
Sebungkus roti bakar keju rasa blueberry menjadi buah tangan Dhea yang berniat mengunjungi rumah Devano. Dhea berangkat sendiri tanpa ditemani Benny. Niat Dhea adalah untuk berbaikan dan menjelaskan berbagai macam hal pada Devano, khususnya masalah hati.
Tapi, ada keraguan langkah saat Dhea lupa rumah Devano yang mana. Berbekal ingatan, Dhea terus menyusuri gang-gang sambil mengingat-ingat warna cat rumah Devano. Dhea hanya sekali mengunjungi rumah Devano, itu pun tidak mampir dan hanya di depan halaman rumah Devano saja. Dan, kunjungan itu dilakukan setahun yang lalu. Sudah cukup lama hingga membuat Dhea benar-benar lupa.
“Ini dia rumahnya,” seru Dhea dalam hati.
Rumah Devano tampak sepi, seperti tidak ada orang sama sekali. Dhea yang tidak ingin pulang dengan sia-sia pun tetap melanjutkan niatan. Salam dia lantunkan, dan muncullah seseorang dari dalam rumah. Ibu-ibu bermimik lesu keluar rumah sambil membawa pengaduk kuah masakan.
“Siapa ini, ya?”
Dhea menjabat dan mencium tangan ibu-ibu di depannya. Dengan sopan Dhea memperkenalkan dirinya sebagai teman baik Devano.
“Saya Dhea, Bu. Teman baik Devano.”
“Oalah. Teman baik Devano ternyata. Neng cantik nyari Devano, ya? Tadi sih ibu lihat sepertinya keluar,” terangnya.
“Tidak apa-apa saya tunggu saja, Bu. Em, ibu lagi masak, ya? Boleh Dhea bantu?”
“Tidak perlu, Neng. Nanti merepotkan! Ibu sudah biasa sendiri di sini.”
“Sini biar Dhea bantu.” Dhea mengambil alih pengaduk kuah masakan tanpa persetujuan si ibu.
Dhea menuju dapur dengan arahan si ibu. Kehadirannya disambut baik, bahkan telah terjadi obrolan menarik seputar masakan yang tengah dibuat si ibu, sup ayam dan kerupuk udang. Untuk sejenak Dhea bertanya-tanya kenapa si ibu masak sedikit sekali, padahal ada sang suami dan Devano juga yang tinggal di rumah itu.
“Mungkin Devano sering jajan di luar. Dia kan sibuk terus sama kerjaannya. Sampai lembur-lembur pula.” Batin Dhea sambil terus menggoreng kerupuk udang.
Tetiba saja Dhea teringat roti bakar yang dia bawa. Kompor yang masih menyala untuk sejenak Dhea matikan, kemudian langkahnya diayun menuju motor di halaman depan. Oleh-oleh roti bakar yang dibawa lekas diberikan pada ibu Devano.
“Sudah dibantuin masak, dibawakan roti bakar pula. Neng Dhea baik banget, ya.”
Dhea tersenyum malu-malu begitu mendapat pujian dari si ibu. Pujian itulah yang membuat Dhea semakin bersemangat membantu memasak. Tinggal membuat sambal bajak setelah itu acara masak memasak pun selesai.
“Kalau boleh tahu … masakan kesukaan Devano apa ya, Bu?” tanya Dhea, mengambil kesempatan untuk bertanya.
“Ibu mana tahu, Neng. Tanya sendiri saja sama Devano, ya.”
“Ouh, iya Bu. Tidak apa-apa. Nanti Dhea tanya saja sama Devano."
Jeda sejenak, Dhea tampak menimbang pertanyaan yang selanjutnya akan dia tanyakan. Mumpung ada kesempatan, maka momen kebersamaan dengan ibu Devano harus dimanfaatkan. Begitulah pikir Dhea, sehingga dia mantap bertanya.
__ADS_1
“Kalau boleh tahu … calon istrinya Devano itu kerja di mana, ya Bu?”
“Calon istrinya Devano? Ibu belum tahu tuh, Neng. Belum pernah dibawa ke sini sepertinya. Seingat ibu sih begitu.”
Dhea mengangguk-angguk. Dari jawaban si ibu, Dhea bisa menyimpulkan bahwa wanita yang disebut-sebut sebagai calon istri Devano itu belum pernah dikenalkan pada ibunya. Senyum Dhea seketika itu melebar karena merasa memiliki peluang untuk melanjutkan kisah cintanya.
“Kalau tentang wanita yang Devano suka, dia pernah cerita nggak sama ibu?” Dhea gencar melanjutkan tanya.
“Nggak pernah juga, Neng. Buat apa Devano cerita ke ibu. Baru kalau mau menikah, biasanya ibu dikasih tahu buat bantu-bantu. Seperti dulu waktu pesta pernikahan kakaknya.”
