
Dua puluh lima menit sudah Sandhi berdiam diri di dalam mobilnya. Hanya duduk diam, sambil memandangi kolam ikan Café Bintang dari arah parkiran mobil. Air mukanya terlihat tenang meski banyak hal yang tengah dia pikirkan. Sandhi tidak merasa rugi telah jauh-jauh datang ke kota tempat tinggal Intan, meski apa yang terjadi sama sekali tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Paling tidak Sandhi jadi tahu, ada lelaki lain yang saat ini mengisi ruang hati Intan.
“Aku tidak bisa leluasa mencari tahu siapa lelaki yang dimaksud Intan.”
Sandhi bermonolog. Pandangan matanya masih tertuju pada kolam ikan sementara pikirannya berkeliaran. Sandhi berusaha mencari sebuah cara agar dia tetap bisa mencari tahu meski berbeda kota dengan Intan.
“Baiklah. Cara itu saja.”
Senyum Sandhi mengembang saat berhasil menemukan sebuah cara jitu untuk menyelidiki siapa lelaki yang dimaksud Intan. Hingga, tidak butuh pikir panjang lagi sampai jemari tangan Sandhi berkeliaran menekan huruf demi huruf pada layar ponsel pintarnya. Sandhi mengirim pesan pada seseorang, meminta bantuan, lantas mengakhirinya dengan sebuah janji yang menarik perhatian.
Satu kesepakatan telah dibuat dengan seseorang yang menurut Sandhi sangat tepat untuk membantu hubungannya dengan Intan. Kini, mobil Sandhi dilajukan perlahan meninggalkan area parkir Café Bintang. Tujuan selanjutnya adalah toko bunga.
Bola mata Sandhi disuguhi pemandangan bunga warna-warni. Tulip, Mawar, Matahari, Baby’s Breath, Peony, dan Lili. Semuanya menarik perhatian Sandhi. Namun, yang Sandhi pilih andalah buket bunga Peony yang dipadu dengan Baby’s Breath.
Sambil menunggu pesanan buketnya jadi, Sandhi duduk di kursi tunggu sambil memperhatikan ke arah jalanan kota. Terlihat tidak begitu padat kendaraan. Orang-orang yang berlalu lalang pun hanya beberapa saja yang terlihat. Perhatian Sandhi terhenti pada dua orang yang tampak jelas sedang saling menyalahkan. Si wanita menunjuk-nunjuk wajah si lelaki berulang kali sembari meluapkan emosi.
Sandhi tidak peduli. Baginya, setiap orang memiliki ceritanya sendiri. Ada yang bahagia, sedih, kecewa, bahkan kehilangan rasa percaya seperti yang saat ini Sandhi alami.
“Sudah jadi, Mas. Silakan.”
“Bisa ditambahkan pesan?”
“Mau ditulis sendiri atau kami buatkan?”
“Menulis sendiri.”
Pemilik toko bunga yang melayani Sandhi segera mengambilkan apa yang Sandhi minta. Selembar kartu ucapan kosong diberikan, lengkap dengan penanya. Sandhi dipersilakan menulis pesannya sendiri.
“Aku tahu kamu suka bunga. Semoga sedihmu berkurang begitu melihat buket cantik ini.” Batin Sandhi. Jemarinya mulai menulis pesan puitis pada kartu ucapan.
Selesai dengan buket bunga, Sandhi melangkah keluar. Tapi, tidak menuju mobilnya. Sandhi berniat mencari satu kudapan ringan untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. Maklum, tadi pagi Sandhi begitu nekat menempuh perjalanan jauh hanya demi menemui Intan. Padahal saat itu Sandhi belum sarapan sama sekali.
“Ini salahmu! Pokoknya salahmu!”
“Hei, ayolah. Kenapa jadi aku yang salah?”
Sandhi berpapasan langkah dengan dua orang yang tadi dilihat olehnya. Rupanya mereka masih saja bertengkar. Namun, lagi-lagi Sandhi tidak memedulikan. Dia terus berjalan menuju kedai roti bakar.
“Kamu kurang info, Ben. Dia sudah punya calon istri.”
“Kalau yang satu itu aku juga baru tahu.”
