
Pelukan erat diberikan Intan untuk sang adik. Tidak disangka, Mira juga membalas dengan pelukan erat yang sama, seolah ada beban di hati yang ingin segera dia bagi dengan kakaknya.
"Kamu apa kabar, Mir?" tanya Intan.
Mira melepas pelukan. "Aku sedang tidak baik-baik saja, Kak."
Mimik wajah Mira muram, tapi disembunyikan lagi untuk sementara. Mira meminta Intan mengekorinya menuju kamar kos-kosan yang letaknya ada di lantai dua bagian ujung. Di kamar kos itu, Mira menempatinya seorang diri karena satu kamar memang untuk ditempati satu orang saja.
Intan bersikap ramah, tersenyum kepada tetangga-tetangga kamar kos Mira. Pandangan matanya juga sesekali diedarkan ke area kos-kosan yang tampak bersih dan terjaga. Intan bersyukur karena sang adik bisa memilih tempat kos yang nyaman sepanjang masa kuliah.
"Silakan masuk kakakku sayang." Mira mempersilakan Intan.
"Rapi betul, Mir."
"Iya, dong. Mira gitu lho."
Dalam hati, Mira bersyukur karena semalam punya banyak waktu untuk membersihkan sekaligus merapikan kamar kosnya. Mira sudah menduga bahwa kakaknya itu pasti akan mengamati, dan pasti akan menasihati andai tidak bersih. Dan, sekarang sudah terbukti.
Bungkusan berisi manisan buah langsung dikeluarkan oleh Mira. Makanan itu dari Salsa, teman kampus yang juga satu jurusan bahkan satu kelas dengannya. Salsa sengaja titip makanan itu untuk diberikan pada Intan. Salsa juga titip salam, yakni salam kenal.
"Temanmu baik bener sih, Mir. Siapa tadi namanya? Salsa?"
"Iya, Kak. Namanya Salsa. Kapan-kapan deh aku kenalkan sama Salsa. Kalau perlu kuajak liburan ke kota kita juga." Mira lanjut menjentikkan jari saat teringat sesuatu. "Aha! Waktu pernikahan kakak sama Kak Dev saja, deh. Salsa boleh kuajak menginap di rumah, kan?" Mira antusias.
"Boleh-boleh. Ajak saja dia kalau mau. Tapi kalau tidak mau jangan maksa loh, ya!"
"Hehe. Iya-iya, Kak. Tuh dimakan dulu, Kak. Mira tinggal ganti baju sebentar ya."
Intan melahap manisan buah dari Salsa sambil membalas pesan-pesan yang masuk di ponselnya. Ada juga pesan dari Reynal yang meminta Intan untuk menyapa Gion sebentar. Saat itu juga, Intan mengirim pesan suara. Tidak terlalu panjang, tapi cukup untuk membuat Gion jadi merasa diperhatikan oleh Intan.
"Siapa itu Gion, Kak? Murid kakak?" tanya Mira yang baru saja kembali dari ganti baju di kamar mandi.
"Anak yang waktu itu diculik, Mir. Masa kamu lupa, sih? Bukankah kakak sudah cerita ya?"
"Hehe. Iya, lupa. Sepertinya Mira mulai pikun, nih."
"Sekarang, coba ceritakan saja apa yang ingin kamu ceritakan. Kakak di sini untukmu, mendengarmu."
Sungguh Intan tidak ingin mengulur-ulur waktu. Dia ingin Mira segera bercerita agar suasana hati dan semangatnya lekas kembali seperti sedia kala.
"Em ... anu, Kak." Mira tampak ragu untuk bercerita pada Intan, padahal dalam hati begitu banyak yang ingin disampaikan.
Intan menangkap keraguan itu. Langsung saja Intan menjejalkan manisan buah ke mulut Mira demi membuatnya emosi dan cerewet seperti biasanya.
__ADS_1
"Kak Intaaaan! Iseng banget sih! Kalau Mira tersedak gimana, dong?'