Deg!
Dhea merasa ada yang aneh dari jawaban ibu Devano. Untuk apa juga si ibu disuruh bantu-bantu di pesta pernikahan anaknya sendiri. Juga, tentang makanan kesukaan Devano, si ibu juga tidak tahu. Bagian wanita yang mungkin disukai Devano, si ibu juga tidak tahu menahu.
“Oh ya, Neng Dhea tadi bilang kerja di mana?” tanya si ibu yang sekaligus membuyarkan kecurigaan Dhea.
“Dhea? Em … itu. Dhea kerjanya pindah-pindah. Tergantung job. Dhea ini model iklan produk lokal. Belum go nasional, sih. Hihi.”
“Pernah masuk TV?”
“Belum pernah.” Dhea nyengir kuda.
“Belum juga, Bu.” Kali ini Dhea menjawabnya dengan sopan santun.
“Mau nggak ibu jodohkan dengan anak ibu?”
Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Niat Dhea hanya ingin berbaikan dengan Devano, justru sekarang ditawari rencana perjodohan dengannya.
“Em, boleh. Dhea mau, Bu.”
Betapa raut wajah Dhea saat itu menyiratkan kebahagiaan yang tinggi, serupa dengan si ibu yang langsung bersyukur atas kesediaan Dhea. Hingga kemudian, terdengar bunyi klakson motor dari arah depan. Cepat-cepat Dhea mengintip, dan terlihatlah Devano dan motornya.
“Devano sudah pulang, Bu. Tapi masih parkir di halaman rumah sebelah. Sepertinya lagi telponan sama seseorang.”
“Kalau begitu silakan Neng Dhea temui Devano dulu. Setelah itu kita lanjut ngobrol lagi, ya. Sepertinya ibu dan kakak Devano baru pulang juga itu.”
Deg!
Senyum Dhea seketika itu luntur. Pikirannya kembali menaruh curiga, prasangka, dan pikiran-pikiran buruk lainnya.
__ADS_1
“M-maksudnya? Ibu ini ibunya Devano, kan?”
“Ya bukan, Neng. Saya ini tetangganya. Ibu sudah lama tinggal sendiri di sini.”
Mendadak saja Dhea kehilangan kata-katanya. Telah terjadi kesalahpahaman besar di sana, dan Dhea bingung harus mulai meluruskan dari mana. Dhea sampai salah tingkah. Lebih salah tingkah lagi saat si ibu tadi memanggil dan memberi tahu Devano tentang Dhea yang menunggunya.
Panik tentunya. Dhea sampai kepikiran untuk bersembunyi, tidak ingin menunjukkan wajahnya di depan Devano. Dhea benar-benar malu karena salah rumah. Parahnya lagi, Dhea dengan PD-nya mengiyakan begitu ditawari perjodohan.
“Mampus, deh!” Dhea merutuki dirinya.
Dhea hanya bisa cengar-cengir saat Devano menghampirinya.
“Ngapain kamu di sini? Ada perlu denganku?” tanya Devano.
“I-iya.” Dhea mengangguk.
Devano memberi isyarat agar Dhea segera pamit dan mengikutinya. Sementara Devano menunggu di halaman depan, secepat kilat Dhea menarik ulang semua yang dia katakan pada si ibu yang dikiranya adalah ibunya Devano.
“Loalah. Jadinya nggak mau dijodohkan sama anak ibu, nih?” si ibu tampak kecewa.
“Iya. Tidak jadi. Maaf ya, Bu. Saya permisi.”
Cepat-cepat Dhea keluar dari rumah si ibu dan menghampiri Devano. Dhea sampai kehilangan fokusnya. Segala hal yang ingin dia sampaikan pada Devano sampai tidak tahu lagi bagaimana cara menyampaikannya.
“Ada perlu apa?” tanya Devano lebih dulu karena Dhea tidak kunjung memulai obrolan dengannya.
“Aku … ingin bicara. Berdua saja. Tapi tidak di sini!”
“Ada hal penting?”
“Iya. Pentiiing sekali. Mau ya? Ikut aku sebentar saja.” Dhea membujuk Devano dengan mimik wajah penuh harap.
Devano tidak langsung mengiyakan. Jujur saja, kejadian di Café Bintang tadi masih teringat jelas di pikirannya. Gara-gara Dhea, Intan jadi salah paham.
“Mau ya, Dev? Please. Demi hubungan kita.”
“Tidak bisa. Devano mau aku ajak pergi.” Yoga, kakak Devano tiba-tiba datang, menyahuti, dan menyela kata.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan lanjutan ceritanya!
__ADS_1
Bersambung ….