PANTAS

PANTAS
Bab 52 - Kejutan dan Bianglala Pasar Malam


__ADS_3

Hari yang sibuk. Biasanya Intan bisa langsung pulang selesai jam mengajar. Tapi, tidak dengan hari ini. Dia harus menyelesaikan tagihan perangkat yang penyelesaiannya sempat tertunda kala dirinya menjadi korban penculikan. Intan dengan tanggung jawabnya yang besar pada pekerjaan, dia rela menunda kepulangan hingga sore menjelang. Namun, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Dengan fokus tinggi, Intan bisa menyelesaikan tagihan perangkat ajar yang deadline-nya hari ini.


Pukul setengah empat sore, Intan menuju kamar mandi ruang guru untuk mandi dan membenahi make up. Itulah pesan yang Intan terima dari sang ibu beberapa jam lalu saat Intan dalam proses penyelesaian tugas. Intan memang sempat pamit bahwa dirinya pulang terlambat. Tidak hanya itu saja, Intan juga dikirimi pakaian ganti oleh sang ibu via jasa ojol. Sempat Intan bertanya-tanya untuk apa? Tapi sang ibu hanya berkata bahwa nanti sore akan datang tamu istimewa. Intan dengan deadline tugas yang mengejar, dia pun tidak melanjutkan tanyanya dan memilih untuk mengiyakan saja.


Kini, langkah Intan sampai di parkiran sekolah, dia teringat Mira. Sedari diantar ke terminal pagi tadi, Mira sama sekali belum memberi kabar.


"Ada apa dengan anak itu, ya? Tumben sekali tidak memberi kabar sejak pagi." Intan menggulir layar ponselnya, siapa tahu pesan Mira terlewatkan.


Sudah diperiksa, Mira memang tidak mengirim pesan apa-apa. Namun, Intan mencoba berprasangka baik pada sang adik.


"Mungkin sibuk di kampus," pikir Intan.


Ya. Mira memang sibuk. Lebih tepatnya menyibukkan dirinya agar tidak terus-terusan kepikiran pelukan Sandhi. Sangking sibuknya, Mira sampai lupa tidak memberi kabar pada Intan sama sekali.


"Baiklah. Waktunya pulang."


Motor Intan segera dilajukan dengan kecepatan sedang. Hati Intan begitu riang karena seharian ini begitu menyenangkan. Mulai dari murid-murid yang antusias saat pembelajaran di kelas, hingga terselesaikannya tugas-tugas.


Sesampainya di rumah, begitu motor Intan mau memasuki halaman, ada hal yang begitu mengejutkan. Ada tiga motor terparkir rapi di halaman rumahnya, dan salah satu di antara ketiga motor itu, Intan mengenalinya sebagai motor yang biasa digunakan Devano.


Rasa penasaran Intan langsung terjawab saat sang ibu melangkah keluar dengan wajah dipenuhi kegembiraan. Sang ibu menyuruh Intan segera masuk karena di dalam rumah ada calon besan.


"A-apa?" Bola mata Intan melebar. Jantungnya pun berdebar kencang.


Kenapa begitu tiba-tiba? Bagaimana bisa Devano tidak memberi tahu sebelumnya? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang saat ini berputar di kepala Intan. Baru saja kemarin dia tiba di rumah usai tragedi penculikan. Sekarang, Intan justru dikejutkan dengan kehadiran calon mertua.


Devano melangkah keluar rumah saat tahu Intan tidak kunjung turun dari motor. Senyum Devano mengembang, begitu ramah tersuguh pada Intan.


"Hai," sapa Devano. "Kenapa tidak masuk?" tanyanya kemudian.


"Dev, kenapa tiba-tiba sekali, sih?" Intan setengah berbisik.


"Ibumu ingin kita segera menikah, Tan. Saat aku bilang pada orangtuaku, mereka langsung mengatur jadwal untuk datang menemui orangtuamu."


"Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku, Dev? Paling tidak aku bisa menyiapkan mentalku dulu."


"Kamu cantik," ucap Devano tiba-tiba. Sengaja Devano tidak menanggapi pertanyaan Intan yang sebelumnya.


"Dev, jangan bercanda dong? Terus aku harus bagaimana ini?"


"Tidak perlu bagaimana-bagaimana. Kamu tinggal masuk, kemudian duduk manis di sana. Yuk!"


