PANTAS

PANTAS
Bab 28 - Di Danau Berair Jernih


__ADS_3

Air danau tampak berkilau diterpa sinar matahari pagi. Kepada pepohonan, sinarnya pun tampak anggun. Menerobos celah-celah daun rimbun, hingga membentuk lukisan alam yang sangat jarang ditemui di area penuh gedung.


Usai memanjakan mata dengan indahnya danau berair jernih, Devano lekas memarkir motornya. Sedari sampai tadi, Devano memang belum turun dari motor. Dia lebih memilih diam sejenak, sembari menjatuhkan diri dalam buaian alam yang begitu asri. Danau berair jernih, tempat untuk berbagi kasih, ilmu, dan rasa peduli. Kisah yang tertoreh di sana bukan hanya tentang anak-anak yang bersemangat belajar, tapi juga tentang Intan. Hari ini, Devano akan menambahkan satu kisah lagi.


“Sandhi. Kenapa dia lama sekali?” Devano mengecek jam digital di layar ponselnya. “Mungkinkah Reynal lupa jalan menuju tempat ini?”


“Mas Dev!” seru ibu tua dari kejauhan.


Devano mengenali seruan itu. Suara Bu Rumi, ibu tua yang dia kenal sejak pertama kali mengenal area danau berair jernih. Bersama Bu Rumi, hadir lima anak yang siap belajar bersama Devano hari ini. Ada Gion juga di sana, anak kecil yang paling manja dan sempat memanggil Intan dengan sebutan mama.


“Hanya lima anak, Mas Dev. Beberapa yang lain kebetulan sedang bepergian,” terang Bu Rumi.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya izin belajar bersama anak-anak di sini, ya?”


“Silakan, Mas Dev. Warga di sini senang sekali menyambut Mas Dev dan teman-teman Mas Dev. Oya, nanti siang ibu kirimi makanan. Harus mau. Tidak boleh menolak.”


Devano seketika mengangguk demi menghormati tawaran Bu Rumi. Setelahnya, Bu Rumi pamit pergi, dan akan kembali siang nanti. Sementara lima anak tadi, mereka bergantian memeluk Devano. Gion bahkan minta gendong seperti sebelum-sebelumnya.


“Mama di mana, Kak?” tanya Gion yang masih dalam gendongan Devano.


“Mama siapa?”


“Bu guru cantik.”


Seketika itu Devano mengembangkan senyumnya. Ingatannya melambung ke momen beberapa waktu lalu saat dia mengajak Intan berkenalan dengan anak-anak danau. Devano memang sempat membuat ulah dengan menyebut Intan sebagai calon istrinya. Ternyata keisengan waktu itu berbuah nyata. Intan benar-benar akan menjadi istrinya.


“Kak Intan tidak ikut.” Dengan ramah, Devano menjelaskan pada Gion dan keempat anak lainnya.


“Apa Kak Intan tidak suka bertemu kami di sini?” tanya anak berambut kepang dua.


“Bukan begitu. Kak Intan sedang ada kegiatan lain. Jadi, Kak Dev tidak bisa mengajak Kak Intan ke sini. Tapi ….”


Devano menurunkan Gion, kemudian memberi kode tangan agar anak-anak melihat ke arah mobil yang baru saja datang.


“Kak Dev datang bersama Kak Reynal. Apa ada yang rindu?”


“Horeeee!”


Mobil yang baru datang adalah mobil Sandhi. Reynal berada satu mobil dengan si dosen tampan itu. Memang direncanakan demikian agar Reynal bisa menjadi penunjuk jalan.


Anak-anak berlarian menuju mobil yang terparkir di samping motor Devano. Begitu Reynal membuka pintu mobil, dia langsung disambut dengan pelukan anak-anak yang mengaku rindu padanya. Sudah setahun lamanya sejak saat pertama kali Reynal bertemu dan belajar bersama mereka. Benar-benar waktu yang cukup untuk memenuhi celengan rindu.


“Gi-on, hai.” Reynal menggendong Gion seperti yang tadi dilakukan Devano. “Masih suka ngompol, nggak?”


“Nggak lagi, dong. Gion sudah besar.”


“Anak pintar. Tos dulu!”


Sandhi menyaksikan pemandangan itu. Keakraban Reynal dengan anak-anak membuat hati Sandhi tersentuh. Namun, bola mata Sandhi seketika berganti fokusnya kala melihat sosok lelaki yang terus-terusan mengembangkan senyumnya.


