PANTAS

PANTAS
Bab 58 - Di Luar Rencana


__ADS_3

Hanya memakai celana pendek selutut, tanpa baju. Begitulah penampilan Benny saat Intan, Devano, Fani, dan Sandhi datang. Lebih mengejutkan lagi, seluruh bagian wajah tampak putih sekali lantaran masker wajah yang digunakan Benny.


Brak!


Benny menutup pintu kontrakannya lagi saat tahu siapa yang datang. Bukan karena Benny tidak ingin menerima tamu sehingga pintu yang semula dibuka harus ditutup lagi dengan kasar. Benny hanya terkejut karena kedatangan tamu dengan penampilan seperti itu.


"Maaf, semuanya. Aku lupa tidak memberi tahu Benny kalau kalian akan berkunjung ke kontrakan. Jadi ... ya ... begitulah." Devano jadi tidak enak hati, apalagi saat melihat Intan dan Fani langsung menutup kedua mata mereka saat melihat penampilan Benny.


"Kau tinggal berdua saja dengan dia, Dev?" tanya Sandhi.


"Iya. Hanya untuk satu bulan saja."


"Benar-benar berdua saja? Satu ranjang juga?" Pertanyaan Sandhi berlanjut, tapi terdengar ambigu dan seperti menjurus pada sesuatu.


Devano lebih dulu melihat ke arah Intan, sebelum akhirnya menghadiahi Sandhi dengan ancaman tangan yang mengepal. Untung saja Intan tidak melihatnya. Jika tidak, pasti Intan sudah menjadi penengah.


"Mau ngajak ribut, ha?" desis Devano, dengan nada berbisik.


Sandhi santai saja menanggapi. Alih-alih membalas Devano, Sandhi hanya tersenyum simpul kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Sandhi benar-benar tidak menggubris Devano yang mulai meradang gegara Sandhi menyebut kata 'satu ranjang'.


Devano pamit sebentar untuk mengecek kondisi ruangan-ruangan di kontrakan. Khawatirnya Benny membuat aksi yang tidak sepatutnya dilihat oleh tamu-tamu yang datang. Dan, benar saja, Devano menjumpai tayangan film yang menampilkan adegan yang kurang pantas disaksikan. Tayangan film itu tampil di ponsel Benny yang masih menyala, sepertinya sengaja ditinggal karena tadi harus membukakan pintu depan kontrakan.


"Dev, jangan dimatikan!" cegah Benny yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kalau begitu sembunyikan. Jangan sampai mereka memergokimu melihat tayangan seperti itu, khususnya Fani. Bisa-bisa dia ilfeel."


"Untuk hiburan, Dev. Kalau kau ingin, sana bawa gebetanmu ke kamar. Yang lain biar kuamankan."


Devano geregetan mendengarnya. Selalu saja Benny mengucapkan kata yang tidak pantas itu dengan ringan lidah. Dan, ujung-ujungnya Devanolah yang harus repot-repot menasihati Benny. Ya, meskipun keampuhannya hanya bertahan beberapa saat saja. Setelahnya, Benny kembali pada dirinya.


"Ben, ingat. Fani adalah salah satu client kita. Jadi, jaga sikapmu di depan dia. Mengerti?" Devano mengingatkan.


"Ya-ya. Aku mengerti. Santuy, Dev." Setelah berkata demikian, Benny dengan santai membawa ponselnya masuk ke dalam kamar.


Aman. Kini Devano kembali ke ruang tamu kontrakan sambil membawa beberapa mangkuk wadah mie ayam yang tadi sudah dipesan. Devano juga menyediakan minuman. Beres dengan itu, Devano pun mempersilakan Intan untuk berganti baju.


"Kamar mandinya di situ. Lepas bajumu."


"Hm? Apa?" Intan spontan menjauh saat Devano berkata seperti itu.


"Aku belum selesai bilang, Intan. Lepas bajumu di kamar mandi, kemudian pakai baju yang bersih. Kamu bawa baju ganti, kan? Atau mau pakai kaos milikku saja?"


"Em, tidak, Dev. Aku bawa baju ganti, kok."


"Kalau begitu nanti kubantu mencuci baju kotormu. Ada pengeringnya juga." Devano menunjuk mesin cuci di dekat kamar mandi.

