PANTAS

PANTAS
Bab 40 - Seleraku Bukan Kamu


__ADS_3

Sepiring kentang goreng belum juga habis termakan, padahal sudah satu jam terhidang di hadapan Sandhi. Sedari tadi jemari Sandhi terus berkutat dengan layar smartphone. Bukan sedang membalas pesan apalagi tentang pekerjaan. Yang Sandhi lakukan justru menjadi stalker Intan melalui akun media sosial.


“Devano Albagri,” gumam Sandhi sambil mengetik nama Devano di menu pencarian akun.


Akun sosial media Devano berhasil ditemukan. Tidak banyak postingan, tapi karya grafis yang di-posting di sana memiliki banyak penggemar.


“Ternyata pengikutnya banyak. Lebih banyak dari pengikutku."


Lagi-lagi Sandhi bermonolog sambil tetap memperhatikan akun media sosial milik Devano. Sesekali tangannya mencomot kentang goreng, menyocolnya dengan saus, tapi jeda waktu menuju suapan berikutnya sampai bermenit-menit lamanya.


“Dasar stalker!”


Itu suara Fani. Dia baru saja selesai berbelanja. Tangan kanan kirinya penuh dengan tas belanjaan.


“Sudah selesai?” Sandhi berusaha mengalihkan topik pembicaraan, sayangnya tidak mempan.


“Belum bisa move on dari Intan, ya?” Fani duduk tepat di seberang tempat duduk Sandhi. Tangannya juga mencomot kentang goreng tanpa permisi.


“Bukan urusanmu.”


“Apa laki-laki itu sudah melamar Intan?” Fani tidak mendengarkan peringatan Sandhi. Dia terus saja membahas Intan.


Tampak jelas saat itu Sandhi membuang pandang. Dia teringat storie wa Mira yang mengabarkan lamaran Intan dan Devano.


Fani tidak buru-buru. Dia tetap tenang, menunggu respon Sandhi sambil tetap mengunyah kentang goreng.


“Kamu masih belum percaya padaku, ya? Aku bisa jadi pendengar yang baik, lho. Juga, aku ini salah satu penggemar novel karyanya Intan.”


Sandhi melunak karena nada bicara Fani tidak seketus tadi. Apalagi Fani menyebut dirinya sebagai salah satu penggemar novel karya Intan.


“Intan berbakat memikat hati orang lewat tulisan,” ucap Sandhi sambil mengembangkan senyuman.


“Ouh. Jadi kamu terpikat juga dengan tulisannya Intan?”


Sandhi menggeleng. “Yang kurasakan … lebih dari itu.”


Keadaan berubah. Kalimat Sandhi barusan menjadi tanda bahwa dia sudah mulai terbuka pada Fani. Saat itu pula Sandhi memutuskan untuk bercerita lebih. Bukan karena terpaksa, tapi karena Sandhi memang butuh untuk mencurahkan isi hati.


“Melupakan Intan itu susah,” ucap Sandhi kemudian.


“Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk melupakan Intan? Devano? Iya? Kalau gitu hilang ingatan saja sekalian.”

__ADS_1


Sandhi terdiam. Dahinya tampak sedikit berkerut dengan fokus yang tetap tertuju pada Fani. Gagal paham, itulah yang Sandhi rasakan. Dia kurang mengerti dengan apa yang Fani katakan barusan.


“Maksudmu?”


“Maksudku, yang harus kamu lakukan adalah meredam perasaanmu pada Intan, bukan malah melupakannya.”


Pikiran Sandhi terpengaruh ucapan Fani, karena memang itulah yang seharusnya Sandhi lakukan sejak memutuskan untuk merelakan Intan. Sandhi sadar, dia salah strategi. Jika memang ingin meredam perasaan, harusnya Sandhi belajar untuk tidak terus-terusan kepikiran Intan, apalagi sampai menjadi stalker lewat akun media sosial.


“Akan kucoba.”


“Apanya yang dicoba?” Fani menopang dagu, lantas mendekatkan wajahnya ke arah Sandhi.


“Meredam perasaanku.” Senyum Sandhi mengembang. “Terima kasih atas saranmu, Fan.”


Fani tertawa pelan, kemudian mengepalkan tangan untuk menyemangati Sandhi. Tidak hanya sebatas itu, Fani juga memberi saran lagi.


“Sandhi, sebaiknya kamu harus segera jatuh hati lagi, biar misimu cepat berhasil. Paling tidak, ruang hatimu akan terisi dengan nama wanita lain. Tidak lagi hanya nama Intan.”


Terdengar seperti rencana jitu, tapi pastinya penuh lika-liku. Jika Sandhi terburu-buru, kesan yang timbul juga tidak akan sebaik itu. Ditambah lagi, Sandhi tidak bisa sembarangan menjatuhkan hatinya, apalagi untuk seseorang yang belum pernah dia kenal sebelumnya.


“Tidak akan semudah kedengarannya, Fan. Lagipula, mau jatuh hati dengan siapa?”


“Ya bisa saja dengan salah satu rekan kerjamu, teman masa lalumu, seseorang yang baru, atau mungkin ….” Fani menjeda kalimatnya. Wajahnya semakin condong ke arah Sandhi sambil terus melebarkan senyumnya.


