PANTAS

PANTAS
Bab 75 - Pelakor Level 1


__ADS_3

Sehari setelah acara pernikahan Reynal, Devano dan Intan pergi ke beberapa tempat untuk memastikan segala persiapan. Mereka juga melunasi segala biaya pernikahan agar nantinya tidak ada lagi tanggungan. Begitu selesai, Devano dan Intan pergi makan siang bersama di salah satu rumah makan yang dulu menjadi tempat pertemuan mereka untuk pertama kali setelah sekian lama tidak berjumpa.


"Deeeev!" seru Intan saat mendapati gerakan refleks Devano yang seolah berniat ingin menceburkan Intan ke kolam ikan.


"Hehe. Maaf-maaf."


"Untung saja tidak jatuh." Intan mengelus dada.


"Kalau kecebur, nanti aku temenin kok. Seperti waktu itu. Kamu masih ingat, kan? Yang kamu malu-malu kucing pas mau kubantuin."


Devano mengingatkan Intan momen saat tercebur kolam ikan. Saat itu Devano ikut menceburkan diri demi menemani Intan agar tidak basah sendirian. Diingatkan tentang momen itu, tentu saja membuat Intan tersenyum lebar. Memang, saat itu Intan seperti orang yang jual mahal karena menolak uluran tangan Devano yang akan membantunya keluar dari kolam. Ternyata oh ternyata, mereka berdua kini akan melangsungkan pernikahan. Jodoh memang tidak ada yang tahu kapan datangnya, tapi cepat atau lambat pasti akan datang juga.


"Dev, kamu mau pesan apa? Sama'an, yuk!" ajak Intan.


"Ayam geprek sambal ijo mau nggak?"


"Boleh juga. Sekalian bungkus juga. Buat Gion."


"Kalau buat Gion jangan ayam geprek juga. Nanti kepedesan dia. Ayam krispi saja. Ohya, buat Jefri juga sekalian."


"Buat Jefri ayam geprek atau ayam krispi?"


"Kasih dia sambalnya aja biar kepedesan. Hidupnya sudah manis banget, tuh. Haha."


"Dev, jangan gitu ah ngomongnya." Intan menegur Devano agar tidak terbiasa bicara sembarangan. "Em, tapi bener juga sih. Jefri beruntung banget bisa dipilih Gion." Ujung-ujungnya Intan berkata demikian.


"Jefri mau nyumbang banyak loh buat pernikahan kita, Tan. Tapi aku menolak. Kusuruh saja dia bawa kado pernikahan spesial," terang Devano.


Ya, sejak tinggal bersama Gion, Jefri benar-benar menjelma menjadi orang kaya baru yang baik hati. Meski baru beberapa hari, tapi Jefri sudah sering berbagi. Uang yang dimiliki Jefri saat ini benar-benar melimpah. Bukan uang gaib juga karena harta yang dimiliki Jefri sudah dalam sepengetahuan tangan kanan mendiang ayah Gion.


"Cewek yang pernah nolak Jefri pasti kaget kalau mendengar kabar ini. Tahu Jefri sudah glow up, bisa-bisa mereka kembali mendekat." Tiba-tiba saja Devano berasumsi demikian.


"Tapi nggak semua wanita seperti itu loh, Dev. Ada juga wanita yang dengan tulus mencintai, mau kekasihnya kaya ataupun tidak."


"Kamu benar. Sepertimu, Tan. Aku biasa-biasa saja, tapi kamu tetap cinta."


Disinggung soal cinta, Intan jadi senyum-senyum sendiri. Memang itulah yang saat ini Intan rasakan, sebuah perasaan nyaman mencintai Devano Albagri. Namun, kata cinta itu juga tiba-tiba saja menyadarkan Intan pada ujian yang pastinya akan mengiringi. Sungguh, Intan berharap tidak ada ujian semacam pelakor yang sebelum ini Intan khawatirkan akan terjadi. Kekhawatiran Intan ini gegara sikap Rose pada Devano. Intan curiga, Rose punya niatan yang tidak terduga.

__ADS_1


"Kok tiba-tiba murung?" Devano memperhatikan perubahan ekspresi Intan.


"Em, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah, Dev."


"Kalau begitu sebentar lagi langsung pulang saja, ya. Biar aku yang ke tempat Gion. Kemarikan undangan untuk mereka. Biar aku bawakan sekalian."


Sebenarnya Intan memang sedikit kelelahan. Sedikit penat juga karena harus membantu mengurus beberapa persiapan pernikahannya. Untung saja Devano begitu pengertian. Rencana untuk mengantar undangan ke tempat Gion dan Jefri akhirnya diambil alih sendiri.


