
Kepada Mira, Intan tidak berterus terang jika akan pergi menemui Sandhi. Intan hanya bilang bahwa dirinya akan bertemu teman lama, tidak akan lama, dan akan segera kembali begitu selesai berjumpa. Intan juga menolak ditemani Mira. Dengan lebih dulu menawari makanan untuk dibelikan saat pulang, berangkatlah Intan sendirian.
Rencananya Intan akan memesan ojek online roda empat untuk bertemu Sandhi di tempat yang telah disepakati. Namun, saat Intan berada di ujung gang kos-kosan Mira, tampak mobil Sandhi di sana. Buru-buru Intan menghampiri Sandhi demi memastikan benar tidaknya. Dan, benar dugaan Intan. Mobil yang dilihat olehnya memang benar-benar mobil Sandhi.
"Belum pesan ojek, kan?" Sandhi tahu kebiasaan Intan, jadi langsung bertanya untuk memastikan.
"Belum."
"Syukurlah aku datang tepat waktu. Ayo naik!" Sandhi memberi kode agar Intan masuk mobil.
Tidak menolak, itulah yang menjadi pilihan Intan. Lagipula Intan juga belum memesan ojek, dan kedatangan Sandhi terhitung sebagai satu kemudahan bagi Intan. Malam ini Intan akan meminta kejelasan pada Sandhi, khususnya berkaca dari curhat yang disampaikan Mira.
Intan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih pukul 19.19 malam. Seketika itu Intan membuat perkiraan waktu, membatasi dirinya agar tidak pulang terlalu malam. Maksimal pukul 21 malam Intan akan kembali ke kos-kosan.
"Sudah makan malam?" tanya Sandhi.
"Belum."
"Mau menu nasi goreng, lalapan, atau yang lainnya?"
"Nasi sambal saja," pilih Intan.
"Hm? Kamu nggak papa makan pedas terus, Tan? Tadi sudah makan ceker setan lho."
"Perutku sudah terlatih."
"Ou-key, baiklah kalau begitu. Aku yang pilih tempatnya, ya."
Intan mengangguk, membiarkan Sandhi memilih tempatnya. Padahal, sebelum ini sudah ada tempat temu yang telah disepakati. Tapi gegara Intan menyembut menu nasi sambal, Sandhi jadi putar haluan menuju tempat makan yang menjual menu nasi sambal.
Selama perjalanan, di dalam mobil tidak banyak obrolan yang dibuat. Baik Intan maupun Sandhi lebih banyak diam. Sandhi fokus pada jalanan, sementara Intan sibuk mengamati lampu-lampu jalanan. Satu pemandangan biasa, tapi jadi penuh kesan saat diperhatikan.
Akhirnya sampai juga. Sandhi mempersilakan Intan untuk duduk sementara dirinya yang memesan. Sandhi juga memesan lebih dalam bentuk bungkusan sehingga Intan dan Mira bisa memakannya saat di kos-kosan.
Melihat semua perhatian Sandhi itu, Intan sama sekali tidak mempermasalahkan. Dibiarkan saja Sandhi bersikap perhatian. Yang terpenting untuk malam ini, Intan harus bisa mengantongi penjelasan dari Sandhi.
"Sandhi, tentang ...." Ucapan Intan langsung dipotong oleh Sandhi.
__ADS_1
"Sst. Kita akan banyak mengobrol, tapi setelah makan. Oke?" Sandhi tersenyum ramah pada Intan.
"Baiklah."
Dengan diiringi denting piano yang disuguhkan rumah makan, Intan makan dengan nyaman. Begitu tenang tanpa obrolan sama sekali. Menu nasi sambal yang dipesan Intan sebenarnya adalah menu lauk ayam goreng, tapi nasinya disiram dengan bumbu sambal yang khas. Pas sekali bagi pecinta rasa pedas. Berbeda dari Intan, menu yang dipesan Sandhi adalah menu nasi ayam crispy. Sandhi bahkan tidak menyentuh saus sambalnya sama sekali.