"Biarin! Tinggal kabur aja ninggalin kamu di sini sendirian!"
"Gitu ya, Kak Intan. Tega sama adik sendiri. Padahal sekarang adik kakak ini lagi galau gara-gara Kak Sandhi!"
Berhasil. Intan berhasil memancing Mira. Akhirnya dia memulai ceritanya, dan awalan cerita yang dilontarkan Mira sungguh tidak terduga karena ada nama Sandhi di sana.
"Galau karena Sandhi? Kok bisa, sih?"
Mira terjebak dalam pancingan sang kakak. Sudah ada nama Sandhi yang disebutkan, sehingga Mira tidak lagi bisa menghindar. Tidak ada lagi keraguan seperti yang sebelum ini dirasakan. Mira, dia pun memilih curhat pada Intan.
Dan ... dimulailah cerita Mira. Awalnya Mira kesulitan memilih kata yang pas untuk menggambarkan situasinya. Namun, setelahnya Mira memilih bodoh amat dan menceritakan semuanya tanpa jeda. Mira terus bercerita, termasuk bagian saat Sandhi memeluknya.
"Sandhi meluk kamu, Mir?" Intan terkejut bukan main.
"Iya, Kak. Tapi-tapi-tapi, sepertinya Kak Sandhi ingat Kak Intan. Soalnya waktu itu Kak Sandhi sempat nyebut nama kakak. Pelaaaan banget. Tapi yang namanya dipeluk kan jaraknya jadi deket, tuh. Jadinya Mira denger deh meskipun pelan."
Pikiran Intan kemana-mana. Ada kekacauan dalam hatinya. Sempat terbersit perasaan tidak terima atas sikap Sandhi pada Mira. Tapi, setelah Mira menjelaskan, Intan jadi lebih mengerti keadaan.
Cerita Mira berlanjut lagi. Kali ini Mira bercerita tentang sikap Sandhi kemarin sore, yang tiba-tiba saja menatap dari jarak dekat usai menyingkirkan daun yang jatuh di pundak. Untuk yang bagian ini, Mira lebih bermain dengan perasaan, bahkan mengaku pada Intan jika saat itu sempat deg-deg-degan.
"Mira baper gara-gara sikap Kak Sandhi yang seperti itu, Kak." Akhirnya, Mira mengakui apa yang dirasakan olehnya.
"Yang waktu itu kamu pulang sampai rumah pagi-pagi, apa itu juga karena Sandhi?" tanya Intan serius.
"Maksudnya yang Mira langsung diantar lagi ke terminal sama kakak, ya?"
"Iya, Mir. Yang waktu itu tuh. Sebenarnya kakak sudah lihat gelagat galaumu waktu di jalan, pas kamu bonceng kakak. Tapi kakak diem aja soalnya kamu juga nggak cerita. Ayo sekarang cerita!" desak Mira.
Untuk yang satu ini, Mira lebih dulu menarik nafas dalam. Aslinya Mira enggan bercerita bagian ini, tapi sorot mata sang kakak seolah menegaskan bahwa Mira wajib memberi penjelasan lebih.
"Mira sempat dicap pelakor, Kak." Ungkap Mira pada akhirnya.
"Apa? Kok bisa sampai begitu, sih?" Intan semakin terkejut saja, apalagi sekarang Mira menyebut kata pelakor juga.
Lanjut ... Mira pun kembali bercerita kronologi kejadiannya. Tentang mobil yang malam itu tiba-tiba berhenti dan penumpangnya melempar selembar foto tepat ke wajah Mira. Tentang identitas si pelempar foto, Mira tidak mengetahui hingga saat ini.
"Mana fotonya? Kamu simpan nggak?" Intan penasaran.
Anggukan kecil meluncur. Untungnya Mira saat itu menyimpan fotonya. Sebenarnya sempat ada niatan untuk merobek-robek foto berisi catatan di belakangnya itu. Tapi urung Mira lakukan demi menjadikannya bukti di kemudian hari. Ternyata keputusan Mira saat itu tepat, karena sekarang dia bisa menunjukkan foto itu pada Intan.
