PANTAS

PANTAS
Bab 30 - Salah Sasaran


__ADS_3

Baru beberapa detik lalu Devano berseru menyebut nama Intan sambil melambaikan tangan, kini Intan sudah tidak lagi dalam jangkauan. Kejadiannya begitu cepat. Mobil yang membawa Intan benar-benar melaju secepat kilat keluar dari area persawahan. Mimik wajah Intan yang mengharapkan pertolongan telah membuat Devano tertegun sampai tidak bangun-bangun dari posisinya usai didorong sampai terjatuh.


Reynal menghampiri Devano, kemudian membantunya duduk. Reynal tidak bertanya apakah Devano baik-baik saja, karena kejadian tidak terduga barusan pastilah mengguncang hati dan pikiran. Apalagi Intan adalah sosok yang spesial untuk Devano. Sudah jelas, Devano pasti tidak baik-baik saja.


Namun, sikap yang ditunjukkan Reynal justru jauh berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Sandhi. Si dosen tampan yang masih menyimpan rasa untuk Intan itu justru menyalahkan sikap nekat Devano.


“Kau gilla, Dev! Itu tadi berbahaya.”


“Kalau kau jadi aku, apa kau akan diam saja melihat Intan seperti itu, ha?” Devano melayangkan lirikan tajam.


“Ya … ya yang pasti panik-lah. Tapi tidak nekat seperti tadi juga. Untung saja kau hanya didorong sampai jatuh.”


Lirikan tajam Devano masih dilayangkan ke arah Sandhi. Selanjutnya, Devano berdiri, mendekat ke arah Sandhi, dan mengucapkan kata-kata yang benar-benar menohok hati.


“Untung saja Intan memilihku, bukan lelaki pengecut sepertimu.”


Usai berkata demikian, Devano membalikkan badan. Langkahnya terayun menuju Reynal. Pikiran Devano berputar cepat, hingga kemudian satu rencana jitu berhasil dibuat dalam waktu singkat.


“Rey, hubungi Aldo, suruh dia dan temannya ke perbatasan arah kota. Sampaikan detail mobil yang membawa Intan. Lalu hubungi Sam, suruh dia dan rekannya berjaga di jembatan. Jaga-jaga jika Aldo dan temannya tidak bisa mencegah di perbatasan.”


“Oke, Dev.”


“Waktu kita hanya lima belas menit sebelum mobil itu sampai di perbatasan. Bergegaslah!”


Reynal mengangguk mantap, sementara ponselnya sudah diposisikan di telinga dan berlanjut menghubungi orang-orang yang dimaksud Devano, yang salah satu di antaranya adalah anggota polisi. Sementara Devano, dia langsung berlari ke petani-petani, bernego cepat, dan berhasil meminjam mobil pick up dengan jaminan motor miliknya dan motor milik Intan. Reynal juga disebutkan sebagai salah satu pihak yang akan bertanggung jawab atas pick up yang dipinjam.


Selanjutnya, Devano menunjukkan skill tersembunyi yang dimiliki. Dengan lihai Devano mengoperasikan kemudi, kemudian melaju kencang dengan kecepatan yang tidak disangka-sangka. Devano mengejar mobil yang membawa Intan dengan pick up yang baru saja dia pinjam. Dia sendirian, tanpa teman, dan fokusnya benar-benar hanya tertuju pada Intan.


Sementara Sandhi, sedari tadi dia hanya terdiam menyaksikan itu semua. Usaha gigih Devano telah membuktikan kata pantas yang sebelum ini sempat menjadi perdebatan.


“Pantas itu pembuktian, bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Devano, kau memang pantas menjadi yang terpilih.” Batin Sandhi, telah menyadari bahwa dia telah kalah dari Devano Albagri.


Sandhi berniat menuju para petani, meminta bantuan menepikan beberapa peralatan sehingga mobilnya bisa dilajukan untuk menyusul Devano. Namun, fokus Sandhi teralihkan karena melihat gerak-gerik seorang wanita yang mencurigakan. Pakaiannya juga berbeda sendiri dibanding petani lainnya. Sempat terbersit dalam hati Sandhi, menebak-nebak wanita yang dilihatnya itu adalah pemilik sawah. Akan tetapi, sikap si wanita yang berulang kali melirik ke arah Reynal membuat Sandhi jadi penasaran.