__ADS_1


Intan mengangguk. Mulai sadar juga kenapa Devano memaksa agar ke kontrakannya, karena ada mesin cuci lengkap dengan pengeringnya. Sementara kalau menunggu sampai di kos-kosan Mira, Intan tidak akan menjumpai yang seperti itu di sana.


Atas saran Intan, Devano menuju ruang tamu kontrakan untuk menemani Fani dan Sandhi makan mie ayam. Obrolan basa-basi juga dilakukan sambil mengisi kekosongan. Benar-benar hanya obrolan basa-basi, seperti enak ya tinggal di sini? Itu di depan kontrakan ada kolam ikannya, jadi adem. Sofanya empuk, view samping rumah bagus. Ya, seperti itulah basa-basinya dan lebih sering Fani yang banyak bicara. Sedangkan Sandhi, dia tetap mempertahankan sikap cool, hemat kata, bahkan kini fokus memperhatikan ceker setan di mangkuk mie ayamnya.


"Aku kurang suka ceker ayam. Untukmu saja, Fan." Sandhi meletakkan ceker bagiannya di mangkuk Fani.


"Sandhiiiii. Aku nggak mau makan itu banyak-banyak. Ambil lagi, nggak?" Fani ngegas.


"Tidak mau," ucap Sandhi dengan santainya.


"Ambil! Cepat ambil!" desak Fani.


"Ti-dak!"


Fani hilang kesabaran. Dia berniat membalas Sandhi, tapi tiba-tiba saja mangkuk mie ayamnya ada yang mengambil alih. Dan, yang mengambil alih adalah Benny. Tidak tanggung-tanggung, Benny juga melahap habis ceker ayam di mangkuk Fani.


"Benny," ucap Fani sambil tersenyum manis melihat aksi Benny. Di mata Fani, Benny tampak seperti pahlawan yang menyelamatkannya dari ceker setan.


"Kalau butuh bantuan yang lain, tinggal panggil aku saja. Oke?" Benny memberi Fani kedipan mata, kemudian melangkah elegan menuju dapur meninggalkan mereka semua.


Devano segera membuntuti Benny. Sedikit khawatir juga dengan aksi yang baru saja dilakukan untuk Fani. Pasalnya, Devano tahu sendiri bahwa Benny tidak tahan dengan masakan yang terlalu pedas. Bisa sih makan pedas, asalkan pedasnya masih dalam batas wajar. Tetapi, ceker setan yang baru saja dilahapnya rasanya sungguh jauh di atas batas wajar.


"Ben, kau gilla, Ben!" Devano berniat memuji aksi Benny, tapi jatuhnya justru mengatai.


"Diam kau, Dev! Aaakh. Perutku mulai bereaksi, nih. Gawat!" Benny tergopoh-gopoh. Langkah kakinya diayun hendak menuju kamar mandi. Padahal, di sana masih ada Intan.


"Minta dia buruan keluar, Dev. Sudah nggak tahan, nih!" Kening Benny sudah mengeluarkan peluh.


"Tahan dulu, Ben. Salahmu juga, sih. Sudah tau perutmu mudah bereaksi, malah sok-sokan jadi pahlawan di depan Fani."


Devano justru menyalahkan. Kejadian di kontrakan sungguh jauh berbeda dari apa yang sudah direncanakan. Niat Devano hanya ingin membantu Intan, sekarang keadaan justru runyam gara-gara Benny yang sok-sokan jadi pahlawan.


Dok-dok-dok-dok! Benny tidak peduli dan langsung menggedor pintu kamar mandi.


"Maaf, Tan. Aku kebelet. Please, cepetan keluar, ya!"


Untuuuung saja kalimat yang digunakan Benny sangat sopan. Jika tidak, Devano pasti sudah mengambil tindakan.


"Tan ... Intan, please! Kebelet banget."


"Aku carikan batu dulu, Ben. Wait!" Devano berinisiatif.


"Buat apa, Deeeev?"


"Ya biar nggak buru-buru keluar. Kata orang zaman dulu gitu. Menggenggam batu saat kebelet bisa ...."

__ADS_1


"Di-cancle, gitu?" Benny menimpali dengan kesal.


Dok-dok-dok! "Tan, please! Kebelet banget, Tan!"


Ceklek!


Akhirnya, Intan keluar juga dari kamar mandi. Wajah Benny tampak girang sekali. Sedikit tidak sabaran juga, sampai-sampai Benny nekat menarik lengan Intan perlahan demi agar segera berpindah tempat. Sayangnya, lantai kamar mandi yang sedikit licin membuat Intan limbung dan ... jatuhlah tubuh Intan, tapi tidak sampai terjungkal ke lantai, karena detik itu juga Devano gesit menjadi pahlawan.


