
Jefri baru saja selesai mengantar Reynal memesan cincin pernikahan di salah satu kenalan. Sengaja Jefri mengantar Reynal pagi-pagi karena siangnya dia harus disibukkan dengan rutinitas pekerjaan. Semua urusan selesai hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
“Jadi iri, deh!” celetuk Jefri tiba-tiba.
“Iri kenapa?” Reynal benar-benar tidak paham.
“Kau enak, Rey. Bentar lagi nikah. Devano juga akan melamar Intan nanti malam. Tinggal aku seorang nih yang jomblo tak bahagia.”
Reynal hanya tertawa ringan, lantas menepuk bahu Jefri.
“Semoga cepat menyusul, ya. Tidak akan lama lagi, kok.”
“Sok tau kau, Rey. Dari mana kau tahu tidak akan lama lagi, ha?”
“The power of feelings.”
“Kekuatan perasaan? Kau percaya dengan yang seperti itu, Rey?”
“Kadang-kadang. Oya, btw, thanks. Kalau kau yang nikah, giliranku yang membantu.”
“Ya. Sama-sama. Sana, pulang sendiri! Aku masih ada urusan. Duluan, ya. Titip salam buat calon istrimu.”
Jefri mendapat tepukan keras di pundaknya. Untuk salam yang satu itu, Reynal tidak akan menyampaikan. Sementara Jefri, dia hanya tertawa ringan sambil mulai melajukan motornya. Kini, Jefri dan Reynal berpisah arah. Reynal kembali ke rumahnya, sedangkan Jefri menuju suatu tempat untuk bertemu seseorang yang sebelum ini sudah membuat janji dengannya.
Taman kota dengan ayunan dan perosotan, di sanalah Jefri saat ini. Jefri tampak mencari tempat foto selfie, kemudian mengirim hasilnya pada seseorang yang sebentar lagi akan dia temui. Sebagai isyarat pula bahwa Jefri telah menunggu kehadirannya di tempat yang telah disepakati.
“Kalau lepas kacamata pasti makin ganteng, nih.”
Jefri terus berfoto selfie, hingga kemudian seseorang yang telah membuat janji dengannya tiba-tiba datang dan menyapa.
“Hai, Jef.”
“Hai … Dhea.”
Mendengar suara Dhea, Jefri langsung balik kanan dan melebarkan senyum. Tak lupa pula Jefri kembali memakai kacamata dan sedikit menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. Sementara Dhea, dia mengimbangi senyum ramah Jefri kemudian menuju ayunan dan duduk di sana. Untungnya ada dua ayunan, sehingga Jefri bisa menempati ayunan di sebelah Dhea. Ya meskipun ukurannya kurang pas karena body Jefri yang sedikit lebih besar dibanding tempat duduk ayunan.
“Bagaimana?” Dhea tidak basa-basi, melainkan memilih untuk langsung bertanya.
“Sudah kuberikan pada Devano.” Yang Jefri maksud adalah barang titipan Dhea.
“Bukan itu, Je. Em, boleh aku memanggilmu Jeje?”
__ADS_1
Deg!
Mimik wajah Jefri seketika itu berubah. Ada keterkejutan sekaligus kenangan masa kecil yang membayang. Ditambah lagi, telunjuk tangan kanan Dhea tiba-tiba membentuk satu gerakan membentuk huruf JD, disusul ucapan lembut berbunyi ‘selalu bersama’.
Kian lama mimik wajah Jefri kian berubah. Kali ini lebih terkejut daripada sebelumnya. Ingatan masa kecilnya sempurna kembali, dan seseorang yang mengingatkan Jefri tidak lain adalah cinta masa kecilnya.
“Dahlia. Apa mungkin itu kamu?” Jefri menebak-nebak.
Dhea mengangguk. “Itu nama asliku, Je. Sejak jadi model, aku lebih dikenal dengan sebutan Dhea.”
“Kok … bisa, sih? Maksudku, kenapa selama beberapa tahun ini aku tidak mengenalimu? Bahkan, saat Devano mengejarmu, aku juga sama sekali tidak sadar bahwa itu kamu.”
Jefri masih tidak percaya dengan fakta yang baru saja dia dengar. Kenapa baru sekarang Dhea mengungkap identitas aslinya? Itulah yang saat ini menjadi pertanyaan Jefri.
Dan, dimulailah cerita Dhea. Dulu Dhea dan Jefri memang pernah dekat. Pernah saling berangan pula akan menjadi pasangan di masa depan. Namun, tiba-tiba saja Dhea pindah rumah di ibukota. Banyak bertemu sosok baru, pergaulan baru, hingga tren penampilan baru membuat Dhea ikut-ikutan mengubah dirinya menjadi sosok yang baru. Termasuk juga dengan perasaan Dhea pada Jefri, langsung lenyap begitu Dhea mengenal banyak lelaki yang lebih keren daripada Jefri.
Tidak hanya itu saja, dengan bermodal kekayaan orangtuanya pada saat itu, Dhea juga sempat melakukan perawatan maksimal pada wajah, tubuh, bahkan gaya rambutnya. Seiring dengan itu, sikap polos Dhea telah berubah menjadi sikap sombong dan seringkali tidak ramah.
Saat berkesempatan bertemu lagi dengan Jefri, sebenarnya Dhea mengenali. Tapi, saat itu Dhea begitu tidak peduli. Ditambah pula ada Devano yang saat itu mengejar cinta Dhea, padahal cinta Dhea untuk seseorang yang lainnya.
“Sorry, ya Je?” Dhea meminta maaf di akhir penjelasannya.
