
Kabar yang disampaikan sang ibu tentu membuat Intan terkejut. Pasalnya, ini adalah kali pertama ada yang datang untuk melamar Mira. Ditambah lagi, Intan tahu betul bahwa sang adik enggan bermain hati. Juga, saat ini pun sang adik tidak dekat dengan siapa pun. Ya, kecuali Sandhi, sih. Setahu Intan hanya Sandhi yang akhir-akhir ini membuat Mira sampai tidak bisa menjadi diri sendiri. Intan ingat betul bahwa Mira pernah mengaku baper pada Sandhi. Namun, tentulah bukan Sandhi yang datang untuk melamar Mira. Lalu, siapakah dia? Inilah yang mengusik pikiran Intan hingga dia tidak jadi merebahkan tubuhnya.
"Ibu serius?" tanya Intan.
"Ya masa iya ibu bohong. Ini perkara serius, Tan."
Sang ibu tampak melangkah lagi mendekati Intan. Dari raut wajahnya, tampak jelas sang ibu sedang berusaha meredam keterkejutan Intan. Senyum sang ibu mengembang, kemudian duduk di dekat Intan.
"Kamu ingin tahu siapa yang datang melamar adikmu?" tanya sang ibu yang sudah pasti akan diiyakan oleh Intan.
"Iya. Siapa dia?"
"Katanya sih pengagum rahasianya Mira sejak TK."
"Ha? Sejak TK?"
"Waktu ayahmu tanya pekerjaannya, dia bilang masih belum dapat kerja. Entah bercanda atau tidak, tapi dia bilang mau nunggu warisan saja."
"Eh?"
Sungguh lanjutan cerita yang tidak terduga. Intan seketika langsung bertanya-tanya tentang keseriusan sang lelaki datang melamar adiknya.
"Kok gitu, sih. Waktu ke sini lelaki itu datang sendirian?" Intan memastikan.
"Iya. Dia datang sendirian. Kalau datang sama orangtuanya ya pasti nggak berani nyebut-nyebut warisan."
Tawa Intan pecah juga. Cerita sang ibu sungguh mengundang tawa. Pikiran Intan langsung kemana-mana, membayangkan keributan kecil andai si lelaki yang melamar Mira datang bersama orangtuanya. Lebih dari itu, Intan jadi punya ide gilla untuk lanjutan bab-bab novelnya. Ya, dasar Intan sang penulis, di saat sakit pun imajinasinya masih saja berkeliaran.
"Apa lamarannya diterima?" tanya Intan yang sebenarnya sudah menduga-duga jawabannya.
"Ya nggaklah. Apalagi kamu tahu sendiri kan ayahmu bagaimana kalau urusan seperti ini. Seriusnya nggak selevel sama Nak Devano. Kalau yang ini sepertinya belum tahu kehidupan pernikahan itu seperti apa. Belum dewasa."
Akhirnya Intan bisa bernafas lega. Tidak lagi terkejut, apalagi sampai khawatir berlebihan seperti sebelumnya.
"Mira apa mau dikasih tahu tentang ini, Bu?"
"Jangan, deh. Nanti dia kepikiran terus nggak fokus kuliah. Biar dia kuliah yang betul dulu sampai lulus. Baru mikirin cinta-cintaan."
Deg!
Mimik wajah Intan seketika itu berubah usai sang ibu menyelesaikan kalimatnya. Pikiran yang tadi tenang, kini mulai terusik lagi karena satu hal. Intan menggaris bawahi kalimat sang ibu yang secara tidak langsung ingin Mira menyelesaikan kuliahnya dulu, baru setelah itu memikirkan cinta. Lalu, bagaimana jika jodoh Mira sewaktu-waktu menyapa dan melamar saat Mira masih kuliah? Dan, bagaimana jika yang melamar adalah sosok yang lebih dewasa, jauh berbeda dari yang pernah datang melamar Mira?
"Bu, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Intan. Dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya bolehlah. Mau tanya apa?"
"Andai jodoh Mira datang saat Mira belum menyelesaikan kuliahnya, apa ibu dan ayah akan menolak lamaran lelaki yang datang itu?"
Sang ibu terdiam. Tampak jelas menyelidik ke dalam bola mata dan mimik wajah yang diperlihatkan Intan.
"Pasti kamu kepikiran ya?" Sang ibu ramah bertanya pada Intan.
Intan mengangguk berulang. Dia memang kepikiran.
"Ibu dan ayahmu memang ingin yang terbaik untuk Mira. Tapi, kami tidak akan menghalangi siapa saja yang berniat baik terhadapnya. Pokoknya nggak aneh-aneh seperti yang datang kemarin itu. Dikira lamaran itu bahan candaan apa."
Syukurlah. Intan sangaaaaat lega mendengar penjelasan dari ibunya. Kini, tidak ada lagi yang membuatnya khawatir.