Lengan Intan ditarik dengan sedikit kasar dan jatuhlah Intan dalam pelukan Devano. Jarak mereka berdua benar-benar hanya tinggal beberapa sentimeter saja. Bola mata Intan dengan bulu lentiknya bahkan terlihat sangat jelas oleh Devano. Juga, dalam beberapa detik lamanya, Intan dan Devano terjebak dalam jeratan tatapan mata yang disertai dengan debaran merdu jantung mereka.


Untuk sejenak, pikiran Devano teringat adegan tidak pantas dalam film yang tadi ditonton Benny. Benar-benar racun. Untung saja Devano bisa menguasai diri. Dia langsung memalingkan wajah, melihat ke sembarang arah, sambil sekuat tenaga meredam hawa nafsu yang hampir saja meraja.


"Maaf," ucap Devano pada akhirnya.


"Kenapa minta maaf, Dev?" Intan bergegas memperbaiki posisi berdirinya. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Terima kasih, aku tidak jadi jatuh." Senyum Intan mengembang. Intan tampak biasa-biasa saja. Dia tidak tahu jika Devano tengah berusaha melawan bujukan setan dalam dirinya.


Fani mengintip kejadian itu. Sedangkan Sandhi, dia juga ikut-ikutan mengintip, berdiri di belakang Fani sambil membawa mangkuk mie ayam. Sandhi juga melihat kejadian saat Devano menyelamatkan Intan hingga jatuh dalam pelukan. Saat itu, rasa cemburu yang Sandhi rasakan tidak seperti dulu. Sungguh jauh berbeda.


"Sepertinya rasaku pada Intan sudah mulai memudar. Mungkin juga karena aku sudah menerima tantangan 31 hari itu." Batin Sandhi, kemudian duduk lagi di kursi.


"Devano sama Intan romantis banget ya, San?" ucap Fani sambil memelankan suaranya.


"Biasa saja." Sandhi tampak cuek, meski yang dirasa tidaklah secuek sikapnya.


Fani senyum-senyum jika teringat apa yang baru saja dia lihat. Namun, tidak lama kemudian Fani jadi teringat Farel, sang kakak. Jika dipikir-pikir lagi, kakaknya itu sudah tidak menghubungi Fani lagi, apalagi sampai mengancam demi membuatnya pulang. Fani juga tidak menjumpai orang aneh yang membuntutinya lagi. Hidup Fani benar-benar terasa damai.


"Sepertinya Kak Farel memang sudah menyerah padaku, jadi dia tidak mengganggu Intan juga. Sandhi, apa akhir-akhir ini masih ada orang aneh yang membuntutimu?" Kalimat dan pertanyaan Fani begitu tiba-tiba, padahal sebelumnya masih asik membahas Devano dan Intan.


"Tidak ada," jawab Sandhi singkat tanpa banyak penjelasan lainnya. Dia benar-benar masih bertahan untuk tidak membeberkan kesepakatan.


"Baguslah kalau begitu. Intan dan aku bisa aman dari Kak Farel." Fani tampak bahagia.


Untuk sejenak, Sandhi jadi merasa bersalah karena tidak berterus terang dengan apa yang sudah dilakukan olehnya. Diam-diam menemui Farel, membuat kesepakatan dengannya, bahkan berjanji akan segera menikahi Fani dengan lebih dulu menyelesaikan tantangan 31 hari. Saat itu Sandhi sempat ingin bercerita, tapi cepat-cepat dia batalkan di detik berikutnya.


"Em, Fan." Panggil Sandhi.


"Apa?"


"Bagaimana kalau akhirnya aku jatuh cinta padamu?" tanya Sandhi tiba-tiba.


"Jangan sampai itu terjadi, karena aku menyukai Benny."


"Bagaimana kalau ternyata Benny tidak menyukaimu?"


"Tenang saja. Akan kubuat dia jatuh cinta padaku." Fani PD mengatakan itu.

__ADS_1


Devano dan Intan mendengar kalimat Fani barusan. Sungguh kalimat yang sangat berani dilontarkan. Namun, yang menjadi sosok incaran, saat ini dia masih bertahan di kamar mandi. Benny, dia telah dicintai Fani.


Bersambung ....


__ADS_2