“Cukup! Aku malu, nih!”
Bruk!
Sandhi bertabrakan langkah dengan si wanita tadi. Langkah kaki Sandhi sudah benar. Si wanitalah yang tidak awas karena sibuk beradu kata dengan teman lelakinya. Akibat dari kejadian itu, buket bunga pesanan Sandhi terjatuh.
“Aduh! Maaf, Mas.”
Si wanita cepat-cepat mengambil buket bunga yang terjatuh, memeriksanya, kemudian kembali meminta maaf pada Sandhi.
“Saya ganti, ya Mas?”
“Tidak perlu. Buketnya masih utuh.”
“O-key baiklah. Sekali lagi saya minta maaf, ya Mas.”
“Iya.”
__ADS_1
Sandhi dengan elegan masuk ke dalam kedai roti bakar. Rupanya si wanita tadi terpukau karena tubuh ideal dan wajah tampan Sandhi. Namun, hanya sesaat saja. Setelahnya dia kembali beradu kata dengan teman lelakinya.
“Pokoknya ini gara-gara kamu, Ben!”
“Capek disalahin melulu. Jadi kena pajak roti bakar nggak, nih?”
“Harus jadi!”
Berhenti sejenak. Mereka masuk ke dalam kedai roti bakar dan langsung memilih tempat duduk tepat di samping kiri Sandhi.
Roti bakar pesanan Sandhi datang. Dia melahapnya di tempat. Sedangkan dua orang tadi, mereka masih menunggu pemilik kedai membuatkan pesanan.
“Devano suka sekali dengan roti bakar isi selai blueberry. Aku harus minta maaf padanya atas kejadian di café.” Si wanita memulai kalimatnya lagi.
Ya. Wanita itu adalah Dhea. Sedangkan seorang lainnya adalah Benny, teman dekat Dhea sekaligus teman kerja Devano.
“Ben, bantu cari info calon istrinya Devano, dong! Kepo banget, nih!”
“Nggak janji, ya. Aku kurang dekat sama Devano. Kalau sama Jefri … lumayan, sih. Oke deh, aku coba!”
Dhea bersemangat mendengarnya. Sekali waktu, dia tampak memperhatikan Sandhi yang sedang fokus melahap roti bakar pesanan. Kali ini bukan karena terkagum lagi, tapi karena teringat pernah melihat Sandhi sebelum ini.
“Kalau diingat-ingat lagi, tuh cowok sepertinya datang ke Café Bintang juga tadi.” Batin Dhea, mengingat-ingat tapi berujung bodoh amat.
“Sepertinya aku pernah dengar Jefri nyebut nama cewek di depan Devano, deh!” ungkap Benny.
Fokus Dhea seketika itu kembali tertuju pada Benny, tidak lagi memperhatikan Sandhi.
“Oh ya? Siapa?”
“Kalau nggak salah … Intan.”
Gantian Sandhi yang kini menoleh ke meja Dhea dan Benny. Nama Intan yang disebutkan begitu menarik perhatian. Sandhi menoleh sebentar, lantas kembali fokus pada roti bakarnya. Pada akhirnya Sandhi memilih untuk cuek lagi pada mereka berdua, karena nama Intan tidak hanya satu saja. Di luaran sana ada banyak nama Intan lainnya.
“Mana aku tahu, Dhea.”
“Alamat rumahnya? Tempat kerjanya, deh! Cantik mana sama aku?”
Benny sebal karena diburu pertanyaan yang dia tidak tahu jawabannya. Benny memilih mengabaikan Dhea dan meraih air mineral gelasan di depannya.
“Sudah dibilang cuma tahu nama, eh malah tanya yang lainnya,” ketus Benny.
Sreet!
Dhea merebut air mineral gelasan milik Benny. Dhea yang sebal berniat meminum air dalam air mineral gelasan. Tidak melihat adanya sedotan, telapak tangan pun jadi media pembuka dadakan. Dhea menepuk keras air mineral di tangannya, dan tercipratlah isinya ke mana-mana. Tidak hanya membasahi meja Dhea dan Benny, tapi juga membasahi kemeja yang dipakai Sandhi.
“Ouuuuuh. Maaf-maaf-maaf.” Dhea menghampiri Sandhi.