"Mau tambah lagi, Tan?" tanya Sandhi begitu melihat piring Intan bersih.
"Tidak. Terima kasih. Aku ingin mendengar penjelasanmu saja."
Kode keras dari Intan untuk Sandhi. Memang, Intan tidak ingin basa-basi lagi. Waktu makan yang terlewati sudah cukup sebagai awal obrolan malam ini.
"Tentang Mira, aku minta maaf." Sandhi pun memilih untuk langsung berterus terang. "Mira pasti sudah cerita tentang ... aku yang benar-benar khilaf saat itu." Jeda sebentar "Saat di dalam mobil," imbuh Sandhi kemudian.
Intan sama sekali tidak menduga bahwa Sandhi akan langsung membahas Mira, bahkan langsung mengakui kekhilafannya. Intan jadi tidak perlu repot-repot membuat pancingan kata hingga Sandhi mau menjelaskan semua.
Usai mendengar awal pengakuan Sandhi, Intan lebih dulu mencoba menenangkan hati. Sejujurnya Intan tidak terima, ingin marah pula. Tapi apa yang hendak diluapkan, Intan sama sekali tidak berniat untuk melebih-lebihkan, apalagi sampai membuat ancaman. Yang Intan harapkan adalah keterangan, juga sikap ke depan.
"Mira sudah bercerita. Baru hari ini dia bercerita," ungkap Intan.
"Apa saja yang Mira katakan padamu, Tan? Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa lagi saat itu. Sungguh. Waktu itu aku melihat Mira yang sangat mirip denganmu, Tan. Aku ... aku ...." Sandhi menjeda, kemudian menarik nafas pelan dan melanjutkan penjelasannya. "Maaf, kukira waktu itu aku gagal melupakanmu. Aku benar-benar minta maaf."
"Cerita Mira sama persis seperti yang kamu ceritakan," ungkap Intan.
"Mira sadar kalau waktu itu yang ada di pikiranku adalah ... kamu."
Intan mengangguk dengan ekspresi datar. Dia tidak lagi terkejut karena sudah lebih dulu terkejut ketika Mira yang bercerita.
"Sandhi, aku tidak menyalahkanmu atas sikapmu waktu itu. Memang, ada kalanya kita tidak bisa mengendalikan isi hati dan pikiran sampai-sampai bersikap tidak wajar. Tapi, sebaiknya mulai sekarang kamu menjaga jarak dari Mira. Tidak perlu lagi mengantarnya pulang kalau ketemu di jalan."
Intan menjeda sebentar. Kemudian dia mengeluarkan selembar foto yang diam-diam dia ambil dari rak penyimpanan milik Mira. Foto itu adalah foto yang digunakan untuk mengancam Mira, yang dilempar oleh seorang yang sama sekali belum diketahui identitasnya.
Sandhi terpancing dengan foto yang ditunjukkan Intan. Apalagi saat membaca tulisan di bagian belakang foto yang menyebut Mira sebagai pelakor. Tangan Sandhi spontan meremat foto itu, tapi buru-buru Intan ambil lagi sebelum foto itu tidak lagi bisa dikenali.
"Siapa dalang di balik foto ini?" Jelas sekali Sandhi tampak emosi.
"Itu dia. Mira sampai sekarang juga tidak tahu siapa yang melempar foto itu ke wajahnya."
__ADS_1
Sandhi meraih gelas yang masih tersisa setengah isinya. Berharap, emosinya sedikit mereda setelah meneguk minumannya.
"Aku sudah memberi nasihat kecil untuk Mira. Dan kamu, San. Mulai sekarang kamu juga harus menjaga jarak dari adikku. Bukan untuk apa-apa. Tapi untuk kebaikan kalian berdua." Intan menahan diri agar tidak sampai keceplosan bilang kalau Mira sempat dibuat baper gara-gara ulah Sandhi.
"Baik, Tan. Aku mengerti. Sekalian juga aku mengatakan sesuatu padamu. Ini tentang Fani dan kakaknya."
