
Sungguh berani Intan memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Devano. Intan hanya tidak ingin menutup-nutupi kebenaran. Faktanya Devano telah menemui kedua orang tuanya. Untuk apa lagi harus disembunyikan. Begitulah pikir Intan. Apalagi saat itu api cemburu membara begitu kuat dalam hatinya.
"Benarkah?" Seolah ada rasa tidak percaya dalam diri Helen.
"Devano sudah datang melamar. Dalam waktu dekat kami akan menikah. Kalau kamu tidak percaya, silakan bisa tanyakan langsung pada Devano." Intan tersenyum ramah, tapi keseriusan di wajahnya masih tetap seperti sebelumnya.
Helen menatap bola mata Intan yang sama sekali tidak menyimpan kebohongan. Perlahan, Helen mulai yakin bahwa yang dikatakan Intan memang benar.
"Em ... Maaf. Aku benar-benar tidak tahu." Terlihat perubahan ekspresi di wajah Helen. Ada rasa canggung yang tidak bisa ditutupi.
Intan masih saja bertahan dengan mimik wajah berani. Tak gentar, tak tergoyahkan. Hingga kemudian, tiba-tiba saja Helen mendekat dan menggenggam kedua tangannya.
"Sepertinya pertemuan kita kali ini bukan kebetulan. Tuhan menuntun langkahmu ke sini untuk mengabarkan pesan penting padaku. Ya ... meski dengan cara yang benar-benar di luar dugaan. Mulai sekarang, aku akan belajar memudarkan perasaanku pada Devano. Jadi, yang tadi lupakan saja, ya. Dan, selamat untukmu."
Ucapan Helen terdengar tulus. Sama sekali tidak dibuat-buat. Sebenarnya sudah lama Helen merasakan perasaan yang bertepuk sebelah tangan, bahkan Helen juga tahu fakta Devano yang kala itu mengejar-ngejar Dhea. Helen sadar, dia telah memaksakan perasaannya tanpa diimbangi dengan perjuangan nyata. Selama ini Helen hanya berharap, karena jarak tempat mereka pun tak lagi dekat. Sayang sekali, harapan Helen harus terhenti sampai di sini.
"Kamu ... baik-baik saja?" tanya Intan. Dia sengaja bertanya demikian meski sudah tahu apa yang akan Helen katakan sebagai jawaban.
"Ya. Aku baik-baik saja. Sekali lagi maaf, ya."
Intan semakin mengembangkan senyumnya, disusul anggukan mantap, kemudian merangkul Helen. Intan tahu, selanjutnya tidak akan mudah bagi Helen untuk cepat-cepat memudarkan perasaan. Intan tahu karena dia juga pernah mengalami yang demikian, dulu dengan sang mantan. Diawal rasanya akan berat, tapi setelahnya akan menjadi biasa-biasa saja, apalagi setelah itu datang lelaki baik yang memang ditakdirkan mewarnai perjalanan cintanya.
"Kakak cantik, aku kapan disuapi roti?"
Pertanyaan Gion sekaligus membuat pelukan Intan dan Helen terlepas. Karena fokus membahas Devano, Intan sampai mengabaikan Gion.
"Maafkan kakak, ya. Sini kakak suapi."
Helen melihatnya. Sikap yang Intan tunjukkan pada Gion terlihat tak biasa. Untuk ukuran seorang yang tidak saling mengenal, Intan bisa dikatakan terlalu peduli pada Gion. Sikap keibuan Intan tampak jelas, hingga Helen pun memberi pengakuan.
"Kamu baik sekali, Tan. Padahal kamu sempat dalam bahaya karena Gion." Batin Helen tanpa memalingkan perhatiannya pada Intan.
Sebungkus roti telah habis. Sejauh ini informasi tentang Gion tidak banyak berkembang. Gion hanya menyebut tentang pamannya yang jahat, tanpa ada alasan kuat. Gion juga tidak mau mengatakan tempat tinggalnya di mana. Yang Gion inginkan sedari tadi hanyalah sering-sering dipeluk Intan.