Dan, benar saja. Setelah ayam geprek pesanan selesai dilahap, Devano cepat-cepat menyuruh Intan untuk pulang dan beristirahat. Sementara Devano, dia tidak langsung beranjak dari tempat duduknya karena masih harus memastikan posisi Gion dan Jefri saat ini.


"Di rumah utama atau di rumah yang mana ini, Jef?" tanya Devano via telepon. Dia sendirian sekarang.


Devano manggut-manggut mendengarkan keterangan Jefri. Begitu mendapat informasi lebih, barulah dia menutup telepon dan berjalan menuju arah parkiran. Sayangnya, Devano tidak sengaja menyenggol seseorang hingga menumpahkan minuman yang dibawa orang yang disenggolnya itu.


"Eh maaf. Kamu tidak apa-apa?"


Devano sedikit terkejut saat tahu siapa orang yang tidak sengaja disenggol olehnya. Dia seorang wanita dan tidak asing bagi Devano. Rose, dialah orangnya.


"Rose?"


"Aku carikan dulu. Tunggu sebentar." Devano berniat mencarinya di dalam area rumah makan.


"Antar ke toilet ya Dev!"


"A-apa?"


"Antar ke toilet sebelah sana. Aku mau membersihkan di sana."


Belum sempat Devano mengiyakan, Rose sudah terburu melangkah cepat ke tempat tujuan. Devano yang masih belum hilang rasa terkejutnya, kini hanya menatap langkah Rose kemudian bingung harus bagaimana. Jadinya, Devano memilih untuk mencari tisu saja di rumah makan, kemudian segera menyelesaikan urusan.


Tisu berhasil didapatkan Devano hanya dalam hitungan menit saja. Setelahnya cepat-cepat Devano menuju ke toilet demi memberikan tisu itu pada Rose.


"Rose, kamu di dalam sana?"


"Iya. Kemarikan tisunya, Dev!" Tangan Rose terjulur dari dalam toilet.


Setelah memberikan tisu itu, Devano menunggu di depan toilet dengan gusar. Pasalnya, Rose benar-benar sangat lama di dalam sana. Mau meninggalkan begitu saja, tapi Devano tidak enak hati karena sudah menjadi penyebab kejadian tadi.

__ADS_1


Ceklek! Akhirnya pintu toilet terbuka.


"Sekali lagi aku minta maaf, ya." Segera saja Devano berkata demikian padahal Rose baru saja keluar.


"Iya tidak apa-apa, au!" Rose tersandung dan hampir saja terjatuh.


Sungguh momen yang tidak disengaja, tapi cukup mengundang perhatian beberapa pasang mata. Saat ini Rose jatuh dalam pelukan Devano. Terdiam untuk beberapa saat lamanya dengan tatapan mata yang saling menjerat di antara keduanya. Ala-ala India, begitulah pikir beberapa orang yang melihat mereka.


Begitu tersadar, Devano berniat melepas. Tapi tanpa disangka-sangka Rose justru memeluknya dengan erat.


"Rose! Apa yang kamu lakukan, ha?"


"Memberimu hadiah pelukan. Terima kasih sudah menolongku barusan."


"Ti-tidak!"


Devano cepat-cepat membebaskan diri dari Rose. Begitu berhasil terlepas, Devano segera bersikap tegas.


"Rose, jangan coba-coba lagi bersikap seperti tadi. Aku sudah punya istri. Sekali lagi aku minta maaf soal tadi. Permisi."


Devano pergi dengan sedikit emosi. Tapi, tidak demikian dengan Rose. Rose tampak berjalan dengan santai menuju arah rumah makan, menemui seseorang.


"Aku nyerah sama Devano. Nggak asik banget tuh orang. Terus nyebut-nyebut punya istri pula. Benar-benar tidak tertarik dengan pesonaku. Rugi banget aku buang-buang waktu." Rose mengeluh.


"Dasar pelakor level 1. Katanya sudah biasa ngerebut laki orang. Giliran sama Devano aja nyerah," sahut lawan bicara Rose.


"Devano ini kalau sama aku buta banget. Bukan buta cinta, tapi buta karena nutup mata. Yang diingat istrinyaaaaa terus. Padahal nikah aja dia belum. Muna banget!" Rose terus berceloteh.


Lawan bicara Rose menghela nafas dalam. Dia tidak lagi punya harapan untuk membuat hubungan Devano dan Intan jadi berantakan.


"Yaudah sana. Kalau mau pergi, pergi saja!" ucap lawan bicara Rose dengan ketusnya.


"Kurang ajar banget tuh mulut. Main usir aja. Bye! Dasar pelakor kelas nol. Sudah nol, patah jadi dua pula." Sindir Rose, kemudian pergi meninggalkan lawan bicaranya.


Siapa lawan bicara Rose?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2