"Kamu jangan berpikiran aneh-aneh lagi, ya. Simpan imajinasimu dalam novel saja. Tapi, nanti. Sekarang kamu harus sembuh. Biar Nak Dev nggak kepikiran kamu terus."
__ADS_1
"Iya, Bu. Intan mau istirahat dulu."
Kondisi Intan perlahan membaik hari itu. Istirahat penuh, jamu, juga perhatian dari sang ibu menjadi ramuan tersendiri yang mendukung Intan untuk cepat sembuh.
Intan tetap dalam rutinitasnya. Mengajar murid-murid di sekolah, menulis lanjutan bab-bab novel on going-nya, juga sesekali membantu beberapa orang mempersiapkan keperluan pernikahannya. Secara tidak langsung, Intan juga menabung rindu untuk Devano. Sudah beberapa waktu berlalu, dan Intan belum bertemu lagi dengan calon suaminya itu. Hingga kemudian, tiga minggu telah berlalu. Masa LDR-an akan segera berakhir, dan hari pernikahan Intan dan Devano akan segera hadir.
Hari ini, Intan berpenampilan lebih rapi. Dari pagi hingga menjelang sore hari senyum Intan mengembang tiada henti. Ada perasaan bahagia yang tengah dirasa, karena sore ini Devano akan kembali ke kotanya. Satu bulan benar-benar sudah berlalu, dan Devano tidak akan kemana-mana lagi selain menunggu momen bahagia itu.
Sebenarnya Intan ingin menjemput Devano di terminal, karena Devano pulang menggunakan bus umum. Namun, Devano tidak mengizinkan. Apalagi sore ini Intan sedang dalam kegiatan. Dia mengantar beberapa murid dalam satu ajang perlombaan. Tidak lama, hanya dua jam saja. Dan, mereka semua pulang dengan mengantongi kabar gembira. Ada beberapa piala dan piagam penghargaan yang berhasil mereka bawa pulang. Meski Intan tidak ikut membimbing, tapi dia ikut bangga dengan prestasi murid-murid di sekolahnya.
"Bu Intan, mama kok lama sih?" Salah satu murid Intan tidak sabar menunggu sang mama datang menjemputnya. Intan paham, muridnya yang satu ini tidak sabar menunjukkan pialanya pada sang mama.
"Sabar dulu, ya. Sebentar lagi pasti mama datang." Intan menenangkan.
"Uuh. Mama pasti sibuk mengurus toko sendirian. Coba saja ayah masih ada. Pasti mama nggak akan terlalu capek kerja."
Tiba-tiba murid Intan curhat mengungkit tentang keberadaan sang ayah. Tentu saja Intan penasaran, kemanakah ayahnya sampai sang mama harus sibuk bekerja sendirian? Dan, pertanyaan Intan langsung terjawab bahkan sebelum Intan mengajukan pertanyaan. Murid Intan bercerita sendiri tanpa diminta.
"Kata mama ayahku selingkuh. Makanya nggak mau tinggal lagi sama mamaku."
Deg!
Intan sering mendengar kisah semacam ini. Sangat sensitif untuk diceritakan, bahkan untuk menanggapinya pun butuh kehati-hatian.
"Apa kamu rindu ayah?" tanya Intan.
"Nggak juga sih, Bu. Karena kata mama ayahku nggak pernah rindu sama aku."
Intan sepertinya salah bertanya, karena jawaban sang murid seolah lebih menyudutkan posisi ayahnya. Apalagi Intan belum tahu fakta yang sebenarnya. Dia hanya bisa menduga-duga apa yang tengah terjadi sampai ada perselingkuhan di dalamnya.
"Tapi sebentar lagi kata mama aku akan punya ayah baru loh, Bu. Semoga ayahku yang baru baik seperti Bu Intan, ya."
"Iya. Bu Intan kan nggak pernah marah-marah. Kata mama ayahku yang dulu suka banget marah-marah."
Rupanya curhatan murid Intan berlanjut. Karena Intan tidak ingin salah lagi dalam bertanya, jadilah untuk sementara ini dia hanya mendengarkan saja. Setelah dirasa cukup informasi, barulah Intan akan menanggapi. Akan tetapi, niatan Intan tidak terwujud karena muridnya itu sudah dijemput.
"Hore mama datang."
Usai melonjak girang, Intan dipeluk erat oleh sang murid.
"Terima kasih Bu Intan sudah menemaniku lomba hari ini. Aku pulang dulu ya, Bu."
"Hati-hati di jalan ya. Dan, jangan lupa untuk selalu semangat belajar." Hanya itu pesan yang Intan sampaikan. Dia tidak ingin lagi mengungkit curhatan sang murid.
Seiring dengan itu, hati Intan menggemakan satu doa. Intan berdoa agar rumah tangganya kelak selalu diselimuti kebahagiaan dan keberkahan, serta dihindarkan dari kasus perselingkuhan.