“Apakah itu Devano?” Batin Sandhi.


Pertanyaan Sandhi langsung terjawab saat lelaki yang dilihatnya itu mengayunkan langkah ke arahnya. Mimik wajahnya begitu tenang dan senyumnya terus mengembang.


“Hai,” sapa Devano. Lengan kanannya terulur berniat jabat tangan dengan Sandhi. “Kenalkan. Aku Devano.”


Sandhi, dia tidak langsung menjabat tangan Devano. Lebih memilih diam sejenak, memperhatikan wajah Devano dengan jelas, baru setelahnya Sandhi tersenyum dan membalas jabat tangan. Sempat ada kekikukan yang dirasakan, karena pada akhirnya dia bisa bertemu juga dengan lelaki yang berhasil mencuri hati Intan.


“Sandhi.” Sandhi ikut memperkenalkan diri.


Jeda setelahnya sungguh tidak biasa. Tidak ada kata yang terucap, melainkan hanya saling melihat. Terus seperti itu hingga Reynal membuyarkan aksi Devano dan Sandhi.


“Hei, kalian berdua!” seru Reynal.


“Hm? Apa?” Devano buka suara.


“Rey. Aku mau bicara berdua dengan Devano.” Kali ini Sandhi yang bersuara.


“Sabar dulu, Bang. Tahan dulu urusan kita, ya. Tuh, lihat! Ada anak-anak yang mau belajar.” Devano memberi kode pada anak-anak untuk mengambil posisi belajar.


Sandhi yang tidak tahu apa-apa tentang anak-anak danau berair jernih hanya bisa menyaksikan mereka menggelar tikar bambu, mengambil buku-buku yang dibagikan Devano, lantas duduk nyaman tanpa ada suara gurauan. Kini, yang terlihat di mata Sandhi adalah anak-anak yang siap untuk belajar.


Yang selanjutnya lebih mengejutkan. Tiba-tiba saja Devano memperkenalkan Sandhi sebagai Pak Guru yang akan memberi pelajaran. Betapa Sandhi terkejut mendengarnya. Selain tidak ada persiapan, anak-anak yang akan Sandhi ajar kali ini bukanlah mahasiswa.


“Hahaha.” Sandhi tertawa demi mengurangi rasa terkejutnya. “Rey, sepertinya temanmu ini berniat mengerjaiku,” bisik Sandhi pada Reynal.

__ADS_1


“Tidak akan. Percayalah padaku.” Reynal menepuk pundak Sandhi untuk menyemangati.


Sandhi melangkah dan berhenti di hadapan kelima anak yang masih terlihat bersemangat sambil menampakkan wajah polos mereka. Karena tidak tahu apa yang harus diajarkan, Sandhi mendekati Devano lantas mengobrol sebentar melalui bisikan.


“Dev, apa yang harus aku ajarkan pada anak-anak ini?” bisik Sandhi.


“Mana aku tahu. Kamu kan gurunya,” sahut Devano dengan santainya.


“Aku ini dosen, bukan guru.”


“Apa bedanya? Sama-sama mengajar, kan?”


“Beda yang diajar, Devano. Aku biasa menghadapi mahasiswa, bukan anak-anak seperti mereka."


“Ya kalau begitu anggap saja anak-anak ini mahasiswamu. Kalau mau, sih. Atau … biar aku telponkan Intan saja untuk menggantikanmu?”


“Cukup. Tidak perlu. Aku bisa.”


Devano melebarkan senyumnya. Senang sekali melihat mimik wajah kesal Sandhi.


Pelajaran dimulai. Sandhi mengawali pelajaran dengan meminta anak-anak berdoa, lanjut salam, kemudian bertanya kabar mereka. Alur yang wajar dilakukan, tapi Sandhi melakukannya dengan gaya khas dosen profesional. Sangat formal, hingga membuat kelima anak yang diajar ikut-ikutan bersikap tegang.


“Ada buku cerita di hadapan kalian?” tanya Sandhi sambil menunjukkan buku cerita yang baru saja disodorkan Devano padanya.


“Adaaaaa!” seru Gion dengan kencangnya


“Buka halaman 2 dan perhatikan gambarnya! Sudah?”