“PD banget, sih. Seleraku bukan kamu, Sandhi.” Fani mengibaskan rambut panjangnya kemudian bersedekap tangan.


Sandhi sempat malu, tapi cepat-cepat dia singkirkan perasaan itu. “Terus siapa, ha?” ucap Sandhi kemudian. Sekarang mimik wajahnya terlihat lebih serius.


“Ya mahasiswamu, dong. Kamu kan dosen. Dengan tampangmu yang sebening itu, pasti penggemarmu banyak.” Di akhir kalimatnya, Fani mengembangkan senyuman untuk Sandhi.


“Kukira kau mau menawarkan diri jadi pengganti Intan.”


“Sorry, kuulang lagi, ya. Seleraku bukan kamu, Sandhi. Kau terlalu dingin. Hiiiii.” Fani menggosokkan kedua telapak tangannya. Ya, Fani memang kedinginan sedari tadi. Ditambah karena kondisi yang sudah larut malam juga.


“Ayo pulang!”


Sandhi beranjak dari kursi. Jalannya sengaja dibuat cepat-cepat, sehingga Fani tertinggal jauh di belakang. Sandhi juga sengaja tidak membantu Fani membawakan barang belanjaan.


“Dasar cowok nggak peka.” Fani menggerutu sambil berusaha mengejar langkah Sandhi.


Sementara itu, tanpa Fani dan Sandhi ketahui, ada seorang lelaki yang sedari tadi memata-matai. Lelaki itu tampak seperti pengunjung mall pada umumnya, tapi memiliki niat lain karena utusan bosnya. Lelaki itu menyampaikan informasi-informasi via telepon sambil terus membuntuti Fani.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Sandhi sama sekali tidak curiga dengan mobil yang sedari tadi membuntuti. Sandhi hanya mengira mobil yang saat ini membuntutinya memang searah dengan jalan menuju kontrakan Fani.


“Pak Dosen ganteng, terima kasih, ya!”


Pujian dan ucapan terima kasih Fani di luar ekspektasi. Fani dengan berani mencubit pipi Sandhi, kemudian keluar dari mobil tanpa beban perasaan. Berbeda dengan Sandhi yang justru merasakan debaran.


“Gawat! Fani benar-benar berbahaya.” Batin Sandhi. Dia cepat-cepat melajukan mobilnya begitu Fani menutup gerbang kontrakan.


Dari kejauhan, mobil yang tadinya membuntuti Fani dan Sandhi kembali menelpon bos besarnya via telepon. Satu informasi tambahan yang dia sampaikan, yakni lokasi tempat tinggal Fani.


“Lokasi Non Fani sudah ditemukan, Bos.”


“Bagus.”


“Apa perlu saya paksa Non Fani untuk pulang?”


“Dia tidak akan mau. Aku sudah punya rencana sendiri untuk mengatasi itu. Kerja bagus untukmu. Kau boleh kembali.”


“Baik Bos.”


Yang mendapat sebutan bos tidak lain adalah Farel, kakak kandung Fani. Lelaki tampan bertubuh atletis, berjiwa pebisnis, tapi semaunya sendiri. Tidak jarang pula Farel melakukan aksi nekat, seperti yang akan dia rencanakan pada Intania Zhesky.


“Intania Zhesky. Seorang guru muda, dan lumayan cantik.” Farel mengamati foto Intan yang didapat dari salah satu anak buahnya.


“Sudah kau dapatkan judul novel karya Intania Zhesky yang dibaca Fani?” Sebelum ini Farel memerintahkan pada anak buahnya untuk mencari tahu informasi lengkap tentang Intan.


“Sudah. Bos. Judulnya Takdirku Bersamamu. Menceritakan kisah pengusaha muda yang memiliki istri seorang mahasiswa. Ada pelakornya juga, Bos. Nikah kontrak, tergoda wanita sexy, dan ada beberapa konflik lainnya lagi dalam novelnya.”


Farel sebelumnya sama sekali tidak pernah membaca novel. Jangankan sampai membaca, rasa enggan sudah terasa lebih dulu begitu tahu isinya hanya tulisan semua.


“Apa istimewanya novel ini? Cerita kehidupan rumah tangga. Cih. Fani sendiri bahkan belum berumah tangga. Apa dia benar-benar ingin segera menikah, ya?” Pikiran Farel kemana-mana.


Ada rasa kepedulian yang tinggi dari Farel untuk Fani, tapi langkah yang dipilih Farel sama sekali tidak disukai Fani, benar-benar tidak pernah disukai Fani, dari dulu hingga sekarang.


“Cari tahu status Intania Zhesky. Selain seorang guru, penulis novel, apalagi yang kau ketahui?” Farel bertanya pada salah satu anak buah yang sedari tadi berdiri di sampingnya, memberikan informasi padanya.


“Masih single, Bos.”


Tawa Farel seketika pecah. Ide gila langsung muncul dalam benaknya. Farel tidak hanya akan memanfaatkan Intan demi membuat Fani pulang dengan sendirinya, tapi dia juga akan menggencarkan satu niatan padanya.


Gawat! Apa yang direncanakan Farel? Bukankah acara resmi lamaran Intan dan Devano baru akan dilaksanakan? Bagaimana lanjutannya?

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2