PANTAS

PANTAS
Bab 22 - Bimbang


__ADS_3

Devano menggantung kalimatnya. Hati dan pikirannya bergejolak. Insecure dadakan, itulah yang dia rasakan. Kembali, lagi-lagi Devano merasa tidak pantas mendapatkan cinta Intan jika saingannya adalah Sandhi, yang sejatinya adalah seorang dosen muda tampan.


“Lalu, apakah aku benar-benar pantas untuk Intan?” Batin Devano, kembali mempertanyakan.


Tetiba saja muncul bayangan Intan, senyum dan raut sebalnya, hingga tatapan mata yang sempat menjerat Devano saat terjebak hujan kala senja. Hingga kemudian, jentikan jari Reynal membuyarkan pikiran Devano yang saat itu benar-benar bimbang.


“Dev, ada apa denganmu?” tanya Reynal.


“Devano bingung, Rey. Sebe- ….” Kalimat Jefri terhenti, karena Devano memberi isyarat jari.


“Sebenarnya, hari ini aku dan Jefri dapat shift sore. Jadi, aku tidak bisa membantu mengirimkan buket bunganya." Devano beralasan, padahal bukan itu yang sebenarnya ingin dia sampaikan.


Sebenarnya Devano hendak bercerita semuanya. Tentang Intan dan dirinya. Tapi, pikiran dangkal Devano yang baru saja muncul justru membuatnya bingung. Jadilah, Devano urung bercerita pada Reynal.


“Tidak harus hari ini, Dev. Bisa besok, besoknya lagi, atau besoknya lagi.” Reynal merangkul pundak Devano ala sahabat sejati, lantas melanjutkan kalimatnya lagi. “Misi kita adalah mencari tahu lelaki yang dicintai Intan. Urusan perasaan Sandhi, biarlah dia yang mengurusnya sendiri. Oke?”


“Baiklah. Tapi …”


“Tapi apa?”


Lagi-lagi Devano menggantung kalimatnya. Beberapa detik lamanya sorot mata Devano diarahkan ke Reynal, seolah ada hal yang tengah dia pikirkan, sedang ditimbang, tapi akhirnya urung dikatakan.


“Tapi, biarkan aku sendiri yang menjalankan misi. Kamu, fokus saja pada persiapan pernikahanmu.” Senyum Devano mengembang.


“Kamu yakin, Dev?”


Devano mengangguk. “Kalau kita berdua tiba-tiba muncul dan bertanya, itu akan membuat Intan curiga. Biar kuatur strategi. Kebetulan aku lumayan akrab dengan Intan.”


Reynal menepuk-nepuk bahu Devano. Senyumnya melebar. Reynal tampak puas karena ekspetasinya melebihi bayangan.


“Aku baru ingat kalau Intan dulunya akrab denganmu. Dulu kalian satu organisasi, bukan?”


Lagi-lagi Devano mengangguk, membenarkan. Meski pernah satu organisasi, tapi bukan itu yang Devano maksudkan. Yang dimaksud Devano dengan lumayan akrab dengan Intan adalah saat dia dan Intan mencipta kebersamaan dengan anak-anak danau, hingga saat terjebak hujan di warung kopi kala senja tempo hari.


“Baiklah, Dev. Aku percayakan padamu.”


Obrolan siang itu diakhiri dengan kesepakatan di luar nalar. Lebih tepatnya, Jefrilah yang merasa bahwa kesepakatan yang dibuat Devano dan Reynal benar-benar membingungkan.


“Kau ini waras nggak, sih?” seru Jefri setelah berhasil menghentikan motor Devano di ujung jalan. Ya, Devano dan Jefri telah pamit dari rumah Reynal.


“Tidak,” jawab Devano singkat sambil mematikan mesin motornya.


“Ck. Pantesan!”


Dimulailah gerutuan Jefri. Dia protes tentang Devano yang tidak mau jujur pada Reynal. Tentang Intan, harusnya Devano katakan saja kalau menyimpan perasaan. Harusnya Devano tidak menerima misi, karena itu sama artinya dengan mendukung Sandhi. Begitulah yang Jefri proteskan.


“Tadi kau melihat juga foto wajah Sandhi, bukan? Bagaimana menurutmu, Jef?”

__ADS_1


“Wajahnya?”


“Iya.”


Jefri tampak berpikir. Dari keseluruhan yang dia lihat dari foto Sandhi, hanya satu kata yang menurutnya bisa mewakili.


“Bening,” ungkap Jefri.


“Bagaimana dengan profesinya?”


“Ya … oke, sih. Jadi dosen di usia muda, siapa pun ingin jadi seperti dia.”


“Lalu …. Menurutmu, bagaimana jika seorang guru cantik menjadi istri dosen tampan? Pantas, bukan?”


*Sreeet!


Kriek!


Byur*!


Wajah Devano disiram sebotol air mineral begitu Jefri menyadari arah bicara. Tidak hanya bagian wajah yang basah, baju Devano juga. Sikap spontan Jefri benar-benar nekat. Tapi, semua Jefri lakukan dengan dasar teguran untuk seorang sahabat.


