PANTAS

PANTAS
Bab 57 - Bertemu Juga


__ADS_3

Senyum Intan turut mengembang kala melihat orang yang ditunggu-tunggu olehnya akhirnya datang. Mobil yang baru saja berhenti tepat di depannya itu tidak lain adalah mobil yang dikendarai Devano.


"Syukurlah kamu datang, Dev." Mimik wajah Intan jelas menyiratkan kelegaan.


Cepat-cepat Devano mematikan mesin mobil kemudian turun menghampiri Intan. Devano tidak henti-hentinya tersenyum karena bisa melihat sosok wanita yang dicintainya. Jujur saja, sudah ada rindu yang dirasa meski baru beberapa hari saja tidak berjumpa. Andai Intan dan Devano sudah sah menjadi pasangan yang sudah menikah, pastilah mereka tidak akan sungkan untuk saling melepas rindu dengan pelukan. Sayangnya, mereka harus bersabar hingga hari bahagia itu datang.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Apa tadi ada yang mengganggumu?"


Intan menggeleng. "Satu-satunya yang mengganggu pikiranku cuma kamu, Dev."


"Ouh, Tan. Sepertinya pernikahan kita harus disegerakan. Aku benar-benar tidak bisa diam saja saat kamu berkata seperti barusan."


Pluk!


Intan menghadiahi kening Devano dengan sentilan ringan.


"Ayo berangkat!" imbuh Intan kemudian. Dia tidak ingin terjebak dalam gombalan Devano jika berlama-lama di sana. Sungguh mengkhawatirkan.


Kini, berangkatlah Intan dan Devano, meninggalkan area terminal. Tak lupa pula Intan menyampaikan kabar tentang Mira yang saat ini masih ada jam kuliah. Atas saran dan bujukan Devano, akhirnya Intan setuju diajak makan siang lebih dulu.


Devano tidak memilih restoran, tidak pula memilih rumah makan terkenal apalagi cafe-cafe kekinian. Yang Devano pilih adalah warung mie ayam. Selain karena ingin, Devano juga teringat salah satu makanan kesukaan Intan, yakni mie ayam ceker setan. Dan, seketika itu juga aura bahagia Intan terpancar. Tidak menyangka saja ternyata Devano mengetahui salah satu makanan kesukaannya.


"Kok kamu bisa tahu kalau aku suka makan mie ayam pakai ceker pedas, Dev?"


"Karena aku adalah calon suamimu. Makanya aku tahu. Sambil makan nanti, kamu boleh wawancara tentang makanan kesukaanku."


Intan senyum-senyum mendapati perlakuan manis Devano. Sungguh, sikap Devano pada Intan semakin lama semakin menampakkan kepedulian, dan Intan sangat menyukainya, apalagi di bagian kalimat gombalan. Malu-malu, sih. Tapi sebenarnya Intan menyukai.


Selanjutnya, lntan dan Devano mencari tempat duduk. Kebetulan pengunjung warung mie ayam tidak terlalu banyak karena jam makan siang yang sudah lewat beberapa menit lalu. Akan tetapi, perhatian Intan dan Devano langsung tertuju pada bangku panjang yang terletak persis di dekat jendela. Di sana duduk seorang wanita dan seorang lelaki yang tidak asing bagi Intan dan Devano.


"Ouh. Kenapa dunia terasa sempit sekali, sih. Bisa-bisanya ketemu mereka di tempat ini," keluh Devano spontan.


"Dev, jangan bicara seperti itu!" bisik Intan.


Seperti sebuah kode, yang menjadi pembicaraan langsung menoleh ke arah Intan dan Devano. Si wanita yang semula tampak sebal, langsung girang, berdiri dari tempat duduknya, kemudian menghampiri Intan dan langsung memeluknya. Sementara si lelaki, dia tampak mempertahankan sikap cool dengan hanya tersenyum simpul.


"Intaaaaan, senang sekali bisa bertemu denganmu." Fani memeluk Intan dengan eratnya, kemudian lanjut curhat saat itu juga. "Untung kamu datang, kalau tidak, makan siangku pasti makin suram."


