
Devano mengayunkan langkahnya perlahan menuju area outdoor meja nomor 69. Pikiran Devano benar-benar berantakan. Bola matanya memang tertuju pada sang kakak yang menunggunya di meja nomor 69, tapi hati dan pikirannya tertuju pada Intan.
Yoga, kakak Devano segera berdiri begitu Devano sampai. Yoga yang dalam hal ini adalah dalang di balik undangan misterius yang diterima Intan, dia begitu khawatir dengan sikap Devano yang mendadak bungkam, tidak bersemangat, seolah sedang memikirkan sesuatu yang begitu membebani pikiran.
“Di mana Intan?”
“Dia … pergi,” ucap Devano dengan nada lesu.
“Ck. Kenapa jadi seperti ini, sih?”
Yoga menyesalkan apa yang telah terjadi. Sebenarnya, Yoga berniat baik dengan memberi kejutan pada Devano tentang Intan. Ya, Intan-lah yang akan dijodohkan dengan Devano. Yoga bahkan mengatur cara agar Devano dan Intan memiliki momen untuk bisa lebih dekat dan akrab. Les privat di rumah Yunia, Yoga-lah yang mengaturnya. Termasuk lelaki yang mengambil potret Devano dan Intan di warung kopi, Yoga-lah orangnya. Yoga benar-benar mengharapkan Intan agar bisa berjodoh dengan Devano, sang adik yang dikasihinya.
Yoga tahu masa lalu tentang Intan dari sahabatnya. Yoga tahu pula kisah pilu Intan di balik karir cemerlangnya. Tentang perjalanan cinta Intan, itu tidak jauh berbeda dengan perjalanan cinta sang adik, Devano. Yoga berniat baik untuk mereka berdua. Bukan untuk coba-coba, tapi untuk melihat mereka bahagia.
Sayang sekali rencana Yoga tidak semulus yang diperkirakan. Pagi tadi pukul sembilan, Devano datang ke meja nomor 69 lebih awal. Saat Devano menunggu Yoga, datanglah Dhea dan seorang lelaki yang merupakan teman kerja Devano. Pertemuan yang sungguh tidak disengaja dan tidak terduga. Termasuk ucapan Dhea tentang cinta, itu pun tidak terduga. Tiba-tiba saja Dhea menyapa, mengatakan kalau batal nikah, dan berlanjut dengan sikap manis Dhea pada Devano.
Bagian ketika Dhea bersikap manis pada Devano, tertangkap jelas oleh Intan. Intan yang hatinya tengah menaruh harapan tinggi pada Devano, seketika itu langsung jatuh. Tangis Intan sampai pecah karena kecewa dengan keadaan yang nyata dilihat olehnya.
Yoga yang baru datang di Café Bintang melihat tangisan Intan saat hendak menuju meja nomor 69. Yoga batal mendekati Intan karena tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang mendekap tubuh Intan, dialah Sandhi. Langkah Yoga langsung diayunkan ke meja nomor 69 untuk menemui Devano. Tanpa basa-basi lebih dulu, Yoga langsung menyuruh Devano menghampiri Intan. Dan, saat itulah Devano mendengar semua ucapan Intan pada Sandhi.
“Sepertinya … Intan melihat Dhea memelukku.” Devano mulai mengungkap isi pikirannya.
“Dhea memelukmu? Kok bisa?”
Devano tidak menjawabnya. Rasanya tidak ada gairah untuk bercerita tentang Dhea. Pikiran Devano sampai saat ini tertuju pada Intan. Apalagi bagian ungkapan Intan tentang lelaki yang menyandang definisi rasa nyaman, bagian itulah yang paling Devano pikirkan.
“Dev,” panggil Yoga.
“Hm.”
Yoga mencoba memahami kondisi. Tidak lagi mendesak Devano untuk bercerita lebih. Dia membiarkan adiknya itu diam sampai pikirannya tenang. Sambil menunggu, Yoga pun memesan dua jus alpukat untuk dirinya dan Devano.
__ADS_1
“Minumlah!”
“Ada kopi?”
Senyum Yoga mengembang. Dia berbaik hati memesankan kopi untuk Devano, secangkir kopi hitam lengkap dengan creamer yang bisa ditambahkan sesuai keinginan. Sayangnya, Devano lebih memilih untuk tidak menambahkan creamer ke dalam kopi hitamnya. Dibiarkan saja kopi hitam pahit itu dengan cita rasanya.
“Manis,” ucap Devano usai menyeruput kopi hitamnya.