Intan tidak punya pilihan. Mau menghindar juga tidak sopan. Jadilah, dia melangkah malu-malu mengekori Devano menuju ruang tamu. Di sana, sudah ada ayah ibu Devano, termasuk Yoga dan istrinya.

__ADS_1


"Anak mantu cantik betul," puji ibu Devano.


Intan senyum-senyum, kemudian bersalaman dengan santun. Selanjutnya, Devano memperkenalkan satu per satu keluarga lainnya, termasuk Yoga.


"Em, seperti pernah tau, tapi di mana ya?" Batin Intan saat Devano memperkenalkan Yoga. Tapi, Intan tidak mau berpikiran macam-macam. Saat ini fokusnya adalah menjaga image di hadapan calon mertua.


"Maaf ya, Nak Intan. Kedatangan kami mengejutkan. Biar surprise. Hehe. Tapi, kami sangat senang karena calon besan menerima kedatangan kami." Kali ini ayah Devano yang bersuara.


"Mumpung Intan sudah datang, langsung kita tanya saja, ya?" Ayah Intan menyela tanya.


Intan cengar-cengir. Dia memberi kode mata pada Devano atas ketidaktahuannya. Tapi, yang Devano lakukan hanya senyum-senyum saja.


"Tan, kamu bersedia atau tidak jadi istrinya Nak Devano?" tanya ayah Intan tanpa kalimat pembukaan.


Ditanya demikian, jantung Intan langsung berdebar kencang. Semua terasa begitu dadakan. Apalagi sang ayah, beliau tampak sengaja membuat momen di sana menjadi begitu menegangkan, khususnya bagi Intan.


Atas pertanyaan yang diajukan sang ayah, Intan sebenarnya ingin langsung berkata ya. Tapi, saat itu lidah Intan mendadak saja sulit digerakkan. Yang terjadi justru dirinya tersenyum lebar, mengangguk mantap, lantas menundukkan pandangan. Sungguh sikap malu-malu yang elegan, begitulah menurut Intan.


"Baiklah. Semua yang ada di sini sudah menyaksikan. Sekarang, langsung kita tentukan tanggal pernikahannya. Apa perlu besok?" ide ayah Intan.


Yang paling tampak terkejut adalah Intan. Dia spontan menoleh sambil memberi kode mata.


"Hahaha. Sepertinya Intan juga sudah kebelet nikah dengan Nak Dev. Itu buktinya sudah kedip-kedip mata." Ayah Intan membuat suasana di sana bak lawakan yang membuat malu Intan. Ya, Intan malu, meskipun dalam hatinya juga ada perasaan senang itu.


"Nduk, kami setuju kamu menikah dengan Nak Dev. Begitu juga dengan keluarga Nak Dev. Rencana acaranya nanti dibuat lamar nikah. Lamaran plus pernikahan. Untuk sekarang, keluarga Nak Dev menyampaikan niatannya dulu, sekaligus bisa mengenalmu lebih dekat. Mumpung kumpul di sini semua, jadi sekalian saja kita tentukan tanggal pernikahan kalian," ungkap ibu Intan.


Penjelasan singkat dari sang ibu membuat Intan lebih memahami. Rupanya, nantinya akan ada acara yang lebih resmi. Memang, prosesi lamaran dan pernikahan di tiap daerah itu berbeda-beda. Ada yang masih kental dengan adat, ada pula yang tidak.


Obrolan setelahnya tampak lebih serius. Intan dan Devano lebih banyak mendengarkan para orang tua yang sedang menimbang waktu pernikahan. Sesekali Yoga dan istrinya juga menyumbang pendapat, meski pada akhirnya para orangtualah yang memutuskan semua. Dan, kedua pihak telah sepakat, pernikahan Intan dan Devano akan berlangsung satu setengah bulan dari sekarang. Bagi mereka, satu setengah bulan cukup untuk mempersiapkan segalanya, termasuk pengurusan dokumen pernikahan, seserahan, souvenir pesta dan lain sebagainya. Itulah beberapa alasan yang menjadi pertimbangan para orangtua.


Sebenarnya Intan dan Devano ingin menggelar acara yang biasa saja, yang penting sah. Tapi, rupanya tidak demikian dengan orang tua mereka. Jadilah, mereka iya-iya saja.


Momen mengejutkan sore itu pun selesai. Keluarga Devano pamit membawa oleh-oleh, yakni tanggal pernikahan Devano dan Intan.