Posisi Intan dan Gion saat ini ada di ruang UKS sekolah. Intan meminta Gion istirahat. Tapi, tidak semudah itu. Gion baru mau setelah Intan berjanji akan menemani. Dan, tak butuh waktu lama, akhirnya Gion terlelap juga. Tidurnya khas seorang bocah yang kelelahan. Dalam kondisi seperti ini, sama sekali tak tampak wajah putus asa seperti yang Intan temui saat di dalam mobil penculik. Saat ini Gion telah mendapat rasa nyaman dengan menumbuhkan kepercayaan terhadap Intan.
"Tan, aku tinggal dulu untuk beberapa jam, ya. Mau ngajar. Kamu di sini saja dulu. Nanti kita pikirkan cara untuk membantu Gion. Oya, ponselmu ada?"
Beruntung karena dua lelaki penculik tidak merampas benda apapun milik Intan, sehingga ponselnya masih tetap dalam saku bajunya. Namun, ponsel Intan masih dalam keadaan mati sejak terakhir kali digunakan di jembatan.
__ADS_1
"Masih bisa diisi daya, kan?" Helen mengecek ponsel Intan.
"Masih bisa. Hanya kehabisan daya. Pinjam charger-mu, boleh? Aku ingin segera memberi kabar pada Devano. Dia pasti mencariku," ungkap Intan.
"Kalau nomor ponsel Devano aku punya. Silakan pakai ponselku dulu. Ponselmu biar aku isikan daya." Helen memberikan ponselnya setelah mematikan kata sandi pembuka layar kunci untuk memudahkan Intan.
Intan merasa beruntung karena Helen begitu baik padanya. Padahal sebelum ini sempat ada kecanggungan gegara pengakuan Helen akan sosok Devano.
Mumpung Gion masih terlelap, Intan bergegas menelpon Devano. Awalnya tidak diangkat. Setelah Intan mengirim pesan singkat, barulah telpon itu tersambung.
"Halo, Intan? Ini benar-benar kamu?" Suara Devano di seberang terdengar penuh kekhawatiran.
"Iya, Dev. Aku Intan."
Terdengar helaan nafas lega di seberang sana. Tanpa sadar, Intan ikut-ikutan menarik nafas pelan sebagai bentuk kelegaan. Senyum Intan bahkan tak henti-hentinya mengembang.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu terluka?" Devano penuh perhatian. Nada bicaranya pun menyiratkan kasih sayang, bukti bahwa dia benar-benar mengkhawatirkan Intan.
"Aku baik, Dev. Aku diselamatkan temanmu, Helen. Sekarang aku ada sekolah tempat dia mengajar."
"Itu jauh sekali. Bagaimana bisa kamu sampai di tempat Helen?" Devano terus menyambut tanya.
"Kasus ini harus ditangani pihak berwajib. Kasihan Gion juga kalau seperti ini." Devano berpendapat, masih via telepon.
"Aku setuju. Tapi, ada yang lebih penting dari itu. Gion butuh terapi seorang psikolog. Agar kondisi mentalnya kembali baik. Setidaknya untuk menghilangkan trauma. Sekaligus membuat Gion percaya lagi kalau di dunia ini masih ada orang-orang baik yang bisa memberinya kasih sayang," terang Intan panjang lebar.
"Akan kuminta Reynal membantu. Untuk sekarang, kamu tenang dulu, ya. Jaga pikiran tetap tenang. Aku akan segera menjemputmu di sana."
"Terima kasih. Tolong sampaikan pada ayah ibuku, ya. Aku baik-baik saja di sini." Intan kepikiran ayah ibunya.
"Pasti akan kusampaikan. Intan, dengarkan aku baik-baik. Tetap jaga komunikasi denganku. Apapun itu, segera hubungi aku. Aku janji akan segera sampai di tempatmu."