Sekilas diperhatikan, postur tubuh si wanita mirip dengan Intan. Badannya tinggi, tidak terlalu kurus, dan warna pakaian yang saat ini dipakai sama seperti warna pakaian yang hari ini dipakai Intan. Sama-sama menggunakan t-skirt lengan panjang warna biru langit. Hanya motif t-skirt di bagian depan saja yang berbeda. Ditambah lagi, warna jeans yang dipakai pun senada dengan yang dipakai Intan.


“Jangan-jangan ….” Sandhi menebak-nebak dan langsung menghampiri si wanita yang gerak-geriknya masih saja mencurigakan.


“Aw! Lepas!” Si wanita berusaha melepas pergelangan tangannya yang dicengkeram Sandhi.


“Siapa kau?” tanya Sandhi dengan serius tanpa berniat melepas cengkeraman tangannya.


“Singkirkan tanganmu atau aku berteriak!” ancam si wanita.


“Silakan saja. Aku yakin sekali, di sini tidak ada yang mengenalmu.” Sandhi semakin serius dan lebih mengencangkan cengkeraman tangannya.


“Aw! Sakit tau!”


“Katakan!” Shandi mendesak.


Tidak ada jawaban. Wanita itu justru mengedarkan pandangan ke sekitar. Tampak petani-petani yang mulai meneruskan aktivitasnya, juga ada Reynal yang terus sibuk menghubungi beberapa orang demi kepentingan menyelamatkan Intan.


“Cepat katakan!” Sandhi semakin mendesak.


“Sebenarnya ….” Si wanita menjeda, melihat ke arah Sandhi demi mendapat iba, tapi yang didapat justru desakan yang masih sama.


“Jangan bertele-tele. Cepat katakan!”


“Iya, oke. Aku katakan. Seharusnya akulah yang dibawa mobil tadi, bukan teman kalian.”


Tebakan Sandhi benar. Penculik yang membawa Intan ternyata salah sasaran. Harusnya bukan Intan yang dibawa. Intan menjadi korban karena pakaian yang dipakai sama dengan sosok yang ditargetkan. Hanya kebetulan atau sudah menjadi bagian dari skenario kehidupan? Sandhi tidak lagi memikirkan yang demikian. Untuk saat ini Sandhi merasa sudah memiliki kunci untuk menyelamatkan Intan.


“Kau ikut aku!”


“Kemana? Lepaskan tanganku!”


Sandhi tidak memedulikan protes si wanita. Sandhi justru berseru pada Reynal dan memberi kode agar segera mengikutinya menuju mobil. Sandhi akan menyusul Devano.


***


Sementara itu, di mobil tempat Intan berada, tampak si penculik tengah menghubungi seseorang. Sedangkan Intan, kedua tangannya diikat ke belakang, sementara mulutnya dibiarkan bebas. Meski bisa berteriak minta tolong, tapi Intan tidak melakukannya. Intan sadar posisi, percuma jika berteriak minta pertolongan. Tidak akan ada yang mendengar. Jika harus berteriak, itu akan Intan lakukan saat di perbatasan arah kota.

__ADS_1


“Kondisinya baik?” tanya seorang lelaki di seberang sana via telepon.


“Baik sekali, Bos. Tidak kurang satu apa pun. Lanjut dibawa ke rumah Bos Falen atau bagaimana?” tanya si penculik yang tadi mendorong Devano sampai terjatuh.


“Aku ingin mendengar suaranya lebih dulu. Berikan ponselmu padanya.”


“Tangannya kami ikat, Bos.”


“Boddoh. Lepas ikatannya.”


"Kalau dilepas nanti kabur, Bos. Susah nangkapnya. Di sawah-sawahan pula. Jauh dari jalanan kota, Bos.”


Lelaki yang mendapat sebutan Bos Falen itu seketika mematikan teleponnya. Satu tanda yang sudah sangat dipahami oleh kedua anak buahnya.


“Bos Falen nyuruh kita melepas ikatannya.”


“Yasudah, lepas saja. Daripada Bos Falen marah,” sahut lelaki lainnya di balik kemudi.


Lelaki yang membawa Intan ada dua. Satu yang tadi membekap mulut Intan, dan satu lagi yang berada di balik kemudi. Intan sendiri sempat merasa ada yang aneh. Berulang kali si penculik yang tadi membekapnya itu bilang permisi, khususnya saat mengikat tangan Intan. Ancaman yang dibuat pun tidak macam-macam.


Drrt-drrt. Ponsel si penculik bergetar lagi.


“Halo, Bos?”


“Sudah kau lepas ikatannya?”


“Ini mau dilepas, Bos.”


“Ck. Terlalu lama. Berikan ponselmu padanya.”


