
Secangkir kopi dan seiris roti isi keju menjadi perhatian Devano. Dia terheran karena tidak biasanya sahabat sekaligus teman kerjanya itu hanya memesan menu ringan untuk makan siang. Jefri, dialah lelaki yang saat itu menyebut Devano dengan sebutan Pak saat kejadian Intan dan Devano tercebur kolam.
Rambut klimis dan berkacamata menjadi ciri khas Jefri. Posturnya tinggi, sama seperti Devano. Hanya saja, senyum Devano lebih memesona daripada Jefri. Ya, begitulah yang orang-orang katakan tentang mereka berdua. Baik Devano maupun Jefri, mereka berdua telah bersahabat sejak sama-sama mulai bekerja.
“Tumben pesan kopi sama roti?” Devano bertanya sambil menyuap lalapan nasi ayam ke dalam mulutnya.
“Sengaja. Sebentar lagi pasti kenyang dengar ceritamu, Dev.”
“Cerita apa?”
“Pacar barumu.”
“Yang mana?”
“Yang kemarin. Yang kamu ajak ke danau anak-anak.”
“O. Dia bukan pacarku.”
Devano tampak biasa-biasa saja, sementara Jefri sudah heboh sambil mulai mengunyah roti isinya. Berulang kali Jefri membujuk Devano untuk bercerita tentang Intan, tapi tidak diiyakan. Hingga nasi lalapan ayam pesanan Devano habis, niat untuk bercerita itu masih belum ada. Devano memang tidak ingin bercerita apa-apa. Baik tentang Intan, ataupun tentang anak-anak yang kemarin belajar bersamanya.
Jefri tidak menyerah. Dia terus membujuk Devano untuk bercerita padanya. Dan, usaha pun tidak mengkhianati hasil. Jefri bersorak girang karena akhirnya Devano mengiyakan.
“Mau cerita yang mana, Jef?”
“Cerita bagian Intan.”
“Oke. Intan. Dia mengajari anak-anak tentang luar angkasa, tentang cita-cita, dan dia banyak membantuku di sana. Intan senang, anak-anak senang, dan aku pun senang. Setelah mengajar, main ayunan sebentar, dapat oleh-oleh, terus kita pulang deh. Selesai.”
Jefri auto tepuk jidat mendengar cerita Devano yang sama sekali tidak beritme, bahkan terkesan datar sekali. Seolah-olah tidak ada hal spesial yang terjadi.
“Dev, aku serius tanya, nih!”
“Aku juga serius cerita, Jefri.”
“Baiklah. Terserah kau saja.” Jefri akhirnya menyerah.
“Hahaha.”
Devano tahu betul cerita apa yang diharapkan sahabatnya itu. Meskipun ada hal spesial yang terjadi, tapi Devano telah memutuskan untuk tidak berbagi. Dia akan menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Lagipula, dia masih ragu dengan perasaanya. Memang, sempat ada hal indah yang memabukkan hatinya. Devano tahu itu perasaan cinta. Namun, ada hal lain yang menjadi pertimbangannya.
“Kamu sama Dhea gimana, Dev? Masih cinta?” Jefri tiba-tiba menyinggung soal Dhea, mantan gebetan Devano.
“Iya.”
__ADS_1
“Duh, nih anak betul-betul! Move on, Dev! Dhea sudah mau nikah!”
"Akan aku usahakan.”
Devano berkata jujur. Di dalam hatinya memang masih tersimpan nama Dhea, dan dia tahu harus berbuat apa setelah takdir tidak memihak mereka. Namun, Devano butuh waktu untuk itu. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi Devano akan tetap mengusahakan.
Tentang Intan, Devano memang menyimpan perasaan. Perasaan yang begitu lama, sejak di bangku sekolah menengah. Tapi, itu semua perasaan masa lalu. Setelah sekian tahun tidak bertemu, perasaan itu memudar dan hampir hilang. Hingga dia dan Intan kembali dipertemukan di tepian kolam, saat itulah Devano mulai kembali bisa merasakan. Perasaan cinta yang lebih dari sekedar perasaan kenangan. Perasaan tulus yang tidak bisa Devano ungkapkan.
“Aku tidak ingin perasaanku pada Intan seolah menjadi perasaan pelarian atas perginya Dhea.” Batin Devano, tiba-tiba saja kembali teringat momen spesialnya dengan Intan saat di danau berair jernih.
“Kenapa kamu nggak coba dekati Intan, Dev. Siapa tahu kalian berjodoh.”
Devano menanggapi dengan senyuman, lantas mulai terbuka mengutarakan apa yang sedang dia rasakan.
"Apa aku pantas dengan Intan, Jef?”
“Ya pantas-pantas aja, lah. Sekarang aku tanya. Kamu suka nggak sama dia?”
Devano mengangguk singkat.
“Bagus! Mantap! Laki, Bro! Langsung aja tembak dia!” Jefri heboh sendiri.
“Tapi, gimana, ya?”