"Eh, kok bisa begitu, Fan?" Intan begitu ramah menanggapi Fani.

__ADS_1


Langsung saja Fani menunjuk ke arah Sandhi. "Gara-gara dia! Dia memaksaku ikut makan siang di sini. Padahal tadi aku mau mampir ke kantor Devano untuk bertemu Benny."


"Oh ya? Terus kenapa kamu mau saja diajak Sandhi?" Devano menimpali.


"I-itu ... itu karena aku ...." Fani bingung memilih kata. Tidak mungkin juga Fani mengungkap bahwa dirinya bersedia karena tidak enak hati saja, apalagi Fani sadar diri tentang hutang yang masih dimiliki pada Sandhi.


"Fani sebenarnya sangat senang kuajak makan berdua di sini. Dia hanya gengsi untuk mengakui," celetuk Sandhi.


"Sudah-sudah. Lebih baik kita makan saja. Sandhi, boleh kami bergabung?" tanya Intan.


"Silakan."


Yang sebenarnya terjadi, Sandhi sudah memprediksi kehadiran Intan yang pastinya akan diajak makan siang oleh Devano. Apalagi, Sandhi tahu perubahan jadwal kuliah Mira. Sandhi juga memprediksi tempat makan yang akan sangat mungkin didatangi Intan, sambil mengingat-ingat menu makanan yang dulu sangat disukai Intan sewaktu masih kuliah. Dan, warung mie ayam yang menyediakan olahan ceker setan hanya ada dua tempat. Yang satu ada di perbatasan kota, dan satunya lagi tidak jauh dari kampus Mira. Sandhi, dia yang saat itu berharap bisa bertemu Intan pun langsung menyusun aksi. Siang-siang Sandhi menghampiri kontrakan Fani, kemudian mengajaknya makan siang bersama di tempat yang sudah diprediksi.


Sebelumnya Sandhi sempat menimbang sikap yang akan dilakukan. Namun, apa yang dirasakan hati memang tidak bisa didustai. Sandhi sangat ingin bertemu Intan meski dirinya dalam masa tantangan 31 hari. Hanya untuk bertemu, sekedar untuk memastikan perkembangan perasaannya, apa masih sama seperti di masa lalu.


Tentang Fani, sebenarnya dia masih belum mengetahui obrolan yang dilakukan Sandhi dan Farel. Tentang tantangan 31 hari yang diminta, Fani pun tidak mengetahui. Yang Fani tahu, Sandhi semakin intens meminta bertemu, bahkan sering menunjukkan perhatian yang menurut Fani sangat kaku. Sandhi juga sering melontarkan kata ajakan untuk menikah, tapi Fani sama sekali tidak menganggapnya serius. Apalagi sejak Fani bertemu Benny dan menetapkan hati.


"Tan, apa kamu masih mengajar murid-muridmu di sekolah?" tanya Fani.


"Iya, Fan. Malam harinya masih nulis lanjutan bab novel juga. Yang terbaru juga ada lho. Baca, gih! Mumpung masih on going."


Devano dan Sandhi kompak memperhatikan obrolan Intan dan Fani. Mereka berdua yang tidak terlalu paham dengan novel percintaan, hanya bisa mendengar, dan lama-lama memilih untuk tidak ikut dalam obrolan. Hingga kemudian, Devano memancing kata dengan setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Intan.


"He, kau sengaja ke tempat ini, ya?" Devano memulai kata.


Sebagai jawaban, Sandhi melebarkan senyuman, lantas membalas Devano dengan jawaban yang sama-sama dibuat setengah berbisik agar tidak sampai terdengar Intan.


"Kalau iya, memang kenapa?"


"Ya ... silakan saja. Dan ... tunggu undangan pernikahanku dengan Intan."


"Baik, akan aku tunggu!"


Kini, Sandhi dan Devano saling melayangkan tatapan disertai senyum yang sulit diartikan. Beberapa detik berlalu, sikap yang mereka tunjukkan masih sama saja. Sikap sengit itu sampai terpergok Intan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Intan.