“Kekuatan perasaan.” Jefri teringat perkataan Reynal sebelum ini. “Ternyata itu nyata. Aku dulu sempat berpikir bahwa itu memang kamu. Dahlia yang kukenal dulu. Feeling-ku begitu kuat saat itu. Tapi, begitu melihat sikapmu, cepat-cepat aku buang prasangkaku saat itu. Ditambah lagi, ada Devano yang begitu menyukaimu.”
“Tentang Devano, bisakah kau membantuku, Je?” Tiba-tiba saja Dhea mengubah topik obrolannya.
“Bantu apa?”
“Bantu aku … agar Devano bisa kembali melihat ke arahku.”
Deg!
Sungguh tidak tahu diri, kalimat itulah yang saat itu melintas di pikiran Jefri. Bisa-bisanya Dhea meminta seperti itu. Jelas-jelas dulunya Dhea sama sekali tidak menanggapi perasaan Devano, bahkan terang-terangan memilih sosok tampan lain, yang lebih tampan dan lebih mapan dibanding Devano. Sekarang, dengan lebih dulu mengungkap identitas aslinya, Dhea tanpa sungkan meminta bantuan agar Devano bisa kembali melihat ke arahnya.
“Aku tidak bisa.” Jefri dengan tegas menolak permintaan Dhea.
“Demi aku di masa lalumu, Je.”
“Maaf. Aku tidak lagi hidup di masa lalu. Ini masaku. Dan Devano adalah sahabatku. Sedangkan kamu … kamu bukan lagi Dahlia yang kukenal di masa lalu. Kau licik!”
Saat itu juga Jefri meninggalkan Dhea. Jefri tersadar, kebaikan Dhea yang sesaat, hingga identitas rahasia Dhea yang sempat terungkap, semua itu tidaklah cuma-cuma. Dhea berniat memanfaatkan Jefri untuk kembali dekat dengan Devano, dan Jefri tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
__ADS_1
“Siall. Jeje benar-benar tidak sebaik dulu. Kalau seperti ini, hanya Benny satu-satunya orang yang bisa membantuku.” Batin Dhea.
Sementara Jefri, langkahnya terus terayun menjauhi taman kota. Motornya dilajukan dengan kencang demi bisa melupakan kejadian barusan. Jefri juga tidak akan menceritakan pada siapa pun tentang kejadian yang baru saja dia alami. Jefri benar-benar tidak ingin hidup di masa lalu. Jika Dhea sudah tidak lagi hidup sebagai Dahlia, maka Jefri tidak akan lagi mengingatnya.
“Dev, kau harus segera menikah dengan Intan agar Dhea tidak bisa mencuri kesempatan.” Batin Jefri.
***
Sementara itu, di kota tempat Mira kuliah, dia baru saja menyelesaikan berkas-berkas hasil pemrograman mata kuliah yang beberapa waktu lalu sempat dilakukan via online. Mira mengamati lembaran di genggaman tangannya. Tidak hanya sebatas itu, Mira juga mengecek satu per satu nama dosen via aplikasi untuk mahasiswa.
“Rasa-rasanya nama ini tidak asing.” Perhatian Mira tertuju pada satu nama dosen.
“Siapa, Mir?” Ibel, teman kuliah Mira penasaran dengan nama dosen yang sedari tadi menjadi perhatian.
“Sandhi Ardiaz Putra.”
“Oh. Itu dosen yang menggantikan Pak Gunadi untuk sementara. Denger-denger sih cuma sampai pertengahan semester.”
Mira merasa ketinggalan banyak informasi karena terlalu asik dengan aktivitas liburannya. Akan tetapi, ada hal lain yang masih mengganjal dalam hati. Perasaan Mira begitu kuat mengatakan bahwa dia memang tidak asing dengan nama Sandhi Ardiaz Putra.
“Mungkinkah dia … Kak Sandhi?” Mira terkejut dengan dugaannya sendiri.
Meski begitu yakin, Mira masih ingin memastikan sendiri. Tidak berniat pula untuk bertanya pada sang kakak terkait nama lengkap Sandhi. Mira tidak ingin mengganggu kakaknya hari ini. Karena, malam ini adalah malam spesial bagi Intan dan Devano.
“Hei, Mir. Kenapa jadi melamun gitu, sih? Kepikiran apa? wajah dosennya?” tebak Ibel.
“Hehe. Iya.” Mira memilih jujur.
“Dijamin tampan maksimal.”
Tatapan mata Mira menyelidik Ibel. “Kok kamu bisa tahu, sih?”
“Ah, Mira. Selama liburan kamu kemana aja, sih? Jarang cek grup chat ya? Foto Pak Sandhi sudah nyebar. Betul-betul tampan maksimal.”
Tentang grup chat, Mira memang jarang nimbrung obrolan di sana, apalagi selama liburan. Mira lebih fokus menyampuri urusan percintaan kakaknya daripada mengurusi basa-basi di grup chat-nya.
“Buruan cek, Mir!”
Mira buru-buru mengecek obrolan di grup chat. Layar ponsel terus digeser menuju obrolan paling atas yang sempat Mira lewatkan. Dan, ternyata benar. Sandhi Ardiaz Putra adalah Kak Sandhi yang dikenal Mira.
“Gawat, nih!” Mira membantin. Rasa-rasanya dia tidak ingin bertemu Sandhi setelah mengganti dukungannya untuk Devano Albagri.
__ADS_1
Apakah Sandhi akan balas dendam karena Mira lebih mendukung Devano untuk jadi kakak iparnya? Lalu, bagaimana momen saat Devano melamar Intan? Akan lancar atau harus lebih dulu melewati ujian seperti yang pernah Intan sampaikan? Nantikan lanjutan ceritanya!
Bersambung ….