"Nanti malam sibuk nggak?" tanya Devano, setengah berbisik pada Intan saat semua orang fokus berpamitan.


Intan menggeleng. Senyumnya melebar. Dia langsung bisa menangkap niat yang akan Devano ungkapkan.


"Ada pasar malam baru dibuka di dekat area persawahan timur. Aku tunggu kamu di sana malam ini pukul 7." Devano masih setengah berbisik.


"Oke. Sampai ketemu di sana."


***

__ADS_1


Bianglala pasar malam tampak menghipnotis setiap mata yang memandang ke arahnya. Tampak megah, gagah, dan membuat orang yang menaikinya mampu merasakan momen tak terlupakan. Seperti malam ini, begitu Intan sampai, Devano langsung mengajak Intan menaiki bianglala. Ada sesuatu yang Devano rencanakan di atas sana.


"Apa kamu phobia ketinggian?" tanya Devano sebelum membeli tiket.


"Tidak. Justru aku sangat ingin naik bianglala."


"Kamu belum pernah naik ini sebelumnya?"


Intan menggeleng pelan sambil tetap mempertahankan senyuman.


"Kalau begitu, nikmatilah. Malam ini milikmu."


Rupanya tidak hanya bianglala yang menghipnotis Intan. Devano juga demikian, terlebih karena ucapannya barusan. Saat itu juga, Intan mengambil kesempatan untuk memperhatikan Devano dari jarak dekat.


"Kamu tampan seperti pangeran dalam dongeng," ucap Intan tiba-tiba.


"Tapi cintaku padamu bukan dongeng. Perjalanan cinta kita begitu nyata. Devano Albagri memang ditakdirkan untuk Intania Zhesky." Devano puitis.


Hati Intan luluh oleh lelaki di hadapannya itu. Devano benar-benar telah membuatnya jatuh hati, lagi dan lagi. Perasaan itu semakin lama semakin tumbuh saja. Apalagi saat mereka sama-sama menaiki bianglala, tiba-tiba saja Devano membuat momen indah yang tidak akan pernah Intan lupakan. Tepat saat bianglala terhenti, mereka ada di posisi tertinggi, pas di tengah-tengah. Sebenarnya Devano telah mengatur semua tanpa sepengetahuan Intan.


"Jadikan aku pelangimu, Tan." Devano membuka kotak kecil berisi kalung perak berliontin. Kalung itu Devano hadiahkan untuk Intan.


Intan kehilangan kata-katanya. Ada haru, sekaligus bahagia yang dirasa. Malam itu Intan merasa sangat dicintai.


"i 💜 you," ungkap Devano.


"Love you too," balas Intan, dan air matanya pun keluar.


Devano mengambil kesempatan. Sapu tangan di saku lekas diambil, kemudian digunakan untuk menghapus jejak air mata Intan. Usapannya begitu lembut. Juga, pandangan mata Devano tidak bisa terlepas dari pesona wajah ayu Intan. Begitu lama Devano memandangnya. Hingga kemudian ....


"Au!"


Ada yang melempar Devano dengan bungkus makanan yang diremat membentuk bola. Devano lekas mengedarkan pandangan ke segala arah, dan ... ternyata ada Jefri di bangku bianglala lainnya. Di sebelah Jefri ada Reynal. Lalu, ada Gion juga yang tampak tertawa lebar.


"Kenapa mereka bisa ada di sini, sih?" Devano kesal karena momen romantisnya dengan Intan digagalkan.


"Em, sebenarnya ... aku yang memberitahu mereka," ungkap Intan pada akhirnya.


Memang, sebelum berangkat tadi, Intan sempat menelpon Gion untuk bertanya keadaan. Intan juga menyampaikan pada Gion dan Reynal tentang pasar malam. Awalnya Intan hanya memberi tahu, tapi lama-lama Intan menawari Reynal dan Gion untuk bergabung. Tidak disangka, Reynal justru mengajak Jefri juga.


"Kamu kurang beruntung, Dev." Batin Devano. Dia mengusap wajahnya perlahan, kemudian tersenyum pada Intan dengan lebar. Sungguh senyum yang dipaksakan demi menutupi kekecewaan. Devano kecewa karena momen romantis berdua yang dia rencanakan ternyata tidak direstui oleh semesta.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2