"Mir, berapa kali kamu satu mobil dengan Sandhi? Apa dia selalu mengantarmu pulang?" tanya Intan. Pertanyaannya itu muncul saat melihat foto yang menampilkan sosok Mira dan Sandhi dalam satu mobil.
__ADS_1
"Cuma dua kali aja. Itu pun nggak sengaja, Kak."
Intan mencerna kalimat Mira baik-baik. Kemudian, dia lanjut lagi mengamati foto di genggaman tangannya itu. Foto itu memang hanya selembar, tapi ada dua foto yang bersisian atas bawah. Yang atas menampilkan Mira dan Sandhi, sedangkan yang bawah menampilkan sosok Fani yang berpenampilan sexy sedang bersama Sandhi.
"Kalau yang ini namanya Fani. Kakak mengenalnya," ungkap Intan.
"Serius, Kak? Apa Kak Fani itu benar-benar kekasihnya Kak Sandhi?"
Intan menggeleng. Hubungan Sandhi dan Fani memang tidak bisa dikatakan sebagai pasangan kekasih.
"Ah! Tuh orang iseng yang ngambil foto bener-bener harus tahu faktanya. Nama baik Mira tercoreng nih, Kak. Dasar, main asal tuduh saja." Mira tampak kesal.
Saat ini Intan tidak bisa terlalu banyak menanggapi. Pikirannya masih berputar membuat dugaan-dugaan atas situasi yang Mira hadapi. Jika bagian pelakor digarisbawahi, Intan menduga bahwa adiknya itu pasti memiliki musuh atau seseorang yang tidak menyukai.
"Kamu pernah debat atau musuhan sama teman kampusmu, nggak?" Intan menyelidik.
"Nggak pernah, tuh."
"Serius nggak pernah, Mir?"
"Iya, Kak. Mira serius. Mira kalau di kampus jadi mahasiswa baik-baik. Iya kalau di rumah, Mira memang suka iseng sama kakak."
Intan tidak menangkap adanya kebohongan dari perkataan maupun sorot mata Mira. Itu artinya, memang ada seseorang yang diam-diam membenci Mira, tapi hanya berani main belakang dengan ancaman saja.
"Begini. Kakak paham situasimu. Untuk sementara waktu, lebih baik kamu menjaga jarak dengan Sandhi." Saran Intan.
"Mira sih sudah berusaha biasa-biasa saja, Kak. Kak Sandhi aja yang sikapnya tiba-tiba. Kalau sudah kayak gini, Mira jadi baper kan. Mau minta Kak Sandhi tanggung jawab atas kebaperan Mira ini? Mana bisa! Mira bukan siapa-siapa. Mira ini hanya adik dari wanita yang dulu pernah Kak Sandhi cintai. Tidak lebih."
Semua curahan hati Mira keluar sudah. Benar-benar tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Mira emosi, kesal, kebaperan, semua dia rasakan, dan itu Mira ungkapkan pada Intan.
"Tenangkan dirimu dulu. Sini." Intan menyuruh Mira mendekat, kemudian memeluknya dengan erat.
Ya, Intan tahu apa yang saat ini dibutuhkan sang adik, yakni orang yang mau mendengarkan curhatnya. Satu pelukan kecil dari saudara kandung pastilah akan memberi rasa nyaman atas gundah di hatinya.
"Terima kasih sudah mau terbuka pada kakak, ya."
"Iya, Kak. Rasanya lega banget habis cerita."
Untuk beberapa saat, Intan tetap mempertahankan sikap perhatiannya pada Mira. Namun, pikiran Intan tetap berputar, khususnya mencari solusi agar sang adik tidak lagi merasakan kegalauan berlebih. Namun, sebelum solusi itu ketemu, Intan akan menemui Sandhi malam ini. Tanpa sepengetahuan Mira, apalagi Devano.
"Ada banyak yang harus kamu jelaskan, San." Batin Intan.
Bersambung ....
__ADS_1