“Tidak apa-apa. Hanya air.”
Sandhi begitu santai menanggapi, karena air yang terciprat ke kemejanya tidaklah banyak. Sementara Dhea, dia tetap meminta maaf karena tidak enak pada Sandhi.
“Saya permisi dulu.” Sandhi memilih pamit.
“Sekali lagi saya minta maaf, ya Mas.”
“Iya.”
Dhea terus melihat Sandhi sampai dia benar-benar keluar dari kedai. Hingga kemudian Benny menyuruh Dhea untuk duduk lagi.
__ADS_1
Sementara itu, Sandhi, dia kembali menuju mobilnya. Buket bunga yang sudah disiapkan berniat dia antar sendiri ke rumah Intan. Dan, sudah setengah jalan hingga akhirnya Sandhi mengurungkan niatan. Sandhi yakin sekali Intan tidak akan mau menemuinya. Jadilah, Sandhi memesan jasa kirim barang untuk mengantar buket bunganya. Beres dengan itu semua, Sandhi pun kembali menempuh perjalanan jauh menuju kota tempat tinggalnya.
***
“Paket!”
Dua porsi nasi pecel masih dilahap Intan saat ada paket datang. Tahu suasana hati sang kakak sedang tidak baik-baik saja, Mira pun memutuskan untuk menerima paketnya.
“Dengan Nona Intan?” tanya Kang Paket.
“Nona Intan lagi ngambek.” Mira malah curhat.
“Ada buket bunga untuk Nona Intan.”
“Biar saya terima saja sini.”
Begitu buket bunga dalam genggaman, Mira bergegas mengintip nama si pengirim buket bunga untuk kakaknya. Ada nama Sandhi di sana. Seketika itu Mira tersenyum lebar dan berlarian menuju Intan.
“Kaaaaaak! Ada buket bunga cuaaaantik banget, nih. Buat Kak Intan.”
“Dari siapa?”
“Dari pujaan hati kakak?”
Intan menoleh cepat. Dia mengira yang dimaksud Mira adalah Devano.
“Dari Kak Sandhi,” imbuh Mira kemudian. Dan, seketika itu mimik wajah Intan kembali ke posisi awal. Intan lanjut makan.
“Terima dong, Kak!”
“Buat kamu saja!”
Mira terheran dengan jawaban kakaknya. Cepat-cepat Mira merebut piring nasi pecel Intan. Sikap Mira berhasil membuat fokus Intan teralihkan.
“Kenapa?” tanya Mira singkat.
“Aku sukanya mawar putih, Mir. Sudah sana, buat kamu saja. Kembalikan nasi pecelnya. Aku belum selesai.”
Kondisi hati Intan benar-benar tidak stabil. Mira sampai bisa merasakan perubahan besar dari sikap kakaknya itu.
“Permisi. Paket!” seru Kang Paket lainnya.
Lagi-lagi Mira-lah yang berinisiatif ke depan rumah untuk mengambil paketnya. Kali ini bukan buket bunga, melainkan sebuah lukisan wajah. Meski tidak tahu nama pengirimnya, Mira tetap menerimanya.
“Paket buat Kak Intan lagi, nih!”
“Buat kamu saja, Mir. Pasti Sandhi tuh yang ngirim.”
“Masa, sih?” Mira tampak membolak-balik paketnya. “Sepertinya bukan, deh!”
Perhatian Intan teralihkan sepenuhnya. Intan berdiri, menghampiri Mira, lantas mengambil alih paket yang ternyata berisi lukisan wajahnya. Akan tetapi, yang menjadi perhatian Intan adalah pesan di balik lukisan.
To : Intania Zheski
From : agoyngab96.id
Pesan : Hadiah kecil untukmu. Jika berkenan, temui aku di nana’s ice cream Hari Rabu pukul tujuh malam. Salam kenal.
Mau main tebak-tebakan? Jika sudah membaca sampai sini, jangan lanjut dulu ke bab berikutnya. Yuk, tebak! Siapa pengirim paket kedua?
__ADS_1
Salam Luv dariku. Tunggu cover baru untuk novel ini, ya 💜
Bersambung ....