“Sudaaah!” lagi-lagi Gion yang berseru kencang, karena dialah satu-satunya anak yang tidak bersikap tegang.


Cukup sudah. Devano tidak bisa lagi melihatnya. Devano memberi kode pada Reynal untuk menggantikan di depan, sementara Sandhi, lengannya ditarik pelan oleh Devano hingga sampai di dekat ayunan.


“Lepas tanganmu, Dev!”


“Nih, aku lepas!”


Hingga beberapa menit tidak ada obrolan di antara Devano dan Sandhi. Mereka hanya diam sambil memperhatikan Reynal mendongeng untuk anak-anak. Tidak lama kemudian, Sandhi yang masih kesal pun mulai mempertanyakan hal yang sedari tadi mengganjal pikiran.


“Apa kau berniat mengerjaiku, Dev?”


“Dev, kau jangan salah paham dulu padaku. Aku hanya ingin mengenal lelaki pilihan Intan. Itu saja. Tidak berniat apa-apa selain itu. Jadi, batalkan saja rencana jahilmu.”


Devano menoleh, melebarkan senyumnya, kemudian mengajukan tanya. “Apa kau takut?”


“Hah! Siapa bilang aku takut. Silakan saja, lanjutkan sesukamu.”


Sandhi berlagak cool, kemudian memilih menjauhi Devano. Dia menuju anak-anak, kemudian menggantikan Reynal. Sungguh tidak terduga, Sandhi yang tadinya begitu kaku di hadapan anak-anak, sekarang justru menunjukkan sisi yang berbeda. Lebih ramah, lebih murah senyum, dan mampu membuat anak-anak tertawa.


“Hahaha. Kak Sandhi lucu banget. Hari ini belajarnya seru! Coba saja ada Kak Intan juga.” Tiba-tiba saja Gion berkata demikian.


“Kak Intan? Apa dia pernah ke sini?” Sandhi terpancing untuk bertanya lebih.


“Pernah. Waktu itu datang sama Kak Dev. Kak Intan itu mama, Kak Dev itu papa.” Gion menjelaskan dengan wajah polosnya.


Saat itu juga mimik wajah Sandhi sedikit berubah. Hatinya kecewa karena Gion menyebut Intan dan Devano dengan sebutan mama papa. Tapi, rasa kecewanya itu tidak bisa dia tunjukkan di hadapan anak-anak yang pastinya tidak tahu apa-apa tentang urusannya.


Lanjut lagi, Sandhi tidak ingin terlihat kalah dengan Devano. Dia mengajak anak-anak membuat bentuk origami dengan kertas yang Devano bagi. Beruntungnya, anak-anak lebih bersemangat dibanding tadi. Tapi, mendadak saja Gion merengek minta tolong Sandhi untuk menggambar mawar di kertas lipatnya.


“Aku mau digambarkan bunga mawar di sini, Kak.”


“Bunga mawar? Sepertinya … itu akan sulit. Gambar yang lain saja, ya?” Sandhi menawar, karena dia lemah dalam hal gambar menggambar.


“Tidak mau! Pokoknya mau gambar mawar. Soalnya Kak Intan suka mawar. Aku mau gambar mawar sekarang!”


“Gion. Kak Sandhi tidak bisa. Gambar yang lain saja, ya?”


Sandhi tetap berusaha menawar gambar yang diminta. Hingga kemudian, datanglah Devano dan membalikkan keadaan yang ada.


“Gion, Sayang. Coba duduk sini sebentar,” pinta Devano dengan sabar.


Gion menurut. Dia duduk di antara Devano dan Sandhi. Selanjutnya, Devano membuatkan gambar mawar yang diminta Gion barusan. Dengan lihai Devano menggambar di atas kertas lipat Gion.


“Asiiik. Kak Intan pasti suka lihat ini. Titip ini buat Kak Intan ya, Kak Dev.”


Devano berkedip cepat, dia tidak menduga rencana Gion terhadap gambar mawar yang diminta. Namun, Devano sangat senang dengan permintaan Gion. Devano benar-benar akan memberikan gambar mawar itu pada Intan saat pulang dari danau nanti.

__ADS_1


“Kak Sandhi mau berlatih menggambar mawar?” tanya Devano, jahil. Dia sengaja memancing reaksi Sandhi.


“Tidak mau.”


“Yasudah kalau tidak mau. Gion, ajak teman-teman main air, yuk!”


