan rujak bagiannya.


"Boleh. Mau di mana?" tanya Helen.

__ADS_1


Devano melihat ke arah meja tamu sebentar. Tampak Intan mulai bercerita pada Reynal tentang sosok Gion.


"Di teras samping saja," pinta Devano.


Teras samping kontrakan tampak sepi. Tempat yang cocok sekali untuk mengobrol tanpa khawatir terdengar oleh siapapun, termasuk juga tidak akan mengganggu obrolan Intan dan Reynal bersama Gion.


"Mau bicara apa, Dev?" tanya Helen.


"Terima kasih sudah menjaga Intan."


"Oh." Helen ber-oh saja, karena tidak habis pikir dengan Devano yang meminta berbicara empat mata tapi yang dikatakan terima kasih saja.


Devano terdiam sebentar. Rasa-rasanya kalimat selanjutnya begitu berat dikatakan, tapi tetap harus dia katakan.


"Maaf, karena aku mencintai Intan. Aku akan segera menikah dengannya. Jadi ...."


"Kita berteman," sahut Helen. "Kita berteman sampai kapanpun itu." Helen tersenyum lebar. Lebih tepatnya lagi, dia memaksakan senyuman.


"Em, kamu tahu dari Intan, ya?" tebak Helen kemudian.


"Iya."


Benar. Yang dikatakan Devano itu benar. Awalnya Intan memang tidak berniat membagi rahasia itu. Tapi, dia tidak bisa. Intan tidak ingin menyimpan rahasia apa-apa. Jadilah, saat Devano dalam perjalanan menuju kontrakan Helen, Intan mengiriminya pesan.


"Oke, Dev. Lupakan saja, ya. Aku tidak ingin pertemanan kita jadi kenapa-napa. Em, kembali ke dalam yuk!"


"Sekali lagi maaf, dan ... terima kasih."


Sungguh obrolan yang begitu singkat. Helen mengekori langkah Devano menuju ruang tamu. Sebenarnya dia kecewa, tapi ada setitik rasa lega yang saat itu juga terasa. Helen memilih untuk bertahan dalam lingkaran pertemanan daripada harus bersaing dengan Intan.


"Gion mau nggak tinggal sama Kak Reynal?"


Pertanyaan itu langsung terdengar begitu Devano dan Helen kembali ke ruang tamu. Yang bertanya adalah Reynal sendiri.


"Apa kakak cantik akan sering-sering mengunjungiku?" tanya Gion dengan wajah polosnya. Dia menatap Intan penuh harap.


"Kak Intan pasti akan sering-sering berkunjung. Nanti Kak Dev yang akan mengantar," sahut Devano dengan ramah. Dia sekaligus memperkenalkan dirinya pada Gion.


"Kak Dev janji?" Gion mengangkat jari kelingkingnya.


"Iya. Kak Dev janji."


Devano menanggapi dengan ramah. Intan sampai tersentuh hatinya. Tidak menyangka pula bahwa Devano bersedia melibatkan dirinya atas kondisi Gion. Begitu pula dengan Reynal, dia juga bersedia membantu kesembuhan mental Gion, termasuk akan mencari tahu motif di balik penculikan Gion.


Ramah tamah selesai. Obrolan yang dibuat juga sudah dirasa sangat cukup, baik dengan Gion ataupun dengan Helen sebagai tuan rumah kontrakan. Tanpa perlu berlama-lama lagi, Intan, Devano, dan Reynal pamit pulang. Gion dibawa serta. Perpisahan saat itu sama sekali tidak meninggalkan beban di hati siapapun juga, termasuk Helen. Bahkan, hatinya jauh lebih lega dan bersiap menyambut takdir indah lainnya.


Sementara itu di lain kota, Sandhi termangu di ambang pintu rumahnya. Sesekali dia melangkah ke teras depan rumah, kemudian kembali ke ruang tamu. Untung saja sang ibu sedang tidak ada di rumah. Jika tidak, Sandhi pasti akan ditegur karena melamun sambil jalan-jalan. Dan, ujung-ujungnya pasti akan membahas Nisa, wanita yang dulu sempat dijodohkan dengannya.


Tak lama kemudian, ponsel Sandhi bergetar. Satu pesan masuk dan pengirimnya adalah kakak kandung Fani, Farel. Pesan itu berisi waktu temu, termasuk hari, pukul, dan tempat yang harus Sandhi tuju. Senyum Sandhi sempat mengembang karena dia tidak perlu ke luar kota untuk bertemu Farel, karena lokasi pertemuannya ada di kotanya. Lebih tepatnya lagi, tidak jauh dari kampus Sandhi.


"Ini sudah jadi keputusanku. Demi Intan juga," ucap Sandhi dengan mantap.


Sandhi, dialah yang telah mengirim pesan pada Farel. Akan ada satu kesepakatan. Dan, semua itu Sandhi lakukan demi Intan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2