
Selonjoran kaki di teras depan rumah mewah sambil menunggu dibukakan pintu oleh si tuan rumah, itulah yang dilakukan Devano saat ini. Devano sama sekali tidak sungkan meski ada security yang berjaga di dekat gerbang. Menurut keterangan security, Jefri sudah dihubungi. Devano diminta menunggunya sebentar. Dan, yang pertama kali menyambut Devano justru Gion. Dia berlarian kecil ke arah Devano setelah Jefri membukakan pintu depan rumah.
"Kakak ganteng datang. Hore!" Gion memeluk Devano.
"Hai. Pasti mau tanya kakak cantik di mana ya?" Devano berjongkok, menyejajarkan diri dengan Gion.
"Iya. Kakak cantik di mana ya? Kok nggak ikut ke sini bareng Kak Dev?" Gion bertanya-tanya.
"Kakak cantik sedang di rumahnya. Sedikit kecapekan," terang Devano dengan ramah.
"Habis kau ajak ke mana aja, Bro. Kok bisa Intan sampai kecapekan?" Celetuk Jefri.
Devano tidak menjawab pertanyaan Jefri. Yang dia lakukan justru memberi tatapan penuh arti. Kode tatapan mata itu memberi arti bahwa sebaiknya Jefri tidak perlu membuat pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang bisa membuat Gion jadi salah memahami.
"Hehe. Oke-oke aku paham," ucap Jefri kemudian. "Silakan masuk, Dev!"
Devano tetap menggendong Gion sampai di ruang tamu. Tak lupa pula Devano memberikan bungkusan makanan yang tadi sudah dipesankan saat di rumah makan bersama Intan. Gion berekspresi girang sekali, padahal dengan uangnya yang banyak itu Gion bisa saja membeli lebih. Tapi, yang namanya pemberian memang selalu memberi arti tersendiri meski kecil. Apalagi pemberian itu dari orang kepercayaan yang disayangi.
"Kak Jeje, Gion makan di meja makan dulu ya bareng Bi Ina. Kak Jeje silakan ngobrol sama Kak Dev dulu. Tapi ceritanya jangan yang aneh-aneh ya. Nanti Gion laporkan kakak cantik, lho." Ancam Gion dengan wajah polos yang menggemaskan.
"Anak pinter. Oke siap grak!" Jefri berlagak seperti prajurit yang sedang hormat pada komandan.
"Dada, Kak Dev!"
Devano melambaikan tangan disertai senyuman. Sungguh menyenangkan bisa melihat keceriaan Gion. Padahal, pertama kali Devano mengenalnya, Gion bahkan sama sekali tidak bisa memperlihatkan mimik wajah bahagia. Setelah mendapat terapi dari Reynal, disertai kasih sayang tulus dari Intan, barulah Gion mulai percaya lagi pada orang sekitar. Lebih tepatnya, Gion percaya pada Intan dan kawan-kawan. Tentu karena kebaikan, perhatian, dan rasa peduli yang diberikan.
"Enak kali ya punya anak, Dev. Bakalan kayak Gion." Tiba-tiba saja Jefri berkata demikian.
"Yaudah buruan sana cari istri, Jef. Nanti bikin yang banyak," sahut Devano.
"Ohohoho. Kau berani nggak bilang yang barusan itu di depan Intan?"
"Ya nggak beranilah."
"Pasti pikiranmu sudah diracuni Benny, ya? Makanya kata-katamu seberani itu." Selidik Jefri.
Seketika tawa Devano pecah. Lantas merangkul Jefri dengan penuh maksud agar tidak lagi meneruskan prasangkanya.
"Damai saja, ya. Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula, aku ke sini juga mau curhat." Devano membuat topik baru.
"Kayak cewek aja curhat-curhatan segala. Tapi sini, Bro. Aku dengarkan."
Berhasil. Jefri langsung pasang telinga mendengarkan cerita singkat Devano tentang Rose dan sikap tak biasa yang tadi sempat ditunjukkan saat di rumah makan. Devano juga menceritakan bagian saat dirinya memberi penegasan. Ekspresi Rose saat itu juga tak lupa diceritakan. Intinya, meski cerita Devano tidak panjang lebar, tapi cukup rinci untuk bisa dipahami Jefri.
"Wow. Berani betul si Rose. Tapi, kok rasanya ada yang aneh ya?"
"Nah itu dia. Aku juga merasa ada yang aneh. Kenapa tiba-tiba? Padahal dulu biasa-biasa saja."