"Hai cantik!" sapa seseorang pada Intan.
Intan kenal betul dengan suara itu. Dan, benar saja. Saat Intan balik badan, senyum manis Devano langsung menyambutnya.
"Deeeev!"
Intan berlarian kecil mendekat ke arah tepian jalan.
"Eh-eh. Hayo mau ngapain? Pasti mau meluk aku, kan?" Dengan PDnya Devano berkata demikian.
"Iih. Siapa juga yang mau meluk." Intan memalingkan wajah ke arah kanan, sok cemberut, padahal salting.
Tapi, saat memalingkan wajah itulah Intan justru melihat seorang wanita yang sama sekali tidak dia kenal. Wanita itu berjalan mendekat, tersenyum ke arah Devano.
__ADS_1
"Sudah ya, Dev. Aku balik dulu. Bye-bye!" Si wanita pamit dan sempat melirik ke arah Intan.
Untuk sejenak, baik Intan maupun Devano sama-sama memperhatikan si wanita sampai mobilnya menghilang. Baru setelah itu Intan segera mengajukan pertanyaan.
"Siapa dia?"
"Namanya Rose. Tadi aku menumpang mobilnya."
"Dari?"
"Dari terminal. Dia tahu aku tidak membawa motor, jadinya ditawari tumpangan."
"O."
Jawaban singkat dari Intan mengundang perhatian Devano. Apalagi Devano sempat menangkap aura cemburu dari calon istrinya itu.
"Cie ada yang cemburu nih sepertinya."
"Siapa yang cemburu. Nggak, kok." Intan memang berkata tidak, tapi sikap yang ditunjukkan justru berkebalikan.
"Jangan cemburu, ya. Tadi sebenarnya aku mau langsung pulang ke rumah. Terus Rose tanya apa aku sudah punya pacar. Ya aku bilang saja kalau aku sudah punya istri. Sekalian saja biar dia percaya makanya aku minta dia hentikan mobilnya di sini. Biar ketemu kamu, Tan. Eh ternyata malah langsung pamit pulang."
Intan manggut-manggut. Bersyukur juga karena Devano langsung menegaskan bahwa Intan adalah istrinya, meski sebenarnya mereka baru akan menikah dua minggu lagi.
"Aku senang mendengarnya. Yuk nikah! Ups! Hehe. Maksudku, yuk pulang ke rumah."
Devano langsung tertawa melihat Intan yang salah tingkah.
"Tunggu sebentar, ya. Aku sudah menghubungi Jefri dan Reynal. Mereka mau bantu membawakan barang-barangku." Devano menunjuk beberapa barang yang tergeletak di trotoar jalan.
"Kamu ngerepotin mereka, Dev. Kan bisa pesan ojek online."
"Mereka siap direpotkan. Tenang saja."
Jeda sebentar. Devano menuju barang-barangnya dan segera mengambil sesuatu dari sana. Intan ikut mendekat agar Devano tidak terlalu jauh dengan barang-barangnya.
"Ini untukmu." Devano menunjukkan pin cantik berornamen bunga mawar. Ada permata keunguan di tengahnya.
"Bagus sekali, Dev."
"Kamu suka?"
"Iya. Suka sekali."
Kado kecil dari Devano rupanya mampu membuat bola mata Intan berbinar. Bukan karena kadonya, tapi karena ketulusan perasaan yang tersemat di dalamnya. Sesungguhnya Devano sangat rindu, tapi tidak bisa begitu saja mengungkapkan rasa rindu itu. Devano masih harus menunggu masa dua minggu itu. Setelah ini, dia dan Intan akan bersatu.
"Oya, sebelum berangkat tadi Mira datang ke kontrakan. Dia memberiku ini." Devano menunjukkan obat anti mabuk perjalanan. "Katanya sih biar dikira peduli pada kakak ipar." Devano tertawa ringan di akhir kalimatnya.
"Mira ada-ada saja. Bagaimana ya kabarnya? Semoga dia di sana baik- baik saja." Doa Intan.
Intan tidak tahu, bahwa sang adik tengah menghadapi situasi sulit nan rumit. Selama tiga minggu ini Mira berusaha menjauhi Sandhi, tapi yang ada justru lebih sering bertemu dan ada saja yang membuat Sandhi selalu berhasil membantu Mira. Di samping itu, Mira juga mulai mendapatkan teror lagi dari seorang misterius yang membencinya. Mira, dia bahkan didesak untuk menjauhi Sandhi.
"Tan, besok ikut aku ya?"
"Kemana, Dev?"
"Coba baju pernikahan kita."
Intan dan Devano akan segera menikah. Perjalanan cinta sang guru muda akhirnya akan bertemu dengan puncak bahagianya. Tapi, apakah setelah ini semua akan baik-baik saja? Lalu bagaimana dengan perjalanan cinta Mira?
__ADS_1
Bersambung ....