Topik pembicaraan resmi berganti. Kali ini Intan memberi perhatian lebih, karena jika nama Fani dan kakaknya disebut, itu artinya ada sesuatu yang serius.
Sandhi mulai bercerita. Lebih tepatnya berterus terang, mengungkap apa yang sebenarnya sudah terjadi beberapa waktu silam. Sandhi blak-blakan mengungkap keadaan yang tenang tanpa gangguan dari Farel dan anak buahnya. Semua itu salah satunya karena Sandhi telah membuat satu kesepakatan.
Tantangan 31 hari juga diceritakan. Dan, bagian inilah yang membuat Intan tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Gilla, begitulah yang terbersit di awal ketika Sandhi baru saja memberi penjelasan.
"Kamu nekat sekali, San. Bagaimana mungkin kamu mau menikahi Fani tanpa cinta, ha? Kalau kamu ingin melindungi aku ataupun Fani, bukan seperti itu caranya."
"Aku yakin, lama-lama cinta itu pasti akan tumbuh," ucap Sandhi meski setengah ragu. Terlihat jelas dari tatapan matanya.
"Seberapa hebat kuasa kakaknya Fani itu, sih? Sampai dia bisa bertindak semaunya." Tersulut juga emosi Intan. Dia tidak terima.
"Terkadang, uang memang memiliki kuasa lebih, sampai-sampai membutakan hati." Ungkapan Sandhi ini sekaligus menjelaskan bahwa Farel sungguh kaya raya sampai bisa melakukan banyak hal dengan uang yang dimiliki.
Kedua mata Sandhi terpejam saat mengingat Farel. Tapi, setelahnya dia teringat lagi dengan niat ingin melindungi Intan dan Fani. Saat itu, alasan ingin melindungi Intan memang paling dominan. Namun, seiring berjalannya waktu, Sandhi tidak bisa menyangkal adanya perubahan. Jujur saja, sekarang Sandhi lebih peduli pada Fani. Sejalan dengan itu, niat untuk melindungi pun semakin berlebih.
Intinya, waktu benar-benar bisa mengubah segalanya. Dulu, perasaan Sandhi pada Intan memang menggebu. Tapi sekarang, rasanya lebih samar, bahkan rasa cemburu itu pun lebih bisa dikendalikan.
"Apa Fani tahu hal ini?" tanya Intan.
Sandhi menggeleng. "Aku masih merahasiakan ini darinya. Tapi ...."
Intan menunggu lanjutan kalimat Sandhi. Sorot mata Sandhi tampak melembut, dia tertunduk sebentar kemudian lanjut.
"Sepertinya aku mulai menyukai Fani," ungkap Sandhi.
Pernyataan yang sungguh-sungguh tidak terduga. Pikiran Intan langsung kemana-mana. Dia kepikiran Mira. Langsung berdoa pula agar kebaperan Mira tidak berlanjut karena ada satu fakta yang pasti akan sangat menyakiti hatinya. Selain itu, Intan juga teringat fakta lainnya. Tentang Fani yang terang-terangan bilang kalau menyukai Benny. Pasti perjalanan cinta Sandhi ke depan tidak akan semudah yang dibayangkan. Rumit, kata itulah yang tepat digunakan untuk menggambarkan kondisi Sandhi dan Fani saat ini.
"Bagaimana reaksi Fani kalau dia tahu tentang ini?" celetuk Intan, dia tidak memiliki kata lain untuk diungkapkan.
Dan ... keadaan semakin rumit saja. Ternyata obrolan mereka tidak lagi bisa dikatakan rahasia. Di meja lainnya, ada seseorang yang sedari tadi mendengarkan. Penampilannya tersamarkan oleh jaket dan kacamata hitam, membuat Sandhi dan Intan sama sekali tidak sadar kalau sedari tadi ada orang lain yang memperhatikan, mencuri dengar, dan orang ini sama sekali bukan orang asing bagi Sandhi dan Intan.
__ADS_1
Siapa dia yang mencuri dengar? Bagaimana kelanjutan ceritanya? Nantikan! Salam Luv 💜
Bersambung ....