“Baik, Bos. Mbak Fani, Bos Falen mau bicara sebentar.”


Dari sanalah kecurigaan Intan semakin bertambah besar. Si penculik menyebutnya Fani, jelas-jelas itu bukan nama Intan.


“Kalian salah orang. Aku bukan Fani!” tegas Intan, setengah emosi.


“Loh-loh. Jangan bercanda dong, Mbak.”


“Buat apa aku bercanda, ha? Dekatkan ponsel itu! Aku mau bicara pada bosmu.”


“Dasar boddoh. Bisa-bisanya kalian salah tangkap orang!” Suara Falen terdengar jelas.


Si penculik garuk-garuk kepala, sedangkan si sopir hanya mengedikkan bahunya. Mereka berdua merasa sudah membawa orang yang tepat sesuai ciri-ciri yang disebutkan sebelumnya. Wanita cantik berbaju biru langit dengan setelan jeans. Terakhir kali terlihat menumpang pick up milik petani, sehingga Falen memerintahkan dua anak buahnya membuntuti pick up yang dimaksudkan.


Tadinya roda mobil yang digunakan anak buah Falen sempat terjebak lumpur karena terlalu menepi ketika melewati jalanan area persawahan, sehingga tertinggal jauh dari pick up yang mereka buntuti. Intan yang dalam urusan menyusul Devano pun sempat melewati mobil si penculik, tapi dia tidak terbayang, tidak pula berpikiran macam-macam. Hingga ketika Intan berhenti di dekat tumpukan padi dan mobil pick up yang sempat ditumpangi Fani, rupanya mobil si penculik telah kembali beraksi.


“Waduh. Kita benar-benar salah sasaran, Bro. Ini foto Mbak Fani. Baru saja dikirim sama Bos Falen.” Si penculik menunjukkan pesan Falen pada rekannya.


“Gawat!” Si sopir tampak kebingungan. “Mbak ini kita kembalikan saja, lalu kita cari Mbak Fani. Pasti masih ada di sekitaran sawah tadi.”


“Baiklah. Aku setuju dengan idemu. Daripada kena marah Bos Falen lagi.”


Obrolan si penculik terdengar seperti lawakan. Intan benar-benar tidak habis pikir dengan dua orang yang sudah sadar bahwa mereka telah salah sasaran.


“Kalian ini penculik apa bukan, sih?” Intan masih saja terheran, karena sikap mereka yang terlalu sopan.


“Maafkan kami, Mbak. Kami salah orang.”


Intan melongo, karena lagi-lagi harus mendengar tutur sopan dari penculiknya.


“Permisi, Mbak. Ikatannya saya lepas, tapi jangan kabur, ya? Sebentar lagi kami antarkan balik tempat semula.”


Intan menurut saja. Tidak memberontak. Setelah ikatannya dilepas, barulah Intan berulah. Intan nekat menutup mata si pengemudi dengan kedua tangannya, berharap mobilnya oleng dan terhenti saat itu juga.


“Duh, Gusti! Piye iki?” Si sopir berteriak, sementara sebelah tangannya berusaha melepas tangan Intan yang menutupi matanya.


“Aduh, Mbak. Jangan aneh-aneh!” Si penculik juga berusaha melepas tangan Intan, tapi dengan hati-hati.


Usaha Intan berhasil. Si sopir tidak mau mengambil resiko tinggi, sehingga memutuskan untuk berhenti. Saat mobil menepi, barulah Intan mengambil kesempatan untuk kabur. Akan tetapi, sayang sekali pintu mobil terkunci.


“Toloooooong!”

__ADS_1


“Tenang, Mbak. Kami orang baik.”


“Tidak! Aku tidak percaya pada kalian!”


Ya itulah yang Intan rasakan. Adegan penculikan yang tadi dia alami sudah cukup membuatnya ketakutan. Ditambah dengan fakta si penculik ramah yang salah sasaran, benar-benar membuat Intan kebingungan.


Dan … saat itulah pick up yang dikemudikan Devano datang. Cepat-cepat Devano turun dan menghampiri mobil yang membawa Intan.


“Deeeeev!” seru Intan dari dalam mobil.


“Hei, kalian! Cepat turun! Duel laki-laki kalau berani!” Devano berdiri di depan mobil sambil menyingsingkan lengan bajunya. Sengaja Devano berdiri di bagian depan mobil, agar mobil yang membawa Intan tidak dilajukan lagi.


“Bro, kita kabur saja.” Si sopir memberi saran.


“Mbak ini bagaimana?”