Jefri mengambil kopi miliknya yang masih belum tersentuh. Disodorkannya kopi itu pada Devano, kemudian sedikit memaksanya untuk segera meminumnya.
“Minum aja! Aman. Nggak ada racun. Minum, biar melek!”
Sikap Jefri yang heboh membuat Devano geleng-geleng kepala. Kopi yang disodorkan padanya, tidak diminum. Devano kembali menyodorkan pada Jefri, lantas sedikit memaksanya untuk menyeruput isi cangkir kopi.
“Minum! Biar waras!”
“Aah. Kamu, Dev. Oke-oke.”
Adegan saling suruh minum kopi pun berakhir. Devano tersenyum lebar karena dialah yang menjadi pemenang. Sementara Jefri, dia masih saja heboh karena sahabatnya itu masih bertele-tele saat bercerita tentang apa yang dia rasakan pada Intan.
“Dev, aku tanya lagi, ya. Kali ini jawab yang serius.”
“Hm. Silakan.”
“Apa yang membuatmu merasa tidak pantas untuk Intan.”
“Karena ….” Devano menjeda kata, tampak berpikir sebelum melanjutkan kalimatnya. “Intan seorang guru,” imbuhnya.
__ADS_1
“Lalu, memangnya kenapa kalau Intan seorang guru? Itu hanya salah satu profesi yang dia pilih. Kamu pun juga punya profesimu sendiri. Yang terpenting dari semuanya, kalian berdua itu sama-sama manusia yang punya hati. Sama-sama pantas dicintai dan saling mencintai.”
Jeda sejenak. Jefri mengambil nafas lebih dulu sebelum kembali panjang lebar memberikan nasihatnya untuk Devano.
“Pokoknya jangan kelamaan mikir. Kalau cinta, bilang saja. Keburu Intan ada yang mendekati. Apalagi kamu, Dev. Posisi pekerjaanmu di sini itu t-….”
Kalimat Jefri terhenti karena menyadari kehadiran seseorang. Jefri seketika berdiri lantas menunduk sopan. Setelahnya, Jefri memberi kode mata pada Devano agar segera balik badan dan melihat siapa yang datang.
“Bang Yoga,” ucap Devano yang tidak menyangka bahwa kakaknya itu akan datang menemuinya saat jam istirahat makan siang.
“Dev, aku duluan. Kutunggu di lantai 3.” Jefri pamit dulu demi bisa memberikan waktu pada Devano dan kakaknya.
Yoga duduk di kursi yang tadinya ditempati Jefri. Senyumnya mengembang sebagai ucapan salam untuk sang adik terkasih. Sekilas, senyum Yoga sama persis seperti senyum Devano. Benar-benar adik kakak yang tidak beda jauh, baik postur badan, senyuman, hingga gerak tubuh yang ditunjukkan.
Obrolan basa-basi menjadi pembuka. Devano dan Yoga tampak begitu akrab dan tidak canggung saat harus berbagi rasa. Namun, obrolan mereka masih sebatas tentang pekerjaan dan rencana ke depan. Sampai di beberapa menit berikutnya, obrolan pun berubah menjadi pembahasan tentang pernikahan.
“Dev, kamu harus segera menikah.”
“Iya, Bang. Aku tahu itu. Karena usiaku, kan?”
“Bukan karena usiamu, tapi demi kebaikanmu.”
Devano mencerna kalimat sang kakak baik-baik. Selama ini sang kakak memang sering menasihati tentang masa depan, tentang memilih calon istri, hingga nasihat-nasihat lain yang berguna untuk persiapan menikah.
“Apa kamu sudah ada calon?”
Devano menggeleng. “Belum ada.”
“Baiklah. Kalau begitu … abang berniat akan menjodohkanmu dengan seorang wanita.”
Bola mata Devano melebar. Baru saja kemarin malam Devano memberi saran kepada Intan tentang perjodohan yang tidak diinginkan, sekarang justru dirinyalah yang akan dijodohkan.
“Tidak mau!”
Tanpa bertanya dulu siapa orangnya, Devano dengan tegas menolak rencana perjodohan yang disampaikan kakaknya.
“Apa kamu tidak ingin tahu siapa orangnya? Siapa tahu kamu berubah pikiran saat tahu siapa yang akan abang kenalkan padamu, Dev."
Pikiran Devano sudah terlanjur berantakan karena mendengar kata perjodohan. Namun, perkataan sang kakak setelahnya sedikit mengganggu pikiran. Devano juga memiliki rasa penasaran.
“Siapa dia?” Akhirnya, Devano memutuskan untuk bertanya.
“Dia adalah …. ”
__ADS_1
Siapa wanita itu? Lalu, bagaimana dengan ruang hati Intan yang sudah terisi dengan nama Devano? Tapi, kalau Sandhi kembali, apakah perasaan Intan juga akan kembali? Devano atau Sandhi yang nantinya akan berjodoh dengan Intan? Nantikan lanjutan ceritanya!
Bersambung ….