PANTAS

PANTAS
Bab 20 - Mencari


__ADS_3

Lengan baju yang basah membuat Intan jadi kurang nyaman. Salah Intan sendiri karena saat di toilet kurang hati-hati menggunakan wastafel. Ditambah pula, tadi ada seorang wanita memaki-maki kekasihnya via telepon. Sangat keras, hingga membuat Intan jadi mampu memahami masalah yang sedang dihadapi si wanita tadi.


“Kenapa, Kak? Muka kok kusut gitu?” tanya Mira begitu Intan kembali.


“Nggak, kok. Nih lagi senyum.” Senyum Intan dilebarkan di depan Mira.


“Hihi. Malah makin takut kalau senyumnya selebar itu.”


“Heem. Terserah kamu, deh. Yuk, pesan!”


Mira menjentikkan jari, kemudian mengaku telah mengurus pesanan untuk dirinya dan Intan.


“Sudah Mira pesankan. Seporsi ayam geprek sambal suka-suka dan pisang keju porsi jumbo untuk Mira. Untuk kakak, tahu walik isi mercon porsi mini. Oh ya, minumnya lemon tea ice."


“Kamu pesankan kakak lemon tea ice juga?”


Mira menggeleng. “Segelas air putih dingin buat kakakku tersayang.”


Intan benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan sang adik. Tangan Intan auto bersedekap sedangkan kepalanya geleng-geleng.


“Kakak nggak lagi diet, Mir.”


“Iya, Mira tahu. Tapi, saran Mira mulai sekarang kakak harus menjaga bentuk tubuh. Nanti kebaya pernikahannya nggak muat dipakai, loh. Apalagi tadi Kak Intan habis makan 2 porsi nasi pecel. Itu banyak, Kak. Dua porsi itu banyak, lho.”


Giliran Intan yang kali ini menjentikkan jarinya sambil tersenyum lebar. Bisa-bisanya Mira menyebut-nyebut kebaya pernikahan padahal kondisi hatinya sedang tidak karuan, begitulah pikir Intan. Tapi, Intan tidak menunjukkan kekesalannya. Karena urusan hatinya adalah urusannya. Cukup hanya dirinya yang merasakan.


“Kamu yang traktir!” Senyum Intan semakin lebar.


“Yah-yah! Kakak tega banget sama adik sendiri. Nanti uang jajan Mira di kos-kosan kurang, lho.”


“Saran kakak, kamu harus belajar hemat mulai dari sekarang.”


“Heeeem! Iya-iya.” Mira mengiyakan sambil mengerucutkan bibirnya.


Satu sama. Intan berhasil membalikkan kata-kata adiknya. Meski terlihat sedang mengerjai Mira, tapi memang itulah yang ingin Intan nasihatkan untuk adiknya yang hingga kini masih suka menggunakan uang tanpa pikir panjang.


Drrt-drrt.


Ponsel Mira bergetar. Telepon masuk dan si penelepon adalah Sandhi. Tidak ingin terpergok sang kakak, Mira pun memilih mengabaikan. Untung saja Intan tidak sadar dan tidak mempermasalahkan. Namun, mendadak saja Mira berinisiatif menggunakan momen menunggu pesanan untuk bertanya lebih lanjut tentang lelaki yang kata Sandhi berhasil mengisi ruang hati Intan.


“Kak.”

__ADS_1


“Hm?”


“Nggak mau nikah?”


“Ya maulah.”


“Calon, ada?”


“Belum.”


“Kalau orang yang disuka?”


Kali ini Intan tidak berhasil menjawab pertanyaan Mira dengan cepat seperti sebelumnyaa. Ada hati yang tidak bisa dibohongi. Ada harapan rapuh yang masih melambung tinggi, meski sebelum ini hati Intan terasa perih. Baru tadi pagi Intan menyaksikan Devano bersama sang kekasih, wajar jika galaunya sampai saat ini.


“Tidak ada,” jawab Intan pada akhirnya.


“Yakin nggak ada?” Mira terus mendesak tanya.


“Sudah. Lebih baik kita nikmati makanannya. Tuh, pesananmu datang duluan.”


Yang Intan katakan benar. Menu ayam geprek sambal suka-suka pesanan Mira datang lebih dulu beserta minumannya. Tinggal menunggu pesanan lainnya, dan Intan telah memberi isyarat pada Mira untuk tidak membahas apapun tentang cinta.


“Maaf, Mir. Kakak tidak bisa bercerita. Bukan kakak tidak percaya, tapi karena kakak ingin menyimpannya sendiri. Dan … jika tidak bisa bertahan, perasaan ini akan aku lupakan. Ya. Mungkin itulah yang akan aku lakukan. Apakah istilah mencari pengganti terdengar berlebihan?” Batin Intan, tanpa menunjukkan beban hati yang tersimpan.