“Biarkan saja mbaknya turun. Sekalian saja kira resign jadi anak buahnya Bos Falen.”


“Setuju, Bro. Sudah nggak betah.”


Seketika itu si penculik membuka pintu mobil untuk Intan, dengan terlebih dahulu meminta untuk dimaafkan.


“Maafkan kami, ya Mbak.”


“Nggak mau! Kalian ini nggak jelas!”


Setelah berkata demikian, Intan langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri Devano. Sungguh di luar dugaan, Devano justru menyambut Intan dengan dekapan. Dekapan yang begitu erat hingga membuat Intan sesak.


“Dev,” panggil Intan, satu kode juga agar Devano segera melepaskan dekapan.


Saat itulah dua anak buah Falen kabur. Laju mobil mereka begitu kencang sehingga sama sekali tidak memungkinkan bagi Devano untuk mengejar.


Di saat itu pula Devano melepaskan dekapan. Sorot mata Devano tampak menyiratkan rasa takut kehilangan, membuat Intan jadi tersentuh dengan sikap tulus yang Devano tunjukkan.


“Terima kasih sudah menyusulku,” ucap Intan.


Devano mengangguk sambil mengembangkan senyuman. “Apa mereka menyakitimu?”


“Sama sekali tidak. Aku baik-baik saja.”


“Sebaiknya kita mengejar mereka, Tan. Mereka harus ditangkap agar tidak meresahkan.”


“Jangan!” Intan menyegah langkah Devano. “Mereka itu … gaje (gak jelas),” ungkap Intan yang justru membuat Devano gagal paham.


Saat Devano hendak meminta penjelasan lebih, datanglah mobil Sandhi. Shandi segera turun dari mobil sambil tetap mencengkeram tangan Fani. Sementara Reynal, dia tampak menghubungi rekan-rekan yang sebelum ini dia hubungi, memberi mereka kabar bahwa misi penyelamatan Intan dibatalkan.


“Dev, siapa dia?” tanya Intan, menunjuk ke arah Fani.


“Entahlah.”


Reynal lebih dulu berjalan mendekat, menghampiri Devano dan bertanya keadaan Intan. Selanjutnya Sandhi menyusul. Sandhi agak kesulitan memaksa Fani untuk mengikuti langkahnya. Fani terus-terusan bersembunyi di balik punggung Sandhi.


“Kamu baik-baik saja, Tan?” tanya Sandhi begitu sampai di hadapan Intan. Senyum Sandhi mengembang, tapi sulit diartikan. Sandhi merasa senang karena Intan baik-baik saja, tapi juga merasa sedih karena setelah ini dia harus benar-benar merelakan Intan untuk Devano.


“Aku baik-baik saja, San. Em, siapa dia?” Intan menunjuk wanita di sebelah Sandhi.


“Ini dia. Dialah yang harus bertanggung jawab atas kejadian sial yang kamu alami hari ini, Tan. Namanya Fani. Dia yang harusnya dibawa penculik-penculik tadi,” ungkap Sandhi dengan nada kesal.


Intan membulatkan bola mata. Bukan terkejut dengan fakta yang didengarnya, melainkan karena baru sadar dengan pakaian yang dipakai Fani. Benar-benar sama sengan pakaian yang saat ini dipakainya. Bukan hanya warna, desain t-skirt yang dipakai pun sama. Yang membedakan hanya motif t-skirt bagian depannya saja. Dan, seketika itu Intan teringat seseorang yang telah mendesain t-skirt yang kini sedang dipakainya.


“Sandhi, siapa tadi nama wanita ini?” tanya Intan, dia teringat seseorang.


“Fani.”


“Fani Lanita Azari, apa benar itu namamu?”


Sedari tadi Fani tidak berani melihat ke arah Intan. Dia terus bersembunyi di balik punggung Sandhi. Namun, begitu nama lengkapnya disebutkan, Fani langsung berani melihat ke arah Intan.


“Be-tul. Kok kamu bisa tahu, sih?” Fani jadi bingung sendiri.


Bukannya mendapat jawaban, Fani justru mendapat pelukan. Intanlah yang saat itu memeluk dengan suasana hati riang.

__ADS_1


Siapa sebenarnya wanita bernama Fani itu? Kenapa Intan bisa mengenalinya? Tentang seseorang bernama Falen, siapakah dia sebenarnya? Ada apa ini sebenarnya? Lalu, bagaimana dengan urusan Sandhi dan Devano? Nantikan lanjutan ceritanya!


Bersambung ….


__ADS_2