Senyum Intan mengembang. Hatinya bergetar.
"Iya. Aku menunggumu. Terima kasih ... Terima kasih, Dev." Tanpa sadar air mata Intan berlinang. Dia bisa merasakan ketulusan hati Devano.
***
Devano Albagri, dia sangat senang karena bisa mendengar suara Intan. Sama seperti Intan, air mata Devano juga tanpa sadar berlinang.
__ADS_1
"Bagaimana, Dev?" tanya Reynal.
"Intan aman. Dia ada di tempat Helen."
"Maksudmu Helena Alrasyid, teman kita?"
"Benar, Rey. Dan, ada seorang anak kecil yang butuh bantuanmu. Namanya Gion Samudra."
Cerita yang Devano dengar segera disampaikan pada Reynal. Ada Jefri juga di sana, dia ikut menyimak cerita Devano tentang kejadian yang dialami Intan.
"Kita lapor polisi saja, Dev. Biar penculiknya jera."
"Akan kulakukan. Untuk saat ini, bantu aku memikirkan cara menjemput Intan."
Benar. Devano perlu cara cepat agar dirinya bisa sampai di tempat Intan. Jika harus naik mobil, itu akan memakan waktu beberapa jam lamanya. Mobil sang penculik bahkan sebelum ini telah menempuh perjalanan dari siang hingga pagi menjelang.
"Naik pesawat saja, Dev. Biar aku temani." Reynal menawarkan diri.
"Aku tidak pernah naik pesawat. Jadi, aku tidak ikut ya. Pasti aku tidak bisa banyak membantu." Jefri jujur dengan kondisi diri.
"Kamu di sini saja, Jef. Sandhi dalam perjalanan menuju ke sini. Dia bilang punya informasi penting."
Reynal menjelaskan dengan singkat informasi yang didapat dari Sandhi. Ya, Sandhi telah menghubungi Reynal. Mengatakan pula bahwa Farel mengincar Intan dan berniat akan menjadikan istri keduanya.
"Kurang ajar! Berani-beraninya si Farel itu! Seperti apa tampangnya? Sini kalau berani lawan aku!" Jefri meradang. Sementara Devano, bertambahlah beban yang dia pikirkan.
Untuk sejenak, Devano terdiam. Dia masih mencerna informasi yang disampaikan Reynal barusan. Devano sempat khawatir, tapi dia putuskan untuk memprioritaskan penjemputan Intan.
"Rey, kita berangkat setelah memberi kabar pada orangtua Intan. Jef, aku percayakan Sandhi padamu. Dapatkan lebih banyak informasi darinya."
"Siap, Dev. Aku ada di pihakmu. Intan harus segera pulang biar dia bisa kembali mengajar murid-muridnya di sekolah, dan mengajarmu juga. Em, maksudku bertemu denganmu, lalu menikah denganmu, dan bahagia selamanya bersamamu. Ah, pokoknya gitu deh. Cepat berangkat sana!"
Ketika Devano dan Reynal baru saja meninggalkan Jefri, tiba-tiba saja ada yang menghampiri Jefri. Seorang lelaki, dan dia mengaku sebagai salah satu informan yang memberi keterangan tentang Intan saat di area jembatan. Karena Jefri dan Devano malam itu bertanya pada banyak orang, alhasil Jefri tidak hafal. Saat lelaki tadi bertanya tentang posisi Intan, dengan mudah Jefri percaya saja dan menceritakan semua. Jefri tidak sadar bahwa lelaki yang bertanya padanya itu adalah salah satu anak buah Farel, yang sudah bergerak cepat mendapatkan informasi atas perintah bosnya.
"Posisi target ditemukan, Bos." Si lelaki anak buah Farel menelpon.
"Bagus. Dapatkan dia, demi kepulangan adikku Fani."
Bersambung ....
__ADS_1