“Jeeef!”


“Hm?” Jefri tampak seperti menantang Devano.


“Harusnya kaulah yang bertanya seperti itu pada dirimu sendiri, Dev! Apa maumu? Mau menyerah? Merelakan Intan untuk Sandhi saja? Hanya karena Sandhi dosen? Iya?”


Devano langsung membuang pandang karena merasa tertegur ucapan Jefri. Memang demikianlah yang Devano rasakan sebelum ini. Merasa tidak pantas untuk Intan usai melihat sosok Sandhi.


“Pakai sok-sok’an menerima misi. Perhatikan juga perasaanmu sendiri, Devano Albagri.”


Jefri, sahabat sekaligus teman kerja Devano itu benar-benar menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang berbeda. Baru kali ini Jefri bersikap senekat ini.


“Aku tahu aku salah,” lirih Devano.


“Sudah tahu salah masih dilanjutkan juga. Ck. Dasar!”


“Tapi ….”


“Tidak perlu banyak tapi-tapi, Dev!”


Devano mengusap wajahnya, mendongak, menatap langit sejenak, kemudian kembali melihat wajah Jefri yang masih tampak diselimuti emosi.


“Biarkan aku berpikir,” pinta Devano.


“Terserah. Yang penting jangan terlalu lama. Aku tidak ingin melihatmu jadi tamu undangan di pesta pernikahan Intan.”

__ADS_1


Usai berkata demikian, Jefri menghidupkan mesin motornya. Sebelum motor dilajukan, Jefri mengepalkan tangan sebagai isyarat agar Devano semangat.


***


Sepulang dari memberi les privat untuk terakhir kalinya di rumah Yunia, Intan menuju warung kopi di ujung jalan. Di warung kopi itulah Intan dan Devano pernah terjebak hujan. Sama seperti sekarang, Intan pun terjebak hujan. Bedanya, Intan berteduh di warung kopi itu tanpa Devano.


“Kopi hitamnya, Mbak. Silakan.”


Intan tersenyum ramah pada si pemilik warung kopi, seorang ibu paruh baya yang juga selalu ramah pada pembeli.


“Devano sudah punya kekasih. Sedangkan Sandhi ….” Intan geleng-geleng kepala, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Sandhi bukan untukku. Dia plin-plan. Tidak tegas. Bisanya membingungkan perasaanku saja,” gumam Intan, sambil menyeruput kopi.


“Malang nian nasibmu, Tan.” Intan menarik nafas dalam.


Tetiba saja terbersit di ingatan Intan tentang paket lukisan wajah yang dia terima. Intan menebak-nebak siapa pengirimnya.


“agoyngab96.id. Apa mungkin salah satu pembaca novelku, ya?” tebak Intan.


Sembari tetap menerka-nerka pengirim lukisan wajah, Intan terus menyeruput kopinya. Sempat juga Intan berpikir akan hadir bersama Mira, tapi pikiran itu langsung Intan singkirkan karena tidak ingin jadi bahan candaan sang adik.


Tanpa Intan sadari, di warung kopi itu ada yang memperhatikan dirinya. Dialah Yoga, kakak kandung Devano. Yoga berada di warung kopi itu bersama sang istri.


“Lagi ngelihatin apa, Mas?” tanya Maya, istri Yoga.


“Bukan apa-apa. Hujannya, tuh!” Yoga berdalih.


“Semoga cepat reda. Kasihan baby dalam perutku, Mas.” Maya tampak mengusap-usap perut buncitnya.


Yoga tersenyum mengiyakan. Kursi tempatnya duduk sedikit Yoga geser agar sosoknya benar-benar tersembunyi dari pandangan Intan. Untung saja warung kopinya cukup luas, dan sedang banyak pelanggan.


Dua puluh menit kemudian, hujan mereda. Intan bersiap pulang ke rumah. Dengan riang, Intan melangkah meninggalkan warung kopi beserta hal rumit yang sempat dia pikirkan di sana.


Cekrek-cekrek-cekrek!


Yoga mengambil potret Intan diam-diam, tentunya tanpa sepengetahuan istrinya. Tiga foto berhasil didapatkan. Kemudian, Yoga mengirimkan foto-foto itu pada Devano.


Aku mengundang Intan. Datanglah juga. Kutunggu di nana’s ice cream Hari Rabu pukul tujuh malam. Pesan Yoga, di bawah ketiga foto yang dia kirimkan pada Devano.


Ada hal rumit. Maaf, aku tidak bisa datang, Bang.


Datanglah. Jika tidak, Intan akan kujadikan istri keduaku.


Oke. Aku datang.


Kenapa Yoga bersikeras akan menjodohkan Devano dan Intan? Ada apa sebenarnya? Tentang Jefri yang menegur Devano, apakah ada yang suka? Terus ikuti novel ini untuk tahu lanjutan ceritanya. Salam Luv 💜


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2