"Bukan apa-apa." Sulit dipercaya, tapi Devano dan Sandhi menjawab dengan kalimat yang sama.

__ADS_1


Fani beraksi atas situasi yang terjadi. Dia langsung mencubit gemas pipi Sandhi dengan berani. Sungguh berani sampai membuat Intan dan Devano terkejut.


"Pasti Sandhi bikin ulah. Dia ini diam-diam suka bikin onar. Suka maksa, mesum pula!"


Intan dan Devano semakin terkejut. Apalagi saat Fani melontar kata mesum secara blak-blakan di depan Devano dan Intan.


"Jaga bicaramu, Fan!" Sandhi membela diri.


"Apa-apa-apa? Mau bicara apa lagi, ha? Kucubit kau, hiiii!"


Sandhi dengan gesit menangkap tangan Fani hingga sukses membuat cubitan itu terhenti. Namun, Fani memberontak dan tanpa sengaja menyenggol nampan berisi mangkuk-mangkuk mie ayam. Pelayan yang mengantar juga tidak menduganya. Dan, satu mangkuk bergeser dan tumpah mengenai baju Intan. Ceker-ceker berbumbu merah menjadi noda yang begitu kentara.


"Ups, maaf. Intan, maafkan aku."


Fani panik. Begitu pula dengan Devano dan Sandhi. Sementara Intan, dia sama sekali tidak menyalahkan, bahkan sikapnya masih santai, ramah, dan tetap saja bilang tidak apa-apa.


"Kalau begitu mie ayamnya dibungkus saja. Kita makan di kontrakanku biar kamu bisa membersihkan bajumu. Ayo!" Devano berinisiatif.


"Tidak apa-apa, Dev. Nanti saja di tempat Mira." Intan tidak ingin merepotkan.


"Tidak-tidak. Ayo ikut aku sekarang ke kontrakan. Kalau kamu tidak percaya padamu, kamu bisa mengajak Fani." Devano menunjuk Fani. "Fan, kamu ikut ya? Saat ini di kontrakan ada Benny juga." Imbuh Devano.


"Benarkah? Bang, kalau begitu semua mie ayamnya dibungkus saja, ya." Fani langsung memberi tahu pelayan untuk membungkus mie ayam yang dipesan.


Intan tidak bisa membantah lagi. Apalagi Fani sudah antusias sekali. Jadilah, Intan pun mengiyakan saja saran Devano dengan lebih dulu mengirim pesan pada Mira, mengabarkan bahwa dia akan sedikit terlambat datang ke kos-kosannya.


"Aku harus ikut," seru Sandhi tiba-tiba. "Aku harus ikut karena Fani juga membungkus pesanan mie ayamku," imbuhnya kemudian.


"Kau memang harus ikut, Pak Dosen." Devano merangkul pundak Sandhi dengan akrab. "Sekalian bersaing dengan Benny untuk mendapatkan hati Fani. Good luck, Bro!" imbuh Devano yang kali ini setengah berbisik di telinga Sandhi.


"Diam kau, Dev! Sana, fokus saja membuat Intan bahagia. Ingat! Aku masih mengawasimu!"


Intan dan Fani tidak memperhatikan itu. Mereka sibuk sendiri sambil mulai berjalan keluar menuju parkiran. Tak lama kemudian, Devano dan Sandhi mengikuti langkah menuju arah parkiran juga. Devano satu mobil dengan Intan, sedangkan Fani satu mobil dengan Sandhi.


Apa yang selanjutnya akan terjadi? Bagaimana reaksi Benny saat melihat Intan, Fani, dan Sandhi yang tiba-tiba datang ke kontrakan? Nantikan lanjutan ceritanya!


Bersambung ....


💜 Tengkyu atas Vote, Hadiah, Like, dan Komentar yang diberikan. Join ke grup author juga, yuk! Salam Luv 💜

__ADS_1


__ADS_2