"Memang, sih. Katanya, orang kalau mau nikah itu ada aja cobaannya. Tapi ini sih katanya. Sepertinya cobaanmu digoda pelakor, Bro."
"Aku sama sekali tidak tergoda oleh Rose," tegas Devano.
"Iya-iya. Aku tahu kau sudah cinta banget sama Intan. Ada wanita lain yang lebih cantik pun hatimu sudah tidak mengizinkan."
Setelahnya, Devano dan Jefri sama-sama terdiam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Membuat dugaan-dugaan, kemudian menarik kesimpulan.
"Apa iya Intan punya musuh, dan musuhnya itu berniat mengacaukan pernikahanmu sama Intan?" tebak Jefri, asal saja, karena tidak ada dugaan lain yang terlintas di benaknya.
__ADS_1
"Nggak mungkin banget kalau Intan punya musuh."
"Dibalik saja kalau begitu. Berarti kaulah yang diam-diam punya musuh. Coba kau ingat-ingat lagi. Sejauh ini siapa yang pernah kau perlakukan dengan kurang baik?"
Devano mengingat-ingat. Sama sekali tidak ada. Kalau dengan Benny, memang dulunya sempat kurang baik hubungan mereka. Tapi kini Devano dan Benny bahkan bisa dikatakan bestie.
Karena teringat Benny, Devano tiba-tiba saja teringat juga pada seseorang yang dulu sangat dekat dengan Benny. Dhea, dialah orangnya. Ya, Devano baru ingat bahwa pertemuan terakhir antara dirinya dan Dhea menyisakan ketidaklegaan, khususnya bagi Dhea.
"Apa mungkin Dhea di balik semua ini?" Devano menyampaikan hasil pemikirannya.
Deg!
Begitu nama Dhea disebut, Jefri jadi teringat sesuatu. Saat terakhir kali Jefri bertemu dengan Dhea, dia ditawari sesuatu. Bahkan saat itu Dhea berani mengungkap fakta masa lalunya. Ya, Jefri ingat, waktu itu Dhea memberi tawaran timbal balik tapi melibatkan Devano demi bisa memenangkan hatinya.
"Mungkin saja, sih. Tapi masa iya, sih?" Yang disampaikan Jefri adalah keraguan, padahal dalam hatinya dipenuhi keyakinan. Jefri yakin sekali Dhea ada di balik semua ini. Sayangnya, Jefri tidak berniat membahas lebih tentang Dhea, apalagi sampai mengungkap fakta masa kecilnya.
"Dahlah, Jef. Nyerah! Yang penting aku sudah bisa tegas pada Rose. Aku akan segera menikah dengan Intan, dan tidak ada seorang pun yang bisa membuatnya jadi berantakan."
Perkataan Devano mantap sekali. Jefri hanya menanggapinya dengan acungan jempol dan tepukan di pundak sahabatnya itu. Setelahnya, obrolan mereka hanya seputar sharing persiapan pernikahan saja. Dan, setelah Devano pamit, Jefri diam-diam membuat penyelidikan. Lebih tepatnya, hari ini juga Jefri akan menemui Dhea demi meminta keterangan darinya.
***
Rose tampak sedang menikmati secangkir kopi bersama seorang lelaki tajir di sebuah cafe. Tadi, setelah dia memutuskan menyerah pada lawan bicara yang semula menjanjikan bayaran mahal padanya, Rose langsung menuju cafe untuk bertemu dengan lelaki lainnya. Kali ini lelaki yang didekati Rose tampak mudah digoda, padahal usia pernikahan si lelaki tajir yang didekati itu kurang dari satu minggu saja.
"Wohoo. Pelakor level 1 mulai beraksi, Bung." Yang ini adalah celetukan seseorang yang sempat akan membayar Rose dengan bayaran mahal. Si lawan bicara yang telah mendapat sebutan pelakor level nol.
Rose tidak menyangka mantan orang yang menyuruhnya itu ternyata membuntutinya. Tentu saja Rose risih, padahal saat ini dia akan beraksi menebar pesonanya di depan lelaki berduit tadi. Alhasil, Rose meminta si lelaki untuk membuat jadwal pertemuan ulang dengannya. Dan, berhasil. Rose benar-benar akan membuat perhitungan setelah ini.
"Apa maumu ha?" Rose menjambak rambut panjang lawan bicaranya. Ya, lawan bicaranya itu adalah seorang wanita.