“Hm? Serius manis?”
Senyum Devano mengembang. “Aku teringat momen manis. Benar-benar manis. Waktu hujan tempo hari di warung kopi. Saat senja, dan … ada Bang Yoga di sana. Aku tidak salah lihat, kan?”
“Haha. Aku ketahuan, ya?”
“Gaya pakaianmu terlalu mencolok, Bang.”
“Terus, kenapa kamu tidak menegurku waktu itu?”
“Sengaja kuabaikan. Aku tidak ingin merusak momen waktu itu.”
Pikiran Devano sudah lebih tenang. Saat itulah Yoga mengambil kesempatan, membujuk Devano agar mau berbagi cerita tentang Dhea. Dan … berhasil. Akhirnya, Devano mau bercerita. Devano mengaku bahwa dia pernah menaruh hati pada Dhea, tapi tidak dengan Dhea. Sampai pada kabar rencana pernikahan Dhea, Devano mengaku masih menyimpan rasa. Akan tetapi, pertemuannya dengan Intan cukup mampu membalikkan keadaan. Devano mengaku saat ini pikirannya dipenuhi nama Intan.
“Kenapa Dhea tiba-tiba batal nikah?”
“Entahlah, Bang. Aku belum sempat bertanya. Keburu ngejar Intan.”
“Pasti Intan salah paham melihat kalian berdua, Dev.”
Devano mengangguk setuju, sependapat dengan Yoga. Dan, tiba-tiba saja dia teringat Dhea. Di mana dia?
“Bang, Dhea pulang?”
__ADS_1
“Iya. Sudah abang suruh pulang. Habisnya dia mau nungguin kamu sampai balik.”
“Terus, Dhea mau?”
“Awalnya nolak. Terus abang bilang saja kalau kamu lagi ngejar calon istrimu.”
Devano jadi senyum-senyum sendiri saat Yoga menyebut Intan sebagai calon istrinya. Pikiran Devano lagi-lagi melambung tinggi, teringat Intan lagi. Lagi-lagi dan lagi-lagi, ucapan Intan pada Sandhi-lah yang Devano ingat saat ini. Devano yakin sekali bahwa lelaki yang dimaksud Intan adalah dirinya. Dialah yang ikut menceburkan diri ke dalam kolam ikan waktu itu. Ditambah lagi, momen yang telah dia lewati bersama Intan di danau berair jernih, menjadi bukti kebenaran ungkapan Intan tentang sisi lain dunia, tentang berbagi, dan makna bahagia bersama anak-anak danau kala itu.
“Dev, kenapa jadi senyum-senyum sendiri, ha? Ingat Intan?”
“Iya, Bang.”
Devano lebih memilih jujur. Tidak lagi menutup-nutupi perasaan. Apalagi kakaknya itu sudah mengaku akan menjodohkan dirinya dengan Intan.
“Kalau Intan, apa dia tahu tentang rencana Bang Yoga?”
“Niatnya sih tadi ngasih kejutan. Tapi, kejutan yang Intan terima justru tentang Dhea, Dev.”
Terdengar helaan nafas panjang dari Devano. Sekarang, dia bingung harus melakukan apa. Juga, tentang lelaki yang tadi dia lihat bersama Intan, Devano yakin sekali bahwa lelaki itu bukan lelaki sembarangan.
“Bang. Apa aku pantas untuk Intan?” Tiba-tiba saja Devano mempertanyakan.
“Apa kamu merasa tidak pantas?” Yoga membalikkan pertanyaan.
Devano seketika itu tersenyum lebar. Dia paham betul kenapa sang kakak membalikkan pertanyaan. Pertanyaan sang kakak hanyalah kalimat pembuka sebelum berlanjut ke kalimat bijaksana.
“Pantas itu pembuktian. Jika kamu memang mencintai seseorang, buktikan. Bukan terus-terusan mengumpulkan pendapat tentang kepantasan tanpa ada niatan untuk berjuang. Jangan ragu. Teruslah maju sampai kamu berhasil bilang i love you.”
Kalimat Yoga benar-benar menjadi penguat Devano untuk melangkah maju. Devano tahu bahwa hati Intan saat ini sedang terluka, sehingga dia akan mencari sebuah cara untuk mengobatinya.
“Aku akan jadi obat lukamu, pendampingmu, dan menua bersamamu. Intan, aku pantas untukmu. Wait me."
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Devano? Bagaimana dengan Sandhi? Apakah dia akan menyerah? Nantikan lanjutan ceritanya!
Bersambung ….