***


Devano melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, khawatir keadaan di tempat kerja benar-benar gawat seperti yang dikatakan Jefri. Butuh waktu kurang dari sepuluh menit hingga Devano sampai di parkiran tempat kerjanya. Langkah kaki Devano diayun cepat, dan meja kerja Jefri menjadi tujuannya.


Tidak ada Jefri di meja kerja. Teman-teman yang masuk di shift pagi juga mengaku tidak melihat batang hidung Jefri sedari tadi. Ditelpon pun Jefri tidak menerima. Kondisi inilah yang membuat Devano membludak rasa khawatirnya.


“Cari Jefri, Dev?” Benny, teman kerja Devano sekaligus teman dekat Dhea itu tiba-tiba saja menghampiri dan bertanya. Padahal biasanya cuek-cuek saja.


“Iya.”


“Bukankah kalian berdua masuk sore hari ini?”


Kali ini Devano hanya mengangguk singkat sebagai jawabannya. “Aku permisi dulu,” ucap Devano kemudian.


Benny melirik sinis ke arah Devano. Hanya sebentar saja, kemudian kembali tidak peduli dengan urusannya. Ya, Benny dan Devano memang tidak akrab meski satu tempat kerja.


Pencarian berlanjut. Devano menuju tempat-tempat tertentu yang sangat mungkin bagi Jefri untuk mengunjunginya. Tapi, nihil. Setelah lima belas menit mencari, tetap saja Devano tidak menemukan Jefri.

__ADS_1


“Mungkinkah hanya prank?” Devano sampai berpikir demikian.


Parkiran tempat kerja menjadi tujuan akhir Devano setelah putus asa dengan pencariannya. Berulang kali pula Devano mencoba menghubungi Jefri via telepon tapi tidak bisa.


“Dev, masih cari Jefri?” Benny menyapa lagi. Dia baru saja membantu seorang pelanggan memasukkan pesanan ke dalam mobil.


“Iya.”


“Ketemu?”


Devano hanya menggeleng sebagai jawabannya.


“O. Kalau begitu selamat mencari.”


Usai berkata demikian, Benny pergi meninggalkan Devano di parkiran. Devano memperhatikan Benny sampai menghilang di balik pintu masuk gedung percetakan. Saat itu Devano merasa ada yang aneh dengan Benny. Menurut Devano, hari ini Benny terlalu banyak menyapa dirinya. Benar-benar tidak seperti biasanya.


“Mungkin Benny tidak enak hati.” Devano teringat kejadian tadi pagi di Café Bintang, saat Dhea datang bersama Benny.


Drrt-drrt


Mimik wajah Devano langsung berubah saat tahu Jefrilah yang kali ini menelponnya. Segera saja telpon itu diterima.


“Jef! Ada di mana, sih?” Nada Devano terdengar kesal.


“Sorry, Bro. Pindah tempat, nih!”


“Iya, di mana? Yang gawat di mana, Jefri? Aku muter-muter tempat kerja, nih. Sengaja ngerjain atau apa, ha?”


“ Sorry, Bro. Nggak bermaksud. Cuma sengaja. Haha. Begini-begini .... Gawatnya sudah hilang. Dia nggak jadi pergi.”


“Dia? Dia siapa?”


Lagi-lagi Jefri tidak memberi tahu detailnya. Devano hanya diminta menuju sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Saat Jefri memberitahu alamat yang harus dituju, barulah Devano mulai paham siapa yang dimaksud dengan dia.


“Oke. Aku ke sana sekarang.”


Tidak ada lagi rasa sebal. Kali ini Devano bersemangat melajukan motornya ke satu alamat yang begitu dia kenal. Ada yang sedang menunggunya di sana. Dia adalah sahabat baik Devano. Hampir sepuluh bulan ini Devano dan temannya itu tidak bertemu sapa karena berbeda kota. Jauh sekali, sehingga butuh pesawat jika harus mengunjungi.


Sahabat baik yang akan Devano temui juga mengenal Intan, karena dulunya mereka sama-sama berada di kelas yang sama saat berada di bangku sekolah menengah. Dia berprofesi sebagai psikolog muda dan sering mengadakan kegiatan amal untuk membantu sesama. Dialah lelaki yang tahun lalu bersama Devano membantu anak-anak di danau berair jernih. Akan tetapi, sahabat baik Devano ini, dia juga berteman baik dengan Sandhi.


“Reynal.”

__ADS_1


“Hai, Dev. Lama tidak berjumpa.”


Bersambung ….


__ADS_2