"Au! Berani betul kau! Dasar pelakor!" Si wanita lawan bicara Rose menjuluki Rose dengan sebutan pelakor.
"Jaga bicaramu, dasar setan!"
"Kau yang setan! Devano tidak pantas mendapatkan wanita berhati iblis sepertimu!" tegas Rose.
"Apa kau bilang? Berani-beraninya kau berkata seperti itu! Rugi banget aku sudah buang-buang waktu menyewa pelakor level rendahan sepertimu!"
Prok-prok-prok!
Terdengar tepuk tangan heboh dari arah yang tidak disangka-sangka. Hanya satu orang yang bertepuk tangan, dan dia adalah Jefri. Keberuntungan seolah sedang berpihak kepadanya. Baru beberapa menit lalu Jefri menebak posisi Dhea, seketika itu juga Jefri menemukannya. Bahkan, Jefri baru saja mendengarkan sebuah fakta yang tadi sempat hanya menjadi dugaannya saja. Wow, amazing. Tebakan Jefri benar. Dalang di balik munculnya pelakor, tidak lain adalah Dhea.
"J-je-je?" Dhea terkejut.
Rose yang melihat perubahan mimik wajah Dhea, dia langsung mengumpat dan meninggalkan lokasi itu. Rose bahkan berjanji tidak akan lagi berurusan dengan Dhea ataupun membuat kesepakatan dengannya. Bagi Rose, Dhea terlalu licik orangnya. Tidak asik untuk diajak bekerjasama, ditambah lagi kata-kata Dhea lebih pedas dibanding dirinya.
"Dhea. Ternyata kaulah dalangnya!" Bidik Jefri, tidak basa-basi lagi.
"A-aku bisa menjelaskan. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Je." Dhea berusaha mengelak.
"Omong kosong. Devano dan Intan harus tahu tentang ini."
Mimik wajah Jefri dipenuhi emosi. Saat itu juga Jefri menggenggam pergelangan tangan Dhea dengan erat, agar Dhea tidak bisa kabur. Tapi, tiba-tiba saja Dhea berontak dengan menggigit lengan Jefri. Spontan Jefri menjerit dan terlepaslah pergelangan tangan Dhea. Dan, Dhea berhasil kabur darinya.
Dhea berlari kencang, sementara Jefri mengejar. Jefri tidak berniat melepaskan Dhea begitu saja dan terus mengejarnya hingga ke area jalan besar. Tapi, satu kejadian tak terduga tiba-tiba terjadi di sana.
Ciiiit! Brak!
__ADS_1
Dhea tertabrak mobil, dan peristiwa itu terjadi tepat di depan mata kepala Jefri. Mendadak dunia seolah berhenti berputar. Bola mata Jefri melebar. Memang, saat ini di dalam hati Jefri dipenuhi emosi yang berlebihan. Namun, jika alur ceritanya seperti ini, Jefri yang dulunya pernah menaruh hati pada Dhea, tentu saja syok melihat kejadian yang baru saja terjadi tepat di hadapannya.
"Dhea!"
Tubuh Dhea tampak tidak berdaya dengan cairan warna merah di mana-mana. Cepat-cepat Jefri meminta pertolongan, kemudian menggotong tubuh Dhea ke mobil yang memberi bantuan kepadanya. Jefri tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Dhea sampai mereka tiba di rumah sakit.
Di ruang tunggu, Jefri duduk sendirian. Seketika itu Jefri menelpon Devano dan memintanya untuk datang. Rupanya, Devano sedang berada di rumah Intan, dan jadilah Intan akhirnya ikut Devano ke rumah sakit yang disebutkan.
"Bagaimana keadaan Dhea?" tanya Devano, dia datang bersama Intan.
"Masih dalam penanganan." Jefri lesu.
Detik berikutnya, masih dalam keadaan lesu yang sama, tiba-tiba saja Jefri bercerita tanpa diminta. Bukan hanya bagian saat Dhea kecelakaan, melainkan bagian saat terbongkarnya kedok si dalang pelakor bayaran. Lebih-lebih, Jefri juga lanjut bercerita tentang fakta masa lalu antara dirinya dengan Dhea. Jefri mengaku, bahwa dirinya sempat terjebak cinta monyet dengan Dhea di masa lalunya.