“Siap, Kak!”


Sandhi terpancing dengan ajakan main air. Pikirannya langsung tertuju pada baju renang yang dia bawa atas perintah Reynal. Mungkinkah Devano akan menantang lomba renang? Atau mungkin, Devano akan menantang lomba berburu ikan di danau? Tapi jenis ikan apa yang akan ditemui? Itulah yang Sandhi pikirkan saat ini.


“Dev, kau akan mengajak anak-anak berenang di danau itu?” Pada akhirnya Sandhi tidak bisa menyimpan tanya.


“Tentu saja tidak. Mereka tidak bisa berenang.”


“Lalu baju renang yang kau minta bawa? Untuk apa?”


“Kau benar-benar membawanya?” Devano memastikan.


“Tuh, ada di mobil.”


“Ou-ke. Baiklah. Pakai saja kalau kau ingin berenang di sana. Kalau aku sih … tidak mau. Aku tidak mau basah-basahan.”


“Apa? Lalu untuk apa kau memintaku membawa baju renang?”


“Buat jaga-jaga saja, San. Siapa tahu kau ingin berenang. Sudah dulu ya. Da!”


Sandhi makin kesal. Sementara Devano, dia puas karena berhasil mengerjai Sandhi. Mulanya Devano mengira permintaannya tidak akan ditanggapi. Nyatanya Sandhi benar-benar membawa baju renang sesuai yang Devano perintahkan.


Menjelang siang, Bu Rumi datang membawa makanan. Lalapan ikan pindang, tahu tempe, dan sambal petai. Benar-benar masakan yang menggiurkan.


“Mau sambal?” Devano menawari Sandhi.


“Tidak. Terima kasih. Aku kurang suka petai,” ungkap Sandhi.


“Heem. Sayang sekali. Ini sambal kesukaannya Intan, lho.”


“Benarkah? Sejak kapan Intan suka petai?”


“Sejak dia jatuh hati pada …. Aw! Rey!”


Omongan Devano langsung terhenti karena sikutan tangan Reynal. Sikutan itu pertanda keras agar Devano berhenti bersikap berlebihan. Dari sanalah rencana lanjutan untuk menjahili Sandhi akhirnya diurungkan. Reynal dengan tegas memperingatkan Devano dan mengancam akan mengadukan kelakuannya pada Intan. Ya, itulah upaya terakhir yang dilakukan Reynal karena sebelum ini Devano benar-benar bebal.


Begitu acara makan-makan selesai, Reynal mengantar anak-anak pulang. Sementara Devano dan Sandhi, mereka bertahan dan mengobrol di tepian air danau dekat ayunan.


“Sandhi, kau sudah melihat sendiri.” Devanolah yang membuka pembicaraan.


“Maksudnya?”


Devano tidak terburu-buru melanjutkan kalimatnya. Dia berjalan maju, lebih dekat ke arah air danau.


“Maksudku, kau sudah melihat seperti apa diriku. Aku kurang bisa jika disuruh mengajar, sedikit jahil, tapi aku punya rasa peduli untuk pendidikan, khususnya anak-anak ini,” ungkap Devano.


Sandhi tidak menyangkal, memang itulah yang sedari tadi dia lihat dari sosok Devano.


“Maaf untuk sikapku yang tadi. Sandhi, salam kenal. Namaku Devano Albagri. Hanya seorang desainer biasa yang beruntung bisa dicintai Intania Zhesky.”


“Iya. Salam kenal. Dan, selamat untukmu. Bahagiakan Intan.”


“Tentu saja.”


“Jangan buat dia sedih, kecewa, apalagi sampai meneteskan air mata.”


“Pastinya."


“Buat dia nyaman.”


“Tenang. Bagi Intan, aku ini definisi rasa nyaman.”


“Jangan halangi dia ….”


“Cukup, Sandhi. Akan kulakukan segala yang terbaik untuk Intan, tanpa kau minta sekalipun. Sekarang, lebih baik kau ikhlashkan Intan. Relakan dia bersamaku. Oke?”


Sandhi terdiam. Benar-benar tidak ada kalimat balasan yang langsung dia sahutkan. Kalimat Devano barusan masih dia cerna dalam hati dan pikiran. Karena untuk merelakan Intan, itu semua tidak bisa dilakukan dengan instan.


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan lanjutan ceritanya! Like+Fav 💜

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2