Waktu yang dihabiskan Jefri untuk bercerita hanyalah dua puluh menit saja, tapi cukup jelas dan mampu dipahami oleh Devano dan Intan. Seolah memahami keadaan, Devano dan Intan sama sekali tidak memberi protes, demi bisa menjadi pendengar baik yang saat ini benar-benar dibutuhkan.
"Maafkan Dhea, ya Bro." Jefri beralih melihat ke arah Intan. "Tan, maafkan kesalahan Dhea, ya?" Justru Jefri yang memintakan maaf atas kesalahan Dhea. Sungguh tidak disangka-sangka.
"Jefri, tenangkan dirimu ya. Aku sudah memaafkan Dhea. Lebih baik sekarang kita banyak berdoa agar Dhea bisa melewati masa kritisnya," ucap Intan.
"Benar yang Intan katakan. Semangat, Bro!" Devano menepuk-nepuk bahu Jefri untuk menguatkan.
Namun, keadaan semakin mengkhawatirkan setelahnya. Dokter mengatakan bahwa Dhea membutuhkan banyak darah. Dan, butuh bantuan seorang pendonor dengan segera. Jefrilah yang saat itu pertama kali mengajukan dirinya. Tapi, tidak bisa. Dan, ternyata yang berhasil menjadi pendonor bukan Devano juga, melainkan Intan.
"Tan, kamu yakin mau menolong Dhea?" tanya Devano dengan penuh keseriusan.
"Yakin, Dev." Intan tersenyum demi membuat tenang Devano.
Setelahnya, Devano hanya bisa mendukung Intan untuk melanjutkan niatan. Sementara Jefri, dia terus saja mengucap terima kasih pada Intan dari hati yang terdalam.
Seperti cerita dalam tayangan televisi, terdengar klasik, tapi saat ini kondisinya benar-benar dipenuhi emosi. Apalagi bagi Jefri, yang saat itu hatinya begitu tertekan dengan apa yang terjadi.
Saat Intan baru selesai mendonorkan darahnya, tampak Devano di sana. Calon suaminya itu begitu khawatir, sehingga terus-terusan bertanya apa yang saat ini dirasakan oleh Intan.
"Aku baik-baik saja, Dev. Kamu yang tenang, ya." Intan, lagi-lagi dia menenangkan Devano.
"Kakak cantik," sapa Gion, dia baru saja tiba ditemani salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
"Gion sayang, kok kamu ada di sini?" Intan terkejut. Dia hendak menggendong Gion, tapi keduluan Devano. Devano memang sengaja. Dia tidak membiarkan Intan menggendong Gion karena baru saja menjadi pendonor.
"Pasti mau nemenin Kak Jeje, ya?" tebak Devano.
"Iya, Kak. Tadi aku telpon, terus Kak Jeje nangis. Terus aku minta Paman buat cari tahu deh." Yang dimaksud Gion dengan Paman adalah tangan kanan mendiang ayahnya.
"Kak Jeje sedang di sana, tuh. Jangan diganggu dulu, ya." Tutur Devano begitu lembut.
Untuk beberapa saat setelahnya. Mereka semua masih bertahan menunggu perkembangan kondisi Dhea setelah mendapatkan pendonor darah. Dan, ternyata semua usaha tidaklah sia-sia. Dokter mengatakan bahwa kondisi Dhea mulai stabil setelahnya. Jefri, dia langsung minta izin untuk menemani Dhea di dalam ruangan tempat perawatan.
"Kakak cantik, itu siapa?" tanya Gion yang saat ini sedang mengintip ke dalam ruangan.
Devano mendekat. Intan pun juga ikut mendekat. Terlihat jelas oleh mereka saat ini Jefri tampak sedang menggenggam tangan Dhea. Begitu lama, dan Jefri terus-terusan menatap ke arah wajah Dhea.
"Kak, itu yang lagi sama Kak Jeje siapa?" tanya Gion lagi.
Intan tersenyum ramah, kemudian berjongkok menyejajarkan dirinya dengan Gion. "Itu namanya Kak Dhea. Calon istrinya Kak Jeje," ucap Intan.
"Hore. Kak Jeje itu ayah. Kak Dhea itu mama. Dan Gion anaknya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Gion, Intan dan Devano langsung saling tatap, kemudian kompak mengangguk. Apa yang saat ini mereka pikirkan sama. Bukan lagi menebak-nebak, tapi besar kemungkinan akan terwujud nyata. Jefri pastilah akan menikahi Dhea setelah ini.
Bersambung ....